This Is Our Love

This Is Our Love
Finally



"Udara malam tidak bagus untuk ibu hamil sepertimu, Abel," ucap Brian yang menemukan Bella tengah duduk di rooftop menikmati suasana hampir tengah malam dengan langit bertabur bintang. Langit seakan memancarkan kandungannya, bulan dan bintang berdampingan begitu indah. 


Di samping Bella ada minuman soda dan beberapa bungkus makanan ringan. Bella menoleh pada Brian yang menghampirinya dengan membawa sebotol anggur merah. Brian lalu mengambil tempat duduk di samping Bella. "Seharusnya kau berada di dalam kamar dengan Ken," ucap Brian lagi, dengan nada datar yang disambut kekehan Bella. Brian menaikkan alisnya, menanti apa yang akan Bella katakan. 


"Kau percaya dengan apa yang Ken mengatakan aku hamil?"tanya Bella dengan nada tidak percaya. Brian tersenyum simpul, "menurutmu?"balas Brian kemudian menenggak anggur merahnya.


Suasana hening sesaat. Bella tidak berpikir seperti Ken yang merasa keluarganya percaya dengan apa yang ia katakan. "Lantas bagaimana dengan kau sendiri, Brian? Bukannya menemani istri cantikmu tidur kau malah minum dan menikmati keindahan langit sendirian," tanya Brian. Pandangannya ke arah langit. Mengerjap pelan sebelum menatap Brian yang sekali lagi menenggak anggur merahnya. 


"Kurang lebih aku sepertimu. Apa kau masih memikirkan Nona Utomo itu?"sahut dan tanya Brian. 


"Entahlah. Aku juga merasa sedikit bingung. Namun, urusannya sudah selesai. Untuk apa memikirkan hal yang sudah tuntas?" Bella mengendikkan bahunya. Tangannya mengambil minuman kaleng bersoda dan meminumnya. 


Brian mengangguk kecil. "Tapi, apa yang kau ucapkan dengan tindakanmu saat ini berbanding terbalik. Kau memikirkannya secara mendalam dan membuat list kemungkinan apa yang akan terjadi atas masalah belakangan ini," papar Brian yang disambut senyum simpul Bella. 


"Hm. Kau cermat, Brian," puji Bella. 


"Boleh aku makan ini?"tanya Brian menunjuk satu bungkus makanan ringan. 


"Ambil saja," jawab Bella. Brian tersenyum. Ia segera mengambil dan membuka bungkus makanan ringan itu lalu mulai menyantapnya. Bella tertawa tanpa suara melihat tingkah Brian yang menurutnya lucu itu. Beberapa kali sejak Brian duduk, ekor mata Bella menangkap Brian melirik ke arah beberapa bungkus cemilan yang ia bawa. 


Bella sudah berada di sini cukup lama, sekitar tiga puluh menit yang lalu. Tentunya setelah Ken tidur. Tadi siang, setelah olahraga satu ronde, keduanya kembali ke perusahaan setelah jam makan siang. 


Dan dari masuk siang sampai jam pulang kerja, Bella menghadapi komplain dari beberapa petinggi dan manajer atas ketidakefektifan Bella di perusahaan. 


Mereka mengklaim Bella yang sering meninggalkan tempat di jam kerja dengan agenda yang tidak ada urusannya dengan jadwal mempengaruhi kinerjanya. 


Jika Bella tidak mengetahui fakta kalau mantan wakil Presdir Mahendra Group kini adalah musuh dalam selimut, mungkin Bella akan merasa bingung dengan semua komplain yang diajukan padanya. Padahal, semua pekerjaannya tuntas tetap waktu, sesuai schedule yang ia buat. 


Hanya saja, karena ada dukungan dan mungkin sebuah perintah dari petinggi perusahaan itu membuat mereka berani bahkan ada yang mengajukan surat pemecatan untuk Bella. Itu sudah di luar dugaan dan terlalu berlebihan.


 Yang kontra dengan rencana pembangunan proyek di Papua seakan bersatu untuk melengserkan Bella. Untung saja Bella dan Brian sudah satu visi dan misi. Sebuah serangan balik dilancarkan keduanya membalas semua komplain. Brian mengurus departemennya sedangkan Bella mengurus komplain yang diajukan padanya. 


Untuk saat ini situasi bisa dikendalikan. Hanya saja, Bella belum mendapat kesempatan untuk mengetahui motif sebenarnya atas penyerangan padanya kemarin siang. Sudut hatinya berkata alasannya mungkin bukan karena rencana proyek. 


Sejenak, Bella bisa melepaskan beban dunia kerjanya. Kini ia tengah memikirkan rumah tangannya. Dilihatnya langit begitu gemerlap. Memutuskan untuk keluar menikmati langit malam, menenangkan hati dan pikirannya. Udara dingin ia rasa ampuh untuk membuatnya berpikir jernih, sama seperti yang lalu-lalu. Arunika, senja, dan chandra, tiga waktu itu adalah waktu yang biasa Bella gunakan untuk menenangkan hati dan pikiran di luar waktu wajib. 


"Tapi, Abel … ada satu hal yang belum aku mengerti," ujar Brian di sela-sela ngemilnya. 


"Apa itu?" 


"Aku sering mendengar Via mengoceh kesal sendiri saat membaca novel bertema poligami. Biasanya jika alasannya karena penyakit, maka poligami itu akan terjadi baik secara diinginkan ataupun terpaksa. Namun, aku senang. Aku puas dengan kalian berdua. Orang pengecut dan tidak berpendirian sepertinya tidak akan bisa bertahan di keluarga ini," papar Brian. Tatapan Bella berubah sendu. Ia beberapa saat tidak merespon paparan Bella. Tenggelam dalam pemikirannya sendiri. 


"Aku akan kembali ke kamar," ujar Bella seraya berdiri setelah melihat jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 00.30. 


"Okay." Bella melambaikan tangannya pada Bella yang mulai menjauh. Setelah Bella menghilang dari pandangnya, Brian kembali menenggak anggur merahnya kemudian menyeka sudut bibirnya. 


"Aku sudah siap!"ucapnya pelan kemudian beranjak meninggalkan rooftop. 


*


*


*


Sebelum tidur, Bella shalat tahajud lebih dulu untuk semakin menyakinkan hatinya atas keputusan yang ia ambil. Setelah shalat dan memanjatkan doa, Bella menghela nafas pelan. Sepertinya ia memutuskan hal yang sangat besar. Masih ada gurat kegelisahan hatinya. Wajahnya menoleh pada Ken yang begitu terlelap. 


Bella kemudian membereskan mukenah dan sajadahnya. Bella duduk di ranjang bagiannya. Membungkuk untuk mendaratkan kecupan hangat pada dahi Ken. Cukup lama Bella mencium dahi suaminya. "Aku tahu kau akan marah nantinya. Tapi, aku juga tidak bisa membuatmu terus membohongi hatimu sendiri, Ken. Maaf jika aku egois. Aku mengambilnya karena aku merasa itu memang harusnya terjadi," bisik Bella. 


Setetes air mata mengalir di pipi Bella. Sebelum jatuh ke pipi Ken, Bella menghapusnya. 


Bella kemudian mengambil posisi tidurnya dan mulai terlelap dengan memeluk Ken. Tak lama kemudian, Ken membuka matanya. Dahinya mengeryit, ia merasa tidak nyaman dengan apa yang Bella bisikkan padanya.


 Tangannya kemudian terulur menyentuh pipi istrinya. "Aku yakin apapun keputusan yang kau ambil, kau pasti sudah memikirkan dan mempertimbangkannya dengan saksama," ucap Ken pelan. Walau begitu, kegelisahannya belum hilang dan perlahan luntur saat kembali terlelap. 


*


*


*


Suasana kamar Brian dan Silvia cukup berantakan. Di bawah sinaran bias rembulan yang masuk dari jendela yang tak tertutupi rapat dengan gorden, terlihat pakaian yang berserakan di bawah ranjang keduanya. Brian dan Silvia juga tidur dengan berpelukan di bawah balutan selimut sebatas dada. Suhu kamar cukup dingin, membuat keduanya semakin merapatkan posisi. 


Dan saat alarm berbunyi di pukul 04.30, Silvia mengerjakan matanya bangun. Beberapa kali ia kembali mengerjakan mata karena merasa penglihatannya agak kabur. Begitu jelas dan ditambah dengan lampu kamar yang telah ia hidupkan, Silvia tercengang dan terdiam mendapati dirinya berada dalam pelukan Brian. 


Rasa terkejut, tidak percaya, dan bahagia bercampur menjadi satu. Perhatian Silvia hanya tertuju pada wajah tampan suaminya. Silvia yang masih belum mengerti apa yang terjadi, menggerakkan tangannya menyentuh pipi Brian. Dengan ragu, ia menoel pipi pria tampan itu. 


"It's real," gumamnya. Di detik berikutnya, Silvia beringsut dan berbaring dengan posisi menatap langit-langit kamar. 


"Aku bermimpi sudah menjadi istri Mas Brian yang sesungguhnya dan aku bangun dalam pelukannya. Apa ini mimpi yang begitu nyata?"lirih Silvia. Ia tampaknya kacau, bingung membedakan antara mimpi dan real. 


Dan baru terpikir untuknya untuk melihat tubuhnya di balik selimut. Mata Silvia tidak bisa untuk tidak membola dan mulutnya tidak bisa untuk tidak berteriak. 


"AAAHHH!!"teriaknya keras, sejurus kemudian menarik selimut untuk membungkus tubuhnya. Dan saat Brian melihat Brian, ia kembali berteriak. 


Brian yang merasa kedinginan dan terganggu dengan teriakan Silvia membuka matanya dengan sedikit kesal. "A-apa yang terjadi? M-mengapa aku dan Mas telanjang?" Silvia bertanya terbata dengan tubuh dibungkus rapat dengan selimut, posisinya sudah duduk dengan mata terpejam karena Brian sama sekali tidak mengenakan sehelai benang. Semua terpampang jelas di mata Silvia. Ini kali pertama ia melihat dengan jelas Brian yang tanpa busana setelah sekian lebih dari dua tahun menikah. 


Ekspresi kesal Brian berubah. Ia menarik senyum lebar dan beringsut bersandar pada kepala ranjang. "Aku mengabulkan keinginanmu dan tugasku yang sebelumnya tidak terjalankan. Via, terima kasih karena telah menjaganya dan setia padaku," ucap Brian lembut, berikut tatapannya yang begitu lembut pada Brian.


Brian terbelalak, bibirnya terbuka tanda ia tidak percaya. Segera ia mengedarkan pandang dan mendapati pakaian keduanya berserakan di lantai, dengan noda darah. Silvia menelan ludahnya sendiri. Ia tidak bisa ingat apa yang terjadi tadi malam. 


Silvia hanya ingat, ia tidur sebelum pukul 23.00 lalu merasa dirinya terbangun karena kecupan yang menghujani wajahnya dari Brian. Dari kecupan, turun menjadi ciuman di bibir, lalu turun ke tulang selangka disusul dengan yang lebih intim lagi dengan puncak pelepasan keduanya. Silvia merasa itu mimpi karena sama sekali tidak terpikir di benaknya jika itu benar-benar adalah malam pertama keduanya. 


"Ehhh?!"


Melihat istrinya yang melamun dan tidak percaya dengan apa yang telah terjadi, Brian kembali sedikit kesal dan ada niat untuk menggoda istrinya. Ia dengan cepat mendorong Silvia dan berada di atas tubuh istrinya yang selimutnya terbuka, membuat bagian tubuh atas Silvia terbuka. "M-Mas apa yang mau Mas lakukan?" Silvia gugup bukan main. Brian menatap dirinya sungguh dalam.


"Jika kau tidak percaya, aku tidak keberatan mengulanginya lagi, ataupun berulang kali," bisik Brian dengan nada sensualnya. Silvia menelan ludah. Apa sejak lolos belah durian, Brian akan jadi maniac?! Oh tidak!! Wajah Silvia berubah pucat. Brian malah mendaratkan ciuman pada bibir istrinya. Kini benar-benar nyata, tanpa ada perasaan mimpi di dalam hati. Silvia tak bisa untuk tidak menikmati dan membalas ciuman lembut suaminya walaupun masih begitu kaku. 


"Aku mencintaimu, Via," ucap Brian mengungkapkan perasaannya pada istri tercintanya. Mata Silvia sayu, ia begitu bahagia. Pernikahan impiannya akhirnya benar-benar terwujud. Kesabarannya berbuat manis. Penantiannya terbayar tuntas. Silvia memeluk suaminya yang membuat Brian bergulir ke sisi Silvia. 


"Tapi, Mas mengapa baru sekarang?" Pertanyaan dari Silvia itu membuat Brian terdiam beberapa saat. 


"Apa sebelumnya Mas tidak mampu?" Brian terbelalak. Ia lantas menyentil dahi istrinya.


"Auh?!"


"Sembarangan!"ketus Brian dengan posisi masih memeluk Silvia.


"Lalu apa alasannya?" Sebelum Brian buka mulut, azan subuh berkumandang. 


"Aku pasti akan memberitahumu. Sekarang kita mandi dulu, okay?"tawar Brian. Silvia langsung mengangguk. Benar, tunaikan dulu yang wajibnya. 


"Ehhh? Mas?!" Lagi-lagi Silvia dibuat terkejut karena Brian menggendong dirinya. 


"Aku akan membantumu mandi," ucap Brian, melangkah menuju kamar mandi.


"Mandi bersama?"


Brian menjawabnya dengan senyum lebar.