This Is Our Love

This Is Our Love
Aku Percaya Padamu



Bella jelas tiba lebih awal di resort yang telah dibooking keluarga Kalendra selama liburan di Bali. Sebuah resort mewah yang langsung menghadap pantai dengan gaya arsitektur yang kental dengan nuansa Bali.


Bella tersenyum lebar melihat bagian lobby resort. Sembari menunggu yang lain, Bella memilih menikmati secangkir kopi dan membuka laptopnya. 


Tak berselang lama kemudian, bus pariwisata yang membawa rombongan keluarga Kalendra berikut tim yang memenangkan tender serta Ken tiba di resort. Kedatangan mereka sudah ditunggu, manager resort langsung datang menyambut mereka. 


Bella yang melihat itu dari tempatnya duduk, mendongak singkat kemudian  mengedikkan bahu sebagai respon.


"KAK ABEL!"teriak lantang seseorang. Bella kembali mendongak. Sosok pemuda cilik berlari ke arahnya. Bella berdiri lalu berjongkok, menerima pelukan kecil nan hangat pemuda cilik kesayangannya itu.


Siapa lagi kalau bukan Key. Di tengah perjalanan tadi Key terbangun dan langsung menanyakan keberadaan Bella. Ia meminta agar sopir lebih cepat lagi agar segera bisa bertemu dengan Bella.


"Bagaimana perasaanmu, Key? Sudah tidak mabuk lagi kan?"tanya Bella sembari mengusap lembut pipi Key.


Bella ingat ini adalah kali pertama Key mengudara lebih dari 12 jam. Putra dari Leo itu menggeleng kecil seraya tersenyum.


"Baguslah."


"Key sangat merindukan Kakak," ucap Key. 


"Kakak juga sangat merindukan Key," balas Bella, mencubit gemas pipi Key. 


"Loh-loh kok mendung sih?"tanya Bella, melihat mata Key yang berkaca-kaca.


Pangeran keluarga Kalendra itu kembali menekuk Bella. Menelusupkan wajahnya pada ceruk Bella. Pelukan yang erat. 


"Baiklah. Ayo kita masuk." Bella menggendong Key. Anak itu masih setia menyembunyikan wajahnya. Helena yang merasa tidak enak langsung meminta Bella menyerahkan Key padanya.


"Tidak apa, Kak. Key nggak berat kok. Lagipula penerbanganku tidak selama kalian," ujar Bella. 


"Baiklah." Walau sudah tahu akan begini, tetap saja Helena merasa tidak enak. 


"Ayo masuk," ucap Max, melangkah bergandengan dengan Rose, memimpin jalan yang ditunjukkan oleh manajer resort. Disusul oleh Leo dan Helena. 


"Resa mana Louis?"tanya Bella.


"Ketiduran di dalam, sekretarismu juga," jawab Teresa yang kini berdiri tepat di samping Bella. Ketiduran? Jarak dari bandara ke resort ini tidak sampai 20 menit. Jika Louis tidak terlalu heran. Tapi Ken?


"Bisa tolong bangunkan sekretarisku? Selesai makan siang kami ada meeting."


"Aku?" Teresa menunjuk dirinya sendiri.


"Key kembali tidur. Aku tak tega mengganggunya."


"Oh … baiklah. Tunggu sebentar aku akan membangunkan dya orang itu!"sahut Teresa.


Baru saja meminjakkan satu kaki di bus, Teresa terkejut saat Ken tiba-tiba muncul di depannya dengan raut wajah datar.


"Sudah bangun? Baguslah ayo, Ken. Resa kau bangunkan Louis!"titah Bella lagi.


Teresa mengangguk. Ia lebih dulu memberi jalan untuk Ken turun barulah Teresa kembali naik ke dalam bus.


"Anak ini … tidur lagi?" Ken menunjuk Key dengan wajah heran bercampur takjub. 


"Hm. Ayo." Ken segera mengambil dua koper milik mereka. Mereka menyusul yang lain setelah sebelumnya Ken membereskan laptop Bella kembali ke dalam ransel. 


"Oh iya Aru, kita satu kamar kan?"tanya Ken memastikan.


"Menurutmu?"


"Tentu," jawab Ken. Wajahnya mantap namun sesaat kemudian menjadi gusar. "Tapi mana mungkin. Ku dengar tadi pria itu memesan satu kamar lagi, kemungkinan untukku," ketus Ken. Bella menaikkan satu alisnya, pria itu, Louis kah?


Tiba-tiba Ken menghentikan langkahnya. Langkah Bella otomatis juga berhenti. "Aru kau menolak untuk pisah kamar denganku kan?"tanya Ken penuh harap. Ia sangat berharap jawaban Bella ya. Jika tidak, bagaimana bisa mereka disebut sedang berbulan madu jika pisah kamar? 


"Mau bagaimana lagi?"sahut Bella. Ia meringis karena lupa dengan hal penting ini. Bella langsung bersalah melihat mimik kecewa Ken. Suami berondongnya itu sudah lama menantikan malam pertama mereka, iya kali pisah kamar? 


"Akan aku pikirkan jalan keluarnya," ucap Bella menenangkan Ken. Ken diam tidak menjawab. Ia melanjutkan langkahnya. 


Bella berdecak kesal pada dirinya sendiri. 


"Abel mengapa masih di sini? Menungguku?"


Bella berbalik saat mendengar suara Louis. Pria pemilik senyum manis itu melangkah lebar mendekati Bella, disusul oleh Teresa yang menarik dua koper dengan wajah ditekuk masam. 


"Seingatku Resa bukan asistenmu," ucap Bella.


"Dia mengganggu tidurku," sahut Louis yang menjawab pertanyaan Bella. 


"Oh." 


"Ayo." Ketiganya kembali melangkah dengan Teresa berjalan di belakang keduanya. Ia menggerutu sebal, ia sudah mirip pembantu yang membawa barang majikannya. 


Teresa terhenyak sampai berhenti melangkah saat melihat Louis merangkul pinggang Bella. Meski terdengar penolakan halus dari Bella, Louis tetap mempertahankan posisi tangannya.


Ada apa denganku? Hati Teresa tidak karuan. Rasanya sangat tidak nyaman melihat Bella dan Louis yang begitu dekat. Padahal dulu, hal itu sudah menjadi hal biasa baginya. 


Apa aku menyukai Tuan Louis?bisik Teresa dalam hati. 


*


*


*


"Hei tangan itu mau ku patahkan ya?!"seru Ken saat melihat Bella dan Louis datang berbarengan dengan Louis tetap merangkul pinggang Bella. Hati Ken terbakar cemburu, sangat panas!


Louis yang tidak mengerti dengan tatapan marah Ken, menoleh kepada Bella meminta penjelasan. 


"Kau melanggar janjimu!"ucap Ken dingin. Ken semakin kesal karena Bella hanya menunjukkan wajah datarnya. Mata Ken semakin dingin saat melihat Bella dan Louis berhadapan. 


"Kak aku harus segera meeting. Key samamu ya?"


"Oh jadi dia marah karena mau meeting ya?"tanya Louis memastikan.


"Baiklah. Tapi letakkan dulu kopermu di kamar. Aku akan mengantar Key pada Kakak ipar," ujar Louis tersenyum manis. Bella mengangguk. Louis melangkah pergi setelah bertatapan dengan Ken yang menatap tajam dirinya. 


Ada apa dengan sekretaris Abel itu? Tidak mungkin dia punya perasaan untuk Abel, bukan? Louis merasa tidak nyaman, segera menepis pemikirannya itu. 


"Abel kau mau ke mana?" Bella yang baru keluar kamar setelah meletakkan kopernya di dalam melihat ke arah Teresa yang baru menyusul.


"Meeting. Kau mengapa jalannya lama sekali?"


"Tubuhku masih terasa sangat lemas." Bella menanggapinya dengan mengangguk kecil. 


"Aku ke kamar dulu ya," pamit Teresa. Bella mengangguk. 


"Kamarmu di mana?"tanya Bella setelah Teresa menjauh.


Ken melangkah dengan menarik kopernya. Kamar Ken dan Bella terpaut jarak cukup jauh juga. Bella menyentuh lehernya. 


Ken melihat jam tangannya. Masih pukul 11.15. Meeting di pukul 13.00. 


"Eh mau ke mana?"tanya Bella saat tangannya ditarik tanpa pemberitahuan dari Ken. Ken tidak menjawab. 


Ya sudah, ikuti saja, batin Bella. Diam-diam Bella tersenyum melihat dan merasakan kecemburuan dan protektif Ken padanya.


*


*


*


Di dalam kamar mereka, Helena menunggu Leo yang tengah mengambil ancang-ancang untuk menjelaskan suatu hal. 


"Jadi sebenarnya Abel sudah menikah," ungkap Leo dengan berbisik. Mata Helena sontak terbelalak. Sebelum sang istri berteriak kaget, Leo lebih dulu ambil tindakan dengan membungkam bibir Helena dengan bibirnya. Mata Helena semakin terbelalak, suaminya ini sedang curi kesempatan kah?


"Kau ini!"kesal Helena setelah bibirnya dilepas oleh Leo. Leo tersenyum, "jangan teriak," ujarnya lembut, meluluhkan hati Helena. Helena menghela nafas, ia menetralkan hatinya yang masih kaget.


"Kau tahu darimana?"


"Saat di bandara tadi. Dia tak tahu kalau aku sedikit mengerti bahasa Indonesia," jawab Leo dan Helena mengangguk.


Tunggu bandara? "Jangan katakan kalau sek …."


"Benar. Dia suami Abel," sela Leo. Lagi dan lagi Helena terbelalak.


"S-serius? Semuda itu? Kau tak bercanda kan? Aku tidak percaya selera Abel lebih muda darinya!"


"Tidak ada yang tidak mungkin, Sweetheart. Aku juga sudah mencari tahu tentangnya. Apa kau kira Abel akan memilih sekretaris pria yang dalam sekali lihat bisa dikatakan seorang pemula?" Helena jelas menggeleng. 


"Itu karena status suaminya dan hubungannya dengan Abel."


"Suaminya adalah putra bungsu keluarga Mahendra, pemilik Mahendra Group yang merupakan keluarga tersohor di negara ini. Pengaruh mereka cukup besar di Asia bahkan sudah merebak ke Eropa dan Amerika. Mengenai selera, ku rasa ada kesepakatan besar di balik pernikahan mereka. Pernikahan itu terjadi sebulan setelah Abel pulang." Leo menerawang. 


"Dan mereka akhirnya saling jatuh hati?"


"Sepertinya."


"Lalu bagaimana dengan Louis? Jika ia tahu, bukankah akan menghancurkan perasaannya?"


"Seharusnya Louis sudah siap untuk itu," jawab Leo, menghembuskan nafas kasar. 


"Selamanya mereka tidak akan bersatu karena dia, aku, dan Abel sama-sama keturunan Kalendra," lanjut Leo. 


"Hah?" 


*


*


*


Sementara yang lain mengistirahatkan tubuh setelah perjalanan jauh, Ken dan Bella berjalan berduaan menyusuri tepi pantai. Deburan ombak, desiran angin, menjadi melodi indah nan romantis yang mengiringi langkah pasangan itu. Ken merangkul pinggang Bella. Tatapannya te


tap lurus ke depan, begitu juga dengan Bella, mereka saling rangkul. Terlihat romantis walau belum ada satu katapun yang terucap.


Lelah berjalan, keduanya  beristirahat di bawah pohon nyiur yang daunnya melambai disapa angin. Bella memejamkan matanya menikmati suasana menenangkan ini. Pikirannya mulai jernih. Bella belum menyadari kalau setelah ia menutup mata, Ken menatapnya dalam-dalam. 


"Aru …."


"Hem?" Bella membuka matanya. Ia terdiam mendapati Ken tepat di depan matanya. Keduanya saling tatap cukup lama. Lagi, seakan sudah menjadi kebiasan, telunjuk Bella kembali hinggap di pangkal hidung Ken, menyusuri batang hidung itu dan berhenti di bibir.


"Sepertinya isteriku sangat candu menyentuh hidungku," goda Ken, mengencup telunjuk Bella.


Deg!


Bella sontak memalingkan wajahnya. Bella merasakan wajahnya memanas saat membayangkan hal yang lebih dalam saat menelusuri batang hidung Ken tadi.


"Aru … lihat aku," titah Ken. 


"Hm?" Walau dengan menunduk. 


"Lihat aku!" Lembut namun tegas. Mata keduanya kembali bertemu pandang.


"Aku tahu kau punya kesulitan sendiri. Aku percaya kau akan memegang teguh janjimu. Aku rasa tidak masalah kamar kita berbeda. Dan aku rasa juga tidak masalah jika bulan madu kita yang sesungguhnya terjadi di akhir. Kita bisa menambah cuti satu hari lagi."


"Kau? Apa yang kau katakan?" Bella merasa pendengarannya kurang jelas. 


"Kita akan tetap menjalankan posisi atasan dan bawahan sampai kau mengatakan tentang hubungan kita."


"Kau serius?"


Ken mengangguk. "Aku percaya padamu."