This Is Our Love

This Is Our Love
Congratulations!



Walaupun Bella membantah dugaan Ken namun tetap saja dugaan Ken mengenai apakah benar ia punya hubungan darah dengan keluarga Kalendra mengusik hati dan pikirannya. 


Sepanjang perjalanan pulang, Bella melamun. Ingatannya melanglang buana ke masa lalu. Jika benar ia satu darah dengan keluarga Kalendra mengapa perbedaan begitu jelas? Keluarganya beragama islam dan keluarga Kalendra pemeluk agama kristen yang begitu taat. Bella ingat dan tahu bahwa dalam keluarga Kalendra ada aturan yang melarang anggota keluarga menikah dengan yang beda agama juga menentang keras jika salah satu anggota keluarga ingin keluar dari agama yang dianut. 


Keluarga Kalendra juga tidak mengizinkan pernikahan satu darah. Jika diingat kembali, keluarga Kalendra begitu menerimanya dengan tangan terbuka lebar. Awalnya Bella yakin bahwa itu karena mereka menganggap dirinya sebagai malaikat penolong untuk Key. Akan tetapi kini, Bella merasakan kejanggalan terlebih setelah mendengar dugaan Ken. 


Aturan keluarga begitu ketat namun mereka mengizinkan dan menerima seseorang yang beda agama masuk ke dalam keluarga bahkan menjadi anak angkat. Max dan Rose juga tidak terlihat menentang Louis dan dirinya padahal jelas-jelas mereka tahu bahwa Louis dan Bella saling mencintai, note tentu saja sekarang sudah tidak lagi.


Aneh, sangat aneh. Misteri apa lagi yang tersimpan di balik nama K itu? 


Belum selesai aku memecahkan kasus Ayah dan sekarang harus memecahkan nama K di balik nama kakek buyut. Tunggu, nama kakek buyut adalah Dave, Dave K. Sepertinya aku pernah mendengar nama ini. Terasa begitu dekat tapi aku lupa kapan dan di mana.


Tapi jika benar Nenek keturunan keluarga Kalendra, bagaimana ceritanya bisa memeluk agama lain? Bukankah aturan keluarga begitu ketat? Lalu mengapa saat di Jerman aku tidak pernah mendengar apapun tentang Nenek? Daddy dan Mommy, tapi … ahhh lupakan saja. Tuntaskan dulu kasus Ayah maka kasus nama K itu juga akan terungkap. Keluarga Nero, ku harap kalian punya jawaban yang memuaskanku!


Ingatan Bella tertuju pada satu sosok, Nenek Marissa. Wajah neneknya itu memang ada raut wajah eropa, seperti blasteran dalam dan luar negeri. Dari cerita kakeknya, ayah nenek Marissa memang orang luar negeri. Tapi Bella lupa asal negara sang kakek buyut. 


Neneknya juga fasih berbahasa jerman, darinyalah Bella belajar bahasa jerman. 


Kesimpulannya adalah jika benar nenek Marissa keturunan keluarga Kalendra, mengapa bisa menikah dengan kakeknya? Dan apakah Max dan Rose sudah tahu tentang hal ini? Jika iya mengapa disembunyikan? Rahasia apa yang tersimpan di dalam masa lalu? Bella sakit kepala memikirkan jawabannya. 


Jika benar aku dan Louis satu darah, tidaklah heran jika Daddy dan Mommy begitu tenang. Karena kami memang tidak pernah bersatu baik dari segi keyakinan ataupun darah. Ahh akan ku tanyakan saat bertemu dengan Daddy dan Mommy nanti.


Bella menghela nafas kasar. Ia masih melamun. 


"Aru?"


"Aru?"


"Aru, hei?!"


Panggilan Ken yang cukup keras menyadarkan Bella. 


"Ah ya? Ada apa? Apa sudah sampai?" Bella tersentak dan langsung mengedarkan pandang tampak seperti orang yang kebingungan.


"Sudah, Aru. Kau sedari tadi melamun. Memikirkan ucapanku tadi?"tanya Ken, turun dari motor dan melepas helmnya.


"Ya." Bella mengangguk. Ia kembali menghela nafas.


"Maaf. Aku tidak bermaksud membuatku gelisah. Aku hanya menyampaikan apa yang aku rasa janggal. Sudahlah jika Aru mengatakan hal itu mustahil, maka hal itu mustahil. Lupakan saja. Silsilah keluargamu bukan masalah bagiku karena kau sudah menjadi isteriku," ujar Ken sembari melepas helm Bella.


"Ya," jawab singkat Bella, tersenyum simpul.


*


*


*


Ken dan Bella sama-sama mengedarkan pandang saat berada di ruang keluarga. Keduanya kemudian saling tatap dan menghela nafas pelan.


"Seperti ada yang kurang," ucap Ken lirih.


"Ya rumah terasa sangat sepi tanpa kehadiran Kak El," timpal Bella.


"Dulu aku berpikir rumah akan tenang tanpa kehadiran Kak El tapi sepertinya aku salah. Padahal baru sehari tapi aku sudah merindukannya. Aku akui dia memang menyebalkan dan biang masalah tapi kak El tetaplah bagian dari keluarga ini. Aku harap ia segera menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke rumah ini," harap Ken yang diangguki oleh Bella.


"Hubunganmu dengan El sudah lebih baik daripada sebelumnya. Tinggal hubunganmu dengan Brian," ucap Bella. Ken yang menutup matanya, segera menatap Bella dengan alis terangkat.


"Apa kau yakin aku bisa dekat dan berdamai dengan Kak Brian? Lihatlah besok kami resmi menjadi saingan dan dengan muka temboknya itu aku tak yakin bisa dekat dengannya," ucap Ken, ia menggeleng kemudian menggenggam jemari Bella. 


"Ayo kita ke kamar," ajak Ken yang disetujui oleh Bella.


*


*


*


"Aru drama apa lagi yang kau tonton?" Ken yang baru selesai salat magrib, langsung menghampiri Bella yang tengah menonton drama dari laptop di sofa.


"Oh hanya behind the screen, why?"


"Kau terlihat sangat mendalaminya."


"Karena itu lebih real."


"Apa judul dramanya?"tanya Ken penasaran.


"One and Only."


"Satu dan hanya, drama kolosal romantis?"


"Ya season satunya berakhir tragis. Aku tengah menunggu season duanya tayang. Ah tidak lebih tepatnya Nesya lah yang menunggu!"


"Hm. One and Only, aku berjanji padamu hanya kamu lah satu dan hanya untukku, selamanya!"


"Jangan terlalu mudah berjanji, Ken. Yang paling penting bagiku adalah kamu konsisten!"


"Aru aku …."


Belum selesai Ken menyelesaikan ucapannya ponsel Bella berbunyi. Panggilan masuk dari Teresa. 


"Good Night, Resa. Wie ist das Ergebnis?"tanya Bella. Ken mengeryit mendengar bahasa yang Bella gunakan. Jika bahasa inggris ia masih mengerti, jika jerman, tidak sama sekali.


"Nachmittag, mein Abel. Raten Sie mal!"jawab Teresa.


(Siang, My Abel. Coba tebak!"


"Sollen? Du hast lockere Rätsel gespielt, Resa!"gerutu Bella.


(Haruskah? Kau bermain teka-teki yang recehan, Resa!)


"Hahahaha gut. Das Ergebnis ist wie erwartet. Wir haben gewonnen, Abel!"ujar Terasa dengan nada teramat bahagia.


(Hahaha baik-baik. Hasilnya sesuai harapan. Kami menang, Abel!)


"I'm very happy, Abel! Mein Wunsch ist in Erfüllung gegangen!"pekik Teresa. Jika Bella berada di sana pasti sudah menjadi tiang hidup yang dipeluk erat oleh Teresa.


(Aku sangat bahagia, Abel! Harapanku tercapai!"


"Congratulations, Resa! Good job! Du bist toll!"ucap Bella ikut bahagia. 


"Oh nein nein! Das ist alles wegen dir. Das kann und kann ich durch dich! Oh ja, wir fliegen in einer Woche nach Bali!"ucap Teresa.


(Ah tidak-tidak! Ini semua karenamu. Aku bisa dan mampu seperti ini karenamu! Oh iya seminggu lagi kami akan ke Bali!)


"I know. I'll try to go there too. I've changed jobs. I'm no longer the secretary of the president but a candidate for vice president!"ucap Bella mantap.


"Ke sana? Ke mana?"tanya Ken dengan mata menyelidik.


Shut. Bella menginstruksikan Ken agar diam dulu.


(Benarkah? Hebat!)


"Dann werde ich Mr. Louis bitten, eine Genehmigung für Sie zu beantragen. Wie lautet Ihr Firmenname jetzt?"lanjut Teresa.


(Jika begitu aku akan minta Tuan Louis untuk mengajukan surat izin untukmu. Apa nama perusahaanmu sekarang?)


Bella langsung menggeleng, "Das ist nicht nötig. Ich habe den Weg!"tolak Bella.


(Tidak perlu. Aku sudah mendapatkan caranya!)


"Hm, dachte ich. Ja, ich rufe dich später an. Erhol dich gut, mein Abel," putus Teresa merasa lega.


(Sudah ku duga. Ya sudah kalau begitu nanti aku hubungi lagi. Selamat beristirahat, my Abel)


"Ja du auch. Genießen Sie den Gewinn," sahut Bella.


(Ya kau juga. Selamat menikmati kemenangan)


Percakapan di antara Bella dan Teresa pun berakhir. Bella mengulas senyum simpul. Seminggu lagi ia akan kembali bertemu dengan keluarga angka dan sahabatnya. Sungguh Bella sangat menantikan hari ini. Bella menoleh ke arah Ken saat merasakan aura masam seperti air cuka. Wajah masam Ken, seperti anak kecil yang tengah merajuk.


"Katakan, kau mau kemana dan apa saja yang kalian bicarakan tadi?!"


"Oh mengenai itu. Sahabatku di Jerman, Teresa berhasil mendapatkan tender besar dan untuk mengapresiasi hal itu perusahaan divisiku dulu akan melakukan darmawisata ke Bali. Keluarga angkatku juga ikut. Jadi seminggu lagi aku akan ke Bali, menemui mereka," jelas Bella.


"Bali?"


Bella mengangguk. "Royal sekali!"ucap Ken datar. Bella tersenyum. 


Tentu saja itu hanya alasan di permukaan. Alasan utamanya adalah aku, batin Bella. 


"Tunggu, bagaimana caranya kau izin ke Bali? Akan jadi perbincangan panas jika kau baru seminggu kerja langsung mengajukan izin," tanya Ken.


"Kenapa? Kau mau ikut?"tanya balik Bella.


"Tentu saja! Aku harus menjaga my Aru!"jawab mantap Ken.


"Apa caranya?" Ken kembali bertanya.


"Nanti kau juga akan tahu!" Ken mendengus sebal. Ia langsung bersandar pada pundak Bella. Menyalakan televisi dan menatap datar sinetron yang tengah tayang.


"Aru …."


"Hm?"


"Jika kau bertemu dengan Louis nanti apa kau akan bersikap seperti saat kau mencintainya?"tanya Ken, merasa cemas dan cemburu.


"Maybe. Lihat situasi nanti. Makanya kau harus ikut untuk menjagaku," jawab Bella. 


"Aku memang akan ikut!"


Bella tersenyum tipis. 


Tok


Tok


Tok


"Siapa?" Ken menoleh kesal ke arah pintu kamar. 


"Tuan Muda, Nona Muda Ketiga, Tuan dan Nyonya besar sudah pulang. Tuan Muda dan Nona Muda Pertama juga sudah pulang. Tuan Besar memanggil Anda berdua ke ruang keluarga." Itu suara pelayan. 


"Sudah pulang? Baiklah kami segera turun," sahut Bella.


"Tumben Kak Brian hanya sehari, biasanya sampai besok. Juga Mama dan Papa katanya menginap, kira-kira ada apa ya?"tanya Ken yang disambut endikkan bahu Bella.


"Ayo."


*


*


*


"Assalamualaikum," sapa Bella dan Ken bersamaan, langsung menyalami Surya dan Rahayu yang sepertinya tengah melepas lelah. Juga Brian dan Silvia.


"Waalaikumsalam."


"Duduk," ucap Surya. Bella dan Ken mengangguk. 


"Ada apa, Pa?"tanya Ken penasaran.


"Jadi begini, Brian, Ken, kalian sudah menikah. Papa menaruh harapan besar pada kalian," ucap Surya. Brian yang awalnya duduk bersandar langsung duduk duduk tegak. 


"Harapan bagaimana ya, Pa?"bingung Brian.


"Harapan meneruskan keturunan keluarga Mahendra!"


Brian, Silvia langsung saja saling tatap. Ken dan Bella tampak tenang. Bella sudah tahu arah pembicaraan ini.


"Benar, Brian, Ken. Terlebih kamu Brian, usia kamu sudah matang dan kamu sudah benar-benar matang untuk memiliki anak. Bunda bukan ingin mendesak atau memaksa kamu untuk memiliki anak. Tapi dengan status keluarga kita, seorang anak sangatlah penting. Bunda tidak menuduh kamu dan Via menunda kehamilan. Bunda juga tak ingin berburuk sangka, jika belum rezeki yang apa mau dikata juga. Usia pernikahan kalian juga sudah cukup lama, jadi untuk menenangkan hati Mama dan Papa, kami memutuskan untuk melakukan check up kesuburan untuk kalian berempat," ungkap Rahayu. Ken langsung menatap Bella meminta persetujuan. 


Sementara Brian dan Silvia terbelalak kaget. Brian menatap Surya dengan wajahnya yang masih terkejut sedangkan Silvia menunduk dan meremas kain celananya.


Bagaimana ini?batin Silvia.


Pemeriksaan kesuburan, tenang Brian. Bukan masalah!


Brian kemudian mengangguk menyetujui, "baiklah. Kapan waktunya?"


"Mas?"bisik Silvia tidak setuju.


"Kenapa, Via? Kamu takut apa?" Rahayu menangkap gelagat aneh Silvia.


"Bukan apa, Bun. Via hanya masih terkejut. Kami lelah, kami ke kamar lebih dulu." Brian menarik lengan Silvia berdiri dan merangkul sang istri menuju kamar. 


Pasangan ini, mengapa aku merasakan keganjilan yang begitu nyata? Bella mengerutkan dahinya penasaran dengan Silvia dan Brian.


"Mama sama Papa tenang saja. Aku dan Aru pasti akan memberikan cucu-cucu yang menggemaskan untuk kalian," ucap Ken menatap Bella penuh arti. Bella mengangguk.


"Lalu kalian rencana mau punya anak berapa?"tanya Rahayu dengan wajah berbinar.


"Banyak/dua!"


Mendengar jawaban yang berbeda dari Ken dan Bella hanya bisa disambut senyum dan gelengkan dari Surya dan Rahayu.


Banyak katanya? Kau mau mengurungku di dalam rumah hah?pekik Bella dalam hati, menatap kesal Ken yang tetap tersenyum. Senyum yang rasanya menyebalkan apalagi rangkulan mesra Ken. Sungguh Bella ingin sekali memberi Ken sebuah pukulan!