
Sebelum azan subuh berkumandang, Bella sudah terbangun dari tidurnya. Ia masih duduk mengumpulkan sebagian nyawanya yang masih melambung.
Bella menggelengkan kepalanya mengusir kantuk yang masih mendera. Di detik berikutnya Bella menghela nafas dan meraih ponselnya. Sudah ada balasan email dari Surya. Tinggal konfirmasi ke beberapa dokter Nesya kapan kiranya operasi bisa dilangsungkan.
Pandangan Bella beralih pada adiknya yang masih tertidur. Mengingat pembicaraan kemarin membuatnya menarik senyum simpul. Kini tiada lagi rahasia di antara keduanya.
Beberapa menit kemudian azan subuh berkumandang dari ponselnya. Sudah waktunya subuh. Bella bangkit dan mendekati ranjang Bella.
"Nesya … Nes ayo bangun," ucap Bella, sembari mengusap lembut pucuk kepala Nesya. Nesya bergumam, manik mata hitamnya terbuka. Nesya tipe orang yang tidak sulit dibangunkan.
"Sudah subuh?"tanyanya serak yang dibalas anggukan Bella. Bella lantas membantu Nesya untuk duduk.
Nesya sudah cukup kuat untuk bisa duduk dan bersandar pada kepala ranjang. Setelahnya Bella bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air cuci muka Nesya. Bella mengusap wajah dan tangan Nesya dengan handuk yang sudah dibasahi dan diperas.
Nesya terlihat lebih segar setelah cuci muka. Nesya kemudian melakukan tayamum sedangkan Bella wudhu di kamar mandi.
*
*
*
Selesai subuh, Bella membereskan alat shalatnya dan Nesya.
"Kak aku lapar," ucap Nesya sembari mengusap perutnya.
"Sarapan belum diantar bagaimana jika makan buah dulu?"tawar Bella, melihat ke arah buah yang dibawa Silvia kemarin.
"Okay. Aku mau apel," jawab Nesya. Bella segera mencuci dan mengusap apel untuk Nesya.
"Kakak …."
"Hm?"jawab Bella tanpa berpaling dari kerjaannya mengusap apel.
"Kak Brian itu apa dia memang datar gitu, ya? Maksudku apa karena masih asing maka dia bersikap datar gitu? Beda banget sama Kak Via yang ceria," tanya Nesya penasaran. Ia ingin mengetahui sikap kakak ipar kakaknya agar bisa menyesuaikan diri kelak.
"Brian ya? Hm awalnya sih kakak berpikir begitu. Dan di depan yang lain dia juga bersikap demikian. Via itu juga baru menampilkan kembali sifat cerianya. Menurut Kakak, Brian itu semacam membangun dinding agar orang lain tidak bisa melihat dan mengenalnya. Atau ku rasa dia juga tipe orang yang tidak tahu harus berekspresi apapun selain datar. Tapi, satu yang pasti sebenarnya dia orang yang hangat dan perhatian," jawab Bella.
Ia telah selesai mengupas apel dan memotongnya kecil kemudian menyuapi Nesya.
"Ada konflik dengan keluarganya, kah?"
"Mungkin."
Nesya manggut-manggut paham. Kunyahan pertama sudah habis, dilanjut dengan kunyahan kedua.
"Oh iya, apa suami Kakak bisa naik motor?"
"Baru-baru saja. Ia merasa aneh jika suami dan istri bepergian dengan beda kendaraan."
"Tipekal yang romantis?" Bella mengangguk.
"Tapi, boleh aku memanggilnya tidak dengan embel-embel kakak ipar?" Nesya merasa aneh dan canggung saja jika harus mengambil Ken yang seumuran dengannya kakak ipar.
"Lihat-lihat kondisi dan situasinya," sahut Bella.
"Okay aku paham."
Mereka terus mengobrol. Di pukul 06.00 kurang, Ken dan Dylan sudah datang ke rumah sakit. Ken membawa pakaian ganti dan sarapan berupa bubur ayam untuk Nesya, Bella, dirinya sendiri, dan Dylan.
"Nesya!"panggil Dylan dengan wajah cemas. Bella beranjak, memberikan waktu untuk sejoli itu.
"Mandilah dulu," ucap Ken menyodorkan tas berisi pakaian ganti Bella.
"Kau mengambilnya sendiri?" Semburat merah hadir di pipi Bella saat mengecek isi tas itu.
"Tentu. Ada yang kurang?" Wajah Ken cemas. Bella menggeleng, "ini lengkap," jawabnya kemudian berlalu masuk ke kamar mandi.
Ken tersenyum puas. Ia kembali duduk dan mulai menata sarapan yang ia bawa dari rumah.
Sesekali Ken melirik interaksi Dylan dan Nesya. Diawali dengan nada penuh cemas Dylan, kemudian penjelasan Nesya, dan diakhiri dengan keduanya yang berpelukan. Ken mengernyit melihatnya.
Apa tidak berlebihan?
Ken belum tahu jika keduanya telah berkomitmen untuk menikah selepas Nesya menyelesaikan masa hukumannya. Terhitung sudah hampir tiga bulan ia menjalani masa tahanan.
"Apa yang kau pikirkan?"tanya Bella yang sudah selesai membersihkan diri.
Tinggal memakai jasnya saja maka penampilan sudah sudah perfect. Wajahnya sudah dirias senatural mungkin, menampilkan kecantikan alami wanita berusia 28 tahun itu.
"Mereka itu … apa dari kecil memang begitu?"
Okay jika mengikuti usia Dylan yang secara ingatan masih 13 tahun. Namun, Nesya … harusnya sudah mengerti batasan antara wanita dan pria. Tapi, Nesya malah menerima pelukan dan kecupan Dylan pada jemarinya. Itulah yang Ken pikirkan.
"Mereka itu bisa dibilang tengah menjalani komitmen. Mereka berjanji untuk menikah setelah Nesya bebas nanti," jelas Bella. Ia meletakkan ransel yang berisi pakaian kotor di samping sofa. Sedang jasnya ia sampirkan pada sofa.
"Wow!"takjub Ken.
"Duduklah kita sarapan lalu berangkat ke perusahaan," lanjutKen, menepuk sofa di sampingnya.
"Sebentar," jawab Bella, mengambil satu mangkok bubur dan melangkah menghampiri Nesya dan Dylan.
"Kalian sarapanlah. Nesya sudah merengek makan sejak tadi," ucap Bella.
"Em Kak apa boleh makan sebelum jam sarapan rumah sakit?"tanya Dylan ragu. Ia belum mengambil mangkok yang Bella sodorkan.
"Tidak ada!" Nesya yang menjawab. Bella terkekeh pelan.
"Serius, Kak?" Dylan mengacuhkan jawaban Nesya. Ia menatap Bella meminta jawaban.
"Tidak ada larangan. Justru jika ***** makannya seperti ini sangat bagus. Kau tahu sendiri kan kebanyakan orang sakit ***** makannya tidak ada," jelas Bella.
"Benar juga! Nesya kau punya semangat sembuh yang tinggi!"seru Dylan, ia bangga dengan Nesya.
"Okay!"
Bella berbalik, duduk di samping Ken. Keduanya mulai makan setelah membaca doa. "Aru apa tidurmu nyenyak?"tanya Ken di sela-sela sarapan.
"Bagaimana denganmu?"tanya balik Bella tanpa menjawab pertanyaan Ken. Ken menggeleng mengartikan tidak.
"Kalau begitu aku sama. Bukankah kita sudah merasakannya saat di Bali kemarin? Kau bahkan berniat menyelusup ke kamarku tengah malam." Ken terkekeh renyah mendengarnya.
*
*
*
"Eh Nesya mengapa perutmu tidak sebesar waktu itu?"tanya Dylan setelah Bella dan Ken berangkat kerja.
Dylan baru menyadarinya karena tadi ia hanya fokus pada Nesya, mencercanya dengan banyak pertanyaan.
Tiada raut wajah sedih Nesya. Ia sudah sangat rela dan ikhlas. "Dia sudah gugur, Lan. Sudah kembali ke sisi-Nya," jawab Nesya, datar.
"Gugur?" Dylan terkejut. Ia terhenyak sesaat dan menilik ekspresi Nesya. Nesya tersenyum tipis menerima tatapan menyelidik Dylan.
"Kau sedih?"tanya Dylan.
"Aku juga tidak tahu mau menjawab apa, Lan. Satu sisi aku sedih satu sisi aku lega. Apa aku ini calon Ibu yang jahat karena lega janinku gugur?"tanya Nesya.
Nesya menunduk. Memainkan selimut dengan jarinya. Nesya takut jika Dylan beropini buruk tentangnya.
"Aku mengerti apa yang kau rasakan."
Nesya terhenyak. Ia menatap Dylan saat mendengar nada yang begitu lembut menyapa pendengarannya. Dylan kembali menggenggam jemari Nesya.
"Jangan takut untuk mengekspresikan apa yang kau rasakan. Kau ibu yang baik. Kau menjaganya dengan baik. Sudah takdirnya kembali ke pangkuan sang pencipta sebelum bisa melihat dunia ini. Dia lebih menyayanginya," ujar Dylan.
Nesya ingat. Dylan sudah berpikir dan bersikap dewasa di umur ingatannya yang masih 13 tahun. Umur ingatan dan umur usianya sejalan walaupun menderita amnesia disosiatif.
"Ya kau benar."
Dylan kembali memeluk Nesya. Di saat adegan pelukan itu, pintu terbuka menampilkan Perawat Winda yang tertegun, berdiri mematung di depan pintu dengan mengerjap. Ia sangat terkejut karena Bella tiada memberi tahunya tentang tamu yang menjenguk Nesya.
"Ah perawat Winda, kenalkan ini Dylan dia …." Nesya mencoba melepaskan diri dari pelukan Dylan. Namun, Dylan kekeh memeluk Nesya. Rengkuhannya sungguh posesif.
"Calon suami Nesya!"sela Dylan kemudian.
"Ah?" Perawat Winda terperangah.
"Kalau begitu saya keluar dulu, Nona, Tuan Muda. Jika ada yang dibutuhkan panggil saya saja," ucap Perawat Winda canggung. Tatapan Dylan sungguh mengintimidasinya.
"Ah baiklah," sahut Nesya.
"Kau ini!"keluh Nesya kemudian.
"Aku mengatakannya agar dia tidak cari perhatian denganku!"jawab Dylan. Ia tersenyum manis.
"Percaya sendiri sekali kau!"celetuk Nesya.
"Tentu saja! Aku ini tampan, cerdas, dari keluarga terpandang juga. Harusnya kau lebih posesif terhadapku!"
"Ah? Aku baru tahu jika ada seseorang yang ingin diposesifin. Kau tidak salah ucap kan?"
"Kenapa tidak? This is our love, kita yang menjalani dan mengaturnya!"
"Tapi, apa kau tahu ucapan-ucapan gosip luar sana sungguh bisa jadi pemicu keretakan suatu hubungan. Kau yakin bisa percaya padaku, sepenuhnya?"
"Aku tahu dirimu. Walau sudah lama sekali, kau tetaplah Nesya yang aku kenal dulu! Dan aku tidak peduli dengan ucapan orang!"
"Thank you, Dylan. Aku sangat bersyukur dipertemukan lagi denganmu."
*
*
*
"Kau melamun?" Tepukan pada bahunya, menyadarkan Gibran dari lamunan panjangnya. Gibran menoleh ke samping. Wanita cantik yang tak lain adalah istrinya, Vania, tersenyum padanya.
"Aku memikirkanmu. Lama sekali istriku datang padahal perutku sudah meronta lapar," jawab Gibran, menarik rantang makan siang yang Vania bawa untuknya. Vania menggeleng dengan tersenyum.
"Kau memikirkan makanannya!"cetus Vania.
"Aku mengkhawatirkanmu!" Gibran menarik istrinya agar duduk dalam pangkuannya. "Aku merindukanmu," imbuh Gibran, memeluk Vania dan menjadikan bahu Vania sebagai sandaran.
"Kau berbohong. Ada masalah apa?"tukas Vania. Ia kini tanpa ekspresi.
Vania mengambil jurusan psikologi dan sudah menjadi seorang psikolog menangkap jelas bahwa ada hal lain yang suaminya pikirkan. Jika memikirkan dirinya, saat ia membuka pintu dan melangkah menghampiri Gibran, pasti Gibran akan langsung sadar.
Namun, tadi tidak. Gibran tetap tenggelam dalam lamunannya sebelum akhirnya Vania memeluk bahu Gibran.
"Masalah perusahaan?"terka Vania yang belum mendapatkan jawaban dari Gibran.
"Anggap saja begitu," sahut Gibran.
"Kalau begitu, ayo makan dulu. Menyelesaian masalah sangat memerlukan energi," tutur Vania.
"Sebentar lagi." Lima menit kemudian, barulah Gibran melepas pelukannya. Vania beranjak dan menghidangkan makan siang untuk suaminya. Gibran makan semua lahap bersama dengan Vania.
Sesuai makan siang, Gibran langsung pamit pada Vania dengan alasan meeting. Kebetulan memang ia ada jadwal meeting di luar perusahaan. Vania menatap rumit punggung Gibran yang menghilang di balik pintu.
Walau sikap dan perhatian Gibran tidak berubah setelah ia dijatuhkan vonis tidak bisa memiliki anak. Namun, Vania merasakan ada jarak yang tercipta di antara mereka.