
Agama berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri atas dua kata, a yang berarti tidak dan gama yang artinya kacau. Jadi agama itu adalah tidak kacau. Agama adalah peraturan yang bertujuan agar kehidupan manusia tidak kacau.
Ruang lingkup agama bukan hanya hubungan antara manusia dan Tuhannya. Akan tetapi, juga antara manusia dengan sesamanya dan dengan makhluk lainnya. Juga dengan alam sekitar.
Di dunia ini, ada banyak agama. Dari agama yang samawi atau yang berasal dari langit atau Tuhan yang diwahyukan kepada rasul untuk disebarkan pada umat manusia. Islam adalah salah satu dari agama samawi tersebut.
Dan di dunia ini ada orang yang tidak beragama. Namun, bukan berarti ia tidak percaya dengan adanya Tuhan.
Dia ada. Namun, dia tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Dia ada, ada di setiap hati orang yang mempercayai, beriman, dan bertakwa padanya.
Dia bukan benda. Dia adalah zat yang maha suci dan maha agung. Dia yang menciptakan, menjaga, dan mengurus alam semesta beserta isinya.
Dan dia sang maha kaya. Yang memberikan raga dan nyawa yang harganya sama sekali tidak ternilai.
Kita memang tidak bisa melihatnya. Namun, kita harus mengimaninya.
Al-Qur'an, kitab suci itu berisi firman-firmannya yang agung. Itu adalah sebuah cahaya yang akan menuntun manusia hidup bahagia baik di dunia maupun di akhirat kelak. Kitab itu juga berisi kabar gembira bagi yang yang bertakwa kepada-Nya. Dan peringatan bagi yang ingkar kepada-Nya.
"Tuan, Tuan Besar memanggil Anda," ucap Irene pada Desya yang masih membaca lembaran buku, sudah seminggu ia mempelajari dan mencoba mengenal keyakinan Bella.
"Masalah apa?"tanya Desya, tanpa mengalikan pandangnya.
"Saya juga kurang tahu, Tuan," jawab Irene.
"Harus sekarang?" Sedang enak-enaknya membaca, malah diganggu. Desya menunjukkan wajah kesalnya.
Irene menunduk. "Hah! Baiklah!" Desya meletakkan bukunya dan berdiri. Meninggalkan perpustakaan untuk menemui ayahnya. Irene menyusul langkah lebar Desya.
*
*
*
Desya bersama dengan Dimitri dan Aleandra berbicara di taman dengan ditemani teh dan beberapa hidangan musim dingin untuk menghangatkan tubuh. Irene tidak bersama dengan Desya. Wanita itu Desya suruh untuk membantu Lucia dalam mempersiapkan kepergian istri keduanya itu ke Italia.
Sudah ada sepuluh menit Desya duduk bersama orang tuanya. Namun, belum sepatah katapun keluar dari bibir kedua orang tuannya. Desya berdecak sebal dalam hati.
Ayahnya sibuk membaca majalah, sementara ibunya menikmati hidangan. Apa ia dipanggil kemari hanya untuk melihat hal ini?
Desya sudah beberapa kali bertanya. Namun, tidak digubris oleh keduanya. "Ayah, Ibu, hal apa yang membuat kalian memanggilku kemari? Jika hanya untuk melihat kalian membaca dan makan, lebih baik aku pergi. Aku sibuk!"pungkas Desya pada akhirnya. Ia sudah tidak tahan. Sekitar 15 menit. Seharusnya ia sudah membaca beberapa lembar.
"Sibuk membaca buku-buku keagamaan itu?"cetus Dimitri, melirik putranya sekilas.
"Kalian tahu?" Dengan nada datar. Bukan hal aneh apalagi mengherankan.
"Kau berencana memeluk agama?"tanya Aleandra lembut, menatap putranya.
"Kalian menyimpulkannya begitu?" Desya tahu, kedua orang tuanya tengah mempertanyakan rencananya. Tengah mempertanyakan masa depannya. Karena, jika ia memeluk agama, pasti akan ada perubahan di Green Palace ini.
Dimitri dan Aleandra sendiri adalah jugalah sama seperti dirinya. Tidak memeluk keyakinan apapun.
"Jadi, apa rencanamu?"tanya Dimitri dengan serius. Ia meletakkan majalahnya. Menatap sang putra dengan lekat.
"Desya, meskipun Ibu tidak tahu maksudmu belajar agama itu. Ibu harap kau mempertimbangkan dengan matang. Ibu tidak mau nantinya kau menyesal," tutur Aleandra lembut. Ia tidak menghalangi keinginan putranya. Aleandra hanya mengarahkan, agar anaknya tidak gegabah.
"Desya, jika kau memeluk agama kau akan terikat dengan peraturan ketuhanan? Apa kau siap untuk semua itu?"imbuh Dimitri. Desya adalah anak yang tidak mau dikekang oleh apapun. Ia bebas, bebas melakukan apapun yang ia inginkan.
Orang tuanya benar-benar serius menanggapinya.
"Tapi, keyakinan mana yang mau peluk, Desya?"tanya Dimitri. Orang tua itu, bukannya tidak tahu alasan di balik Desya belajar agama, Bella. Tidak bisa dipungkiri, Bella membawa perubahan pada Desya. Setidaknya, putra mereka itu lebih sering tersenyum.
"Ayah, Ibu, aku hanya mempelajarinya. Untuk memeluk keyakinan, aku belum berpikir ke arah sana," jawab Desya.
"Eh … bukankah kau mau memperistri Bella?" Niatnya sudah diketahui jelas oleh kedua orang tuanya, menikahi Bella.
"Dengan karakternya, mustahil membuatnya melepas keyakinan. Yang ada kau yang harus melakukannya, Desya. Sebenarnya Ibu sedikit lega …," imbuh Aleandra, kemudian menjeda ucapannya. Aleandra minum untuk membasahi tenggorokannya yang agak kering.
"Jika kau saat ini memeluk salah satu keyakinan, pasti itu akan sangat merepotkan dan menyebabkan perpecahan," tambah Aleandra.
Dimitri mengangguk membenarkan. Meskipun mereka tidak memeluk agama, mereka tahu peliknya hubungan antara dua insan yang berbeda keyakinan. Itu lebih jauh dari kematian.
"Benarkah begitu?" Desya terhenyak.
"Tentu. Apa kau tidak tahu? Kalian harus seiman untuk bisa bersama."
"Sungguh?" Tampaknya Desya benar-benar tidak tahu.
"Tunggu. Apa kalian mencari tahu tentangnya?"tanya Desya, dengan tatapan menyelidik pada orang tuanya.
"Dia calon menantu kami. Mana mungkin kami tidak mencari tahu latar belakangnya lebih jauh?"sahut Aleandra santai.
"Jika tidak terhalang oleh keyakinan, mungkin yang menjadi suaminya saat ini adalah Tuan Muda dari Jerman itu, bukan suami yang sekarang," timpal Dimitri.
"Stop!"ucap Desya dengan wajah kesal. "Dia sudah bercerai dengan suaminya! Panggil pria itu mantan suami!"lanjut Desya dengan penuh penekanan.
Dimitri dan Aleandra saling tatap. Keduanya tampak bingung. "Tapi, kau masih …."
"Mulai sekarang sebut mantan suami!"
"Baiklah. Tapi, Desya, yang harus kau taklukan bukanlah kami. Melainkan dia, karena sampai saat ini mantan suami itu baginya masihlah suaminya. Selain itu, dia juga hamil. Kau tahu hubungan suami dan istri bisa dipisahkan namun hubungan seorang anak dan orang tuanya tidak akan bisa dipisahkan. Tidak ada yang namanya mantan anak di dunia ini."
Desya mengangkat kedua alisnya. "So, fighting, Desya!"ucap Dimitri dan Aleandra berbarengan seraya mengangkat kedua tangan mereka.
Dukungan penuh sudah diberikan oleh orang tuanya.
Lantas, apakah Desya bisa menaklukan hati Bella?
*
*
*
Ini adalah malam terakhir Lucia dan Lesta di Green Palace sebelum terbang ke Italia besok pagi.
Setelah magrib, Lucia dan Lesta mendatangi kamar Bella. Keduanya hendak berpamitan karena mereka akan meninggalkan Green Palace dalam waktu yang tidak ditentukan.
"Selamat malam, Nona Bella," sapa Lucia.
"Selamat malam, Aunty," timpal Lesta.
"Malam, Lucia, Lesta," balas Bella, menyapa keduanya.
Di kamarnya memang terdapat kulkas cukup besar. Digunakan untuk menyimpan minuman dan makanan.
Di kamar ini, sebenarnya juga ada dapur mini. Sudah mirip sebuah apartemen sangking luasnya. Bella menyajikan mereka teh dan biskuit.
"Besok kalian akan berangkat, bukan?"tanya Bella.
"Benar. Besok aku dan Lesta akan berangkat," jawab Lucia dengan tersenyum.
"Semoga perjalanan kalian menyenangkan. Dan semoga kau bisa menjalankan tanggung jawabmu dengan baik," harap Bella yang diangguki oleh Lucia.
"Aunty, Lesta pasti akan sangat merindukan Autny," ucap Lesta. Ia berpindah menjadi duduk dalam pangkuan Bella.
"Jadilah anak yang baik. Aunty pasti juga akan sangat merindukan kalian," ucap Bella dengan mengusap rambut Lesta.
"Terima kasih, Nona Bella. Anda telah memberikan kami sebuah kehidupan dan pengalaman yang baru," ujar Lucia dengan tulus.
"Jika kau merasa begitu, aku senang mendengarnya," balas Bella.
"Aunty, apa nanti Aunty akan bermain dengan Liev?"
"Jika ada kesempatan, Autny akan bermain dengannya. Bagaimana denganmu? Apakah kau sedih berpisah dengan Liev?" Anak perempuan itu mengangguk dengan mata sedih. Ya siapa yang tidak sedih berpisah dengan saudaranya?
"Tenang saja. Kalian hanya terpisah jarak, bukan darah. Saat Lesta sudah sangat rindu Ayah dan Liev, Lesta bisa pulang ke istana ini."
"Sungguh?" Lesta bertanya dengan mata berbinar, menatap Bella dan Ibunya bergantian.
"Tentu saja," jawab Lucia. "Hubungan darah adalah hubungan yang tidak bisa diputuskan."
Bella sesaat merasa aneh saat Lucia mengatakan hal tersebut. Namun, beberapa saat kemudian, ia berpikir bahwa Lucia mengatakan hal itu dengan maksud bahwa meskipun Lesta dan Liev lain ibu, mereka tetap satu darah yakni keturunan Desya. Dan itu mustahil untuk dihilangkan.
"Kau juga akan mengunjungi yang lain?"tanya Bella. Dibalas anggukan oleh Lucia. "Aku akan pergi jauh. Sudah selayaknya berpamitan."
"Baiklah. Aku rasa kau harus segera mengunjungi yang lain. Hari semakin malam dan Lesta pasti akan mengantuk," ungkap Bella.
"Kau benar. Kalau begitu kami pamit ya, Nona Bella," ucap Lucia sembari menggendong Lesta.
"Hati-hati."
"Selamat malam, Nona Bella."
"Malam."
"Dadah Aunty." Bella membalas lambaian tangan Lesta dan kedua orang itu hilang di balik pintu.
"Entahlah, aku tetap merasa ucapannya tadi aneh," gumam Bella.
*
*
*
Desya menatap keluar jendela kamarnya. Malam ini ia tidak menghabiskan waktu di perpustakaan. Matanya yang pekat menatap tajam ke langit.
Wajahnya yang dingin, bertambah dingin dengan hembusan angin. Udara begitu dingin namun Desya tidak menambah kain lagi menutupi tubuhnya.
Pria itu malah hanya menggunakan celana panjang dan kemeja hitam. Tanpa balutan jas, rompi, ataupun mantel.
Tangannya memegang gelas wine. Itulah yang menghangatkan tubuhnya.
"Hubungan darah tidak akan pernah putus. Maaf, Leon. Adikmu memilih kebebasan. Alasannya begitu menohokku. Aku tidak bisa untuk menolaknya. Tapi, tenang saja. Aku akan tetap menjaganya. Karena perpisahan kami, hanya kami berdua yang tahu," gumam Bella. Nyaris berbisik pada dirinya sendiri.
*
*
*
Keesokan paginya, Lucia dan Lesta telah siap untuk berangkat ke Italia. Mereka berdua diantar langsung oleh Desya dan juga Irene.
Bella melihat kepergian mereka melalui jendela kamarnya. Mobil Limosin itu melaju, meninggalkan Green Palace.
Bella menghela nafasnya kasar. Ia kemudian tersenyum pahit.Aku menunggu misiku selesai. Bahkan sebelum itu selesai, aku mengirim dua orang keluar dari istana ini."
Hah.
Kembali isa menghela nafas berat. Bella kemudian terkekeh. "Astaga. Berat sekali menjadi orang yang bertanggung jawab," keluh Bella. Sementara ini, pekerjaannya ada di sini. Namun, terkadang pikirannya melayang pulang.
"Entah alasan apa yang mereka gunakan karena ketidakhadiranku. Aku penasaran."
Posisi yang ia isi cukup sentral. Hengkangnya dirinya pasti akan menimbulkan berbagai pertanyaan.
"Aku merasa sangat bersalah padamu, Ken. Pasti kau mengalami banyak kesulitan, kan?"monolog Bella. Ia mendongak ke langit, matanya kembali memancarkan kesedihan dan kerinduan.
Sebenarnya, ia Bella bisa saja kabur dari sini. Atau setidaknya ia bisa meretas internet dan mengirimkan sinyal pada keluarganya. Akan tetapi, Bella tidak segera melakukannya karena ia merasa dirinya terikat tanggung jawab di istana ini.
Bella tidak bisa pergi sebelum misinya selesai.
Dan ini sudah sekitar dua Minggu sejak hari tantangan itu. Sejauh ini, Ariel memegang janjinya. Ariel tidak mengganggu atau mengusik Bella sama sekali.
Namun, ada hal yang membuat Bella lebih gusar. Bella sudah tahu bahwa Desya sering bermalam di perpustakaan untuk membaca buku-buku agama.
Bella merasa terkejut dengan hal tersebut. Terkejut dengan Desya yang benar-benar bertekad padanya.
Hah!
"Bagaimana jika ia benar-benar masuk Islam karena ingin mengikatku di sisinya?"gumam Bella, resah.
"Tidak. Jangan gundah, Bella! Jangan goyah! Jika ia masuk Islam itu adalah karena keinginannya. Bukan karena aku yang menyuruh."
Bella tidak pernah menyuruhnya untuk masuk Islam. Mereka hanya menyingung soal Tuhan. Itu pilihan Desya mau memeluk keyakinan yang mana.
Bella menghela nafasnya. Keresahan itu sedikit menghilang dan tatapannya berubah serius.
"Atau aku mengirim kabar saja pada mereka? Bahwa aku baik-baik saja?"pikir Bella. Bella kembali pada bahasan pertama. Ia bisa mengirim pesan bersama dengan virus. Dengan begitu, ia bisa memberi kabar tanpa terlacak lokasinya.
Benar!
Aku bisa melakukannya.