
Silvia tersenyum dan melihat ke arah Brian yang tampaknya salah tingkah. Brian tidak menyangka jika Silvia akan melakukan apa yang ia pinta kemarin.
"Terima kasih," ucap Brian. "Kau cantik seperti itu," lanjutnya memuji.
Berhijab adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslimah. Namun, ada kalanya seorang muslimah belum berhijab dengan alasan masih belum siap. Terkadang ada juga yang berubah menjadi lebih baik karena seseorang.
Namun, untuk akhirnya tergantung pada niat awal. Jika hanya semata-mata untuk manusia, misalnya mengejar cinta dan di saat ia tahu bahwa ia tetap tidak dilihat maka ia akan merasakan hal yang sia-sia. Dan, sebaliknya, jika ia ingin berubah untuk mengejar cinta Tuhan dan juga makhluk-Nya adalah maka kesuksesanlah yang ia dapat.
Jikapun ia gagal mendapatkan cinta mahkluk-Nya, semoga cinta Tuhan bersama dengannya. Dan alangkah luar biasanya jika bisa mendapatkan keduanya, itu adalah nikmat yang tidak terhingga.
Bagi Silvia, jujur saja ia sudah memikirkan untuk berhijab saat Bella menginjakkan kaki di kediaman Mahendra. Dilihatnya Bella yang berhijab tidak kehilangan kemampuan, dan malah kepribadiannya menarik. Ia cakap, pada Brian si Tuan Muda Es tidak takut untuk memulai pembicaraan. Pada El juga humble bisa menyesuaikan diri. Apalagi pada Ken.
Ia sudah memikirkannya, tapi ragu untuk melakukannya. Hingga pada akhirnya sebuah kalimat pinta meluncur dari bibir Brian untuknya berhijab.
Suaminya mendukung, apalagi?
Gas kan lah!
Dan Silvia sangat bahagia dengan respon Brian, suaminya itu bahwa seperti tersipu, "terima kasih," ucap Brian.
"Kau cantik seperti itu," lanjutnya memuji dengan malu-malu. Silvia tersipu mendengarnya. Ken melirik kakak dan kakak iparnya itu bergantian, sudah menikah dua tahun saja masih bisa saling tersipu seperti itu.
Ah Ken lupa, anggap saja pengantin baru, batinnya dalam hati. Pandangannya kemudian terarah pada Bella. Sungguh, ia pria yang beruntung memiliki wanita secantik, secerdas, dan berbakat seperti istrinya, Bella.
Silvia kemudian mengambil tempat duduk di samping Brian. Sarapan sudah terhidang di atas meja makan.
"Hm. I know! Brian kau protektif ke arah yang baik!" Bella mengacungkan jempol pada pasangan itu.
Brian mengangguk.
"Morning, All," sapa Dylan yang baru turun dari kamarnya. Stylishnya untuk hari ini begitu ceria, Dylan mengenakan kaos berwarna kuning. Hari ini Dylan akan mengunjungi kekasih hatinya.
"Emm?" Dylan yang setelah Calia datang biasa duduk di samping Silvia merasa sedikit aneh. Menurut nalurinya, dengan kepribadian Brian pasti akan sulit untuk menerima orang lain duduk di sisinya. Tempat itu khusus untuk istrinya, bukan?
Dengan begitu maka wanita di samping Brian itu adalah Silvia, hanya saja Silvia merubah penampilannya. Brian juga hafal parfum yang biasa digunakan oleh orang rumah ini.
"Kakak cantik seperti ini," puji Dylan.
"Thank you, Dylan," balas Silvia.
"Hng!" Brian melirik.
"What"s up? Ayolah Kak Brian, aku ini juga sudah punya seseorang. Dasar!"gerutu Dylan langsung menyadari arti lirikan dan geraman Brian.
Brian menjawab dengan menggenggam erat jemari Silvia. Bella dan Ken menahan tawa mereka. Terkadang lucu melihat pria dingin cemburu. Mereka lebih menekankan pada aura intimidasi daripada perkataan. Mereka kadang terlihat tidak peduli namun begitu melindungi dan pecemburu.
"Morning, Guys!" Itu sapaan dari Calia yang ke ruang makan untuk sarapan bersama.
"Morning."
"Emm…." Saat mau mengambil tempat duduk di samping Bella kiri Bella, Calia mengeryit melihat Silvia. Ia seakan tidak mengenali Silvia, "Nona cantik ini siapa? Mana Silvia?"tanyanya dengan melihat Silvia dari ujung kepala dan bagian di atas meja.
Dylan meminum susu coklatnya. Dalam hatinya menantikan pertunjukkan menarik. Sengaja Dylan tidak langsung menyambar, mengatakan tidak mengatakan bahwa itu adalah Silvia.
Calia dan Dylan itu kadang akur kadang seperti Tom and Jerry. Namun, tanpa disadari sudah ada ikatan saling melengkapi di antaranya dalam konteks sahabat.
"Kau sungguh tidak mengenalinya, Lia?"tanya Bella yang tidak merasa aneh karena tadi ia juga begitu. Terlebih untuk Calia yang sejak awal melihat Silvia itu belum berhijab.
"Ohh … wah-wah Mr. Brian, apa Silvia saja belum cukup hingga kau menikah lagi?"
Byurr!
Kopi yang baru saja diseruput oleh Brian muncrat saat Brian terkejut mendengar apa yang Calia tanyakan. Dari mana Calia bisa menyimpulkan seperti itu?
Silvia sendiri juga terdiam shock, Ken tercengang, dan Bella menggelengkan kepalanya. Sedang dalangnya malah terlihat bingung. "Sembarangan!"bentak Brian. Ia tak habis pikir, apa hanya dengan merubah fashion dan penampilan membuatnya langsung mengira wanita di sisinya ini adalah istri keduanya?
Hello!
Istrinya itu cuma one, Silvia!
Bella menahan tawa melihat Brian yang misrah-misruh kesal tanpa suara sembari melepaskan jasnya yang terkena kopi. Dylan bahkan mengigit bibirnya akan tidak tertawa. Sedangkan Ken memejamkan matanya. Drama pagi hari ini cukup mendrama.
Kemeja Brian kotor, begitu juga dengan kemeja dan celakanya, biar sedikit Brian pecinta bersih.
Silvia sedikit cemas mood Brian akan benar-benar hancur. Sedangkan pelayan berkeringat dingin saat membersihkan bagian meja yang kotor. Tuan muda pertama mereka ini akan langsung marah jika melihat sesuatu yang kotor.
Tapi, melihat Brian yang tidak langsung meledak membuat Silvia sedikit lega.
"Ini aku, Lia." Akhirnya Silvia angkat bicara.
"K-kau, Silvia?" Silvia mengangguk, "ini aku," sahutnya menegaskan.
"Sejak kapan kau berhijab?"tanya Calia setelah menguasai.
"Baru saja," jawab Silvia.
"Ahh i'm sorry. Aku tadi sungguh tidak mengenalimu sebagai Silvia yang biasa aku lihat," sesal Calia menunjukkan raut wajah sebersalah mungkin.
"Hm … dia tidak akan membuatku jadi patung es kan?"tanya Calia memastikan. Sejenak Calia merasa takut luar biasa, pada Brian sudah beberapa kali ia salah duga. Pertama kali bertemu Brian, Calia mengira Brian suami Bella, lalu saat Silvia berhijab ia mengira Silvia istri baru Brian. "Atau dia tidak akan mengusirku, kan?" Calia menjadi semakin gelisah. Calia bahwa mengigit jarinya.
"Santai saja, tidak perlu setakut itu, Calia. Saat kembali lagi Mas Brian pasti sudah aman. Dia hanya kesal sesaat," ujar Silvia menenangkan.
"Jika begitu aku merasa sedikit lega," balas Calia tapi dengan wajah yang masih tegang.
Bella menepuk pundak Silvia, "lain kali diperhatikan lebih baik lagi, Lia."
"Ahh aku ingin sembunyi di lubang semut," gusar Calia dengan frustasi.
"Mau seminggu kok diumbar? Lagipula jempolmu saja tidak bisa masuk ke lubang semut," kritik Dylan pedas yang langsung dibalas dengan cembikkan Calia.
"Dasar kau ini! Kau sengaja kan, Bocah!"tuduh Calia menunjuk Dylan.
"Kalau iya kenapa? Weekk!"sahut Dylan dengan menjulurkan lidahnya, mengejek Calia.
"DYLAN! BOCAH NAKAL, KEMARI KAU!" Calia langsung saja meledak dan hendak bangkit dari kursinya. Dylan sudah pasang ancang-ancang untuk kabur.
"Dasar kalian ini, masih pagi sudah bertengkar. Kak Calia apa masih belum mengerti watak bocah ini? Ditanggapi mah makin kesenangan dia, abaikan saja," ucap Ken.
"Weekk," ledek Dylan lagi. Calia mendengus kasar. Ia mempertimbangkan ucapan Ken. Ya, pagi akan semakin siang dan ada banyak agenda mereka hari ini. Dilanjutkan nanti saja. Calia kembali duduk dengan masih menunjukkan wajah masam pada Dylan. Dylan juga kembali duduk dengan senyum menyebalkannya. "Bocah tengil!"desis Calia.
"Mrs. Duck," balas Dylan.
"Kau?!"tunjuk Calia lagi pada Calia.
"What?"balas Dylan. Ia begitu tenang, malah menikmati beragam ekspresi Calia.
"Semakin kau ladeni maka semakin dia akan menjadi, Lia. Abaikan saja," ucap Bella. Calia menghela nafas pelan. Dan di saat kekesalannya pada Dylan mulai meluntur, rasa tegang dan takut kembali menghampiri Calia.
"Sudah, Lia. Santai saja. Mas Brian nggak semenakutkan itu kok. Kau saja yang terlalu banyak berpikir," ucap Silvia menenangkan Calia lagi.
"Jika Kak Brian benar-benar marah, ia pasti sudah menyuruhku untuk keluar," timpal Ken.
Calia mengangguk pelan. Mereka semua menunggu Brian baru memulai sarapan. Tak lama kemudian Brian kembali. Ia tersenyum tipis melihat semua menunggunya untuk sarapan.
Calia merasa lega karena Brian sepertinya sudah melupakan insiden kecil tadi.
Ken dan Bella saling lirik, pakaian senada! Pantas suasana hati Brian menjadi super bagus. Brian tadi mengenakan pakaian hitam, awalnya senada dengan Silvia sebelum Silvia bertukar penampilan. Dan kebetulan kompak dengan Bella dan Ken.
Mereka kemudian mulai sarapan. Dylan bersama dengan Calia akan pergi mengunjungi Nesya sementara empat lagi tentu saja berangkat kerja.
Hari ini, Brian memutuskan untuk naik motor. Motor yang dikendarai Brian dan Ken melaju beriringan dengan kecepatan sedang menuju perusahaan.
Sementara untuk Dylan dan Calia, mereka berdua melanjutkan apa yang belum benar-benar selesai tadi. Sebelum berangkat, keduanya sempat lagi untuk saling ejek dan saling kejar. Dan berakhir dengan tawa. Para pelayan tertawa seraya menggeleng melihat tingkah Dylan dan Calia. Awalnya saling ejek dan sekarang saling tertawa lepas.
Para pelayan juga turut sangat senang dengan perubahan baik orang-orang di mansion ini. Mansion terasa sangat hidup dengan canda tawa dan keharmonisan keluarga. Tinggal tunggul El saja, maka mansion akan semakin-semakin ramai dan pecah. Mengingat El, mereka menghitung berapa lama lagi El akan pulang, kurang lebih 40 hari lagi akan kembali.
*
*
*
Kali ini, Bella dan Ken melalui lobby untuk melihat apakah tindakannya kemarin mengubah pola pikir karyawan atau tetap sama. Dan tidak disangka-sangka bahwa Bella disambut dengan puluhan bucket bunga dan spanduk besar bertuliskan, "Kami salah, Wakil Presdir. Tolong maafkan kami."
Ada beberapa perwakilan yang berdiri di hadapan Bella. Bella mengedarkan pandang sejenak, hampir semua kepala yang ada di aula kemarin ada di sini. Yang kemarin Bella cibir untuk tidak pakai pakaian sekalian sudah berubah juga. Rok di bawah lutut yang fleksibel.
"Ada apa ini? Apa maksud semua ini?"tanya Bella dengan bersedekap tangan.
"Nona, ini bentuk penyesalan dan permohonan maaf kami. Kemarin kami berpikiran begitu pendek," ucap perwakilan satu.
"Kami seharusnya mendukung gebrakan Anda untuk semakin memajukan perusahaan dan negara. Kemarin kami terlalu pengecut untuk mengambil langkah. Kami terlalu takut akan risiko padahal ada bagian perencanaan untuk meminimalisir risiko," lanjut perwakilan dua.
"Anda benar, kami terlalu picik menganggap wanita hamil tidak akan mampu melakukan tugasnya dengan baik. Sikap diskriminasi kamilah yang membuat kami jalan di tempat. Kita satu tubuh, seharusnya semua satu padu tidak pecah. Mohon maafkan kami, Nona!"ucap perwakilan tiga.
Bella tersenyum tipis. Seorang karyawati maju dan menyodorkan bucket berwarna ungu yang mengartikan permintaan maaf pada atasan dan sebagai bentuk rasa hormat. Bella menerimanya.
"Melihat apa yang kalian siapkan ini, saya tidak bisa untuk menolaknya. Hanya saja saya harap apa yang kalian katakan saat ini benar-benar kalian aplikasikan," ucap Bella.
Kelegaan dan kegembiraan terpancar, "kami akan konsisten, Nona! Kami bersama dengan Anda!"janji mereka kompak.
"Aku tidak butuh janji. Yang aku butuhkan adalah pembuktian!"jawab Bella tegas.
"Kami akan membuktikannya, Nona!"
"Bagus! Sebuah kemajuan dan keberhasilan diawali dari kekompakan. Jika sudah tidak kompak di awal, maka jalan ke depannya akan semakin sulit. Dan satu lagi, jika kalian tidak percaya pada pemimpin bagaimana bisa visi misi terwujud? Kekompakan dan kepercayaan adalah dasar!"
"Kami mengerti, Nona!"jawab mereka serentak lagi. Bella menganggukkan kepalanya.
"Ayo, Ken." Bella melangkah menuju lift. Dengan Ken yang membawa bucket ucapan maaf tadi.
"Ada kabar terbaru!"ucap seseorang yang baru masuk.
"Sekretaris Silvia berhijab," lanjutnya yang membuat siapa saja yang ada di lobby tercengang.