This Is Our Love

This Is Our Love
Liburan Tahun Baru 2



Kondisi Black Rose sudah stabil. Sudah tidak ada lagi perlawanan atau penentangan akan Desya yang telah memeluk keyakinan. Namun, biar begitu tidak menghilangkan adanya musuh bagi Black Rose. Lagipula, untuk organisasi besar ini, tidak mungkin tidak memiliki musuh. 


Dan Desya, dalam dua tahun, sudah melegalkan semua usahanya. Dan juga, semakin banyak bisnis yang tumbuh. Butik yang dikelola oleh Evalia, itu sekarang menjadi salah satu butik besar di Rusia. Butik yang terkenal di kalangan atas. 


Begitu juga dengan perkebunan yang dikelola oleh Lucia. Itu dikenal sebagai penghasil wine terbaik. Belum lagi produk lainnya yang menjadi favorit. Bisa dikatakan, Black Rose semakin maju dan berjaya. Kesejahteraan anggotanya pun semakin terjamin. Tentu ini menjadi hasil yang memuaskan. Ya, meskipun harus ada pengorbanan untuk hal itu.


*


*


*


"Tidak terasa. Sudah lama ibu meninggalkanku. Dan besok adalah peringatan kepergian ibu. Aku tidak tahu, aku harus senang atau sedih," ucap Liev, saat berada di samping makam Ariel. 


Desya berdiri di belakang, mendengarkan apa yang putranya katakan. Sementara Lesta, berada di samping Liev. "Maaf. Beberapa tahun ini aku tidak mengunjungi Ibu." 


Entahlah. Desya merasa tidak nyaman di sini. Apalagi melihat raut wajah Liev. 


Apa Desya pernah mengunjungi makam ini? Jujur saja, tidak. Bahkan, Desya sudah lupa dengan Ariel. 


Meskipun kau mengkhianatiku, aku masih memberimu kehormatan dengan memakankanmu di sini. Berterima kasihlah pada Liev. Karena dialah, aku masih memandangmu. 


Mengunjungi makam ini, membangkitkan ingatan Desya akan Ariel. "Jujur saja. Aku tidak tahu apalagi yang harus aku katakan pada Ibu. Aku hanya berharap, ibu tenang di sana," ucap Liev. 


"Ibu Ariel pasti tenang di sana. Kakak jangan sedih, kan ada aku, Ibu, Ibu Evalia, ayah, juga Aunty Bella," ujar Lesta. 


Liev mengangguk singkat. Satu hal. Anak tidak akan pernah bisa melupakan ibunya, gumam Desya dalam hati.  


*


*


*


Malamnya adalah malam tahun baru. Itu sambut dengan meriah. Anggur tetap disediakan. Begitu juga dengan hidangan lain. 


Tahun baru, acara barbeque seakan sudah menjadi rutinitas. Daging dikeluarkan, begitu juga dengan pelengkap lainnya seperti sosis, paprika, dan sebagainya. Selain itu, juga ada cemilan khas Rusia. 


Acara malam tahun baru ini dilakukan di sebuah ruangan dengan dinding full kaca. Jadi, meskipun di dalam ruangan tidak kehilangan momen malamnya, di mana salju turun dan sebentar lagi, kembang api yang menghiasi langit. 


Sementara para pria sibuk memanggang, di mana Desya dan Dimitri ikut di dalamnya. Mereka berbaur, saling bercengkrama. Dan obrolan pria, tak jauh-jauh dari hal pekerjaan. 


Sementara para wanita duduk sembari membuat minuman. Mereka juga bercengkrama. 


Begitu juga dengan anak-anak mereka. Arka, sebagai yang tertua ia mengawasi adik-adiknya. Anak-anak itu bermain dan bercengkrama. "Istana ini begitu indah. Kau pasti betah tinggal di sini," ucap Arka pada Liev. Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia. Lesta yang mendengarnya mengerjap tidak mengerti. 


"Sekilas memang begitu. Namun, nyatanya ada banyak intrik di dalam bangunan megah ini. Namun, itu memanglah hal lumrah," jawab Liev, menghela nafasnya. Sejak kecil, ia sudah tahu rasanya tinggal di istana ini. 


"Kalian bicara apa? Mengapa kakak menghela nafas?"tanya Lesta, dalam bahasa Rusia. 


"Tidak ada. Hanya membahas sesuatu yang ringan," jawab Liev, seraya mengusap rambut Lesta. 


"Serius?" Lesta memicing tidak percaya. 


Liev mengangguk "Eum…."


"Ya, kau benar. Sebenarnya kita dalam posisi yang sama."


"Terlahir dalam keluarga sendok emas memang menjanjikan. Namun, ada tanggung jawab yang harus dipikul. Terkadang, ingin rasanya menjadi biasa. Akan tetapi, takdir memilih kita untuk seperti ini. Kita hanya bisa menjalaninya dengan sebaik mungkin," imbuh Arka lagi. 


"Perkataanmu sangat berat, Kak," sahut Liev, disertai dengan kekehan. Namun, dalam hatinya membenarkan ucapan Arka itu. 


*


*


*


"Hei Lia, Jani," panggil Bella. Yang dipanggil menoleh. 


"Kalian punya usaha yang sefrekuensi, mengapa tidak bekerja sama saja?"tanya Bella, dan kini ia akan menjalani peran sebagai mak comblang. 


"Kerja sama?" Kedua wanita itu membeo. 


"Benar. Butik dan perusahaan perhiasaan, itu akan kerja sama yang menjanjikan," jawab Bella. 


"Hm?" Evalia dan Anjani saling tatap.


"Itu saran yang sangat bagus!"ucap Silvia, menimpali. 


Anjani dan Evalia memikirkannya. Mereka malah kini langsung berdiskusi. "Jiwa bisnis, disinggung tawaran saja sudah langsung serius," ucap Rahayu. 


"Apa Anda tidak tahu? Terkadang wanita itu yang paling memiliki ambisi. Lihatlah menantuku Evalia, juga Lucia. Sebelumnya tidak pernah terbayang mereka akan mampu mengelola usaha skala besar. Siapa sangat? Mereka mampu dan itu sangat mengagumkan," ucap Aleandra. 


"Anda benar. Dan dari semua hal ini kita bisa simpulkan, untuk bisa mencapai perubahan, harus berani dalam mengambil langkah," timpal Rahayu. 


Keduanya kemudian tertawa bahagia. "Pertama kali kemari, rasanya menenangkan. Tapi, mengapa sekarang rasanya tidak seperti dulu? Apa karena sudah saling mengenal dan akrab?"tanya Silvia pada Bella. 


"Benar, Kak! Dulu, menginjakan kaki di sini, rasanya ditatap oleh serigala. Apalagi suasananya sangat dingin. Berkeringat dingin sudah," imbuh Nesya. 


"Hm? Kenapa ya?" Bella tersenyum. Tidak menjawab, malah balik menanya. 


"Abel … kami bertanya karena tidak mengerti. Ah bagaimana denganmu sendiri?"rengek Silvia.


"Kau sudah menjawabnya. Karena kita sudah saling mengenal. Jadi, ibaratnya, aura permusuhan itu sudah hilang. Dan dalam benak kita sudah tertera, terpatri bahwa we are family," jelas Bella. 


"Apalagi ada Liev bersama dengan kita. Itu semakin mempererat hubungan," tambah Bella. 


"Benar. Kita sudah menjadi keluarga," timpal Rahayu yang diangguki oleh Nesya.


"Ayo-ayo kemari, makanan sudah matang!"ucap Surya dan Dimitri bersamaan kala makanan untuk tahu baru sudah matang semua. Mereka duduk di lantai berbalut permadani, bak tengah piknik di musim panas, hanya saja, bedanya ini musim dingin dan dilakukan di dalam ruangan. 


Mereka semua berkumpul. Membentuk lingkaran dengan makanan dan minuman berada di tengah. "Sebentar lagi tahun akan berganti," ucap Desya, setelah melihat jam tangannya ia mengalihkan pandang ke keluar. 


Tak lama kemudian, kembang api dilepaskan. Langit malam begitu cantik dengan aneka warna dan bentuk kembang api. 


"HAPPY NEW YEAR!!"ucap mereka, dengan mengangkat gelas berisi minuman soda. Kecuali Dimitri yang minum anggur. 


Mereka makan dan minum dengan gembira. Tak lupa, mengabadikan momen dengan kamera, dan Fajar bertindak sebagai fotografer. "Ini sangat menyenangkan. Aku rasa, akan baik jika ini dijadikan agenda setiap tahun. Namun, tidak boleh kami saja yang datang kemarin. Kalian juga harus berkunjung ke rumah kami," ucap El. Dan itu disambut baik oleh Desya. 


"Pasti!"


"Yeah!" Liev melonjak senang. 


Dan kini waktu menginjak pukul 01.00 dini hari. Anak-anak sudah tidur, meninggalkan orang dewasa yang masih berbincang. Ah, tidak. Diantaranya sudah ada yang kembali ke kamar. Di ruangan kaca ini tinggal menyisakan Ken, Bella, Desya, dan juga Evalia. 


"Hm?" Desya tidak langsung menjawab. Evalia hanya mendengarkan tanpa niat menimpali. 


"Sekarang Liev sudah sekolah di sana, bukan?"tanya Desya. Bella mengangguk. 


"Memang benar, Green Palace sudah stabil. Namun, aku rasa masih banyak hal yang harus ia pelajari darimu. Jika Liev kembali sekarang, rasanya kurang cocok. Ya, meskipun aku menginginkannya. Terlebih lagi, dia sudah sekolah di sana. Aku berpikir setelah ia lulus sekolah dasar baru kembali ke Green Palace," ujar Desya, kemudian kembali menenggak minuman sodanya. 


"Aku sepemikiran denganmu. Ada baiknya ditamatkan lebih dulu. Biar seimbang dan pemikiran Liev semakin dewasa," tambah Ken, menyetujui apa yang Desya katakan. 


"Ya, itu lebih baik. Aku juga sepemikiran dengan kalian," balas Bella. 


Malam tahun baru dilewati dengan meriah. Saat pagi menjelang, kemeriahan tahun baru belum berakhir. Keesokan harinya, diadakan perlombaan untuk semakin memeriahkan tahun baru. Di antaranya adalah lomba berkuda dan memanah. Banyak yang ikut dalam lomba itu. Selain itu, juga ada lomba lainnya. 


Ken, Brian, El, Dylan, Fajar, dan Surya ikut andil dalam perlombaan tersebut. Dan tidak ketinggalan pula, Desya dan Dimitri juga ikut di dalamnya. 


Sementara para wanita, menonton seraya memberikan semangat. Benar-benar meriah! Ini akan menjadi salah satu momen tahun baru yang tak terlupakan. 


"Mama … mau itu, naik kuda …." Nayan meminta pada Bella seraya menunjuk ke arah kuda-kuda yang sedang berlomba. 


"Mau naik kuda?"tanya Bella memastikan. 


"Iya," jawab Nayan. 


"Zira juga mau?"tanya Bella pada putrinya. Nazira mengangguk. 


"Baiklah, kalau begitu kita tunggu Papa. Nanti kita jalan-jalan. Bagaimana?"tawar Bella. 


"Mau!"jawab Nazira. Nayan mengangguk singkat. 


Sekitar sepuluh menit kemudian, lomba berkuda selesai dan Desya keluar sebagai pemenang. Tidak heran. He's the leader of Black Rose. Segera disambut dengan pelukan oleh Evalia. Lucia melihat sekilas. Sama sekali tidak cemburu. Ia sudah tidak memiliki rasa lagi pada Desya, mantan suaminya. Fokusnya sekarang hanyalah Lesta dan perkebunan. 


"Anak-anak ingin berkuda," ucap Bella pada Ken, saat suaminya itu menghampiri mereka. 


"Benarkah? My baby twins ingin berkuda?"tanya Ken memastikan, sembari mengecup bergantian dahi Nayan dan Nazira. Kedua bocah itu mengangguk. 


"Baiklah. Ayo kita berkuda," ajak Ken, seraya menggendong Nazira. 


"Kalian tidak ingin berkuda berkeliling istana?"tanya Bella pada yang lain. 


"Aku mau, Mom!"jawab Liev, mengacungkan tangannya. 


"Aku juga mau, Aunty!"timpal Arka. 


"Aku ingin. Tapi, aku tidak bisa berkuda," ucap Anjani. Hal diangguki oleh Silvia dan juga Nesya. 


"Apa kau tidak melihat suamimu ini, Jani?"cetus El, dengan bibir mengerucut. 


"Benar!" Brian menimpali. 


"Ah … hehehe." Ketiga wanita itu tertawa.


"Kalau begitu, ayo," ajak Bella, berjalan dengan menggendong Nayan menuju salah seekor kuda, berjalan bersama dengan Ken yang menggendong Nazira. Diikuti oleh Liev dan Arka. 


"Anda berdua tidak ikut?"tanya Desya pada Surya dan Rahayu. 


"Biarlah mereka saja," jawab Rahayu. "Melihat mereka akur dan kompak seperti itu, rasanya sangat membahagiakan. Damai dan tentram rasanya hati ini." Rahayu berkata dengan memeluk Surya. 


"Apa kau ingin bergabung juga, Lia?"tawar Desya pada Evalia, yang menggendong Larisa. 


"Apa Tuan tidak keberatan?"


Desya tidak menjawab secara verbal. Ia mengulurkan tangannya pada Evalia. "Ayo, kita bergabung dengan mereka," ucapnya kemudian. 


"Kau juga, Lucia. Bergabunglah bersama Lesta," ajak Desya. 


"Baik, Tuan." Mereka bergabung dengan Bella dan lainnya. Meninggalkan kedua kakek dan nenek itu. Keempat orang tua itu hanya melihat pemandangan punggung anak-anak mereka yang mulai menjauh. 


"Anda benar. Melihat mereka akur dan akrab, hati ini turut senang. Sangat senang malah," ujar Aleandra. 


*


*


*


Selama di Green Palace, banyak kegiatan yang mereka lakukan. Dan kegiatan itu semakin menambah keakraban di antara dua keluarga. 


Dan tiga hari sudah keluarga Mahendra berada di Green Palace, sudah saatnya kembali karena banyak tanggung jawab yang menunggu mereka. 


Keberangkatan keluarga Mahendra menuju bandara diantar oleh Desya. Kali ini mereka tidak menggunakan mobil melainkan helikopter. Beberapa buah helikopter digerakkan dari Green Palace menuju bandara. 


Sebelum kembali pulang ke Jakarta, Liev kembali mengunjungi makam ibunya, berpamitan. 


Setibanya di bandara dan setelah berpamitan, keluarga Mahendra naik ke pesawat dan terbang kembali ke Indonesia. 


Desya masih menatap pesawat yang terbang menjauh. Di sisinya ada Evalia dan juga kedua putrinya, Lesta dan Larisa. Juga ada Lucia. Ah, benar. Lucia dan Lesta juga kembali ke Italia hari ini. 


"Ayah akan sering mengunjungimu," janji Desya pada Lesta, seraya mengecup kening putri tertuanya itu. 


"Ayah janji?"tanya Lesta. Desya mengangguk. 


"Kalau begitu, aku akan menunggu Ayah," jawab Lesta, seraya tersenyum. 


"Kami pamit, Tuan," ucap Lucia, ngomong kecil di hadapan Desya. 


"Hati-hati," balas Desya. 


"Semoga perjalanan kalian menyenangkan," ucap Evalia pada Lucia dan Lesta. 


Lucia mengangguk. Dengan menggandeng lengan Lesta, Lucia masuk ke dalam pesawat. 


"Istana kembali sepi, Tuan," ucap Evalia, sedih karena semua sudah pulang. 


"Sepi bukan berarti hampa, bukan?"tanya Desya, membawa Evalia dan Larisa dalam dekapannya. 


Lucia tersenyum. Benar! "Ayo kembali," ajak Desya yang diangguki oleh Desya. 


*


*


*