This Is Our Love

This Is Our Love
Bertemu Gio



Bella dan Anjani melangkah masuk ke dalam sebuah tempat perbelanjaan di ibukota. Di dalamnya ada beberapa toko milik Diamond Corp. Langkah Bella diikuti Anjani berhenti di deretan toko yang terlihat menjual barang mewah. Mata keduanya tertuju pada salah satu toko. Sebuah toko perhiasan di mana terlihat jelas nama toko tersebut adalah nama perusahaan. 


"Ayo, Abel," ajak Anjani mengajak Bella masuk. Akan tetapi Bella malah menggeleng. 


"Why? Katanya mau ngecek toko," bingung Anjani.


"Lihatlah, tokonya ramai," jawab Bella. Dan Anjani kembali menoleh pada toko perhiasan yang bernaung di bawah perusahaannya. 


"Lalu?"


Bella tersenyum simpul mendengarnya. "Kita amati saja dulu. Nanti kalau sudah agak sepi baru kita masuk," ujar Bella. 


"Loh? Nggak ngerti aku maksudmu, Bel." Walau bingung, Anjani menurut, ia mengambil tempat duduk. Anjani menyusul duduk, matanya menilik lekat toko perhiasan itu. 


Sudah lima belas menit mereka mengamati toko tersebut, ah tidak hanya Bella sementara Anjani masih tidak mengerti maksud Bella. 


"Sepertinya ada yang aneh," ucap Bella datar.


"Aneh?"beo Anjani bingung. 


"Lihatlah, tokonya ramai. Pelanggan yang masuk selalu keluar membeli perhiasan. Aku curiga masalahnya bukan pada pemasaran melainkan pembukuan," jelas Bella.


"Oh semacam korupsi ya?" Bella mengangguk. Anjani membulatkan mata.


"Ya Allah … baru dua hari jadi Presdir mengapa muncul masalah besar?"keluh Anjani, lesu.


"Mengapa mengeluh? Ini hanyalah hal kecil. Tinggal membersihkan abunya karena arangnya sudah habis," heran Bella, melirik Anjani sekilas.


"Menurutmu itu hal kecil.  Bagiku? Oh ayolah, aku masih pemula. Berbeda denganmu yang sudah profesional," sahut Anjani, mencembikkan bibirnya.


Bella menghela nafas pelan. "Untung saja ada kau yang menemani dan membantuku. Jika tidak mana mungkin aku bisa menjadi pemimpin perusahaan," ucap Anjani dengan raut wajah ceria. 


Bella menggeleng pelan mendengarnya. "Belajarlah terus, pasti kau akan bisa berdiri sendiri. Tidak mungkin bukan jika setiap saat  aku membantumu? Sementara sebulan lagi aku akan menjabat sebagai wakil Presdir Mahendra Group," ujar Bella serius, memberi peringatan juga aba-aba. 


Anjani hanya mengangguk. Bella kembali fokus mengamati toko. Matanya menyipit kala melihat dua orang masuk ke dalam toko. Wanita itu tampak menggandeng erat lengan sang pria. 


"Ayo kita masuk, Bel. Sudah agak sepi tuh," ajak Anjani.


"Hm …." Bella berdiri, diikuti oleh Anjani. Saat hendak mencapai pintu masuk, ponsel Bella berbunyi. 


"Ken?"gumam Bella heran, apa gerangan bocah itu menghubunginya. 


"Ya, assalamualaikum Ken," jawab Bella, melirik Anjani menyuruhnya masuk lebih dulu. Anjani mengangguk.


"Ah ya waalaikumsalam, Kak." Bella mengeryit mendengar nada gugup Ken, yang terselip rasa canggung.


"Ada apa, Ken?"tanya Bella to the point.


"Oh itu, anu nggak papa kok, Kak. Salah panggil saja," jawab Ken, dengan terbata. 


"Salah panggil? Are you seriously? Hei bocah, mengapa nadamu begitu? Katakan, ada apa sebenarnya!"tegas Bella.


"I-iya benar kok, Kak. Salah panggil. Tadi aku mau menelpon sopir rumah, malah nomor Kakak yang tertekan," jelas Ken, berusaha meyakinkan.


"Oh, mobil kamu kenapa? Mogok?"terka Bella.


"I-iya," jawab Ken malu. Bella mendengus senyum.


"Mobil mahal kok mogok. Lupa servis mobil kamu?"ledek Bella. Ia tersenyum geli membayangkan wajah kesal Ken.


Tidak ada jawaban. Bella menduga Ken tengah malu di ujung sana. 


"Kamu berarti sudah pulang kuliah?"tanya Bella memastikan.


"Iya," jawabnya singkat.


"Lalu kamu mau pulang ke rumah atau ke mana dulu?"tanya Bella lagi.


"Ke rumah," jawab Ken.


"Kakak sudah di rumah kan?"tanya Ken.


Bella menghela nafas pelan,"aku masih bekerja. Jika kau pulang ke rumah, lanjutkan saja bacaan kemarin, nanti saat kalau aku sudah pulang akan aku uji."


Terdengar dengusan. "Lantas Kakak sekarang berada di mana?" Nadanya terdengar posesif. Bella saja sampai kembali mengeryit. 


"Mall, Senayan," jawab Bella. 


"Makan siang?" Bella melihat jam tangannya. Memang benar sudah jadwalnya makan siang. 


"Ya sekalian."


"Aku nyusul ke sana. Kasih tahu Kakak makan siang di mana!"titah Ken.


"Ya okay." 


"Hm. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Bella menatap layar ponselnya yang menampilkan wallpaper pemandangan dengan tersenyum tipis. 


"Sepertinya bocah itu mulai menaruh rasa padaku. Ah sudahlah. Jalani saja," gumam Bella, melangkah masuk.


Bella menghampiri Anjani yang tengah sibuk melihat-lihat ragam perhiasan. Seorang karyawan tampak begitu sabar menunggu Anjani memutuskan pilihan. 


"Ah sudah selesai?" 


"Ya."


"Mau beli?"tanya Bella.


"Nggak, cuma lihat-lihat," jawab Anjani. Bella melirik wajah karyawan tersebut, tetap bersahabat, senyumnya begitu tulus, melayani setiap pelanggan yang masuk.


"Mas gimana? Ini bagus kan di jari aku?" Bella memalingkan wajahnya ke arah sumber suara. Begitu juga dengan Anjani. "Kamu kenal?"bisik Anjani penasaran.


"Sekilas," jawab Bella pelan.


"Ohh."


"Cantik." Satu jawaban singkat.


Wanita itu memanyunkan bibirnya.


"Kalau gelangnya?"tanyanya wanita itu lagi.


"Mas! Kok datar amat sih? Kan kita nyari perhiasan untuk resepsi. Harus sehati dong pilihannya. Kamu nggak serius! Nggak dilihat bagaimana bisa menilai cantik nggak nya! Ntar aku aduin Papa sama Papa mertua baru tahu kamu!"kesal wanita itu, memukul lengan sang pria. Pria itu menghela nafas kasar, kemudian dengan sedikit enggan menatap jari dan pergelangan tangan wanita itu.


"Bagus. Kamu pakai apapun bagus," ucapnya memuji dengan nada datar.


"Huh!" Wanita itu mendengus sebal. Pria itu menghela nafas pelan. Raut wajahnya tampak kesal juga sedikit cemas. Ia tampak menarik nafas kemudian tersenyum manis. Tangannya menggenggam jemari wanita itu.


"Sayang, jangan kesal ya. Aku tadi nggak fokus. Pikiran aku melayang," ujar Pria itu membujuk. Wanita itu masih cemberut.


"Kenapa? Memikirkan resignmu dari pekerjaanmu?"ketus wanita itu dan Pria itu mengangguk.


"Sayang, kamu tahu kan betapa beratnya meninggalkan pekerjaan yang telah diidamkan sejak kecil?" Dengan nada lembut, Pria itu tampak menjelaskan.


"Ya," jawab datar wanita itu. 


"Jadi aku mengerti kan perasaan aku?" Wanita itu mengangguk.


"Ya sudah. Bagaimana jika aku yang memilih kalung dan anting untukmu? Jangan marah lagi, ya," ujar Pria itu. Senyum wanita itu langsung mengembang dan mengangguk semangat. 


"Mbak tolong keluarga kalung terbaik di toko ini!"titah Pria itu pada karyawati yang melayani mereka.


Jadi mereka sudah menikah? Baguslah ….


Bella turun dari kursinya dan melangkah menghampiri pasangan tersebut.


"Siang, Pak Gio. Apa kabar? Sepertinya Anda sudah menikah dengan Nona ini," sapa Bella. Ya pria itu adalah Gio dan istrinya, Anastasya. Gio tampak kaget, matanya membulat sempurna mendapati sosok yang pernah membuat dirinya kagum dan sempat menaruh rasa untuk Bella, tersenyum ramah padanya. Sementara Ana, menatap Bella penuh selidik.


"Siapa dia, Mas?"tanya Ana penuh tekanan.


"Ah Sayang dia ini …."


"Jangan salah paham dulu, Nona. Saya dan Pak Gio memang pernah berhubungan namun hanya sebatas perkerjaan. Saya juga pernah melihat Nona dan Pak Gio bertengkar di cafe tempo hari. Oh ya apa benar memang kalian sudah menikah?"jelas Bella, memastikan. Pasangan itu saling tatap, ada rasa malu di sana.


"Kamu melihatnya?"tanya Gio canggung. Bella mengangguk.


Aduh malunya.


Gio tersenyum canggung.


"Benar. Kami sudah menikah," ucap Ana, menggandeng lengan Gio. Wajah curiga Ana sudah hilang. Berganti dengan wajah penuh hak kepemilikan atas Gio. Bella tetap tersenyum. 


Siapa juga yang mau ngerebut? Aku juga punya suami, sungut Bella dalam hati.


"Selamat ya untuk kalian berdua. Semoga langgeng," ujar Bella, kemudian melirik Anjani untuk pergi.


"Terima kasih," jawab Gio formal.


"Saya pamit ya," pamit Bella, langsung menyusul langkah Anjani.


Gio menatap rumit punggung Bella. Hatinya belum bisa menghilangkan rasa kagum pada Bella. Ingatan akan Bella yang tertidur bersandar pada punggungnya masih teringat jelas. Tanpa sadar, Gio tersenyum.


"Mas kamu kenapa senyum-senyum nggak jelas gitu? Kamu pernah suka sama dia?"terka Ana penuh selidik. Gio terkesiap. 


"Nggak. Nggak kok, Sayang." Wajahnya kembali datar. 


"Lalu? Jujur kamu. Dia kan yang buat kamu bersikap aneh waktu itu? Jawab!"cerca Ana lagi, sorot matanya menatap tajam pada Gio.


"Itu hanya masa lalu. Sekarang kita sudah nikah, nggak perlu bahas masa lalu lagi!"tegas Gio. 


"Mas, kamu!"


"Sudah, ayo pilih perhiasannya lagi. Setelah ini kita harus fitting baju resepsi!" Mata Gio menyapu beberapa kalung yang dibawakan oleh karyawati.


Wanita itu mendengus, "awas kamu jika macam-macam lagi!"ancamnya dan Gio tidak menjawabnya.


*


*


*


"Bel, kok kita keluar sebelum mendapat apa-apa sih?"heran Anjani.


"Nanti saja. Aku lapar, makan siang dulu," jawab Bella, matanya mencari tempat makan yang menarik seleranya.


"Lalu siapa mereka tadi?"tanya Anjani penasaran.


"Yang pria pernah mengurus masalah Nesya sedangkan yang wanita, aku hanya tahu bahwa ia putri dari salah seorang anggota Parpol yang mau nyalon jadi bupati, dan ku dengar Gio bakal jadi wakilnya," jawab Bella, melangkah masuk ke salah satu food count yang menawarkan menu seafood. 


"Tapi tatapannya tadi kayak ada rasa sama kamu, kamu merasa nggak?"


"Ya. Aku tahu. Aku pun sempat hampir terjebak perasaan dengannya tapi untungnya aku tahu bahwa ia sudah punya tunangan."


"Oh syukurlah."


Mereka menempati salah satu meja. Pelayan mendekat, bersiap mencatat menu pesanan. 


"Loh kok banyak banget, Bel?"


"Ken mau kemari, sekalian pesan saja," jawab Bella, sembari mengirim pesan pada Ken.


"Ken? Tumben."


Bella mengendikkan bahunya. "Sudah ada rasa kali sama kamu. Mulai takluk dengan pesona seorang Nabilla Arunika Chandra," goda Anjani.


"Mungkin."


"Gimana kalau iya?"


"Ya nggak masalah."


"Kekasihnya?"


"Terserah."


"Kok terserah sih. Ini kata yang untuk dimengerti," keluh Anjani.


"Lalu?"tanya balik Bella. Ia tampak acuh sampai akhirnya tersenyum lebar melihat seorang pria tinggi beralis tebal, mengenakan celana jeans dan kemeja lengan panjang, melangkah masuk dan menghampiri meja mereka.


"Assalamualaikum, Kak Billa," sapanya yang tak lain adalah Ken.


"Waalaikumsalam."