This Is Our Love

This Is Our Love
Reuni 1



Dylan duduk termenung sendirian di pinggir kolam ikan koi dekat dengan gazebo. Kedua kakinya ia masukkan ke dalam air. Ikan koi dan beberapa jenis ikan hias dengan tubuh kecil berenang di sekitar kakinya. Ikan-ikan kecil itu tampak bersentuhan langsung dengan kakinya, barangkali mencari sel kulit mati atau parasit yang hingga di kaki Dylan sebagai makanan.


Tatapan Dylan yang lurus ke depan, sepertinya tengah memikirkan sesuatu yang cukup penting. 


"Dylan!" 


Sebuah panggilan keras yang membuat Dylan terkejut. Ia menoleh ke arah suara itu.


"Kak Via?"gumam Dylan. Silvia berlari kecil dengan melambaikan tangan padanya. Wajah Silvia sungguh ceria. Cepat-cepat Dylan berdiri dan melangkah menjauh dari pinggir kolam.


Sejenak Dylan terpana melihat Silvia yang berlari kecil menuju ke arahnya. Rambut yang digerai itu berkibar, menambah kadar kecantikan wanita berusia 25 tahun itu. 


"Shifu!" Lagi, Dylan terperanjat kala Silvia memeluk dirinya. Desiran aneh Dylan rasakan. Ia membeku. Pikirannya terasa blank. Pelukan Silvia sungguh erat dan hangat. 


Silvia memang memanggil Dylan dengan sapaan Shifu karena Dylan menjadi gurunya dalam belajar bahasa mandarin.  Dylan yang pada awalnya menolak akhirnya menyerah karena Silvia tetap memanggil dirinya Shifu.


"K-kau sudah kembali?"tanya Dylan terbata. Jantungnya berdegup lebih kencang. Berharap Silvia tidak mendengarnya.


"Shifu, wǒ hǎo xiǎng nǐ," ucap Silvia.


"Ah? Apa?" Dylan semakin merasa aneh dengan dirinya sendiri. Hatinya terasa begitu senang saat Silvia mengatakan merindukan dirinya.


Oh no, Dylan! Ingat Nesya! Nesya memegang janjimu!


Dylan melepas pelukan Silvia. Silvia mengeryit, wajahnya tampak kecewa, "kau tidak merindukanku, Dylan?" Mendengar nada sedih itu membuat Dylan merasa bersalah.


"B-bukan begitu, Kak! A-aku tentu saja merindukanmu juga. Hanya saja pelukanmu tadi terlalu erat dan tubuhku juga bau keringat," jelas Dylan. Ia tak ingin Silvia sedih dan salah paham padanya. 


Silvia menatap Dylan dari ujung rambut sampai mata kaki. Rambut yang mulai gondrong, wajah menggemaskan yang terlihat sedikit tegang, dan hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong berwarna biru. 


Sejurus kemudian, Silvia kembali mendekat, mencondongkan tubuhnya untuk mengendus bau tubuh Dylan. "Kau benar," ucap Silvia.


"Kau habis olahraga?"terka Silvia.


"Hanya jogging di jalan kompleks," jawab Dylan. Silvia manggut-manggut paham. Ia kini beralih menjadi di sisi Dylan. 


"Eh Kak?" Dylan kembali terkejut saat Silvia merangkul pundaknya. Tinggi Dylan yang lebih tinggi darinya, membuat Silvia harus sedikit berjinjit. Dylan menundukkan kepala dan menatap Silvia. "Aku juga bau asem. Jadi, tidak masalah jika kita saling rangkul seperti ini. Ayo kita ke masuk. Aku membeli beberapa buah tangan untukmu," ujar Silvia. Melangkah dengan tetap merangkul Dylan. Dylan hanya bisa pasrah.


*


*


*


Brian menatap datar interaksi antara istrinya dan Dylan. Pria itu duduk di sofa tunggal dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kiri. 


Silvia begitu antusias mengeluarkan dan memperlihatkan barang yang ia belum untuk Dylan. Sedang Dylan menunjukkan wajah canggungnya. Ekspresi Brian sukar untuk ia telah. Datar karena menutupi cemburu atau memang acuh? Lain halnya dengan Silvia yang abai dengan ekspresi suaminya. 


"Ah benar kan! Topi ini sangat cocok untuk shifu ku yang tampan!"ucap Silvia saat memakaikan topi berwarna merah dengan bordiran nama Dylan dalam huruf China di bagian depannya. 


"Ah benarkah? Xie-xie," ucap Dylan canggung. Ada semburat merah di pipinya terlebih saat Silvia mencubit gemas pipinya. Ia melirik ekspresi Brian. Tetap datar, hanya menaikkan satu alisnya sebentar.


Brian dan Silvia memang baru kembali dari negeri Tirai Bambu. 


"Oh iya Ken dan Abel mana, ya? Kok nggak kelihatan dari tadi?"tanya heran Silvia. Ia menatap pelayan meminta jawaban. 


"Mereka ke luar, ada meeting dengan perusahaan klien," jawab Brian, meraih cangkir kopi miliknya.


"Hari minggu … masih mengurus pekerjaan?" Silvia sedikit tercengang. Dylan yang merasa perhatian Silvia sudah teralih, melepas topinya. 


"Wajar saja. Abel kan memegang tanggung jawab Papa sekarang selama Papa di Paris," jelas Brian. 


"Kak Abel dan Kak Ken juga sekalian menghadiri reuni SMA-nya Kak Abel," timpal Dylan. Silvia mengangguk paham. Ia kembali melihat ke arah Dylan. Dylan yang tengah menikmati cemilan melirik. Kembali bingung dengan raut wajah prihatin Silvia. 


"Shifu kau pasti sangat kesepian di rumah."


"T-tidak. Ada banyak orang di rumah ini," jawab Dylan. Ada banyak pelayan di mansion ini. Sekalipun semua anggota keluarga keluar rumah, rumah tidak ada sepi. 


"Lagi aku lebih suka keheningan." Perpustakaan identik dengan suasana yang tenang dan hening. Di sanalah Dylan menghabiskan banyak waktunya. Namun, benar juga kata Silvia. Ia sedikit kesepian. Biasanya ia belajar ditemani oleh Rahayu. Rahayu juga sering membawakannya susu, jus, atau biskuit untuk menemaninya belajar. 


"Tetap saja, Shifu!"


"Aku sudah terbiasa, Kak. Ah aku mau mandi dulu. Aku naik ya. Dan ini aku bawa sekalian. Dahh …." Tanpa menunggu sahutan dan membawa semua barang yang Silvia berikan padanya, Dylan langsung meninggalkan ruang keluarga.


"Eh?"


"Kau suka padanya?"tanya Brian datar setelah Dylan hilang dari pandangnya.


"Aku menganggapnya sebagai adikku," jawab Silvia.


"Ku harap juga begitu." Brian berdiri dan meninggalkan ruang keluarga menuju ke luar rumah.


Silvia terkesiap dengan balasan Brian. "Mas kau cemburu, kah?"gumam Silvia.


Silvia merasa senang. Ia tersenyum lebar.


Aku sangat mencintaimu, Mas. Mustahil aku berpaling.


*


*


*


Sebuah taksi berwarna biru memasuki sebuah halaman hotel bernama Aksara Hotel. Taksi berhenti dengan apik. Kaki berbalut hiels rendah turun disusul dengan kaki kecil mengenakan sepatu berwarna hitam turun.


"Wah, Anjani! Kau naik taksi sekarang? Bukankah sebelumnya kau punya mobil?"


Anjani yang berdiri dengan menggandeng lengan Arka tersenyum tipis. Ia memang sengaja menggunakan taksi. Orang yang meledeknya itu adalah salah seorang teman SMA nya dan Abel. 


Orangnya memang cantik, rambutnya disanggul, menggandeng seorang pria yang cukup tampan. Pakaian, aksesoris, dan perhiasan mereka terlihat berkelas. Sedang Anjani memakai pakaian kasual yang tidak terlihat mahal lebih ke sederhana. Sederhana namun elegan. 


"Memangnya Aunty naik apa?"tanya Arka.


"Tentu saja mobil!"jawabnya angkuh, menepuk mobil merk fortuner yang berada di belakangnya. Anjani berdecak dalam hati. Mobilnya yang seharga milyaran saja ia tidak sesumbar itu pamer. 


"Sama-sama mobil apa bedanya?"tanya Arka. 


"Hei anak kecil! Kau tahu apa? Kendaraan itu menunjukkan status seseorang. Ibumu itu pengangguran wajar jika naik taksi sedang suamiku yang pengusaha tentu saja naik mobil mewah!"jelasnya lagi dengan nada merendahkan Anjani dan Arka. Arka mendongak menatap Anjani yang menunjukkan wajah datarnya. 


"Oh begitu. Ma ayo masuk," ajak Arka yang diangguki Anjani. 


"Ck! Pasti Anjani sudah menyuruh anaknya untuk tegar menerima keadaan. Sejak cerai dengan suaminya, Anjani hanya seorang pengangguran yang penakut. Miskin pula. Kira-kira cara apa yang pakai untuk membiayai hidupnya dan anaknya itu?!"


*


*


*


"Aru apa perlu kita ganti baju?"tanya Ken saat keluar dari ruang meeting. Meeting hari minggu ini telah usai dan klien sudah pergi lebih dulu. Kini mereka berada di dalam lift untuk turun ke lantai di mana ruang reuni berada. Bella berkaca pada dinding lift. Ia mengenakan setelan kasual. Celana panjang berwarna abu-abu yang dipadukan dengan long sleeve, blazer dan pashmina berwarna hitam. 


"Aku rasa tidak perlu. Hanya perlu ke toilet saja, aku sepertinya perlu memperbaiki riasanku," jawab Bella. 


"Okay." Ken memperbaiki kerah sweaternya. 


"Assalamualaikum," sapa Bella dan Ken saat keluar lift. Anjani dan Arka memang menunggu di samping lift lantai 2. 


"Waalaikumsalam."


"Aunty Abel!" Arka langsung merentangkan tangannya meminta pelukan. Bella berlutut dan memberi pelukan dan kecupan hangat untuk Arka. Keduanya kemudian melakukan tos.


"Hey, Boy, bagaimana perjalananmu kemari?"tanya Bella.


"Macet, Aunty."


"Macet? Aduh kasihan sekali. Apa kalian naik mobil?"tanya Bella penasaran.


"Taksi," jawab Arka.


"Tadi di jalan mobilnya mogok minta diservis jadi ya harus naik taksi," jelas Anjani menjawab tatapan tanya Bella padanya.


"Oh mogok, kasihan."


"Ck! Gara-gara itu aku sudah mendapat ledekan dari Mak Lampir," celetuk kesal Anjani. 


"Wow sepertinya kau katakan kemarin benar. Kita akan jadi bahan pembicaraan utama," sahut Bella.


"Huh! Biarkan saja mereka tertampar dengan kenyataan nanti!" 


"Kalau begitu kau masuklah lebih dulu. Aku dan Ken akan menyusul," ucap Bella. Anjani mengangguk. Arka kembali ke sisi Anjani dan menggendeng lengan sang ibu. Keduanya lantas menuju ruang reuni lebih dulu.


*


*


*


"Eh Anjani mengapa kau bercerai dengan suamimu?"


Anjani berdecak pelan mendengar pertanyaan itu. 


"Aku tidak ingin mengingatnya, Div," jawab Anjani.


Meja berbentuk bulat itu sudah terisi oleh masing-masing peserta reuni yang bisa diisi sekitar 40 orang. Ada dua meja besar di sana. Di atas meja sudah terjadi ragam menu sebagai hidangan reuni.


"Ku dengar suamimu itu menikah lagi saat kalian masih menikah. Apa karena kau enggan dimadu, Jani?" Wanita yang dipanggil Div yang bernama Diva itu kembali bertanya.


Anjani mendengus pelan. Sudah ia duga akan membahas tentang pertemuannya dengan mantan suaminya. Namun, tetap saja rasanya kesal.


"Kau lemah sekali, Jani! Harusnya yang tersingkir itu madumu bukan kau!"timpal seseorang wanita yang mengenakan dress berwarna kuning, namanya Viola. Nadanya menyindir. Anjani menanggapinya dengan senyum simpul.


Aku malah bersyukur bercerai dengannya, sahut Anjani dalam hati.


"Padahal kau sangat senang saat masih bersama dengan mantan suamimu. Hidupmu terjamin, anakmu juga. Tampilanmu juga lebih dari sekarang. Kau pasti menyesal bercerai dengan mantan suamimu, kan?" Yang berucap adalah wanita yang meledek Anjani saat di depan hotel tadi. Sera namanya.


"Tapi-tapi siapa yang menggugat lebih dulu? Kau meminta cerai atau kau yang diceraikan? Secara istri mantan suami itu lebih cantik darimu. Lebih modis, lagi. Sepertinya kau yang diceraikan ya, Jani?" Diva semakin penasaran. Ia menuding Anjani dengan penuh percaya diri. 


Anjani malas menanggapi pertanyaan itu. 


Apakah mereka tidak bisa jika tidak merendahkan orang lain?gumam kesal Anjani.


Sera, Viola, dan Diva adalah tiga sekawan. Sifat mereka sama, membanggakan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Wajah mereka cantik, bibir mereka manis namun perkataan mereka tidak layak.


"Ku rasa itu benar. Jadi, Jani sekarang kau kerja apa?"tanya Viola. 


"Aku bekerja di Diamond Corp," jawab Anjani jujur. Hanya saja ia tidak menyebutkan posisinya.


"Diamond Corp? Perusahaan yang tengah naik daun itu kan? Yang dua hari lalu meluncurkan produk baru? Lihat aku membelinya di hari peluncuran," ucap Sera. Ia menunjukan gelang, cincin, anting, dan kalung yang ia kenakan. Perhiasan berwarna perak yang berkilau di bawah pancaran cahaya ruangan.


"Benarkah, Sera?"tanya teman-teman Anjani yang lain. Perhatian tertuju pada wanita yang dipanggil Sera itu. 


"Tentu saja. Suami sangat baik, apapun yang aku inginkan pasti diberikan," ucapnya percaya diri dengan memeluk lengan suaminya.


"Ini sangat mahal. Suamimu sangat kaya!"puji teman-teman Anjani pada Sera. Anjani tersenyum simpul. 


"Tentu saja!" Wajahnya tampak begitu puas. 


"Apa posisimu, Jani?"tanya Viola.


"Ku rasa jadi cleaning servis. Secara kau kan tidak ada pengalaman kerja." Lagi, Sera menjawab dengan jawaban yang merendahkan Anjani. 


Sayangnya aku bosnya!


Anjani memang tidak menyalahkan asumsi itu sebab begitu wisuda ia langsung nikah. Menjadi istri dan ibu rumah tangga. Belum sekalipun menyentuh dunia pekerjaan. Begitu masuk langsung menjadi seorang bos.


"Sungguh, Jani? Kau jadi cleaning servis?"tanya yang lain memastikan.


"Jabatanku lebih tinggi dari itu," jawab Anjani.


"Oh iya ku dengar Diamond Corp berubah kepemimpinan. Apa kau pernah melihat wajah pimpinan barunya? Apakah dia pria tampan?" Viola yang memang belum menikah tampak begitu antusias.


Aku janda!jawab Anjani dalam hati.


"Aku belum bertemu dengan pimpinannya," jawab Anjani. 


Bagaimana bisa aku bertemu dengan diriku sendiri?


"Artinya jabatanmu rendah, Jani," ucap Sera. Anjani tersenyum. Arka yang mendengar jelas semua pembicaraan itu hanya menatap datar teman-teman SMA mamanya. Dalam benaknya sungguh kasihan dengan mereka. Mereka bertiga tengah merendahkan diri mereka sendiri secara tak langsung. 


Sedang teman-teman mamanya yang lain diam menyimak pembicaraan itu tanpa ada yang berniat atau mencoba menghentikan pembicaraan. Ada yang memasang wajah menjadi pendengar yang baik, ada yang acuh, ada juga yang membentuk kelompok sendiri dengan terus menyimak pembicaraan itu. Namun, tatapan didominasi merendahkan Anjani.


"Terserah kalian saja," ucap malas Anjani.