
Akhirnya setelah kurang lebih 12 jam perjalanan, Bella dan keluarga mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB.
Fajar yang belum punya pasangan, juga Tuan Adam hanya bisa menatap iri Bella dan lainnya yang punya pasangan. Saling bergandengan tangan.
Bella mengirup dalam-dalam udara malam tanah kelahirannya ini. Rasanya berbeda. Sudah dua bulan Bella terbiasa dengan udara Green Palace yang segar dan cenderung dingin karena sekelilingnya adalah pepohonan. Apalagi di waktu musim dingin. Sudah lama pula ia tidak mendengar deru kendaraan bermotor. Ataupun membawa kendaraan. Bersyukur traumanya tidak kembali. Jika kembali, bukankah itu gawat?!
"Autny." Liev yang dalam dekapan Ken terbangun. Key yang tangannya digenggam oleh Bella mendongak ke atas, menatap Liev yang menjadi sepupu angkatnya.
"Kau bangun, Liev? Lihatlah kita sudah sampai," ucap Bella seraya merapikan anak rambut Liev.
Liev mengerjap beberapa kali. Ketika penglihatannya jelas, tampak bandara yang tampak lenggang dengan sorot lampu yang memadai. Terlihat pula gedung bandara yang terang benderang.
Liev menarik nafasnya. Jelas ada perbedaan udara. "Panas, Aunty," ucap Liev, ia meminta untuk dilepaskan mantelnya.
Bella tertawa renyah mendengar. "Apa katanya, Aru?" Ya, sejauh ini hanya ia dan Tuan Adam yang mengerti bahasa Rusia.
"Mantelnya minta dilepas. Panas katanya," ujar Ken.
"Ah." Ken segera melepas jaket Liev.
"I also feel hot, Aunty." Key yang sedari kecil dekat Bella, tidak bisa memungkiri bahwa ia cemburu dengan Liev.
Bella diam beberapa saat. Ah, di Eropa dan negara dengan empat musim kan sedang musim dingin. Wajar jika merasa panas di negara ini meskipun sudah malam.
Bella menghembuskan nafasnya. "Alright." Bella membantu melepaskan mantel Key.
Liev menatap Key. Ada sorot mata kesal di sana. Menganggap Key ikut-ikutan.
"Your son, so soiled," cetus Louis.
"Just say you want but can't," balas Leo, menyindir Louis.
"Says who? For what? I have a wife for it. Or I can take it off myself. I'm not a kid!"tukas Louis, ia berkilah. Dalam hati terdalamnya memang menginginkannya. However, he is self aware.
Teresa tersenyum simpul. Ia sudah biasa dengan itu. "Resa, please take off my coat," ucap Louis, melakukan apa yang ia katakan.
"Sure," jawab Resa. Melakukan apa yang Louis pinta. Leo mendengus pelan. Dia lantas menarik senyum. Setidaknya mereka tidak saling menutupi.
"The car is ready," ucap Tuan Adam dengan berseru.
"Ayo," ajak Ken, kembali menggendong Liev dan menggandeng lengan Bella menuju mobil. Dan Bella, ia menggandeng lengan Key.
Rombongan kemudian meninggalkan bandara menuju kediaman Mahendra. Meskipun sudah larut, ibu kota tidak pernah mati atau berhenti beraktivitas. Pedagang kaki lima masih membuka lapaknya lebar-lebar. Kendaraan juga tidak berhenti lalu lalang. Hanya saja jumlahnya tidak sebanyak waktu siang hari.
Sepanjang perjalanan pulang, Liev melihat pemandangan dari jendela mobil. Lampu-lampu jalan yang sorotnya berwarna kuning, dipadukan dengan lampu pertokoan atau gedung-gedung tinggi dan lampu kendaraan. Untuk anak yang belum pernah keluar kandang itu, tentu saja ini adalah sebuah pemandangan baru. Dan pada akhirnya, Liev tertidur karena matanya kembali berat karena kantuk.
Dua puluh menit kemudian, iringan mobil itu memasuki area kediaman Mahendra. Gerbang tinggi itu terbuka dan menampakan mansion keluarga Mahendra.
Saat tiba di teras rumah, dua baris pelayan menyambut mereka. Sigap, begitu mobil berhenti dan penumpang mobil turun, langsung mengambil barang-barang yang dibawa untuk dibawa masuk ke dalam.
Tak lama setelah Bella turun, bahkan Key dan Liev saja belum tidur, Bella dikejutkan dengan sebuah pelukan hangat. Bella terdiam beberapa saat.
Bahu yang memeluknya itu bergetar dan dapat ia jelas tangis. Dan bahunya terasa basah, dan yang membasahinya adalah air mata. "Anjani, how are you?"
"I'm bad. But, now l'm very good. I'm very happy! Abel, you're back!"ucap Anjani dengan tergugu. Dia sangat bahagia.
Saat El mendatangi kantornya tadi pagi dan berkata bahwa Bella sudah ditemukan, ia menangis haru. Sepulang kantor, Anjani langsung ke kediaman Mahendra untuk menunggu kepulangan Bella. Dan begitu Bella tiba, Anjani langsung memeluknya.
Bella juga tidak menitikkan air mata. Ia membalas pelukan sahabatnya itu. "Ya, aku sudah kembali."
"Don't cry. Kau membuatku merasa bersalah," ujar Bella, melepas pelukannya dan menyeka sudut mata Anjani.
Anjani masih senggugukan. "I'm here now. Aku sudah pulang," ujar Bella lagi. Ia yang pulang malah ia yang menenangkan.
"Anjani, my sweet heart, semakin kau menangis, semakin wajahmu bertambah cantik." El berkata dengan nada serius but kesannya meledek.
"Jangan meledekku!"ketus Anjani, menghapus air matanya sendiri. "Kau merusak keharuanku!"tambahnya.
El tertawa lepas. "Selama datang kembali, Abel," ucap El kemudian berjabat tangan dengan Bella.
"Thank you, Kak," balas Bella.
"Senang melihatmu kembali."
"Me too, Kak."
"Apa kau tahu, Abel?" Dari gerak-geriknya sih, El bakal mengoceh.
"Sejak kau dinyatakan diculik, rumah ini seperti kehilangan auranya. Apa kau ingat kau saat pertama kali menginjakkan kaki di sini, seperti itulah dia. Belum lagi ada satu pohon yang layu. Mogok makan, sok-sokkan mengurung diri sampai ditusuk suntik. Jika senyum begitu berat, bak bibirnya diikat gembok besar. Sumpah! Rasanya tidak sedap kali memandangnya begitu. Bawaannya sedih melulu. Pusing kami membujuknya. Tapi …."
"Kak El?! Stop!!"ucap Ken. Matanya melotot tajam pada El. Apa-apa itu? Membuka kartunya saja? Apalagi itu semua tepat!
"Oh, jadi kau membangkit, Kak?"
"Tidak! Aku tidak membangkit. Aku hanya menceritakan hal ini pada Abel, istrimu!"tegas El.
"Iya! Tapi, kau …." Ucapan Ken terhenti saat bibirnya ditutup oleh Bella. "Tapi apa, Kak?"tanya Bella. Ingin El melanjutkan ucapannya tadi sebelum Ken memotongnya.
El tersenyum. Mata Ken semakin melotot tajam pada El. Ken meronta, protes pada Bella. Bella memberinya lirikan tajam. Itu disusul dengan yang lain menahan tawa. Ken langsung ciut. "Lanjutkan, Kak!" Bella ingin mendengar kondisi Ken yang sebenarnya. Bawaan Brian dan Surya terlalu serius. Rahayu terlalu melow. Dan El adalah yang paling enak didengar dan dimengerti. Ia bicara serius dengan nada obrol yang santai.
"Tapi, untunglah dia tidak koid. Untunglah dia berhasil melewati semuanya. Ya, aku bangga padanya. Dia kuat, meskipun harus membuat masalah dulu. Meskipun hatinya luka, harinya hampa, dia mampu menjalankan tanggung jawabnya yang besar. Apalagi di bawah tuntutan pihak yang ingin mengakhiri proyek yang di Papua itu."
Dan ini bagian memuji. Mata melotot Ken berganti. Matanya malah memerah karena terharu mendengar kata-kata kakak keduanya itu. Bukan hanya Ken, tapi juga Bella dan juga keluarga Mahendra.
Keluarga Kalendra saling pandang. Mereka diam. Meskipun tidak mengerti betul apa yang dikatakan El. Mereka mengerti bahwa itu adalah tentang kondisi Ken selama ditinggal Bella.
"Apa kau tahu, Abel? Hal apa yang paling diwaspadai dari Ken selama kau tidak di rumah?"tanya El. Bella menggeleng.
"Saat dia melamun. Karena ditakutkan ia akan bertindak nekat!" Kali ini, Ken mendengus. Bella melepas bekapannya.
"Memangnya pikiranku sempit?!"tanyanya dengan ketus.
"Pikir saja sendiri," sahut El. Ken menggeram.
"Terima kasih, Kak. Telah mengatakan hal ini padaku," ujar Bella, menyeka sudut matanya.
"Sudah seharusnya, Abel," balas El, tersenyum lebar.
"Ken." Bella menggenggam tangan Ken. Ken menoleh pada istrinya. Wajah yang teduh, senyum yang lembut. Ken tersipu dengan itu.
"Kita tidak akan terpisah lagi," ucap Bella kemudian mengecup punggung tangan Ken. "Kita akan selalu bersama, dalam hal apapun," tambah Bella.
"Ah … so sweet." Nesya mengeratkan genggaman jemarinya dengan Dylan. Begitu juga dengan Dylan yang merangkul Nesya.
"Tentu. Aku percaya dengan itu," balas Ken, mengecup dahi Bella.
"Jani, sebentar lagi kita akan menikah. Aku sudah tidak sabar membangun rumah tangga denganmu," bisik El pada Anjani. Kedua tangan mereka saling menggenggam.
"Aku juga, El. Aku harap semua kembali sesuai dengan rencana," balas Anjani, berbisik pula.
"Ayo masuk!"ucap Surya. Sedari tadi mereka masih di teras dan di dekat mobil masing-masing.
Satu persatu masuk ke dalam mansion mewah itu. Ken kembali menggendong Liev yang tidurnya masih lelap.
"Eh? Anak siapa itu?"tanya El yang melihat Ken menggendong Liev.
"Kalian menculik anak, memungut anak, atau dapat anak?"tanya El beruntun.
"Ah … dia Liev. Putra sulung Desya," ujar Bella. "Dia dititipkan padaku untuk sementara waktu, Kak," lanjut Bella.
El tampak tercengang. "Really? Ini mengejutkan!"
"Yang menculikmu menitipkan anaknya padamu? Wow? Daebak! Aku tidak tahu harus berkata apa. Sebentar, aku ingin lihat wajahnya."
"Wow. Melihat bibitnya yang rupawan ini, induknya pasti sangat luar biasa!" Ken meringis mendengar penamaan El. Entah itu karena kesal atau asal ceplos.
"Astaga! Ini akan jadi sebuah kisah yang menarik. Helena, sebelum pulang, diskusilah dengan Abel. Aku ingin mengangkat ceritanya!"ucap El, menatap Helena.
Helena tidak mengangguk. Dan El tidak menunggu jawaban. Ia melanjutkan langkahnya dengan bersenandung pelan. Antara terkejut, dan senang.
Bella dan Ken juga menyusul masuk.
Tidak ada perubahan dari kediaman ini. Sama saja seperti saat ia pergi dan kembali.
Mereka tidak bercakap-cakap lagi. Rasa lelah begitu mendera yang membuat mereka langsung menuju kamar masing-masing.
Anjani dan Arka menginap di sini. Jelas, hari sudah larut. Mana mungkin Anjani diizinkan pulang oleh El, meskipun menggunakan sopir.
Lagipula mansion ini memiliki kamar yang banyak. Jadi, mampu menampung mereka semua. Kalau kurang, ada paviliun.
Liev tidur bersama dengan Ken dan Bella. Begitu juga dengan Key. Ya, besok kemungkinan besar keluarga Kalendra akan pulang. Dan itu jelas dimanfaatkan oleh Key.
Maka, jadilah posisi tidur Ken dan Bella tidak bisa berpelukan. Dipisahkan oleh Liev dan Key yang berada di tengah.
Ken menghela nafasnya. Niatnya sih, meskipun tidak bermesraan, mereka akan tidur berdempetan. Dan niat itu dipatahkan oleh dua bocah yang sudah berada di alam mimpi itu.
Ken menyangga kepalanya, menatap Bella, Liev, dan Key yang sudah tidur.
Sekarang, ia adalah seorang ayah. Ayah angkat dari anak yang orang tuanya telah menculik istrinya. Tidak suka? Benci? Ken tidak merasakannya. Ia bahwa menjadi ayah angkatnya! Hubungan yang tidak pernah diduga!
Tangan Ken kemudian terulur. Mengusap lembut dahi, pipi, dan hidung Liev. "Aku rasa aku benar-benar gila," gumam Ken.