
Setelah menjalankan shalat Zuhur berjamaah di ruang ibadah itu, kini mereka semua beralih menuju meja makan di mana berbagai macam hidangan sudah tersedia, tentu saja halal hidangan halal.
Namun, tidak ada daging selain daging ayam dan ikan yang disajikan, mengingat Bella yang tidak bisa makan daging selain daging ayam ataupun ikan.
Ada beberapa jenis sup. Semua masih dengan pemanas elektrik dan dengan asap yang mengepul ke atas. Selain itu, ada beberapa jenis sayuran lagi. Dan jangan lupakan juga nasi. Juga ada roti bagi yang tidak ingin makan nasi.
Dan juga blini, roti tipis berbentuk pipih yang merupakan penekuk dari Rusia. Dan kebanyakan menu adalah khas Rusia. Untuk yang isiannya daging selain daging ayam dan ikan, itu diganti dengan kedua jenis protein itu.
Sebelum makan, ingatan Desya kembali ke beberapa saat lalu. Saat ia diajari wudhu oleh Ken.
Ken, pria itu entah memang sengaja atau tidak, yang pasti saat mengajari Desya tadi ia menjadi pemarah. Ya bagaimana tidak? Desya cukup sukar diajari, apalagi pas di bagian niat untuk wudhu dan sesudah wudhu.
Untuk bagian gerakan sih aman, karena Desya tinggal meniru. Sepertinya Desya cukup kesulitan menggunakan bahasa Arab yang akhirnya Ken siasati dengan niat dalam bahasa Inggris. Daripada kelewatan waktu terbaik untuk shalat yakni setelah adzan. Yang penting kan tidak asal-asalan.
Dan saat shalat pun, yang merupakan shalat pertamanya, ia mengikuti gerakan yang lain. Saat rukuk ikut rukuk, saat sujud ikut sujud. Dalam hati Desya, ia langsung bertekad untuk bisa shalat dengan lancar, dari niat, bacaan sampai dengan gerakan, hingga doanya.
"Silakan makan!" Desya sebagai pimpinan istana ini membuka sesi perjamuan itu.
Tidak ada minuman keras. Yang disajikan adalah teh mawar yang mempunyai cita rasa tersendiri.
Mereka mulai makan sambil bercerita. Meskipun tidak langsung akrab. Namun, jika ada yang menjembatani, itu hanyalah tinggal urusan waktu.
Bella duduk di samping Evalia dan Evalia duduk di samping dekat Desya. Dimitri dan Aleandra duduk di hadapannya. Dan yang lain mengisi tempat kosong meja makan yang sangat luas itu. Liev dan Key, keduanya berada di samping Bella.
Dan di samping kedua bocah itu barulah Ken. Kesal sih posisinya di serobot dua bocah itu. Namun, apa dayanya di hadapan dua bocah emas itu?
*
*
*
Malam pun tiba. Setelah shalat isya, mereka berkumpul beberapa saat sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar masing-masing yang telah disediakan.
Desya, pria itu mulai hafal bacaan dan tata caranya. Dan ini adalah malam terakhir Bella di istana ini.
Desya keluar dari kamarnya. Ia tidak memakai mantelnya. Irene berteriak dan memakaikan Desya mantel. Akan tetapi, pria itu menolaknya. "Saya tahu Anda sedih, Tuan. Saya juga sedih. Namun, setelah Nona Bella pergi, ini bukankah akhir," ucap Irene dengan meraih lengan Desya. Kesedihannya begitu terlihat nyata sekarang. Tidak seperti tadi yang masih ditutupi olehnya. Desya menatap Irene. Tatapannya dingin yang memendam kesedihan.
"Apa maksudmu?"tanyanya, Irene merasa itu lebih dingin daripada udara dingin di sekitar.
"Tuan ingat apa kata Nona Bella? Dia memang menolak Tuan untuk menjadi pasangannya. Namun, tidak dengan menjadi teman. Atau Tuan akan naik menjadi sahabatnya. Meskipun hanya sekadar teman, saya perhatikan Nona Bella sangat menghargai dan menyayangi teman-temannya. Apalagi sahabatnya," jelas Irene panjang lebar.
Ya, tugasnya menjadi penyimpul lagi dari yang ia amati tentang Tuannya dan Bella. Tuannya mungkin genius dalam urusan bisnis. Akan tetapi, dalam urusan hati, tidak terlalu!
"Irene," panggil Desya.
"Iya, Tuan!"
"Pakaikan mantelku!" Desya merentangkan kedua tangannya. Sejenak Irene tertegun sebelum dengan cepat memakaikan Desya mantel.
Setelah mantel itu menutupi tubuhnya, Desya langsung berlari.
Benar! Ini malam terakhirnya. Ah tidak, dia akan kembali lagi kemari! Aku harus memiliki waktu dengannya sebelum ia pulang.
"Tuan!"
"Tuan!"
"Jangan lari!" Irene kewalahan untuk menandingi lari Desya. Kaki-kakinya yang panjang berlari sangat cepat. Dan itu sedikit menjadi pusat perhatian untuk para penjaga dan orang-orang yang melihat mereka.
"Bagaimana jika Irene dan Desya menikah?"tanya Aleandra yang kebetulan juga melihat hal itu.
"Aku rasa akan ada banyak moment canggung di antara mereka. Terutama saat akan melakukan itu. Itu ide yang tidak bagus namun juga tidak buruk. Dan menurut pandanganku, Desya tidak akan mengambil istri lagi," sahut Dimitri, terdengar cukup rinci yang membuat Aleandra mendengus senyum.
"Eh?!" Dimitri terkejut saat Aleandra memeluknya dari belakang. "Aku merasa dingin. Bagaimana jika kau menghangatkanku?"bisik Aleandra, dengan menghembuskan nafas di ceruk Dimitri.
"Dengan senang hati!"balas Dimitri, dengan cepat berbalik dan memeluk Aleandra. Pria itu memanggut bibir istrinya dan kemudian menggendong Aleandra menuju ranjang mereka.
*
*
*
"Aru." Ken yang tiduran langsung bangun saat melihat Bella keluar dari ruang ganti. Bella menggunakan pakaian mirip gamis. Ya, di sini tidak ada daster. Istrinya itu masih mengenakan hijab.
"Ya?"sahut Bella.
"Kemarilah," ucap Ken dengan menepuk sisi ranjang.
"Hm? Ada apa?"tanya Bella. Ken tidak menjawab. Ia langsung memeluk Bella. Menyembunyikan wajahnya di ceruk Bella dan mencium aroma tubuh istrinya itu. Aroma yang sudah sangat lama ia rindukan.
Bella membalas pelukan itu. Ia juga melakukan hal sama. "Kau merasakannya?" Ken menangkup kedua wajah Bella yang tambah tembem.
"Aku merindukannya," jawab Bella. Keduanya bertatapan sayu.
Pelan tapi pasti, Ken mendekatkan bibirnya pada bibir Bella. Keduanya berciuman dan ini adalah ciuman sekian kali setelah beberapa ciuman singkat. llnya tidak akan seperti ciuman singkat itu.
Mereka melepas ciuman ketika merasakan oksigen yang menipis. Dengan masih terengah namun wajah penuh dengan ekspresi bahagia, tangan Ken mulai bergerak. Hal pertama yang ia lakukan adalah melepas hijab Bella.
Rambut hitam legam nan panjang Bella langsung ia dapati. "Ngomong-ngomong, dia tidak akan kaget kan saat ayahnya tiba-tiba menjenguk?"tanya Ken dengan sedikit menyengir.
Ken tersenyum. Ia kembali mencium Bella, dari rambut, dahi, hidung, dan turun ke bibir. Perlahan, Ken mulai membaringkan Bella di atas ranjang empuk itu.
"Wow!" Bella langsung berdecak saat Ken melepas bajunya. Tubuh suaminya itu lebih berisi dan padat. Dan otot perutnya, itu lebih daripada terakhir kali mereka bertemu. "Sepertinya kau menjalani hari dengan baik, Ken," ucap Bella sembari menyentuh perut Ken.
"Kau yang menyuruhku, bukan? Lagipula aku harus bugar untuk bisa memuaskanmu," jawab Ken. Bella terkekeh.
"Tapi, kau tambah sixpack aku tambah gendut," celetuk Bella.
"Tentu saja. Di dalam sini kan ada buah cinta kita," balas Ken, dengan mengusap perut Bella.
"God!" Tiba-tiba Ken berseru.
"Ada apa?"tanya Bella. Ia kaget mendengar seruan Ken.
"Dia merespon!"ucap Ken, masih dengan wajah terkejut.
"Dia merespon?"
"Anak kita menendang. Kau tidak merasakannya?"tanya Ken dan kini ia mendekatkan telinganya pada perut Bella.
"Really?" Bella tadi terfokus pada Ken.
"Aku bahagia sekali."
"Sepertinya dia memberi izin padamu, Ken."
Ken menatap Bella yang kini mengusap perutnya.
"Ya. Aku rasa juga begitu."
Ken mencium perut Bella sebelum naik dan kembali memanggut bibir istrinya.
Di saat-saat demikian, semua berlangsung dengan lancar. Namun, saat Ken hendak membuka pakaian Bella, ada yang mengetuk pintu kamar Bella.
Kesal. Keduanya merasa kesal. "Siapa?"tanya Bella dengan sedikit berteriak.
"Aku."
"Desya?"
"Aku akan melihatnya," ucap Ken. Ia sengaja tidak memakai bajunya kembali dan Bella ia buru-buru memakai hijabnya dan merapikan pakaiannya.
"Kau? Ada apa malam-malam begini kemari?"tanya Ken saat membuka pintu. Desya tidak langsung menjawab. Matanya cukup terbelalak melihat Ken yang telanjang dada.
Mereka akan berhubungan? Lagi, rasa cemburu itu hadir. Memang tidak semudah itu melepaskan rasa yang telah ada.
"Tubuhmu biasa saja," cetus Desya.
Ken mengerjap. Tersinggung? Ya, cukup sih. "Dlllan tubuh yang biasa ini sangat disukai oleh istrinya," balas Ken, dengan bersedekap tangan dan tersenyum, mengejek Desya.
Tangan Desya mengepal. Lupa, bahwa perbandingan apapun tidak menutup keheranan bahwa pria yang ia sebut dengan tubuh biasa itu adalah suami dan cinta dari Bella.
"Mana Bella? Aku ingin bertemu dengannya," ucap Desya.
"Ada apa, Desya?" Sebelum Ken menjawab, Bella muncul dari belakang Ken. Senyum Desya langsung sumringah.
"Aku mencarimu," ucap Desya. Bella mengangkat alisnya. "Ada beberapa hal yang harus aku bahas denganmu, dan ini empat mata!"lanjut Desya.
"Apa yang dia katakan, Aru?" Ken tidak mengerti karena Desya menjawab dalam bahasa Rusia. Bella yang tengah menimang tidak terlalu menggubrisnya.
Sedikit berdecak, Ken menatap kesal Desya. Pria ini, beraninya menganggu waktunya dengan Bella. Apa tidak lihat waktu? Ini sudah malam!
"Kau, tidak bisakah besok saja? Kami akan beristirahat!"
"Musim dingin dengan pakaian terbuka? Aku juga seorang suami!"balas Desya.
"Hmhp!"
"Baiklah." Desya semakin melebarkan senyumnya.
"Aru?" Ken protes. Ayolah, itu tadi sudah pemanasan dan ia mulai panas. Haruskah dihentikan?
"Sebentar saja. Ini malam terakhir aku di sini," ujar Bella, meyakinkan Ken.
"Waktu kita masih banyak," imbuh Bella, dengan mencium pipi Ken.
Benar! Waktu mereka masih banyak, seumur hidup! "Baiklah. Tapi, lekas kembali."
"Baiklah." Bella mengangguk. "Ke ruang kerjaku saja," ajak Bella. Dan Desya mengikutinya. Ken, ia tidak menunggu di kamar. Dengan cepat mengambil dan memakai kembali bajunya kemudian mengikuti Desya dan Bella meskipun hanya di luar pintu.
Di jalan, Ken berpapasan dengan Irene. Keduanya lantas menunggu di depan pintu ruang kerja Bella. Yang satu menjaga dan yang satu lagi menguping.
*
*
*