This Is Our Love

This Is Our Love
Hari Kemenangan



Hari Kemenangan telah tiba. Gema takbir berkumandang syahdu di setiap sudut. Langit begitu cerah. Suasana begitu tenang dan damai. 


Setelah shalat subuh dan sarapan, keluarga Mahendra berangkat menuju masjid untuk mengikuti shalat Idul Fitri. Ah kecuali Bella dan Silvia. Mereka tidak ikut shalat Idul Fitri berjamaah di masjid mengingat kehamilan mereka. Sebenarnya mereka ingin.


Akan tetapi, itu memiliki resiko yang cukup mengingat ramainya jamaah dan rapatnya shaf shalat. 


Terlebih untuk Bella. Oleh karenanya, Ken dan Brian meminta keduanya untuk shalat di rumah, berjamaah dengan mereka. Itu tidak akan mengurangi pahala ataupun kekhusyukan shalat. 


Selesai shalat Idul Fitri, keluarga Mahendra yang shalat di masjid kembali ke mansion. 


Dibantu para pelayan, mereka sibuk menghidangkan menu makanan khas Idul Fitri di ruang keluarga yang disulap menjadi tempat makan secara lesehan. 


Ini adalah lebaran yang sangat spesial. Di mana ketiga putra Mahendra itu telah menikah, telah memiliki istri dan keluarga kecil sendiri. 


Bagi Surya dan Rahayu, ini jelas adalah momen lebaran yang akan sangat bersejarah. Moment di mana ketiga anak mereka akur satu sama lain dan tentunya berada di rumah. Berbeda dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Jika sebelumnya Brian yang terlalu acuh dan sinis pada El. Lalu El yang tidak pernah di rumah, entah liburan sampai ujung dunia. 


Tidak lengkap. Jika lengkap pun rasanya hambar karena kaacuhan dan kekakuan yang melimutinya. 


Ah … ini adalah moment lebaran yang baru untuk setiap anggota keluarga. Begitu juga dengan Bella. Dulu, selama ia di luar negeri, selalu dirayakan dengan virtual. Sekarang, nyata bersama dengan Nesya, juga dengan Ken suaminya dan keluarganya. 


Dan juga untuk El. Dulu, jujur saja, meskipun ia ikut sahur, puasa full satu hari saja itu sulit, mengingat juga bagaimana bebas pergaulannya dulu. Brian, dia puasa namun hanya sekadar puasa.


Anjani? Jelas! Ini lebaran pertama dengan keluarga baru. Tanpa perbandingan dan tanpa kesedihan. Seperti lebaran yang ia impikan bersamaan dengan keluarga kecilnya. 


Bagaimana dengan Dylan? Meskipun sedih dan sangat merindukan keluarganya, Dylan senang dan bersyukur bisa masuk dan memiliki keluarga baru. Hangatnya sama dengan kehangatan keluarganya dulu. Dia juga memiliki kakak-kakak yang luar biasa dengan karakter yang berbeda. 


Nesya? Dia bahkan menangis keras saat momen meminta maaf dan izin kepada Bella. Masa lalunya buruk dan mengecewakan sang kakak. Belum lagi penyakit yang sempat ia derita. Ia berhasil sembuh bukan hanya karena perjuangan dirinya. Tapi, juga karena kekuatan Bella. Baik mental dan finansial. 


Ia sangat-sangat bersyukur, memiliki kakak seperti Bella, juga keluarga seperti keluarga Mahendra yang menerima bahkan mengerti akan masa lalunya yang kelam. Mereka membuka tangan lebar untuknya. Dan selama tinggal di sini, tidak ada yang mengungkit masa lalunya. Ya, itu sudah berlalu. Cukup diingat dan dijadikan pelajaran, tidak perlu dibicarakan dan diumbar lagi. Latar belakang dan masa lalu manusia tidaklah sama. 


Fajar? Ya dia hampir sama seperti Dylan. Bedanya, Fajar masih memiliki keluarga kandung dan sebelum ia kecelakaan kemudian koma. Fajar sudah mengenal calon keluarga suami kakaknya itu. 


Mereka satu keluarga yang datang dan memiliki latar belakang serta masa lalu yang berbeda pula. Dan masa lalu itu tidak lagi terlihat. Tawa dan senyum mereka begitu lebar, ceria, keceriaan dan semeriah hari kemenangan. 


"Jika tahu makanan lebaran seenak ini, aku pasti tidak akan kelayapan dan tinggal di rumah menghabiskan semuanya," cetus El di sela-sela makan mereka. Ketupat, opor ayam, sambal hati, lemang, rendang, semur jengkol, semua tersaji, begitu menggugah selesai. Lalu ditambah dengan sirup dan aneka kue lebaran salah satunya nestar, siapa yang tidak akan betah di rumah?


"Dan selamat menikmati indahnya darah tinggi!"sahut Brian dengan wajah cueknya. 


"Ah … kau kolot sekali," celetuk El, membalas Brian. "Zaman sekarang banyak minuman untuk menurunkan kolesterol. Ah, benar. Tanpa kolesterol pun kau sudah darah tinggian," imbuh El dengan terkikik. Wajah Brian merubah menjadi datar. 


"Dan kau adalah penyebabnya!"balas Brian, menimpali balasan El lagi. 


"Hm, sepertinya kau harus diwaspadai kolesterol, Kak. Lihat, piringmu begitu penuh dan ini sudah tambah berapa kali? Ingat, segala yang berlebihan itu tidak baik," ujar El dengan menunjuk piring Brian. Ia malah berubah menjadi menceramahi Brian.


Melihat perubahan raut wajah Brian, itu mengundang gelak tawa. Termasuk Silvia, niat menelakkan El, malah ia yang ditelakkan oleh El. "Bukankah katamu ada minuman penurun kolesterol?" Sedikit bersungut. 


El terkekeh. "Aman itu, Kak. Seperti kau saja yang makan banyak," sahut El, mengedarkan pandangnya melihat piring Surya, Ken, Dylan, dan Fajar. 


"Untuk Bunda juga El. Meskipun sedikit harus diatasi," ucap Rahayu. 


"Siap, Bunda!" El menjawab. 


*


*


*


Selesai makan, mereka tidak pergi keluar. Hari pertama lebaran dihabiskan di rumah. 


"Ah hampir kelupaan. Lebaran identik dengan THR," ucap El, dengan menatap Surya dan Brian bergantian. 


"Mengapa kau menatapku begitu?"tanya Brian.


"Mana THR ku?"


Astaga! Dylan dan Fajar saling tatap, begitu Ken dan Bella. Anjani meringis pelan. Ah … mungkin karena momen yang pertama kali.


"Tidak ada?"tanya El setelah hening cukup lama.


"Kalau sudah nikah kan tidak dikasih lagi, Kak. Kecuali kau masing single," ucap Ken. 


"Really? Tidak akan dapat THR?" El bertanya dengan raut tidak percaya. 


"Malah harusnya kamu yang ngasih THR, El," imbuh Anjani, menimpali ucapan Ken tadi. 


"Aku?" 


"Hm harusnya sih memang seperti itu," balas Rahayu dengan mengangguk. 


El menggaruk lehernya. Wajahnya tampak bingung. "Aka sudah dapat THR belum?"tanya Bella yang dibalas dengan gelengan. "Belum, Aunty."


Belum menikah, artinya itu adalah Dylan, Nesya, Arka, dan Liev. "Aku juga loh," tambah Anjani. Mata El sedikit membulat. Jarinya langsung menghitung. 


"Aku belum balik modal, gimana mau ngasih THR?"tanyanya dengan wajah memelas. 


"Kalau begitu traktir saja kami nanti pas kau sudah balik modal, Kak," sahut Ken. 


"Nah benar itu. Ya semacam perayaan," timpal Dylan. Yang dimasukkan adalah El belum mendapatkan keuntungan dari film terbarunya yang baru akan launching perdana besok. 


"Kau tidak mungkin menolaknya kan, Kak?" Ken menaikkan alisnya. 


"Ya-ya. Off course," balas El dengan sedikit tergagap. 


"Aku gugup. Aku takut …."


"Usaha yang terbaik akan menghasilkan yang terbaik juga, El," sela Rahayu, tahu arah pembicaraan El. 


"Itu benar. Kami semua mendukungmu, El," ucap Anjani. 


El terharu. Ia tersenyum lebar. Di saat demikian, tiba-tiba ada suara pesan masuk dan itu hampir di semua ponsel kecuali ponsel Surya. 


"Aku dapat transferan," ucap El memberitahu setelah membaca pesan yang masuk ke ponselnya.


"Aku juga." Dylan menimpali yang diangguki oleh Nesya. Artinya dia juga dapat. 


"Aku juga dapat," sambung Fajar. Sedangkan Brian, Silvia, Ken, Bella, Anjani, dan Rahayu menatap Surya dengan bingung. 


"Kami juga dapat, Pa?" Brian bertanya dengan bingung. Jumlahnya memang tidak terlalu banyak. Namun, mampu membeli ponsel keluaran terbaru.


"Ah … thank you very much, Pa!" El bangkit dan memeluk Surya. 


 "Ini baru benar. Masa' karyawan saja yang dapat THR," cetus El setelah melepas pelukannya.


"Tahun ini saja," jawab singkat Surya. Yang mengubah raut wajah El menjadi sedikit cemberut namun tidak menutupi binar rasa senangnya. 


Dapat THR, tentu semua senang bukan? 


Ini resiko punya suami terlalu percaya diri dan sedikit tebal muka, ringis Anjani dalam hati. 


*


*


*


Dan keesokan harinya, adalah hari yang spesial untuk El. 


Why?


 Karena filmnya akan tayang perdana di bioskop hari ini, siang ini pukul 14.00 nanti di seluruh bioskop Indonesia. Ini adalah puncak dari penantiannya. Selain itu ini akan melihat seberapa besar ketertarikan penonton untuk menonton ini sebagai film hari raya setelah promosi iklan selama satu bulan lewat media elektronik maupun media sosial. 


Dari komentar di media sosial sih bagus dan sangat menantikannya. Terlebih ini comeback El dan film dengan genre berbeda dari yang sebelumnya. Selain karena itu comebacknya, juga dibintangi oleh artis dan aktor kenamaan. Berharap itu sesuai dengan prediksi. Dan ini didukung oleh keluarganya 100 persen. 


Selain tayang di Indonesia, itu juga tayang di Jerman dengan jam launching yang sama waktu Jerman. 


Selesai makan siang, keluarga itu berangkat menuju salah satu bioskop di Jakarta. 


Mereka akan nonton bareng bersama dengan penonton perdana juga dengan kru pembuatan film itu, termasuk pada aktor dan aktrisnya. 


Perjalanan memakan waktu cukup lama karena lalu lintas yang padat. Lebaran hari kedua, biasanya diisi dengan berkunjung ke rumah saudara atau berekreasi. 


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka tiba di salah satu mall di ibu kota. Berjalan masuk dengan gaya masing-masing. Mungkin, tinggal Fajar yang merana karena ia belum punya gandengan. Tapi, tidak ada ia masih bisa menggendong Liev. Setidaknya ia tidak tangan kosong. Kehadiran keluarga konglomerat itu mengundang perhatian. 


Setibanya di bioskop, mereka bertemu dengan Tuan dan Nyonya Adhitama, Anggara, Azzura, dan Angkasa. Bella mengudang mereka untuk ikut nonton bareng dan tawaran itu disambut baik. 


Selain kelima orang itu, sudah banyak calon penonton yang membeli tiket, dan juga para kru, aktor, dan aktris. Mereka saling menyapa, sebelum akhirnya masuk ke dalam bioskop karena film akan segera dimulai.


Mengambil posisi paling cocok untuk menonton. Mereka serius mengikuti jalannya alur film tersebut. 


El tersenyum lebar. Iklan yang diluncurkan berhasil menarik minat banyak penonton. Bioskop ini hampir penuh. El berharap, ulasan positif akan ia terima selalu sutradara. 


Film dimulai dari intro yang mengangkat keindahan Yogyakarta dan juga Jerman. Intro yang singkat namun mampu memberikan gambaran akan film tersebut. 


Durasi yang sekitar 2 jam 30 menit. Ya, memang diwarnai dengan air mata karena itu adalah film perjuangan seorang anak yang mencari ibunya. Sejak kecil ia tidak pernah bertemu dengan sang ibu. Sang nenek yang merawatnya. 


Surga ada di telapak kaki ibu, itulah yang menjadi motivasinya. Ia ingin bertemu dengan sang ibu, meskipun itu hanya sekali. Namun, tidak semudah yang terbayangkan karena Jerman, bukanlah negara kecil. Lebih-lebih tokoh utama adalah orang asing di sana. 


Setelah menonton dan menangis karena film, mereka melakukan sesi foto bersama. Ulasan positif diterima oleh film itu. Dan rating yang tinggi. Jumlah penonton awal jika digabungkan seluruhnya, sejujurnya melebihi ekspektasi. Memang rencana Tuhan tidak bisa ditebak. "Aku berhasil." El comeback dengan fantastis.