This Is Our Love

This Is Our Love
Pesan dan Kesepakatan



Ken terbelalak saat melihat apa yang muncul di layar laptopnya. 


To: My Husband.


Disertai dengan gambar gif berbentuk love. 


Ini cara penyampaian pesan ala programmer. 


To: My Husband. 


Di bawah kata itu adalah tulisan continue. Ken tidak langsung mengklik nya. "Aru." Ia bergumam dengan air mata yang jatuh. 


Continue. 


Ken mengklik nya setelah menyeka air matanya. 


Untuk membuktikan ini nyata, ada baiknya kau merekamnya, Ken. Karena pesan ini tidak akan terbuka lagi nantinya. 


Itu pesan selanjutnya. Lebih mirip sebuah perintah. 


Ken segera mengambil ponselnya dan merekam pesan tersebut dan pesan selanjutnya. 


Benar juga. Jika Ken nanti heboh dan memberitahu semua orang kalau Bella mengirim pesan padanya. Terlebih pesan itu hanya bisa dibuka sekali. Namun, jika ada bukti seperti ini, orang lain pasti akan mempercayainya. 


Continue. Ken kembali mengkliknya. 


Assalamualaikum, My Husband. Bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja karena di sini aku juga baik-baik saja. Jadi, jangan terlalu mencemaskanku, okay?!


Itu pesan selanjutnya.


"Waalaikumsalam. Syukurlah jika kau baik-baik saja di sana, Aru," jawab Ken.


"Tapi, bagaimana mungkin aku tidak mencemaskanmu dan bayi kita?"tanya Ken yang dijawab keheningan. 


Setiap sebaris pesan akan muncul kata continue. Ken kembali mengkliknya. 


I miss you. Aku sangat merindukanmu. Jaga dirimu dengan baik, Ken!


"Aku juga sangat merindukanmu, Aru. Kapan kita akan bersama kembali?"


Sebenarnya di sini tidak terlalu buruk. Dia memperlakukanku dengan cukup baik. Dan juga, aku punya kesempatan untuk kabur. Tapi, Ken. Aku tidak bisa kabur sebelum tanggung jawabku selesai. Ya aku tahu ini sangat berat. Tapi, kita harus menjalaninya untuk sementara waktu. Ini hanya tentang waktu. Begini saja … anggap saja aku tengah ikut sebuah tim rahasia yang tidak bisa diganggu oleh siapapun. Kau tahu kan? Ya, i know ini tetaplah berbahaya. Dan dengan posisiku, memang sulit untuk menghindarinya. Hehehe kau tahu aku bagaimana, kan?


Ken mendengus. "Itulah yang membuat aku mencemaskanmu, Aru. Kau begitu berani."


Suaranya sedikit parau karena menahan tangis. Bahunya bahkan bergetar. "Tapi, kerinduanku sudah sedikit terobati. Aku akan berusaha semaksimal mungkin, Aru. Aku tidak akan pernah mengecewakanmu!"


Oh iya … aku bermimpi kita sudah bersama saat aku melahirkan. Mimpi yang indah. Kau bahkan sudah menyiapkan nama untuk mereka. Dalam mimpiku, kita akan punya anak kembar. Aku tidak tahu itu benar atau tidak kerena aku belum pernah melakukan USG di sini. Dan kau ingin tahu namanya keduanya? Nayan Chandra Mahendra dan Nazira Chandra Mahendra. Bagaimana? Nama yang kau berikan cantik, bukan?


Dan saat ini, Ken tidak mampu untuk menahan tangisnya lagi. Ia menangis dengan suara yang jelas. 


Ya siapa yang tidak akan menangis membaca pesan tersebut? "Tidak adil! Kau tidak pernah masuk dalam mimpiku. Padahal aku sangat menginginkannya!"


Jika Bella berada di sisinya, Bella pasti akan meledek Ken. 


Ken? Aku bukan cenayang. Tapi, entah mengapa aku merasa kau akan menangis membaca ini. Jika benar, artinya aku hebat! 


"Ya … ya! Kau sangat hebat, Aru!"ucap Ken. Suaranya parau dengan nada ketus. 


Hm. Aku rasa sampai segini dulu. Ya meskipun aku belum puas. 


Jaga kesehatanmu, Ken. Aku tak mau menjengukmu jika kau sakit. 


Ah satu lagi, aku memang tidak bisa memastikan lokasi pastinya. Tapi, aku berada di Rusia Barat. 


Aku pamit. Assalamualaikum.


From: Your Love, Aru.


"Waalaikumsalam, My Aru." 


Dan pesan tersebut langsung hilang. Sama seperti yang Bella katakan di awal tadi. 


Ken menyimpan videonya. Untung saja ia menuruti pesan Bella. Jika tidak, maka itu akan menjadi sebuah penyesalan. 


Ken menyeka sudut matanya. "Aku percaya," gumamnya dengan menyunggingkan senyum.


"Dan Rusia Barat? Itu petunjuk yang sangat besar!"


*


*


*


"Benarkah?" Azzura terperanjat dari duduknya saat menerima telepon dari Ken.


"Benar. Pesannya memang tidak bisa dibuka lagi. Tapi, kau bisa melacak lokasinya?" Rupanya Ken menghubungi Azzura, memberitahunya bahwa ia mendapatkan pesan dari Bella. 


Lengkap dengan video yang telah Ken rekam sebagai bukti bahwa ia tidak berhalusinasi. 


"Tolong kirimkan padaku, Tuan Muda. Aku akan melihatnya dulu," balas Azzura. Tatapannya berubah fokus dan serius menatap layar laptopnya. 


"Baiklah." Tak butuh waktu lama, Ken mengirimkan apa yang Azzura minta. Tangan Azzura bergerak lincah di atas keyboard. Matanya begitu tajam. Ponsel ia letakkan di meja dengan menyalakan loudspeaker. 


"Tuan Muda. Aku tidak bisa melacaknya. Alamatnya menjadi acak karena virus. Aku rasa Nona Bella sengaja membuatnya agar tidak menimbulkan masalah," terang Azzura. 


"Sudah aku duga."


"Hah?" Azzura terkesiap mendengar balasan Ken. 


"Kalau begitu, fokuskan pencarian di Rusia Barat. Kau lihat pesan Aru sebelum berakhir, kan?"


Azzura kemudian melihat video yang Ken kirimkan. "Ya, benar. Kami juga fokus menyisir Rusia Barat. Bersabarlah, Tuan Muda. Anda pasti akan segera berkumpul kembali dengan Nona Bella!"ucap Azzura dengan penuh keyakinan. Itu sebuah petunjuk yang sangat penting. Dengan begini, mereka bisa fokus pada satu tempat, Rusia Barat. 


"Tapi, Tuan. Nona Bella benar-benar cenayang, ya?" Azzura melayangkan candaan, sebagai respon mendengar tangisan Ken yang terekam video. 


"Eh? Hahaha." Ken tertawa, canggung. 


Azzura ikut tertawa. "Baiklah, Tuan Muda. Saya akan segera melakukan pelacakan lagi," pamit Azzura.


Azzura kemudian mengakhiri panggilan. Ia segera menghubungi anggota tim yang lain untuk melakukan rapat. 


*


*


*


"Kau meretasnya?" Bella diintrogasi oleh Desya. Tatapannya mengintimidasi Bella. Namun, Bella tetap tenang. Ia bahkan tersenyum. 


"Tenang saja. Aku hanya memberinya kabar. Aku juga memasukkan virus. Jadi, alamatnya tidak akan terlacak. Lagipula sudah aku katakan, aku tidak akan pergi sebelum tugasku selesai," jawab Bella tenang dengan kemudian meniup kukunya. Ini hari Jumat dan waktunya untuk memotong kuku. 


"CK!" Desya berdecak. Lagi dan lagi. Kata-kata aku tidak akan pergi sebelum tugasku selesai Desya dengar. Desya tidak menyukainya!


Ia sudah kehilangan satu istri dan Desya bertekad tidak akan pernah melepaskan Bella. Entah itu suka atau hanya obsesi, Desya ingin tetap Bella berada di sisinya.


"Sebentar lagi adikku akan operasi. Hatinya harus tenang agar operasinya berlangsung lancar dan sukses," lanjut Bella. 


"Lagipula untuk apa kau takut? Kau kan sangat percaya diri dengan kekuasaanmu," cetus Bella, menyinggung soal keamanan dan kekuatan Black Rose ini. 


"By de way, apa rakyat menuruni karakter pemimpinnya? Ku dengar kau punya nuklir dan rudalnya. Ah … tidak heran negara ini ditakuti." 


"Cukup!" Jika diteruskan, Bella akan menyambungkan ke mana-mana. Dan hasilnya pasti akan menohok dirinya sendiri. 


"Oh iya, bagaimana kelanjutan kerja samamu dengan orang asal Meksiko itu?"tanya Bella, mengubah topik pembicaraan. Bella sudah cukup melihat wajah masam Desya. 


"Lancar," jawabnya singkat dan ketus. Layaknya orang yang tengah badmood. Bella terkikik pelan. 


Sesaat, itu membuat Desya terkesima. Tubuh Bella kian berisi seiring dengan bertambahnya usia kandungannya. 


Ah mengenai kehamilannya, meskipun baru menginjak Minggu ke empat, kandungan Bella sudah terlihat besar, terlihat lebih besar dari usia kandungan pada umumnya. 


Dan Bella teringat akan mimpinya. Firasatnya mengatakan bahwa ia benar hamil anak kembar.


"Ah baiklah. Sepertinya kau sibuk. Jika ada yang harus aku kerjakan, titipkan saja pada Irene," tukas Bella seraya berdiri. 


"Kau mau ke mana?"tanya Desya saat Bella memakai mantel. 


"Lapangan panah," jawab Bella. Belakangan ini, Bella memang sering ke lapangan panah. 


"Udara semakin dingin. Lakukan aktivitas dalam ruangan saja," ujar Desya. Tersirat rasa khawatir di sana. 


Ya, sebentar lagi tahun baru. Tidak sampai satu minggu lagi. Dan udara semakin dingin. Bella tersenyum seraya menggeleng. "Tidak akan dingin karena aku bergerak."


Sama seperti saat di dalam air. Jika menggerakkan tubuh, dinginnya air tidak akan terasa. Namun, saat berdiam diri, rasa dinginnya membuat menggigil. 


"Aku ikut. Aku ingin bertanding denganmu," putus Desya. Dengan alasan menemani, Bella pasti menolak.


"Alright." Bella sedikit mengedikkan bahunya. 


Keduanya kemudian berjalan menuju lapangan panah. Berdampingan. Dekat tapi ada di dinding di antara keduanya. 


"Aku membaca banyak buku. Dan aku menyadari bahwa agama tidak akan pernah habis jika dipelajari. Sama seperti ilmu. Sebenarnya aku agak sulit belajar otodidak. Apakah kau mau mengajariku, Bella?"tanya Desya di tengah perjalanan yang membuat Bella menghentikan langkahnya dan menoleh pada Desya. 


Desya sedikit membatu. Takut Bella menolaknya. 


Dahi berkenyit itu seakan menimbang. Dan dibalas dengan anggukan Bella. 


"Sungguh?" Desya langsung berseri-seri.


"Hm." Rasanya keliru jika Bella menolaknya. Dia meminta dengan tulus. 


Bella kembali melangkah. Diikuti dengan Desya yang meskipun tidak tersenyum, binar bahagia tidak bisa disembunyikan dari matanya. 


Dan kini mereka telah tiba di lapangan panah. Di sana ada Andry dan beberapa rekannya. 


Saat melihat Bella dan juga Desya, mereka langsung menundukkan kepala memberi hormat. 


Raut wajah Desya sedikit berubah saat melihat Andry. Andry sendiri menunduk dalam. Jantungnya berpacu kencang. 


Ia merasa bersalah pada Tuannya. Namun, apa daya. Nafsu memimpinnya. Apalagi Nyonya pertama itu menginginkan dirinya. Sebagai bawahan yang tidak punya kekuasaan, Andry yang bisa pasrah dan menikmatinya. 


Ekskresi apa itu? Mata tajam Bella menangkap ekspresi Andry. Lupakan saja. Itu bukan urusanku. 


Bella kemudian melangkah menuju rak untuk mengambil busur dan anak panah. Juga memakai sarung tangannya. Diikuti oleh Desya. 


Andry dan rekan-rekannya undur diri saat Desya memberi mereka kode untuk pergi. Mereka pergi tanpa menciptakan suara. 


"Angkat busurmu, kita lihat perbandingan kita!"ucap Desya. 


"Siapa takut!"sahut Bella. 


"Katanya kau ingin bertanding dengannya. Namun, sampai sekarang tidak terlaksana. Kau bahkan didahului oleh putramu. Apa kau takut kalah, Dimitri?"ucap Aleandra dengan mencibir. 


Jumat sore, mereka menikmati suasana di balkon. Dan kebetulan menemukan pemandangan yang menarik. 


Dimitri berdecak. "Aku hanya belum menemukan waktu yang pas!"kilahnya, beralih kembali melihat Desya dan Bella dengan bantuan teropong. 


"Alasan. Katakan saja kau takut kalah!"decak Aleandra.


"Aku meremehkan kemampuanku, Ale?"


"Kita lihat saja nanti. Jika Desya menang, kau harus menantangnya. Jika Desya kalah kau harus mengaku bahwa kau takut kalah darinya," ucap Aleandra, membuat tawaran. 


"Okay!" Dimitri menyanggupinya. Ia tampaknya sangat percaya diri jika Bella akan kalah. 


Mereka kembali memperhatikan Desya dan Bella dengan serius. Hingga pada tembakan anak panah terakhir, keduanya bertatapan. "Bagaimana ini?"tanya keduanya dengan wajah bingung karena hasilnya adalah seri. 


Dan tadi mereka tidak membuat kesepakatan jika hasilnya seri. "Eh mereka kembali memanah!"ucap Aleandra. Keduanya berharap hasilnya tidak seri. 


Tap!


"Apa aku harus benar-benar menantangnya?"tanya Dimitri dengan wajah enggan.


"Dimitri, kau harus memegang janjimu!"ucap Aleandra dengan mata tajam. Tidak menerima bantahan Dimitri. 


Dan itu, disahut dengan anggukan pasrah Dimitri.