This Is Our Love

This Is Our Love
Clear!



Ya, Nona itu tak lain adalah Azzura. Azzura terhenyak sesaat tak lama ia tersenyum tipis. "Aku hanya percaya dengan apa yang aku lihat dan dengar!"


"Namun, kali ini Anda hanya mendengar tanpa melihat aslinya," sergah Bella langsung. 


Azzura tetap tersenyum. Ia tenang menghadapi sergahan Bella seakan ia sudah punya jalan keluar untuk itu. 


"Aku percaya dengan apa yang aku dengar!"ucapnya kekeh pada apa yang ia yakinin. Bella menggeleng yang menandakan ia menyayangkan keyakinan Azzura hanya pada apa yang ia dengar. 


"Jika ada orang yang mengatakan bahwa Anda adalah seorang Nona Muda dengan keterbelakangan mental, apa Anda percaya? Apa Anda setuju dengan pernyataan itu?"balas Bella. Ia tampak tercekat. Ia tidak menduga Bella melemparkan pertanyaan demikian. Bella menarik senyum miring, "tentu Anda tidak akan setuju karena Anda adalah orang yang normal secara fisik dan batin!"ucap Bella. 


"Apa-apa yang Anda maksudkan? Saya tidak mengerti. Dan siapa Anda?" Ekspresi Azzura berubah bingung. Bella merubah posisi duduknya, dari yang semula duduk formal menjadi menyilangkan kedua tangan di atas perut dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kiri. 


"Nona Azzura hentikan sikap pura - pura idiot Anda! Kita sudah berbincang cukup lama dan terlambat jika ingin mengelak. Kita harus selesaikan urusan kita hari ini juga!!"cibir Bella, menatap sinis Azzura. Azzura mendengus, ia kemudian mengikuti posisi duduk Bella.


"Urusan apa?"


"Saya yakin Anda punya masalah pendengaran." Bella menjawab sarkas dan mengakibatkan wajah Azzura menjadi masam.


"Atas dasar apa Anda mengkliam jika saya yang mengirim email uang Anda bicarakan ini?"tanya Azzura. Wajahnya begitu yakin jika Bella hanya menuduh tanpa bukti.


"Aigo!! Anda ini … menarik. Baiklah. Tapi, sebelumnya katakan padaku, atas dasar apa kau berkata demikian padaku?"tanya balik Bella. Keduanya bertatapan intens beberapa saat. 


"Seorang Ibu tidak akan berbohong perihal anaknya! Kau mengambil Ken dari Cia, Nona Bella!"jawab Azzura yakin.


"Siapa yang mengatakan aku mengambil Ken dari Cia, Azzura?" Nada bicara Bella mulai geram dan sapaan formal tidak ia gunakan lagi.


"Nyonya Utomo sudah menceritakannya semuanya pada Mamaku dan aku mendengarnya dengan jelas. Sebagai ipar, tentu aku harus membantu kakak iparku mendapatkan apa yang seharusnya menjadi miliknya!"papar Azzura. Bella langsung tertawa mendengarnya. Ia merasa Nyonya Utomo sedang memancing di air keruh. Bella juga heran dengan Azzura mengapa menerima mentah-mentah penuturan Clara. 


"Seorang Ibu memang tidak akan berbohong perihal anaknya. Namun, seorang Ibu bisa berbohong untuk kebahagian anaknya," ralat Bella kemudian. Matanya menyipit, bibirnya tersenyum lebar menunjukkan kedua lesung pipinya. 


Azzura langsung mengeryit. "Begini saja, Anda dengarkan cerita saya tentang awal mula hubungan saya, Ken, dan Cia, sampai Ken dan Cia berpisah. Saya berkunjung ke kediaman ini hanya untuk meluruskan salah paham sebelum salah paham itu berbuntut panjang. Okay, saya mulai ya." Bella kembali menggunakan sapaan formal.


"Jika Anda tanya alasan saya setuju menikah dengan Ken, sementara saya tahu Ken punya seorang kekasih, maka jawabannya adalah sama seperti apa yang dialami oleh suami Anda. Di mana saya, butuh penyokong, butuh seseorang dengan pengaruh luas dan berkemampuan, butuh seseorang yang mampu mengatasi masalah saya dan bayarannya adalah sebuah kebebasan yang harus diserahkan di saat saya ataupun suami Anda belum siap. Jika saya egois, lantas bagaimana dengan Anda sendiri?" Bella menunjuk Azzura yang terdiam di tempatnya. 


Harganya sebuah kebebasan? Tentu saja! Sebuah pernikahan, diikat dalam tali janji suci pernikahan yang diucapkan di hadapan saksi dan Yang Maha Kuasa. Bagi Bella, it's okay. Sudah matang usianya untuk menikah walau saat kembali ke Indonesia tidak terpikir olehnya untuk menikah dalam waktu sesingkat itu. Ada hal yang ingin Bella capai dahulu baru ia bisa mengikat dirinya dalam sebuah ikatan pernikahan. Tidak! Sebuah pernikahan  bukan sebuah penjara. Hanya saja, bagi orang seperti  Bella, yang punya ambisi dan lingkaran hidup yang keras, tentu akan lebih mudah meraih tujuan tanpa ada sebuah tali pernikahan.


Lantas dengan Anggara? Pemuda itu masihlah seorang mahasiswa yang baru memasuki semester 4. Loh kenapa memangnya? Sudah cukup umur untuk menikah, bukan?


Namun,  menikah bukan hanya sekadar tentang cukup umur atau bukan. Akan tetapi tentang sebuah kesiapan, baik umur, mental, finansial, dan kesiapan batin. 


Terlebih lagi Azzura menunjukkan pada publik dia adalah seorang Nona Muda dengan keterbelakangan mental. Tentu ada suatu rasa tidak adil, tidak nyaman, bahkan marah dalam diri Anggara saat disinggung tentang ia yang sudah menikah dengan seorang wanita berumur 25 tahun namun dikenal idiot. 


"Cinta bukan tentang siapa yang datang lebih awal. Tapi tentang siapa yang bertahan sampai akhir. Cinta tidak tentang harus memiliki. Cinta itu kadang disebut sebuah pengorbanan. Jika Anda pergi lalu kembali dengan alasan masih mencintai, maaf itu adalah sebuah tanda ketidakrelaan dan sebuah obsesi. Mengenai obsesi saya yakin Anda tahu artinya," lanjut Bella. 


"Obsesi itu sudah masuk gangguan jiwa, dan itulah alasan Nyonya Utomo berkata jika saya yang mengambil Ken dari putrinya," imbuh Bella. 


"Tolong jangan diam, katakan sesuatu atau saya menuntaskan apa yang saya ingin katakan baru Anda akan berbicara?"tawar Bella. Azzura menggeleng pelan.


"Baik, saya anggap Anda setuju dengan tawaran saya," putus Bella. 


Sebelum melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan selanjutnya, Bella meminum jus yang disediakan oleh pelayan.


"Katakan, Nona Azzura. Saya bukan ingin mendominasi pembicaraan ini. Namun, saya ingin meluruskan mengenai email yang Anda kirim pada saya!" Tatapan Bella tajam. Ia menantikan jawaban Azzura yang masih terdiam membisu. Sorot matanya rumit, sesekali melirik kanan atau kiri seakan tengah membandingkan sesuatu. 


"Jika seperti itu, maka saya juga tidak bisa untuk tidak egois. Itu lebih kepada mempertahankan apa yang sudah benar-benar menjadi milik kita. Hanya saja, apa Anda tidak punya rasa kasihan dengan Cia?" Azzura tampaknya masih mencari cela untuk membantu kakak iparnya. 


"Kasihan? Apa yang pantas dikasihani? Dia memutuskan untuk pergi dan sanggup untuk itu. Lalu melarikan diri dari Singapura kembali ke Indonesia dalam kondisinya yang demikian, bukankah ia sangat sehat?" Hati Bella seakan dingin membahas tentang penyakit Cia. Adiknya saja kuat. Bahkan kondisinya bisa dikatakan lebih parah dari Cia. Hanya saja, satu yang membedakan semangat, semangat untuk sembuh. 


Cia, menerima perawatan maksimal di rumah sakit elit dengan keluarga yang menemani. Sedangkan Nesya? Di penjara, tanpa keluarga yang bisa menemani dua puluh empat jam. Sudah jelas siapa yang paling memprihatinkan, bukan?


"Nona, aku bukan orang yang tidak memiliki toleransi. Namun, saat ketenangan. dan keluargaku diusik, jangan salahkan aku jika aku bertindak tegas. Mengenai saham perusahaan Utomo yang bertahan di titik itu, itu bukan kuasaku. Itu adalah kuasa dari Presdir Mahendra Group!" Azzura menghela nafas pelan. Tampaknya ia sudah mulai mengerti akan kesalahpahaman yang Bella katakan. Kurang objektif mungkin jika hanya mengambil nilai atau sebuah kesimpulan hanya dari cerita satu orang akan hal yang sama. 


Bella sudah membawa nama keluarga Mahendra dan Utomo sendiri. Rasanya sulit untuk tidak bisa diterima semua yang Bella ucapkan. 


Azzura mengakui bahwa dirinya memang bertindak sesuai dengan yang Clara ceritakan pada Mamanya. 


"Anda tidak bisa menyalahkan takdir, begitu juga Anda tidak bisa menyalahkan cinta." Bella kemudian berganti memperlihatkan sesuatu pada Azzura.


"Jika Anda menyimak dengan jelas apa yang saya sampaikan sedari tadi, Anda pasti bisa menerka maksud saya menunjukkan hal ini." Azzura terkesiap di tempatnya. Itu adalah data hasil pelacakan Bella pada alamat email milik Azzura. 


"D-dari mana Anda tahu dan sejak kapan?" Azzura bertanya dengan terbata. Ia menatap rumit Bella yang semakin menarik senyum lebar. 


"Frozen X." 


Azzura terbelalak mendengar apa yang Bella ucapkan. "Aku tahu tentangmu, Azzura. Tapi, kau hanya tahu tentangku seujung kuku!"tambah Bella.


Tunggu! Azzura mengingat ucapan Bella yakni kita mengenal secara virtual, artinya …. "K-kau, jangan katakan jika kau Chandra?"


"All right. I'm Chandra."


Apa itu Chandra? Dan apa itu Frozen X? Itu adalah nama samaran Bella dan Azzura dalam satu komunitas internasional yang isinya adalah ahli di bidang komputer. Mereka mempelajari dan saling berkomunikasi tanpa langsung bertatapan atau maya. 


Azzura bukanlah seorang Nona Muda yang keterbelakangan mental. Ia adalah sebuah permata, jantung dari ASA Bank. Azzura bekerja di balik layar. Selain di depan orang tuanya, ia akan menunjukkan sisi anak usia 5 tahun. 


Bukan, Azzura memang pernah mengalami keterbelakangan mental akibat benturan keras pada kepalanya saat masih berada di dalam kandungan. Kala itu, di usianya yang masihlah 8 bulan, kecelakaan menimpa sang ibu dan menyebabkan ia lahir sebelum waktunya dan dengan kondisi tulang tengkorak yang cedera. 


Tuan dan Nyonya Adhitama tidak larut dalam kesedihan. Mereka berusaha keras agar Azzura tumbuh menjadi anak yang sesuai dengan usia dan mentalnya. Di usia yang ke sepuluh tahun, Azzura terbebas dari selempang keterbelakangan mental yang ia derita. 


Namun, ketiganya sepakat untuk tidak mengumumkan kabar bahagia itu ke publik ataupun kerabat mereka. Setelah sembuh, Azzura dan Mamanya terbang ke inggris untuk menjalani hidup sementara waktu yakni menuntaskan pendidikan Azzura lewat kelas akselerasi. Sepuluh tahun di Inggris, Azzura kembali dan masih dengan title Nona Muda keterbelakangan mental. 


Azzura tidak ambil pusing dengan hal itu. Tolak belakang kemajuan pesat ASA Bank adalah tak lain atas campur tangan Azzura di belakang layar. Lalu mengapa ia mempertahankan image dan title Nona Muda keterbelakangan mental padahal ia adalah seorang yang jenius? Hampir sama dengan Bella? Jawabannya simpel, karena Azzura nyaman dengan itu. Dengan begitu ia tidak akan banyak menerima tuntutan publik. Kehidupannya juga tidak akan disorot karena ia adalah anak rumahan. Sekali disorot, adalah tentang pernikahannya dengan Anggara.


 Chandra, sengaja Bella menggunakan nama belakangnya. Nama itu memiliki arti yang mendalam. Dalam mitologi India berarti rembulan atau dewa bulan, yang mengatur orbit benda bersinar di malam hari. Nama lengkapnya adalah sebuah perpaduan yang lengkap Arunika yang artinya matahari terbit dan Chandra yang berarti rembulan. Bella bisa bersinar saat di siang ataupun malam hari, tiada yang bisa membatasi langkahnya. 


"Maafkan saya, Senior." Azzura berdiri dan menundukkan kepala di hadapan Bella.


"Rileks, tidak perlu seperti itu. Duduklah."


Azzura duduk tanpa diperintah dua kali. "Lalu apa Anda ingin memberikan tambahan pelajaran untuk keluarga Utomo?"tanya Azzura serius.


"Tergantung," jawab Bella yang membuat Azzura gusar.