This Is Our Love

This Is Our Love
Perkenalan



"Kak, senang bertemu denganmu lagi. Kau masih ingat aku, kan?" Sebelum pertanyaan Bella dijawab, Fajar menunjukkan dirinya. Bella mengeryit. Agaknya ia lupa dengan Fajar. Mereka hanya beberapa kali bertemu dan itu sudah hampir tiga bulan lalu. 


"Dia adikku, Fajar," ucap Silvia. 


"Oh astaga! Maafkan aku," ucap Bella, merasa bersalah. Ia baru mengingatnya. 


Fajar tersenyum, "tidak apa, Kak."


"Aigo. Kata-kata itu membuatku semakin merasa tidak enak. Eh? Kau sudah sembuh total?" Melihat Fajar yang sudah berdiri tanpa alat bantu. Fajar mengangguk. 


"Syukurlah. Itu lebih cocok untukmu ketimbang duduk di kursi roda. Ingat, jaga baik-baik ya kesehatanmu, okay."


"Okay."


Ken kemudian menceritakan dengan rinci perubahan yang terjadi di Mahendra Group pasca penculikannya. Surya dan Brian juga turut andil. 


Bella mendengarkan dengan saksama. "Begitulah. Kini aku yang menggantikan posisimu, Aru," ujar Ken, mengakhiri penjelasannya.


"Jadi, kalian mengatakan bahwa aku resign karena mengurus perusahaan?"tanya Bella. Ken mengangguk.


"Terdengar janggal sih. Dan itu tidak sesuai dengan sifatku. Tapi, ya mau bagaimana lagi? Aku harus menerimanya," sahut Bella. Jujur saja, ia kesal mendengar alasan yang dibuat oleh keluarga itu. 


Mengundurkan diri dengan alasan itu? Ayolah. "Maafkan kami, Abel. Tapi, jika kami katakan hal yang lain, maka takutnya akan menimbulkan masalah baru lagi," ucap Surya. 


"Ya. Tidak masalah," sahut Bella, tersenyum tipis.


"Karena kau tidak ada pekerjaan lagi di sana. Tetap tinggallah di sini," ucap Desya dengan bahasa Rusia. Pria itu memasang telinganya dengan baik, sangat baik dan tajam malah.


"Apa yang kau katakan, Desya? Aku bukan sekadar karyawan di sana. Aku adalah istri Ken. Aku akan kembali dengannya. Maaf, aku tidak bisa menerimanya tawaranmu itu," tolak Bella langsung, dengan bahasa Rusia pula. 


"Berbicara dengan bahasa yang bisa kami mengerti!"ketus Ken. 


"Selain ini, Nona juga memiliki tanggung jawab lain. Nona adalah pemegang saham terbanyak di kawasan Amerika. Selain itu, Nona adalah pemilik mutlak dari Nero Group. Anda tidak bisa atau berhak menyuruhnya untuk tetap tinggal di sini. Karena, ini bukankah rumahnya. Ini hanya tempat persinggahannya!"tukas Tuan Adam yang mengerti pembicaraan Bella dan Desya. 


"Apa?!"seru Ken. Menoleh pada Desya, "beraninya kau menyuruh Aru tetap tinggal di sini!" Pria itu kesal dan marah. Ia bangkit. Bella yang menebak apa yang hendak Ken lakukan langsung menahan tangan Ken. 


"Aku menolaknya. Aku akan pulang denganmu. Namun, benar. Ini adalah persinggahanku. Meskipun aku datang ke sini karena diculik, jujur saja, aku lumayan nyaman di sini. Oleh karenanya, aku dan bayi kita baik-baik saja," ucap Bella. Desya tidak begitu buruk.


Dia mafia. Bunuh membunuh adalah hal biasa di dunianya. Bella bukan wanita naif yang tidak tahu seberapa gelap dan kejam dunia ini. Ia memiliki pemikiran yang terbuka. 


"Kau membelanya, Abel?"tanya Louis. Padahal, Desya sudah menjauhkannya dari keluarga, mengapa dibela?


"Sudah aku katakan. Dia memang salah. Tapi, dia memperlakukanku dengan baik. Kami adalah teman. Benarkah, Desya?"


Astaga! Itu mengejutkan untuk Desya. Ia tahu Bella hanya menganggapnya sebagai teman. Akan tetapi, tidak pernah menduga bahwa Bella akan mengatakan itu di hadapan keluarganya. 


Bukan hanya Desya, seluruhnya juga terkejut. 


Bella ini, aku sulit menggambarkan dirinya, batin Dimitri. 


"T-tentu saja. Kita adalah teman," jawab Desya, dengan gugup karena ia sangat bahagia. 


"Dan di belakang Desya itu adalah Irene. Dia yang sering menemani dan membantuku," ucap Bella, menunjuk Irene. Sepertinya ini sesi pengenalan antara keluarga Bella dan keluarga Volcov.


"Hallo," sapa Irene, datar dan dengan wajah wibawanya.


"Hallo," jawab keluarga Bella.


"Mereka adalah orang tua Desya, Tuan Dimitri dan Nyonya Aleandra," ucap Bella kemudian.


Dimitri dan Aleandra mengangguk singkat. 


Pantas anaknya seperti itu. Orang tuanya serbuk berlian, gumam keluarga Bella dalam hati. Mereka tidak bisa memungkirinya. Desya mereka akui tampan. Dia memang penuh pesona. 


"Dan itu adalah Evalia, istri ketiga Desya," ucap Bella. Evalia mengangguk singkat. 


Lebih tepatnya istri satu-satunya, ralat Desya dalam hati. Ariel sudah meninggal dan Lucia adalah mantan istrinya. Alangkah senangnya jika Evalia mengetahuinya. Namun, Desya berencana untuk tidak pernah memberitahunya. Dikhawatirkan, akan muncul keserakahan.


"Meskipun tindakan putra Anda membuat kami kalang kabut, membuatku berpisah dengan istri dan anakku, aku, kami tidak bisa untuk tidak mengucapkan terima kasih. Terima kasih telah memperlakukan Aru dengan baik," ucap Ken. Nadanya datar. 


"Anak muda, kau beruntung memiliki Bella. Jagalah dia dengan baik," sahut Aleandra. Ken tersenyum. 


"Ya, aku beruntung memilikinya," balas Ken, dengan merangkul dan mengecup pipi Bella.


"Aunty!"panggil seorang anak laki-laki. Itu Liev yang berlari pada Bella, diikuti oleh pengasuhnya. 


"Aunty!" Bocah itu memeluk paha Bella. 


Semua, kecuali keluarga Volcov menatap Liev dan Bella bergantian. Sekilas saja, terlihat bocah itu manja pada Bella. 


Di aula pertemuan tadi, Liev kebingungan sendiri karena semua keluar dari aula. Untung ada pengasuh yang menjaganya. "Kau menangis?"tanya Bella melihat mata sembab Liev. Bella segera membawanya untuk duduk di pangkuannya. Bella mengusap bawah mata Liev.


"Aku kira Aunty pergi." 


"Aunty tidak akan pergi. Jika Aunty pergi, apa Liev mau ikut dengan Aunty?"tanya Bella. Ia yang mendengar itu merasa aneh. "Aru?" Ken mengeryit.


"Iya!" Satu jawaban mantap yang tanpa keraguan Bella dapatkan. "Apa ini?"gumam Desya. Anaknya akan ikut dengan Bella? 


"Tapi, Aunty mereka siapa?"tanya Liev, menatap Ken dan orang di sekitar Bella. 


"Dia suami Aunty, Uncle Ken," ucap Bella, memperkenalkan Ken. 


"Suami?" Bella mengangguk. 


"Aunty Abel!" Bella menolehkan wajahnya saat mendengar suara yang familiar lagi. Itu adalah Key. Bocah yang hampir berusia delapan tahun itu berlari dan langsung memeluk Bella. "Key sangat merindukan Aunty," ucap Key. 


"Aunty juga," balas Bella dengan mengecup kening Key. 


Key ikut. Namun, ia tertidur nyenyak di mobil. Jadi, Helena menyuruh pelayan untuk menunggui Key bangun dan masuk begitu putranya itu bangun. 


Liev, matanya menunjukkan kecemburuan. Selama hampir dua bulan ini, hanya ia seorang yang bermanja pada Bella. Bebas untuk memeluk bahkan tidur bersama dengan Bella. Tak jarang, Bella juga memandikannya meskipun bocah itu sudah bisa mandi sendiri. 


"Auh!" Key meringis sakit saat merasakan ada yang mencubit lengannya. 


"What the hell? Siapa kau? Apa yang kau lakukan? Mengapa mencubitku?"kesal Key, mengusap lengannya yang merah. Liev kembali memeluk Bella. 


"Aunty," ucapnya dengan manja. 


"Aru, dia ini?"


"Anaknya tuh," jawab Bella, menunjuk Desya dengan dagunya. 


"Kau? Mengapa memeluk Aunty Abel? Lepas!"


Key berusaha untuk melepaskan pelukan Liev. Namun, Leiv begitu erat memeluk Bella. "Aunty ada orang jahat," aduh Liev. Bella mengusap wajahnya, sedikit meringis.


Sepertinya ini akan menghambatku, batin Bella. 


"Lebih besar dari adikku. Aunty kapan dia akan lahir?" Perhatian Key beralih. Ia menatap perut Bella.


"Kalau tidak ada halangan, tiga bulan lagi dia akan lahir," jawab Bella.


"Aku sangat tidak sabar!"ucap Key. Dan kini ia mendekat pada ibunya. 


"Karena alasannya sudah begitu, maka aku akan melakukan alasan yang sama," ucap Bella, kembali pada topik awal. 


"Kalau begitu, ada baiknya kita segera pulang," ucap Surya. Berada di markas mafia, membuat mereka tidak terlalu nyaman. 


"Bermalamlah di sini. Besok pagi kalian baru pulang," ucap Desya. 


"Benar. Perjalanan kalian sangat jauh. Dan kalian adalah keluarga Bella. Harus ada perjamuan untuk kalian," timpal Aleandra. 


"Aku setuju. Lagipula ada beberapa hal yang aku selesaikan di sini," imbuh Bella. Karena Bella setuju, maka Ken juga setuju. Begitu juga dengan keluarga yang lain. 


Segera setelah itu, Desya memerintahkan pelayan untuk menyiapkan kamar untuk mereka. Kamar di bagian istana yang sama dengan Bella.


*


*


*


Irene menyampaikan perintah Desya pada bagian dapur untuk menyiapkan makanan lebih banyak karena ada banyak tamu. 


Sembari mengawasi para pekerja itu menyiapkan makanan, Irene sesekali melihat ke langit melalui jendela. Ia lalu melihat jam tangannya. Sudah akan memasuki waktu Zuhur. 


Tuan akan ibadah, aku harus menyiapkan keperluannya, batin Irene. 


"Kalian kerjakan pekerjaan dengan baik. Masak dengan menu yang biasa Nona Bella makan!"ucap Irene.


"Baik, Irene!"jawab mereka semua. Irene kemudian melangkah meninggalkan dapur. 


Setelah berjalan cukup lama, Irene tiba di kamar Desya. Desya baru saja selesai mandi. Tercium wangi yang begitu harum dari tubuhnya. "Tuan, apa Anda akan ibadah di sana?"tanya Irene, merujuk pada tempat ibadah yang digunakan untuk muslim yang pemeluknya minoritas di istana ini. 


"Aku akan ibadah dengan Bella dan lainnya," jawab Desya. Ia memakai pakaian formalnya. 


"Baik, Tuan," jawab Irene. Desya kemudian keluar dari kamar untuk menuju kamar Bella. Irene mengikutinya. Akan tetapi, saat tiba di kamar Bella, Bellanya tidak ada di kamar. 


Irene segera bertanya pada penjaga koridor. "Mereka ke tempat ibadah, Tuan," ujar Irene. 


"Apa dia sudah melupakanku? Aku ini sudah masuk Islam!"gerutu Desya. Mengapa tidak memberitahunya? Desya segera menyusul. 


"Tuan." Seseorang memanggilnya. Itu Evalia. Desya menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Anda ingin ke mana?"tanya Evalia. Wanita itu tampak berbeda. Penampilannya!


Evalia menggunakan sarafan, pakaian tradisional Rusia. Namun, itu sudah dimodifikasi, mirip dengan gamis. Lengannya panjang dengan bagian bawah hampir menyentuh tanah. Agaknya Evalia sudah mempersiapkan pakaian itu. Dia juga memakai kerudung walau hanya dibelitkan, tidak menutupi rambutnya secara menyeluruh. Namun, itu membuat Evalia bertambah cantik. 


"Ibadah," jawab Desya singkat. 


"Saya juga," ucap Evalia. 


Tanpa dipertanyakan lagi, keduanya pergi bersama. 


Kini Desya dan Evalia tiba di tempat ibadah itu. Tidak ada kubah. Itu hanyalah sebuah ruangan yang cukup luas dengan kaligrafi yang mendukung. Suasana nyaman dan tempatnya sangat bersih. 


Desya melihat banyak alas kaki di depan ruangan itu. "Sepertinya harus melepas alas kaki, Tuan," ujar Irene. 


Desya mengangguk. Ia melepas alas kaki juga kaos kakinya. Begitu juga dengan Evalia. "Saya akan menunggu di luar," ucap Irene. 


Desya dan Evalia kemudian masuk. "Kau? Mengapa kau di sini?" Dylan yang pertama melihat Desya dan langsung menegurnya. 


"Ibadah," jawab Desya.


"Ibadah?" Dylan mengulangnya dengan mengeja. 


"Kau serius? Bukankah kau atheis?" Dylan sangat meragukannya. 


"Tolong jangan ganggu kami beribadah!"ucap Brian. Desya dan Evalia menerima tatapan keluarga Mahendra.


"Ada apa ini?"tanya Bella. 


"Desya? Evalia?"


"Kakak dia mengatakan mau beribadah," ucap Nesya. 


"Ah … baiklah."


"Baiklah?"


"Begini, dia dan Evalia sudah memeluk Islam. Mereka mualaf dan ini akan menjadi shalat pertama mereka," ucap Bella menjelaskan. Terkejut, terpana, dan tercengang, semua bercampur menjadi satu. 


Mafia ini masuk Islam? Apa ini sungguhan?


Apa matahari terbit dari barat?


Apa dia mendapat cahaya illahi?


Tapi, bagaimana dengan organisasinya?


Ah, benar juga. Banyak bisnis Desya bergerak di bidang gelap dan dilarang. Apakah dia akan menutup usaha itu? Sedangkan ia menaungi banyak anggota yang menggantungkan hidupnya pada organisasi. 


"Alhamdulillah," ucap Surya yang disahuti dengan ucapan syukur dari yang lain. Lupakan dulu hal itu. Ini adalah sebuah kebaikan. 


"Ken," panggil Bella begitu Ken kembali dari berwudhu. 


"Ya?"


"Bisa kau ajari dia berwudhu?"tanya Bella dengan menunjuk Desya. 


"Wudhu? Dia muslim?"


"Mualaf, baru masuk tadi sebelum kalian datang," jelas Bella. 


"Ah … okay." Ken menatap Desya. "Follow me," ucap Ken pada Desya. Desya menatap Bella sebelum mengikuti Ken. 


"Emm … boleh aku minta bantuan untuk mengajari Evalia?"tanya Bella.


"Mama saja," ucap Rahayu dan segera menarik lengan Evalia menuju tempat berwudhu. 


"Sepertinya kau membawa banyak perubahan di sini, Abel," ucap Brian. 


Yang ditanggapi dengan senyum Bella.