
Cintya Utomo adalah putri sulung juga anak perempuan satu-satunya keluarga Utomo. Ia memiliki dua adik laki-laki, bernama Anggara Utomo dan Angkasa Utomo, mereka kembar sangat menyayangi sang kakak.
Clara dan Rahayu adalah dua sahabat karib sejak masa SMA. Dulu, mereka pernah membuat janji untuk menikahkan anak mereka. Rahayu yang hanya melahirkan satu putra, dan keluarga Utomo yang hanya punya satu putri, ibarat janji yang sudah ditakdirkan, mereka sepakat untuk menikahkan mereka seusai tamat kuliah.
Juga seakan jalan dibukakan lebar, ternyata putra dan putri memang saling menyukai dan telah menjalin hubungan tanpa sepengetahuan orang tua mereka. Setelah tahu mereka akan dinikahkan, hubungan mereka menjadi semakin erat. Cinta mereka sudah direstui bahkan sebelum mereka lahir. Pernikahan mereka kelak, bukan hanya menyatukan dia insan, tapi juga dua keluarga dan dua perusahaan besar.
Hanya saja, agaknya rencana itu harus ditangguhkan karena setahun yang lalu, Cia divonis kanker otak stadium lanjut. Kedua keluarga sangatlah terpukul, terlebih keluarga Utomo dan Ken. Namun, hal tersebut malam semakin membuat hubungan mereka semakin erat dan rapat. Ken dan Cia lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
Tak jarang, Ken menginap di rumah Utomo menemani Cia yang tak belum mau berpisah dengan Ken. Kedua orang tua Cia juga mengizinkan mereka satu kamar. Tentu saja dengan banyak wanti-wanti juga kepercayaan besar pada Ken yang tidak akan pernah menyentuh putri tersayang mereka.
Cia dikenal sebagai pribadi yang baik dan ramah, ia juga mudah bergaul dan tidak sombong walau berasal dari keluarga konglomerat. Parasnya yang cantik dan sifatnya yang baik, membuat Cia sebagai kesayangan semua orang, baik teman pergaulan maupun keluarganya.
Cia sempat terpuruk saat tahu penyakitnya. Bayangan kanker otak yang paling susah dan belum ada obatnya mengusik dirinya setiap saat. Tubuhnya semakin lemah, rambutnya mulai berguguran, benang kanker di tubuhnya semakin banyak dari waktu ke waktu.
Ia sempat putus asa saat dokter kembali menvonis umurnya tidak akan mencapai satu tahun lagi. Untunglah, semua orang mendukungnya, mendukung agar Cia kuat dan mampu mematahkan vonis dokter itu. Keluarga dan Ken, menjadi motivasi utama Cia berjuang, berjuang melawan penyakit mematikan itu.
Berbagai pengobatan sudah ia jalani, tapi hasilnya tak kunjung terlihat. Kondisinya tidak kunjung membaik. Cia sempat kembali putus asa, rasanya ia lelah sekali. Apakah memang ia ditakdirkan kalah dengan kanker otak ini? Apakah memang harus meninggalkan Ken dan keluarganya secepat itu?
Tidak! Ken membuatnya kembali bersemangat untuk lepas dari jeratan kanker otak ini. Setahun sudah berlalu dan dia masih hidup, vonis dokter berhasil dipatahkan. Kini, yang ada di benak Cia, jikapun ia akan tiada, maka biarkan ia tiada dalam keadaaan penuh kebahagian.
Cinta dan kasih sayang Kan, adalah dukungan terbesar untuk Cia. Mengenai hubungan mereka yang masih jalan di tempat, Cia tak mempersalahkan. Ia juga tahu benar, keluarga Mahendra juga sekarang sangat berubah pikiran walaupun tidak menunjukkannya secara langsung.
Mana mungkin, seorang penyakitan seperti dia, hanya kesembuhannya saja belum bisa dipastikan masuk ke dalam keluarga Mahendra, menikah dengan seorang putra tersayang keluarga Mahendra.
Dan kini, ia mendengar langsung bahwa keluarga Mahendra sudah mengatur suatu pernikahan untuk Ken. Dan Rahayu datang sendiri untuk meminta izin dan memintanya untuk membujuk Ken agar mau menerima keputusan keluarga Mahendra. Sesak, rasanya tak percaya, keluarga Mahendra sudah mengambil tindakan bahkan sebelum ia tiada? Kepala Cia terasa sangat pusing, bagai ditusuk paku secara paksa. "Apa maksud Tante?"tanyanya lirik sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
*
*
*
Cia terbangun di sebuah kamar yang sangat kental dengan bau obat. Cia memegang kepalanya, pusingnya masih terasa jelas. Ia mencoba bangkit, duduk bersandar pada kepala ranjang dengan susah payah. Ini kamarnya, selama ini, selain untuk kemoterapi, Cia melakukan perawatan di rumah. Kamar yang sudah mirip dengan sebuah kamar rawat di rumah sakit. Alat kedokteran berada di samping ranjangnya.
Samar, Cia mendengar suara pertengkaran di luar kamarnya. Ia mendengar ada suara Papanya di sana, Bayu Utomo.
Dengan penuh kesulitan, Cia berusaha untuk menapakkan kakinya di lantai, berusaha untuk berdiri. Baru aktivitas kecil ini saja, sudah menguras banyak tenaga, nafas Cia terasa tersengal.
Cia kemudian melangkah tertatih, semakin lama suara Papa, Mama, dan Rahayu terdengar jelas.
"Mama tetap tidak setuju, Pa! Mama tidak akan izinkan Cia memberi izin Ken menikah dengan perempuan lain! Ken itu semangat Cia, bagaimana bisa Ken menikah dengan yang lain?!" Suara Clara terdengar begitu tinggi.
"Papa mengerti, Ma! Tapi itu tetaplah hak Cia, kita tidak bisa mengatur keputusannya. Kita juga tidak punya hak ikut campur dalam urusan keluarga Mahendra! Papa mohon, Mama tenangkan diri dulu. Jika Mama marah-marah begini, Cia akan semakin drop!"tegas Bayu.
"Anda benar, Tuan Bayu! Saya di sini memohon dengan sangat agar diizinkan berbicara empat mata dengan Cia. Tolong jangan buat saya menekan keluarga Utomo!"ucap Rahayu.
"Jadi Papa dukung hal itu?! Putri kita drop Pa. Drop! Papa mau Cia pergi hah?" Suara Clara mulai melemah, dengan mata memerah meraih kerah baju Bayu.
Ceklek!
Pintu terbuka, ketiga orang itu menoleh kilat ke arah pintu. Cia menunjukkan dirinya dengan wajah yang pucat dan sayu. Bibirnya yang kering, terbuka sedikit, matanya menatap Rahayu, berkaca-kaca.
"Cia Sayang, kamu sudah sadar? Mengapa kamu keluar dengan kondisi seperti ini?"
Clara dengan cepat merangkul Cia dan mengajaknya ke kembali masuk. "Ayo masuk, Sayang. Kenapa kau diam ?"ajak Clara cemas, melihat Cia yang tetap menatap Rahayu. Bayu yang juga sangat cemas dengan kondisi Cia, mendekat dan menggenggam jemari Cia.
"Cia Sayang, masuklah, kita akan berbicara di dalam. Dokter Siska akan segera kembali dari apotek. Kamu harus istirahat," ujar Bayu lembut. Tapi Cia tetap tidak menggubris.
"Apa yang ingin Tante bicarakan dengan Cia?"tanya Cia pelan. Rahayu tersentak pelan, ia menatap cemas Cia.
"Masuklah Cia. Kita berbicara di kamarmu saja," ujar Rahayu setelah menghela nafas pelan.
Cia mengangguk pelan. Bayu sigap menggendong putri tercintanya itu masuk ke dalam kamar, membaringkan dengan perlahan.
"Papa dan Mama bisa keluar dulu. Cia dan Tante Rahayu ingin berbicara empat mata," pinta Cia.
Clara menggeleng keras, "tidak, Cia! Mama akan tetap di sini menemani kamu!"tolak Clara.
"Ma … Cia mohon." Cia menatap Clara memelas. Bayu yang mengerti keinginan Cia, dengan lembut menarik Clara keluar walaupun Clara meronta.
"Tante?" Cia menatap Rahayu dengan mata meminta penjelasan. Rahayu dengan lembut menyentuh dan mengusap rambut Cia.
"Bagaimana kondisimu, Cia? Apa kau merasa buruk setelah mendengar pembicaraan kami tadi?"tanya Rahayu lembut. Cia mengangguk pelan.
"Aku sangat terkejut, Tante. Hatiku terasa sangat terguncang. Apa semua itu benar, Tante?"
Rahayu tersenyum lembut kemudian mengangguk, "izinmu sangat penting, Cia. Kamu tahu sendiri sifat Ken. Ia tidak bisa dipaksa, bahkan jikapun diancam, Ken tidak akan tunduk semudah itu. Kamu adalah cinta Ken. Ken pasti akan mendengarkan dirimu," tutur Rahayu.
Bibir Cia bergetar, matanya memerah dan setitik air mata turun membasahi pipinya yang tirus. "Tapi apa alasannya, Tante? Ken masih punya Cia, mengapa secepat ini? Cia masih hidup, Tan! Cia masih punya harapan sembuh yang besar. Ken adalah semangat Cia. Apa Cia sanggup melihat Ken bersanding dengan wanita lain? Cia ngak sanggup, Tan," tangis Cia di pelukan Rahayu. Dengan lembut Rahayu mengusap punggung Cia. Tubuh Cia bergetar, tangisnya semakin keras.
"Cia Sayang. Tante kemari bukan memintamu memutuskan hubungan dengan Ken, tapi meminta izinmu untuk Ken menikah dengan perempuan lain. Kalian masih bisa tetap berhubungan, keluarga Mahendra tidak akan menghalanginya. Lagipula, Ken pasti menolak memutuskan hubungan denganmu. Tante mohon, berilah izin tersebut," pinta Rahayu lembut.
"T … tapi aku akan dianggap orang ketiga, Tante. Aku nggak ingin hal itu terjadi!"
Rahayu tersenyum, "Cia, hubunganmu dengan Ken, juga tidak akan dianggap sebagai orang ketiga. Lagipula calon yang dipilih untuk Ken, bukanlah orang yang berpikiran sempit. Tante yakin ia pasti akan mengerti. Keluarga Mahendra juga tidak sekejam itu memisahkanmu dengan Ken. Tante harap kamu mengerti, Cia. Ini bukan hanya demi Ken, tapi juga masa depan keluarga Mahendra," papar Rahayu.
Cia tergugu di bahu Rahayu. Matanya terpejam menelaah ucapan Rahayu. "Apa itu benar, Tante? Cia takut kehilangan Ken. Cia nggak mau ninggalin Ken ataupun Ken meninggalkan Cia."
"Percaya sama Tante, Cia."
Cia tetap memejamkan matanya, hatinya terasa sangat dilema. "Kesembuhanmu belum bisa dipastikan. Sedangkan Ken punya tanggung jawab besar yang harus ia emban. Jika suatu saat kamu pergi, Ken pasti akan sangat terpukul dan terpuruk. Demi masa depan Ken, kamu harus setuju, Cia!"
Maaf Cia. Jika bukan karena penyakit kamu ini, kami adalah menanti idaman Tante.