
"Hukumlah aku. Akhiri nyawaku untuk membayar semua yang aku lakukan pada keluargamu," ucap Marco.
"Membunuhmu?"
Bella tergelak dengan ucapan Marco. "Membunuhmu?" Ia mengulang kata itu dengan nada memastikan.
"Asalkan kau lepaskan keluargaku, aku siap mati untuk membayar semua hutangku," ucap Marco. Nadanya tenang, seakan pasrah dengan keadaan.
"Aku membunuhmu?" Bella masih fokus pada kata membunuh sembari melihat telapak tangannya.
"It's easy," jawab Bella dengan entengnya. Marco menarik senyum simpul. Ia memejamkan matanya seakan mengisyaratkan Bella untuk segera mengakhiri hidupnya.
"Tapi, itu balasan yang sangat kecil dan ringan untukmu. Rasa dendamku, amarahku, tangisku, dukaku tidak akan terbalas hanya dengan kematianmu. Aku mencari kepuasan, dan aku tidak akan puas hanya dengan kematianmu."
Marco membuka matanya dengan jantung yang berdebar kencang. Aldric menatap pucat Bella. Ken terbelalak mendengar apa yang Bella katakan.
Apa maksud perkataan Bella itu adalah Bella akan menghancurkan semua keluarga Nero? Membumihanguskan keluarga Nero?
Itu termasuk kejam, bukan? Bella akan berubah menjadi seseorang yang cruel karena amarahnya pada keluarga Nero?
No!
Ken tidak bisa membiarkan Bella mengotori tangannya dengan darah keluarga Nero.
Tuan Adam juga tidak bisa untuk tidak tercengang dengan apa yang nonanya katanya. Selama ini, mereka kebanyakan berinteraksi secara maya.
Tuan Adam tahu Bella punya ambisi dan selalu tenang dan tepat dalam mengambil keputusan. Biar begitu tidak semuanya tepat juga, pasti ada satu hal yang kurang tepat.
Jika Bella mengambil nyawa Marco, maka Bella bisa terkena masalah. Keluarga Nero bisa menuntut Bella atas dasar menghilangkan nama Marco. Kejahatan Marco di masa lalu tidak akan mengubah fakta bahwa Bella menjadi seorang pembunuh.
Dan keadaannya bisa terbalik, Tuan Marco yang harusnya seorang pelaku dengan kejahatan besar bisa menjadi seorang korban. Dan Bella, akan diadili untuk itu.
Tidak bisa! Ken dan Tuan Adam harus menghentikannya! Mudah memang untuk lepas. Tapi, harimau mati akan tetap meninggalkan belang. Jejaknya abadi!
But ….
"Aru/Nona!!"seru Ken dan Tuan Adam hampir bersamaan. Bella menaikkan tangannya sebagai jawaban.
Bella juga tidak begitu termakan dalam amanah dengan membumihanguskan keluarga Nero. Akalnya masih menjadi tempat bertindak yang paling tinggi.
"Aku memang bukan orang yang suci. Tanganku juga berlumuran darah. Tapi, aku tidak akan merendahkan diriku dengan membunuhmu!!"
Ken langsung teringat kejadian saat di Bali, di mana mereka disergap dan Bella bisa dikatakan membunuh para penyergap itu. Hal itu dilakukan dalam konteks melindungi nyawa, bukan suatu dosa.
Apa yang dipikirkan istrinya itu? Apa yang akan Bella lakukan pada keluarga Nero?
Marco yang semula duduk, kini ikut bersimpuh di samping putranya.
"Katakan apa yang kau inginkan, aku akan melakukannya. Asalkan kau melepaskan keturunanku! Akulah yang menghancurkan keluargamu, bukan mereka. Aku yang bertanggung jawab atas kejahatan itu, jangan libatkan keturunanku di dalamnya."
Benar-benar seorang senior. Dia tenang bahkan mengajukan negoisasi pada Bella.
Bella yang berdiri membelakangi keduanya, menatap keluar jendela kaca ruang meeting, menatap aktivitas salah satu kota terbesar dan terkaya di dunia yang dijuluki city of angels ini.
"Hukum karma berlaku di dunia ini. Hukum rimba berlaku di dunia bisnis. Dan hukuman terdalam untuk seorang manusia adalah penyesalan. Kecuali dia seorang psikopat. Melihatmu seperti ini, aku jadi bingung."
Psikopat sama sekali tidak menyesal atas hal buruk dan kejam yang dilakukannya. Sedangkan Marco tampak pasrah dan berusaha melindungi keluarganya agar tidak terkena dampak akibat perbuatannya. Hanya saja, anak dan cucunya itu tetaplah terlibat. Mereka tahu tapi mereka diam saja.
"Nona, hukumlah saya. Saya yang tidak tidak berdaya untuk menjaga tindakan ayah saya. Sayalah yang bertanggung jawab. Tolong lepaskan keluargaku!"
"Hehehe? Saling melindungi?" Bella tertawa.
Hah.
Bella menghela nafas kasar. "Apakah Anda menyesal atas semua perbuatan Anda pada keluarga Chandra?" Nada pertanyaan itu seperti pertanyan seorang hakim pada tersangka.
Marco terdiam. Ingatannya melanglang buana. Kecemburuan dan rasa sakit hati membuatnya menjadi seorang yang kejam untuk keluarga Chandra bahkan istrinya sendiri.
Ketidakrelaan. Cinta yang menjadi sebuah obsesi. Cinta yang mengharuskan memiliki. Cinta yang menyebabkan genangan darah. Cinta yang kejam.
Marco menghabisi bahwa kakek Bella dengan maksud agar Nenek Marissa berpaling padanya. Namun, itu tidak terjadi. Nenek Marissa tetap setia bahkan sampai akhir tidak menikah lagi.
Lalu Marco berpikir, dia masih tidak menyerah. Marco berpikir bahwa jika suatu keluarga kehilangan harta benda, pasti akan menerima uluran tangannya. Tanpa sepengetahuan keluarganya, Marco masih sering menghubungi Nenek Marissa walaupun hasilnya selalu ditolak.
Kehilangan harta tidak juga berhasil. Marco menjadi gelap mata lagi dan mengambil kedua nyawa orang tua Bella dan Nesya.
Dan saat Bella kembali ke tanah air, Marco berusaha untuk menghilangkan nyawa Bella dan Nesya. Alasannya? Hatinya berkata, Nenek Marissa pasti akan senang jika semua keluarganya berkumpul di sana.
Penyesalan?
Marco menengedahkan kepalanya ke atas. Matanya kembali ia pejamkan.
"Jangan libatkan keluarga Anda? Lantas bagaimana dengan Anda yang melibatkan keluarga Buana dalam urusan keluarga kita?"tanya Bella setelah keadaan senyap beberapa saat.
"Keluarga Chandra hancur. Begitu juga dengan keluarga Buana. Kalian ingin tahu bukan apa yang aku inginkan?"
Baik Aldric ataupun Marco tidak menjawab. Ken dan Tuan menantinya dengan tak sabar.
"Pertama … aku tidak ingin ada lagi keluarga Nero kalian ini di dunia ini!"
Maksudnya?
Keluarga Nero, setiap anggota keluarganya harus melepaskan marga mereka yakni Nero. Dengan begitu, keluarga Nero akan terhapus dari muka bumi ini tanpa menghilangkan nyawa anggota keluarga itu. Tapi, itu sama saja dengan memaksa mereka untuk membunuh jati diri keluarga Nero. Sama saja, dan itu adalah kehancuran yang nyata.
Melihat keterkejutan kedua orang itu, Bella tersenyum. "Kedua … kalian akan diblacklist dari lingkaran bisnis baik di dalam ataupun di luar negeri."
Artinya keluarga Nero tidak bisa bangkit. Mereka benar-benar jatuh. Harapan itu ditutup oleh Bella. Lantas apa gunanya uang hasil penjualan saham itu? Tidak ada gunanya, bukan?
Dan ini, ini lebih kejam dari pada langsung mengambil nyawa mereka. Ini balasan yang berkelanjutan. Dan bisa jadi, mereka akan gila.
Keluarga konglomerat dengan segala kemewahan tiba-tiba jatuh dan tidak ada cela untuk bangkit, itu secara tidak langsung menuntun keluarga Nero untuk mengakhiri nyawa mereka sendiri.
"Ketiga … silahkan renungkan kesalahan Anda di sel dingin!"
Marco tertegun. Apa yang Bella katakan? Sel dingin? Artinya Bella melibatkan hukum dan pengadilan dalam masalah mereka?
Apa ini? Hal ini di luar prediksi Marco. Ia kira Bella akan menarik pelatuk pistol dan menghembus tubuhnya dengan peluru. Apa ia salah? Apa yang Bella rencanakan?
Di luar dirinya yang punya pribadi keras, Bella tidak akan menggunakan cara kotor untuk membalas lawannya. Ia menggunakan cara yang tidak melanggar hukum.
Menarik saham? Itu taktik. Itu salah satu strateginya. Itu adalah rencananya. Membuat Nero Group berada diambang batas lalu memberikan penawaran seperti menawarkan air di tengah kehausan. Dan penawaran itu adalah taktik tarik ulurnya.
"Bukti kejahatannya sudah ku kirim ke pengadilan. Bersiaplah untuk diadili dari segala sisi, Kakek!"
Kakek? Ya secara usia, Marco memang pas dengan usia kakeknya sekarang.
Bella lalu menepuk kedua tangannya. Dari arah pintu, masuk beberapa orang pria berseragam polisi. Mereka masuk dan menangkap Marco dan juga Aldric. Marco tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ia diam saat tangannya diborgol. Lain dengan Aldric yang memanggil Bella dengan nada memohon.
Bella tidak bergeming. Raut wajahnya sungguh dingin. Begitu mendengar suara pintu ditutup, Bella memejamkan matanya dan langsung duduk di kursi. Nafasnya tersengal. Saat membuka mata, atanya memerah.
Ken melangkah menghampiri Bella. "Kau baik-baik saja, Aru?"tanya Ken dengan menyentuh punggung Bella. Nadanya cemas, ekspresi Bella berbeda dari yang sebelumnya datar dan dingin.
"Aku baik-baik saja. Aku sangat lega, Ken. Aku berhasil!!" Bella langsung memeluk Bella dan menumpahkan air mata dalam pekuk sang suami.
Ken yang tak tahu jelas akan rencana Bella, hanya bisa berkata, "ya kau berhasil, Aru."
"Nona …," panggil Tuan Adam.
Bella melepas pelukannya pada Ken, "ada apa, Paman?"tanya Bella.
"Setelah ini apa yang akan Nona lakukan? Meeting dengan direksi untuk mengukuhkan posisi Anda sebagai Presdir atau Nona ingin beristirahat?"tanya Tuan Adam.
Dengan besarnya saham, dengan posisi Presdir yang kosong saat ini, otomatis Bella yang akan menjadi Presdir.
"Aru … kau akan jadi Presdir Nero Group? Bagaimana dengan Mahendra Group dan aku?"tanya Ken langsung. Hatinya menjadi sangat gelisah. Bella menghela nafas pelan.
"Kita bicarakan ini nanti. Paman aku ingin istirahat dulu," jawab Bella.
Ken mengesah pelan. Ia juga tidak bisa memaksa Bella sekarang untuk memberi keputusan. Bella tengah hamil dan satu lagi, Ken yakin dengan Bella.
"Kediaman Tuan Williams menunggu Anda, Nona," balas Tuan Williams dengan membungkuk kecil.
Bella kemudian berdiri. Tuan Adam memimpin jalan. Bella melangkah dengan menggandeng lengan Ken. Saat keluar lift, seluruh tatap langsung tertuju pada rombongan Bella. Bella tersenyum simpul, melewati tatapan heran dan penasaran itu tanpa sepatah katapun.
Di luar, mobil Bella sudah menunggu manis. Tuan Adam membukakan pintu penumpang bagian tengah untuk Bella dan juga Ken. "Eh, Paman, biar saya saja yang menyetir," tahan Ken saat melihat Tuan Adam hendak masuk ke kursi kemudi.
Tuan Adam tersenyum. "Istri Anda adalah nona saya. Maka, Anda adalah tuan muda saya. Silahkan masuk, Tuan."
"Masuklah, Ken." Setelah mendengar ucapan Bella. Ken mengangguk kecil dan segera masuk.
"Aru … kau kenal dekat dengannya?"tanya Ken saat mobil mulai melaju meninggalkan gedung Nero Group.
"Dia orang kepercayaan ayah angkatku, dia juga kepercayaanku. Dia yang mengurus semua aset yang dilimpahkan padaku, Ken."
Ya itu mengambarkan bahwa mereka cukup dekat. But, ayah angkat? Bella punya keluarga angkat, lagi? Ya, lagi. Sebelumnya adalah keluarga Kalendra yang ternyata benar kerabat kandung.
Berapa banyak keluarga angkat Bella dan bagaimana awal pertemuannya? Dan di usianya yang masih under 30 tahun, berapa banyak pengalaman dan hal yang telah Bella lalui?
"Aru …." Saat Ken menoleh pada Bella, Bella sudah tertidur dengan bahunya sebagai sandaran. Terdengar deru nafas nafas yang beraturan. "Ya, tidurlah. Kau pasti sangat lelah." Di pesawat Bella bekerja, begitu turun langsung berurusan dengan musuh, tentu sangat melelahkan.