This Is Our Love

This Is Our Love
Malam Kemenangan



Puasa Ramadhan telah berakhir. Esok adalah hari Raya Idul Fitri. Hari di mana hati manusia kembali fitrah. Suasana begitu shaydu. Tenang dan terasa begitu damai. Langit begitu cerah. Bulan bersinar dengan anggun ditemani oleh para bintang. Sinarnya begitu indah menghiasi malam kemenangan.


Suasana kemenangan mendominasi setiap sudut. Takbir syahdu berkumandang, menyambut hari kemenangan dengan sukacita. Bukan hanya di Jakarta, Indonesia, umat Islam di seluruh dunia akan segera bertemu dengan hari Raya Idul Fitri.


Begitu juga dengan suasana di kediaman Mahendra. Meskipun mereka tidak ikut takbiran di masjid lingkungan perumahan, gema takbir terdengar jelas di mansion itu. 


Mereka berkumpul di ruang keluarga. Membicarakan hal-hal yang membahagiakan yang semakin mempererat hubungan satu sama lain. Kecuali, Liev dan Arka yang bermain kembang api di luar. Tentu saja diawasi oleh para pelayan yang juga ikut bermain. Juga jangan lupakan pengasuh Liev yang menemani Tuan Mudanya.


Dylan dan Fajar kini tengah menantikan ujian UTBK mereka. Mereka akan melalui jalur SBMPTN. Dan ini tinggal menghitung hari. Dylan akan mengambil jurusan ekonomi sementara Fajar adalah kimia industri. 


Sementara Nesya, masih menunggu dibukanya pendaftaran seleksi mandiri. Ia akan ikut jalur paralel mengingat ijazahnya sudah tidak akan berlaku lagi untuk mendaftar mandiri reguler. 


"Kau sudah menentukan universitasnya, Nesya?"tanya Bella. Nesya mengangguk. 


"Di mana?" Rupanya Dylan juga belum tahu. 


"Unair, Surabaya," jawab Nesya. 


"Unair? Itu cukup jauh. Kau akan kost di sana," sahut Bella. Bella kira Nesya akan memilih universitasnya dulu atau yang sekitar Jakarta, yang bisa pulang hari. 


"Ya itu cukup jauh."


"Tapi, mengapa memilih di sana? Bukankah untuk kedokteran universitas lamamu yang terbaik?"heran Bella. Universitas lama Nesya memiliki fakultas terbaik di Indonesia. Yang dipilih Nesya saat ini juga salah satu dari 10 fakultas kedokteran terbaik. Namun, masalahnya adalah di jarak. 


"Tidak apa, kan ada aku, Kak! Aku akan menjaga Nesya. Lebih-lebih kami kan sudah menikah di waktunya." Dylan tersenyum. 


"Ah … aku tahu. Nesya kau tidak bisa jauh dari Dylan, ya?" El menggoda pasangan yang sebentar lagi naik pelaminan itu. 


"Tentu saja. Itu tidak akan membuat kami jauh. Kami akan selalu dekat!" 


Dylan, pria muda itu memilih Unair sebagai universitas pilihannya. Dua-duanya ia mengambil di sana dengan jurusan di fakultas yang sama. Jadi, jika keduanya kelak lulus di kampus itu, mengingat Nesya yang juga mengambil dua pilihan di universitas itu pula, mereka akan satu kampus.


 Dan jika mereka sudah menikah, mereka akan satu atap. Lagipula usia mereka sudah matang, jelas bukan suatu keheranan jika sudah menikah.


 Dan jalur kemitraan yang akan Nesya pilih nanti tidak ada batasan umur. Dan untuk Dylan, usianya belumlah dua puluh lima tahun, masih memenuhi syarat untuk ikut SBMPTN, juga karena ijazahnya yang baru keluar. 


"Siapa bilang karenamu?" Nesya melirik sinis Dylan yang sangat percaya diri mengatakan hal itu. 


"Eh?" Dylan terkesiap. "Bukan?"


"Tentu saja karena fakultas kedokteran di sana bagus. Ya meskipun yang kakak bilang itu benar. Sebenarnya karena aku enggan kuliah di sana lagi." 


Nesya menghela nafasnya. Jika dihitung-hitung, ia seharusnya sudah selesai untuk program sarjana satu tahun yang lalu. Begitu juga dengan rekan sekelasnya dulu. Namun, dari info yang didapatkan, masih ada rekan seangkatannya yang belum lulus. Ya akui saja, dia memang enggan bertemu dengan mereka lagi. 


"Aku ingin mencari suasana baru, Kak," ujar Nesya. 


"Baiklah. Kalau begitu belajarlah dengan baik," balas Bella.


"Apapun alasannya, aku menganggapnya tetap karenaku," celetuk Dylan dibalas dengusan Nesya. 


"Malas meladenimu," cetus Nesya. Dylan memanyunkan bibirnya. Itu disambut dengan tawa renyah Bella dan lainnya. 


"Dengan pengalaman dan kemampuanmu, lulus cepat bukanlah hal yang mustahil," ujar Brian, menimpali perbincangan itu. 


"Aku harap juga begitu, Kak Brian," jawab Nesya. Nesya jelas mengharapkan hal demikian. Ia akan kuliah di fakultas yang terkenal dengan biaya kuliah yang fantastis.


Lebih-lebih ia jalur paralel. Uang pangkalnya saja sudah sangat mahal, belum lagi uang kuliah tunggal, tugas-tugas kuliah, dan lain macamnya.


Itu semua menguras kantong dan kantong Bella lah yang menangani semua biaya itu. Bagi Bella itu bisa saja bukan hal besar, secara ia acara pemilik dari Nero Group juga pemilik saham terbanyak di Amerika sana. 


Bahkan, andai kata Neysa tidak ingin kuliah atau kerja, Bella sama sekali tidak merasa terbebani. But, itu selama Nesya belum menikah.


Bella pernah mengatakan hal ini, meskipun ia kaya, Bella tidak akan menanggung hidup Nesya setelah Nesya menikah. Karena yang akan menanggungnya adalah Dylan. 


Bella tersenyum tipis mendengar jawaban Nesya. "Belajar dan luluslah dengan baik," ucap Bella. Ia tidak menuntut Nesya lulus cepat. 


"Aku mengerti, Kak," jawab Nesya. 


"Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kalian? Ah benar, tempat tinggal kalian di sana nanti bagian?" Sebagai orang tua, Surya jelas ingin tahu. Karena kedua anak itu sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri. 


"Rencana pernikahan kami tidak berubah, 21 Mei," jawab Dylan yang diangguki oleh Nesya.


"Itu selisih satu minggu saja dengan acara resepsi kita kan, El?"tanya Anjani, memastikan. El mengangguk. 


"Kalau begitu sudah bisa dimulai persiapannya dari sekarang. Fitting baju, lokasi pernikahan, wedding organizernya, konsep resepsinya, para tamu, catering, dan yang paling utama adalah dokumen kalian untuk mengajukan pernikahan ke KUA," jelas Rahayu panjang lebar. Sepertinya Rahayu akan segera mendominasi pembicaraan, mengingat ia lah wanita yang senior di sini. 


"Saran Bunda sih untuk fitting baju, di butik langganan saja, butik tempat kemarin El dan Jani fitting. Lalu lokasinya, di Antara Hotel saja, hotel keluarga kita, tempat Ken dan Abel menikah dulu. Lalu catering, juga sudah ada langganan. Tamu, kalian bisa undang teman-teman kalian di luar tamu undangan keluarga. WO nya juga pakai yang langganan saja. Sudah terbukti dan terpercaya. Tanya saja pada Brian dan Ken, atau kalian lihat sendiri pas resepsi El dan Jani nanti, bagaimana?" Dan benar. Rahayu kembali menjelaskan dengan cukup rinci. Dylan dan Nesya saling tatap. 


Bella tersenyum lembut. "Nesya, pernikahan sekali seumur hidup. Lagipula kakak mampu untuk itu."


"Ada kami juga. Jangan merasa tidak enak begitu. Kami tidak akan kekurangan karena hal itu, kok," timpal Silvia. 


"Maharku tidak besar, Kak." Dylan merasa dirinya akan langsung menjadi pusat perhatian begitu para tamu mendengar mas kawin yang ia berikan pada Nesya. Itu sama sekali tidak setara dengan resepsinya kelak. 


"Ah … aku lupa mengatakannya," ucap Bella, menepuk dahinya. Ia lantas berdiri dan menuju kamarnya. Dan posisi kamar Bella dan Ken sementara pindah di lantai satu. Mengapa? Kehamilan Bella semakin besar. Naik turun tangga rasanya akan sangat beresiko. 


Ken bertatapan bingung dengan yang lainnya. Apa yang Bella lupa katakan? Apakah sesuatu yang penting? Dan sepertinya ya, itu sangat penting. 


Sekitar sepuluh menit kemudian Bella kembali dengan membawa sebuah map. Kembali duduk di samping Ken. 


"Apa itu, Aru?"tanya Ken penasaran. Bella memberikan map itu pada Dylan. "Bukalah," ujar Bella. 


Dylan membukanya dengan rasa penasaran yang tinggi. Di dalamnya ada surat dan segera dibacanya dengan teliti.


Surat pengalihan saham?


Pihak pertama, Nabilla Arunika Chandra?


Pihak kedua, Dylan Buana?


"Apa ini, Kak?"tanya Dylan tidak mengerti. Itu hadiah, disengaja, atau bagaimana agar ia ada sumber untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan Nesya kelak saat sudah menikah? Dylan butuh penjelasan untuk hal ini.


"Tertulis jelas di sana itu surat pengalihan saham," sahut Bella. 


Surat pengalihan saham? 


Semua tertegun mendengar jawaban Bella. Mereka mendengarkan dengan serius. "Iya, aku tahu. Tapi, apa maksudnya?"


Di surat itu, hanya Bella yang sudah bertanda tangan, sementara Dylan belum. Artinya surat itu baru dibuat. Saham itu ada di perusahaan dalam negeri dan jumlahnya tidaklah sedikit. Dengan nilai saham saat ini, jumlahnya bisa mencapai milyaran rupiah.


"Begini, selain untuk membiayai rumah sakitmu, Kakak menggunakan harta yang ditinggalkan oleh keluargamu untuk membeli saham. Ya … memang tidak terlalu besar. Malah Kakak gagal bermain saham kala itu. Namun, beberapa tahun kemudian, kakak berhasil mengembalikan saham itu. Sekarang, meskipun jumlahnya tidak banyak. Namun, Kakak yakin itu dapat membantumu," jelas Bella, memberitahu darimana asalnya saham itu dan mengapa dialihkan ke Dylan. Karena itu memang milik Dylan. 


"Benarkah?" Mata Dylan berkaca-kaca. Ternyata ia tidak sepenuhnya miskin. Yang lain juga terharu. Bella benar-benar menjaga amanah dengan baik. Dikembalikan pada saat yang pas. Saat Dylan akan menempuh hidup baru. 


"Kakak ini sangat banyak, mengapa kau bilang sedikit?"tanya Dylan dengan air mata yang menetes. 


"Ah, hehehe." Bella tertawa pelan.


"Hari kemenangan memang membawa berkah. Selamat, Dylan. Kau tidak perlu begitu khawatir lagi masalah keuangan," ucap El.


"Hadiahnya tidak main-main, saham." Ia lantas bergurau untuk mencairkan suasana haru itu.


"Dan Nesya, kau bisa menunggu dan menjalani dengan tenang. Ah … aku jadi penasaran hadiah apa yang akan kalian berikan padaku nanti sebagai hadiah pernikahan," ucapnya dengan menerawang. 


"Tidak ada hadiah untukmu." Brian menjawab. 


"Aku tidak percaya," balas El dengan tersenyum lebar. 


"Lihat saja nanti!"balas Brian dengan wajah datarnya. 


"Tenang saja, Kak. Kami pasti akan memberikan hadiah istimewa untuk kalian," ucap Ken.


"Hehe, aku menunggunya." Anjani menggeleng kecil melihat tingkah El. Sudah biasa dengan itu. 


"Tandatangani lah, Dylan. Saham itu akan sah menjadi milikmu," ucap Bella. 


"I-iya, Kak." Dylan gemetar saat mengambil pena yang Bella sodorkan. Ia menandatangani surat pengalihan saham itu. Perasaannya sungguh terharu. Ini hal yang membahagiakan untuknya. Ia bisa membiayai pernikahannya sendiri. 


"Ini, ambillah." Bella kembali menyodorkan sebuah kartu ATM pada Dylan. 


ATM itu, astaga! Berapa banyak jumlah nol di dalam kartu itu? Itu adalah kartu Black card! Astaga!


Mata Dylan bahwa terbelalak melihatnya. Begitu juga dengan Nesya. "Ahh … itu luar biasa," ucap Surya.


Ken tidak terlalu heran, mengingat ia sudah pernah melihat Bella memegang American Express Centurion Card. 


"Meskipun begitu, kau harus mulai belajar tentang saham dan pandai mengolah keuangan karena hidup kalian nanti tidak hanya sebatas menikah, kuliah, dan kerja," pesan Bella. 


"Gunakan kartu ini dengan baik. Kakak harap kalian berdua mengerti," tambah Bella. 


Hal itu diangguki oleh Dylan dan Nesya. "Terima kasih, Kak," ucap Dylan, memeluk Bella. 


Bella membalas dengan menepuk-nepuk pundak Dylan. Setidaknya, ia bisa sedikit membalas budi keluarga Buana dulu. Bella menghela nafas lega.