This Is Our Love

This Is Our Love
Kembali Terguncang



Kabar duka yang  mengejutkan kembali melanda dunia bisnis tanah air. Kabar duka itu datang dari keluarga Utomo lagi setelah sekitar dua minggu yang lalu, keluarga itu terguncang akan kepergian Cia dan Clara.


Maka kali ingin yang sangat-sangat terpukul adalah putra kembar keluarga Utomo. Breaking news itu benar adanya, bukan sebuah hoaks. Kecelakaan itu terjadi saat Bayu dalam perjalanan ke luar kota untuk mengecek lokasi tambang. 


Bayu pergi bersama dengan sopirnya, sementara Angkasa tetap di Jakarta untuk mengurus perusahaan selama Bayu di luar kota. Tapi, siapa sangka, siapa yang bisa menebak, siapa yang tahu  kapan maut akan datang menjemput, pamitan tadi pagi Bayu pada Angkasa dan Anggara adalah pamitan terakhir. 


Bayu dan sopirnya tewas di tempat setelah mengalami kecelakaan tunggal. Menurut kesaksian dan kemera di dashboard mobil, mobil awalnya pecah ban yang membuatnya oleng dan menghantam pembatas jalan kemudian terguling beberapa kali barulah berhenti saat menabrak pembatas hendak ke arah pintu keluar tol. 


Tangis Angkasa pecah langsung saat menerima telpon dari kepolisian. Setelah kesedihan akibat kehilangan sosok ibu dan kakak, mengapa mereka kembali diuji dengan kehilangan sosok ayah?


 Setelah histeris beberapa saat, tatapan Angkasa menjadi kosong. Jiwanya seperti hampa. 


Dengan langkah yang terhuyung, Angkasa meninggalkan ruang kerjanya di Utomo Company untuk ke rumah sakit menjemput jenazah sang ayah. Para karyawan yang berpapasan dengan Angkasa cemas melihat kondisi Tuan Muda Kedua mereka itu. 


Ingin rasanya mendekati dan memapah Angkasa. Namun, aura Angkasa terasa begitu menekan, mengartikan bahwa ia tidak ingin diganggu. Di basement, seorang karyawan yang sudah menjabat cukup lama, hampir sejak perusahaan ini berdiri memberanikan diri untuk menghentikan langkah Angkasa. Angkasa mengangkat pandangannya. "Paman biarkan aku sendiri," ucap Angkasa, mengartikan bahwa ia kenal dekat dengan yang menghalanginya itu.


"Tuan Muda, biarkan Paman yang menyetir. Dengan kondisimu yang seperti ini takutnya Tuan Muda akan mencelakakan diri sendiri," balas Paman itu, menengadahkan tangannya meminta kunci mobil Angkasa.


Angkasa tidak menjawabnya secara verbal, dengan lemah ia mengambil kunci mobil dari saku celananya. "Naiklah, Tuan Muda," ucap Paman itu dengan membukakan pintu mobil untuk Angkasa. Angkasa segera naik. Paman itu juga masuk dan duduk di kursi kemudi. 


Di dalam mobil, Angkasa diam saja. Tidak menangis. Namun, air matanya tak berhenti keluar. Matanya super merah. Di saat keluar dari Utomo Company, ponsel Angkasa berbunyi. Panggilan dari kembarannya. 


"Assalamualaikum, Kas. Kau di mana?"tanya Anggara dengan cemas.


"Ya. Waalaikumsalam, Ga. Aku di jalan mau ke rumah sakit," jawab Angkasa parau. Bahkan ia kesulitan untuk menjawab. Angkasa terbata.


"Kau dengan siapa?"tanya Anggara lagi, tetap cemas. Adiknya ini terkadang bertindak gegabah dan tidak memikirkan akibatnya.


"Dengan Paman Wahyu. Kau di mana?"jawab dan tanya balik Angkasa.


"Aku juga dalam perjalanan ke rumah sakit, kita bicara di sana," jawab Anggara. 


Dan hening sesaat. Bibir Anggara bergetar, dan tangisnya terdengar, "Ga … kita yatim piatu, Ga! Papa pergi ninggalin kita, Ga! Ini nggak adil, Ga! Nggak adil!"ucap Angkasa dengan nada tak beraturan. 


"Ini sudah takdir, Tuan Muda. Anda tidak boleh mempertanyakan takdir Allah, Tuan Muda," ucap Paman itu memberikan Angkasa nasehat. 


"Mama pergi, Kak Cia juga pergi, mengapa Papa ikut pergi juga, Ga? Kenapa?!" Angkasa berseru. Ia tidak menggubris ucapan Paman itu. Perasaanya campur aduk.  Sedih, marah, membuat nafasnya memburu. 


"Berhenti menangis, Angkasa! Kita laki-laki, harus kuat!"balas Anggara dengan nada tinggi. Angkasa terdiam mendengarnya. 


"Sudah takdirnya, kita marah, mengutuk, dan mengumpat pun tidak akan merubah fakta bahwa kita sudah jadi yatim piatu. Cepat atau lambat hari ini memang akan datang. Hanya saja kapan itu akan datang tidak bisa diprediksi. Ini sudah ketetapan, kita hanya bisa ikhlas dan mendoakan agar Papa, Mama, dan Kak Cia tenang siang," tutur Anggara dengan lembut. 


"T-tapi aku belum siap, Ga!"teriak Angkasa. 


"Kau kira aku sudah siap, hah?!"balas Anggara dengan berteriak. 


"Akas kita harus kuat. Keluarga Utomo tinggal kita berdua. Anggap saja, Papa menyusul menemani Mama dan Kak Cia di sana," bujuk Anggara. Dibalas oleh tangisan Angkasa. Ya biar saja mereka menganggap ia lemah dan cengeng. Angkasa tidak peduli. 


"Dekatkan ponselnya pada Paman sebentar, aku ingin berbicara dengannya," suruh Anggara. Angkasa melakukannya. 


"Hallo, Tuan Muda Pertama," sapa Paman Wahyu. 


"Hallo, Paman. Tolong jaga adikku dengan baik ya, Paman. Bawa mobilnya santai saja. Kita bertemu di rumah sakit nanti," ucap Anggara. 


"Baik, Tuan Muda. Saya pasti akan melakukannya," jawab Paman Wahyu. 


"Terima kasih, Paman. Saya percaya pada Anda," balas Anggara. 


"Kau juga hati-hati, Ga!"ucap Angkasa.


"Aku akan hati-hati. Assalamualaikum," jawab Anggara sekaligus berpamitan. 


"Waalaikumsalam," jawab Angkasa dan Paman Wahyu. 


"Minum dulu, Tuan Muda," ujar Paman Wahyu dengan menyodorkan air minum kemasan pada Angkasa. 


Angkasa menerimanya. Setelah minum ia memejamkan matanya, menenangkan dirinya sendiri.


*


*


*


Setelah mengecek ponselnya dan menerima kabar kecelakaan yang menewaskan Bayu, Bella bergegas  kembali ke perusahaan. Ken menghubunginya bahwa mantan wakil Presdir sudah kembali ke Jakarta dan saat ini dewan direksi meminta untuk melakukan meeting secara mendadak. 


Sialan! 


Setibanya di perusahaan, Bella langsung menuju ruangan di mana meeting akan dilangsungkan. Di sana sudah menunggu Ken, Brian, dan dewan direksi lainnya termasuk mantan wakil Presdir bernama Pak Roy. Brian ikut di dalamnya karena ia punya kepemilikan saham di perusahaan ini. Bella langsung mengambil duduk di kursi Surya karena ia merangkap sebagai Presdir sementara.


"Meeting ini sudah ada persetujuan Presdir?"tanya Bella melempar pada Pak Roy.


"Hal yang akan sangat penting, mustahil Presdir tidak memberi izin," jawab Pak Roy dengan tersenyum tipis. "Benar begitu kan, Direktur Brian? Sekretaris Ken?"tanyanya pada Brian dan Ken. Ken sebagai sekretaris Bella segera membisikkan sesuatu pada Bella. Bella mendengus senyum setelah mendengarnya. 


"Well, mulai saja apa yang mau Anda bicarakan!"ucap Bella dengan menyilangkan kedua tangannya di atas meja, memasang pose pendengar yang baik. 


"Batalkan proyek di Papua! Itu sangat beresiko dan tidak meyakinkan!"ucap Pak Roy lantang, langsung mengatakan alasannya. Beberapa direksi ada yang terkejut dengan jawaban Pak Roy secara Pak Roy sebelumnya menunjukan dukungan.


"Emm … bagaimana ya?" Bella menggaruk lehernya. Ia seperti tengah mempertimbangkan hal yang berat, dan dengan sesekali menepuk pelan lehernya. 


"Sayangnya … itu terlambat dan tidak mungkin untuk dibatalkan. Izin sudah didapatkan dari semua pihak. Presdir juga aman. Kerja sama dengan dengan pihak lain juga sudah tanda tangan kontrak, material sudah dipesan. Dan beberapa hari lagi pembangunan resmi dimulai. Dan satu lagi, pesanan unit sudah ada," papar Bella. Pak Roy terkesiap sesaat. Semua perhatian tertuju pada Bella dan Pak Roy. 


"Selain itu … bukankah Anda pernah mengambil proyek dengan persentase resiko yang lebih besar? Kemarin Anda Anda aman-aman saja dengan rencana proyek ini. Mengapa saat semua sudah dimulai Anda malah ribut? Atau Anda ini musuh dalam selimut?"desak Bella dengan menyipitkan matanya curiga. 


Hal itu langsung saja membangkitkan rasa kecurigaan direksi lainnya juga Ken, kecuali Brian yang sudah tahu akan hal ini.


Pak Roy terhenyak sesaat. "Tapi, itu lain ceritanya. Pembangunan akan dilakukan di daerah rawan konflik dengan biaya yang mahal. Dana yang diluncurkan lebih besar ketimbang proyek yang sama di lokasi yang berbeda. Jika sudah terjadi nanti, bagaimana cara kita bertanggung jawab?"bantah dan elak Pak Roy. 


Bella memutar bola matanya malas. Mungkin setelah didudukkan kemarin, antek-antek Pak Roy kemarin berubah haluan dan ke jalan yang benar untuk tidak menimbulkan konflik lagi. Dan Pak Roy tidak diberitahukan akan hal kemarin. Ya wajar saja ia baru pulang.  


"Apa Anda tahu dengan siapa kita berkerja sama?"tanya Bella dengan menaikkan alisnya pada Pak Roy. Skatmat, Pak Roy terdiam. Agaknya ia tidak tahu sama sekali dengan siapa proyek kali ini bekerja sama. Bella tersenyum miring, "bagaimana dengan yang lain? Ada yang bisa menjawab?"


"Dengan Gama Company dan Kalendra Group. Kita juga menggaet pemerintah dalam proyek ini, pembangunan proyek tidak hanya sekadar membangun properti. Akan tetapi, juga membangun sarana dan infrastruktur di sana. Tidak hanya semakin memajukan perusahaan tapi diharapkan pembangunan akan mendongkrak tingkat kemajuan di daerah pembangunan akan akan berdampak pada berhentinya konflik di sana. Dengan adanya perbaikan ekonomi, maka taraf hidup dan tingkat kesejahteraan di sana akan semakin baik. Saya rasa dana yang besar itu akan sebanding dengan harapan  tadi," jelas Ken, memaparkan lagi tujuan proyek ini. 


Tunggu! Mata Pak Roy membulat.


Kalendra Group ikut dalam proyek ini? Perusahaan asal negeri seribu museum itu turut andil? Tapi, apa alasannya? 


Pak Roy menatap rumit Bella yang tersenyum tipis sembari mengerlingkan matanya pada Pak Roy. 


Seberapa besar pengaruh Bella dalam hubungan bisnis internasional? Ah salah! Itu terlalu jauh, seberapa besar pengaruh dan peran Bella dalam Kalendra Group hingga setuju untuk menjalin kerja sama yang mana seharusnya kedua perusahaan ini saling asing dan ada rasa ketidaksenangan di hati Kalendra Group karena Bella memilih Mahendra Group ketimbang memperpanjang kontrak? Itulah yang ada dalam benak Pak Roy. 


"Presdir sudah menyetujui, artinya perusahaan siap akan segala konsekuensi. Setiap risiko bisa diminimalisir!"lanjut Ken lagi. Ia menjelaskan dengan tenang dan tegas.


"Dan tidak ada keberhasilan tanpa modal, jika Anda takut untuk rugi, silahkan jual saham Anda maka Anda akan terbebas dari keuntungan ataupun kerugian perusahaan ini! Satu lagi, Anda berubah Pak Roy!"tukas Ken, memberikan Pak Roy ultimatum.


 Pak Roy kembali membulatkan matanya. 


Dalam hatinya langsung merasa kesal. Tapi, Ken anak pemilik perusahaan ini. Bagaimana bisa ia memarahi Ken sedangkan ucapan Ken tidak ada yang salah? Terlebih lagi ada istri dan kakaknya di sini. 


Ini baru muridku, batin Bella dengan tersenyum puas. 


This is my young brother, batin Brian menarik senyum tipis. 


"Meeting hari ini cukup. Hilangkan semua keraguan Anda sekalian. Cukup berikan kepercayaan kalian pada saya, saya akan menjadikan satu persen menjadi seratus persen!"ucap Bella. 


"Baik, Nona. Kami percaya pada Anda!" 


Kecuali Pak Roy, yang lain berkata demikian. 


Dan mereka mulai meninggalkan kursi, keluar dari ruang meeting. Saat Pak Roy hendak bangkit, Bella menghentikannya. "Kita bicara empat mata dulu, Pak Roy!" 


Ken langsung paham dan undur diri. Pak Roy kembali duduk. Jantungnya berdebar keras melihat tatapan lekat dan tajam Bella padanya. Tatapan Bella seperti tengah menguliti dirinya. 


"Percayakah Anda jika saat ini juga saya bisa membuat Anda hancur?"tanya Bella dengan nada dinginnya.


"A-apa maksud Anda? Jangan membual!!"


Bella berdiri dan berjalan mendekati jendela kaca, melihat ke arah jalan raya. Pak Roy berkeringat dingin di tempatnya. Ia memutar tubuhnya dengan kaku ke arah Bella. 


"Saya tahu apa yang telah Anda lakukan belakangan ini. Jika tidak menyelidiki Anda lebih dalam, mungkin saya akan percaya begitu saja jika Anda lah yang benar-benar melakukannya. Namun, saya lebih percaya jika Anda hanyalah alat. Katakan padaku, siapa dalang sebenarnya?"


Pak Roy terdiam. Raut wajahnya berubah menjadi tegang dan gelisah. Matanya melirik kanan-kiri.


"Targetnya adalah saya. Jangan biarkan saya berhutang terlalu banyak pada Anda karena Anda ditekan olehnya. Semakin cepat Anda memberitahu saya siapa dalangnya, semakin cepat Anda terbebas dari tekanan. Selain itu, saya juga akan segera mengakhiri semua masalah. Jadi, Anda tenang saya juga tenang."


Bella menghela nafas pelan melihat Pak Roy yang masih bungkam. "Baiklah. Saya yakin Anda punya kesulitan sendiri untuk mengatakannya. Hanya saja, saya sudah tahu siapa pelakunya. Cukup anggukan saja kepala Anda saat saya menyebutkan inisialnya," pungkas Bella memberi pilihan. 


Pak Roy berpikir sejenak kemudian mengangguk, "M?" Dan Pak Roy mengangguk. 


I get you! Nikmati kesenanganmu selagi bisa Marco!