
Ken melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup matanya dengan nafas yang lelah.
Tubuhnya terasa sangat lelah. Hari pertama kerja yang sangat padat. Ia bahkan pulang hampir menyentuh larut malam, sekitar pukul 10.00.
Ah jika dulu, mau lembur sampai jam berapapun Ken tidak akan pernah mengeluh. Karena istrinya ada di sisinya, bersama dengannya.
Sekarang?
Tubuhnya lelah. Hatinya merindu. Lengkap sudah.
Ken membuka matanya. Mengangkat satu tangannya ke atas.
"Ah tulangku sakit semua," keluh Ken, bangkit dengan menyentuh bahunya. Memberi pijatan di sana.
"Ternyata begitu berat menjadi wakil Presdir. Hah … aku belum terbiasa," keluh Ken lagi.
"Aru … Aru bagaimana kau tetap melewati hari berat seperti ini setiap hari?"
Di hari pertamanya kerja, Ken sudah disuguhi dengan tumpukan yang harus segera ia selesaikan. Oleh karenanya, ia sampai lembur. Selain itu, Ken masih menyusun jadwalnya sendiri. Ia belum memiliki sekretaris. Hal itu terjadi karena permintaannya.
"Ah pasti sangatlah berat, bukan?" Ia berbicara sendiri, bermonolog seolah di kamar ini ada Bella.
"Aku lemah, bukan? Baru sehari saja sudah mengeluh."
"Tapi, jika tidak seperti ini, aku tidak akan pernah merasakan apa yang kau rasakan."
Hah.
Ken menghela nafasnya. Mengusap wajahnya kasar. "Aku harus kuat!"tandas Ken pada dirinya sendiri.
Ken kemudian berdiri. Ia bangkit menuju kamar mandi. Sebelum tidur, ia harus menyegarkan tubuhnya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Ken keluar dengan mengenakan handuk, menutupi bagian vitalnya.
Saat hendak masuk ke dalam ruang ganti, ada yang mengetuk pintu kamarnya. Ken memilih untuk membuka pintu lebih dulu.
"Kak El?"
"Hai." Rupanya El yang mengetuk pintu kamarnya. Kakak kedua Ken itu mengenakan piyama tidurnya.
"Ada apa, Kak?"tanya Ken, heran mengapa El mendatangi kamarnya semalam ini.
"Aku akan tidur di kamarmu," ucap El, tanpa izin langsung masuk ke dalam kamar El.
"Kamarmu kenapa?"tanya Ken, berbalik dan mendapati El telah duduk di ranjangnya.
"Tidak papa. Kamarku sangat baik. Hanya saja aku ingin bercerita padamu," sahut El santai. Ken mengeryit, tidak biasanya.
"Kenapa? Tidak boleh ya?"tanya El dengan wajah sedih.
"Meskipun kau menolaknya, aku akan tetap di sini." Ken mendengus senyum. Percuma saja Ken menyuruh El keluar. Ya sudahlah. Ada baiknya juga. Ken juga butuh teman cerita.
"Terserahmu saja, Kak," sahut Ken, kemudian kembali melangkah menuju ruang ganti.
Pantas saja Abel menerimanya, batin El yang melihat bentuk tubuh Ken.
Tak lama kemudian Ken keluar dengan menggunakan celana pendek dan kaos lengan pendek berwarna putih.
Mendapati El telah berbaring di ranjang dengan selimut sampai sebatas dada.
"Tidak. Hari ini aku sibuk kerja," jawab El.
"Aku lelah sekali." Ken kemudian membaringkan tubuhnya.
"Besok lagi ada meeting umum. Aku merasa tegang," lanjut Ken.
Kedua kakak beradik itu menatap langit-langit. "Aku takut tidak bisa melakukannya dengan baik. Aku takut gagal dan membuat Papa malu. Jika gagal aku juga akan sangat malu pada Aru," ujar Ken, mengeluarkan keluh kesahnya, juga rasa takutnya.
El melirik sekilas Ken. Ia kemudian tertawa. "Jika kau berpikir kau akan gagal, maka kau cenderung akan gagal. Jika kau berpikir kau akan berhasil meskipun itu kemungkinan kecil, maka kau akan memiliki peluang menang yang besar. Aku tahu kau pasti bisa. Kau hebat, Ken. Jangan takut, keluargamu akan tetap ada di sisimu!"
Itu sebuah nasehat. Ken mencernanya. Ia sering mendengar kata-kata itu. Namun, mendengarnya dari El, perasaan Ken menjadi lega. "Ya, kau benar. Aku hebat," jawab Ken, sedikit membanggakan dirinya.
"Besok aku akan ke Jerman," ujar Ken.
"Untuk apa?"tanya Ken.
"Meninjau lokasi syuting." Ah Ken lupa kalau El saat ini tengah menggarap drama yang naskahnya ditulis oleh Helena kemarin.
Sudah tahap meninjau lokasi yang akan dijadikan tempat syuting. Untuk pemilihan aktor dan aktris yang memerankan drama tersebut telah selesai ditentukan.
"Kau akan mampir ke keluarga Kalendra?"tanya Ken.
"Ya mungkin."
"Lantas bagaimana hubunganmu dengan Kak Jani ke depannya?"
"Apalagi kalau bukan pernikahan?" Ken tersenyum.
"Kapan?"
"Rencananya setelah selesai syuting film ini," jawab El.
"Lancar ya, Kak," balas Ken.
"Bagaimana perkembangan pencarian Abel?"
"Aku belum tahu. Papa yang menghandlenya."
"Ku kira kau tahu."
"Kakak tahu?"
"Tidak begitu jelas tapi yang pasti katanya mereka sudah menyisir sebagian kecil wilayah Rusia."
"Sebagian kecil?" Tampak kurang puas.
"Kau kira Rusia itu negara kecil?"
Ya benar juga. Rusia itu negara terluas. Dan untuk penyisiran itu pasti butuh ketelitian yang luar biasa.
"Entahlah. Aku berharap aku dan Aru segera bertemu," harap Ken.
"Itu pasti." Ken dan El sama-sama mengulas senyum. Senyum yang penuh harap.
*
*