This Is Our Love

This Is Our Love
Disergap!



Ken mengendarai motor dengan kecepatan nyaris pelan. Ia ingin menikmati waktu lebih lama seperti ini. Di bawah langit malam yang bertabur bintang, dipeluk oleh wanita yang ia cintai, sungguh ingin rasanya waktu berhenti. Bella sendiri tertidur dengan bersandar pada punggung Ken. 


Namun, tanpa keduanya sadari, bus rombongan mereka telah jauh dari mereka. Suasana begitu sepi, hanya ada sedikit kendaraan yang lewat itu pun selang waktu yang cukup jauh. Bella yang merasakan suasana hening sedikit mencekam membuka matanya. 


"Hei mengapa kau pelan sekali? Ini sudah malam, kita tertinggal jauh!"ucap Bella setelah melihat sekitar. 


"A-aku tak bisa mengimbangi kecepatan bus tadi. Jadinya kita tertinggal," jawab Ken berkilah. 


"God! Bagaimana bisa aku lupa?!" Bella baru ingat kalau Ken pengendara yang cukup buruk di malam hari. 


"Menepi, biar aku yang bawa. Tengah malam begini, sepi, situasi di sini juga kita tidak tahu," ucap Bella. 


Benar juga! Ini bukan wilayah mereka, dan lagi mereka hanya berdua, bukankah itu situasi yang sangat rawan?! Ken merutuki kecerobohan dan keinginan hatinya dalam hati. Segera Ken menepi. Ia turun untuk berganti posisi dengan Bella. 


Sebelum mengemudi, Bella lebih dulu merenggangkan otot tangan dan lehernya kemudian menggunakan helmnya. 


"Pegangan!"ucap Bella. Tanpa diperintah dua kali, Ken langsung memeluk erat pinggang Bella. Jantungnya sudah berdebar kencang saat Bella mulai melajukan motornya. Ken menelan ludah kasar saat Bella mulai memacu motornya lebih kencang. Telinganya terasa berdengung oleh angin. Pinggiran jalan dilihatnya dilalui begitu cepat. Ken memilih memejamkan matanya. 


Seharusnya tadi aku tolak saja. Jantung oh jantung tetaplah berada pada tempatmu, ringis Ken dalam hati.


Cittt!!


Ken merasakan motor direm mendadak yang membuatnya menubruk punggung Bella. Ia membuka matanya melihat apa yang terjadi.


"Kita dicegat!"ucap Bella pelan, namun masih bisa ia dengar. Ken melihat ke depan. Tiga motor berhenti di depan mereka, menghalangi jalan. Tiga motor berisi enam orang pria dengan perawakan seperti bodyguard, mengenakan pakaian setelan hitam. Ken sontak menelan ludahnya kasar. Seumur-umur baru kali ia dicegat begini, tengah malam, hanya berdua dengan istrinya. 


"Turun!" Suara barito yang dikeluarkan salah seorang dari enam pria itu.


"Siapa kalian?!" Bella menjawab dingin. Ken merasakan Bella yang tetap tenang di situasi begini. 


"Melaikat maut kalian!"jawabnya angkuh. 


Cih!


Bella mendecih, "turun, Ken!"


"A-Aru kita nggak bisa kabur saja?"bisik Ken takut. 


"Masalah harus segera diatasi!" Bella turun tanpa menunggu Ken turun. Helmnya ia lepas, sorot matanya begitu dingin menatap enam pria berbadan kekar itu yang juga turun dari motor. 


"Siapa yang menyuruh kalian? Berapa bayaran yang diberikan untuk mengambil nyawa kami?! Aku akan memberikan dua kali lipat asal kalian melepaskan kami!"tanya Bella, nadanya tetap dingin tanpa rasa takut namun sikapnya tetap waspada. 


"Nona setiap pekerjaan ada aturannya! Dan kesetiaan bagi kami adalah hal yang dijunjung tinggi! Maaf berapapun yang Anda tawarkan, simpan saja sendiri untuk biaya pemakaman Anda berdua!"sahutnya dengan nada tegas. Bella tertawa dingin. 


"Baik. Baik aku mengerti. Aku hargai sikap profesional kalian. Tapi maaf juga, tidak semudah itu kalian mengambil nyawaku dan suamiku!"balas Bella. 


"Mohon kerjasamanya, Nona!"


"Ken hubungi mereka!"ucap Bella sebelum lari untuk bertarung dengan keenam orang itu. Ken tertegun sesaat kemudian baru mengeluarkan ponselnya. 


Damn it! 


Ponsel Ken mati. Ia mencari ponsel Bella. Dayanya masih cukup, namun Ken tak tahu sandi kuncinya. 


Di sisi lain, Bella melawan bergantian enam pria itu. Sorot matanya tetap dingin, gerakannya tangkas dalam memberi serangan dan menangkis serangan. 


Bugh!


Satu di antara mereka tumbang. Bella menyeka bibirnya yang berdarah. "Hebat juga kau, Nona!"


"Kalian juga!"sahut Bella sebelum mereka kembali bertarung. Pertarungan yang terlihat tidak seimbang. Lima lawan satu, wanita pula. Bella cukup kerepotan sekarang. Serangan semakin intens yang membuatnya hanya bisa menangkis dan menahan. Keringat mengucur deras. 


Hiyaaaa!


Tiba-tiba Ken masuk dalam pertarungan. Ia menghadapi satu orang. 


"Ken?!"pekik Bella. Ken tidak menggubris. 


"****!"umpat Bella. Ken itu tipe Tuan Muda anak emas. 


"Uuh!" Bella meringis saat terjatuh setelah menerima tendangan. 


"Aru!" Di lain sisi Ken yang sudah babak belur akhirnya berhasil menumbangkan lawannya. Ia berdiri dengan nafas terengah sembari memegangi lengannya. 


"Siapapun yang menyuruh kalian … aku pasti akan menemukannya! Sekalipun aku mati aku pasti membawanya bersamaku!"desis Bella. Darahnya mendidih. Wanita pemilik sabuk hitam dan menguasai bela diri pertahanan asal jerman yakni Anti Terror Kampf itu kembali melancarkan serangan. 


Rasa sakit akibat pertarungan sebelum ia abaikan. Sorot mata yang dingin nan berkilat tajam itu sejenak berhasil mengintimidasi lawannya. Melihat Bella yang mumpuni, salah seorang dari mereka menggunakan senjata tajam dalam menyerang Bella.


Ken yang mau menjadi beban, walau rasanya sungguh sakit, berusaha untuk bertarung dengan satu lagi. Tiga lawan satu dan satu lawan satu. Di jalanan yang sepi lagi mendekam itu, suara pukulan, tendangan, dan pekikan sakit begitu kental. 


"Uhuk!" Setengguk darah segar Bella muntahkan setelah berhasil menyingkirkan satu lawan dan menerima pukulan keras pada dadanya. 


Satu kakinya menekuk menyentuh tanah, satu tangan menahan bobot tubuhnya dan satu tangan lagi mengusap bibirnya. Nafasnya terengah mengartikan bahwa Bella sudah sangat kelelahan. Enam orang ini, yang mana tiga sudah tumbang ia yakini sebagai bayaran profesional. Siapa gerangan yang mengirim mereka? Siapa yang mereka singgung sampai mengirim mereka kemari? 


Melihat sesuatu yang bercahaya, sebuah pisau, Bella yakin Ken terkena tusukan. 


"Lawanmu kami, Nona!" Bella yang hendak menolong Ken dihalangi oleh dua musuhnya yang tadinya ikut terpojok seperti dirinya. 


Tak ayal, dua lawan satu kembali dilangsungkan. Bella semakin kewalahan dan posisinya terpojok karena dua orang itu bermain menggunakan senjata. Kemeja putih yang ia gunakan tanpa bercak merah, beberapa sayatan bersarang di lengannya. Rasa cemas akan Ken, takut kehilangan, begitu menguasai Bella. Bagai seekor singa yang semakin terluka semakin menjadi, Bella melancarkan serangan dengan intens, tak peduli lagi dengan rasa sakitnya. 


"AGKHHHHH!" Lagi, teriakkan nyaring Ken terdengar. 


Bugh!


Bugh! 


Bersamaan dengan itu, dua lawan Bella tumbang dengan luka tusuk di dada dan perut. Bella langsung menoleh ke arah Ken. Sialan! Berapa tusukan yang suaminya terima?!


Tinggal berhadapan dengan satu orang lagi maka mereka akan selamat. Bella dengan nafas memburunya berlari ke arah pencegat yang tinggal seorang. Tak mau kalah, pria yang tinggal seorang diri itu ikut berlari dengan mengacungkan pisaunya. 


"UHH!!


"UHH!"


Keduanya sama-sama meringis pisau Bella tepat mengenai jantung pria itu. Darah merembes keluar, mata pria itu terbelakang ke atas dengan mulut yang keluar darat. 


Bugh!


Pria itu tumbang seketika dengan mata yang masih mendelik ke atas. Bella sendiri terdiam seraya meraba pinggangnya. Pisau masih menancap di sana.


"AHHH!" Ditarik pisau itu, dan darah seketika keluar membasahi kemeja putih Bella. 


"KEN!" Dengan sisa tenaga yang masih ada, Bella berjalan tertatih menghampiri sang suami yang terbaring tak sadarkan diri dengan dua luka tusuk di pinggang. 


"Hei bangun!" Bella memangku kepala Bella. Tangannya yang berlumuran darah ia tepukkan pada pipi Ken. 


"Bertahanlah. Kita akan selamat!" Air mata Bella menetes. Dengan hati-hati ia kembali menidurkan kepala Ken di aspal dam dengan susah payah ia berdiri untuk menjangkau ponselnya.


"ABEL!" Baru dua langkah Bella limbung. Seseorang menahan dan membaringkannya dengan bersandar pada dada orang itu. Mata Bella yang mulai kabur masih mengenali orang itu.


"K-a-k L-o-u-i-s, k-a-u s-u-d-a-h d-a-t-a-n-g?"


"Bertahanlah. Kita akan ke rumah sakit!"ucap kalut Louis.


"S-e-l-a-m-a-t-k-a-n s-u-a-m-i-k-u!"


Mata Louis terbelalak. Ia tak salah dengar? Ia seketika menoleh pada Ken yang sudah dipapah oleh Leo masuk ke dalam mobil. 


"Louis ayo cepat!"seru Leo yang tampak sangat cemas.


Bella sudah tak sadarkan diri. Louis cepat-cepat mengangkat Bella masuk ke dalam mobil. Ucapan terakhir Bella ia anggap sebagai salah dengar. 


Dengan perasaan kalut, Louis memangku kepala Bella dengan tangan menekan luka Bella agar darah berhenti mengalir. Itu juga yang Leo lakukan pada Ken. Keduanya tidak berbicara, sibuk mengurusi luka keduanya. Mobil yang melaju cepat seakan begitu lambat. 


Louis, selain takut dengan kondisi Bella. Ia kembali memikirkan ucapan Bella yang terakhir. Suami? Abel sudah menikah? Kapan dan mengapa? Beragam pertanyaan muncul. Dan ia sungguh tak tahu jawabannya. 


*


*


*


Sekitar pukul 00.00, rombongan yang menggunakan bus baru tiba di resort. Para karyawan termasuk Teresa, Max, Rose, Helena, dan Key langsung menuju kamar masing-masing. Lain halnya dengan Leo yang sibuk mengambil barang belanjaan dan Louis yang menunggu kedatangan Bella dan Ken. 


Ia langsung cemas menyadari ia sudah cukup lama menunggu namun keduanya tak kunjung tiba. Segera Louis ke lobby untuk meminjam mobil.


"Louis kau mau ke mana lagi?"tanya Leo yang melihat adiknya buru-buru dengan membawa kunci mobil.


"Menyusul Abel!"jawab Louis. 


"Abel?" Dahi Leo mengeryit, sejurus kemudian ia meletakkan semua barangnya dan ikut dengan Louis.


"Aku ikut! Kita bawa sopir!" Leo memanggil sopir bus mereka. Sepanjang jalan mereka mencari keberadaan Ken dan Bella.


"Young master, ada sesuatu di depan," ucap sopir seraya menghentikan laju mobil. Leo dan Louis melihat satu motor yang lampunya menyala terang namun tetap di tempat. Keduanya segera turun. Waspada saat melihat beberapa tubuh tergeletak. Mereka mengedarkan pandang. Melihat seorang wanita yang berusaha berdiri susah payah. "ABEL!" 


Louis berlari menghampiri wanita itu yang tak lain adalah Bella. Sementara Louis sendiri menghampiri Ken dan lekas memapahnya setelah tahu Ken terkena luka tusuk.


*


*


*


Baik Louis maupun Leo berdiri mondar mandir, sungguh cemas dan takut dengan kondisi keduanya, terutama Bella. Walau Bella hanya menerima satu luka tusuk namun Bella lah yang paling berbahaya jika terjadi kehilangan banyak darah. Golongan darah Bella sungguh langka, keduanya berharap Bella dan Ken baik-baik, tidak kehilangan banyak darah yang mengharuskan transfusi