
Sebelum matahari terbit, mansion keluarga Mahendra telah ramai dengan aktivitas.
Brian, Ken, Surya, mereka bersiap untuk berangkat kerja. Ya, Ken tetap bekerja karena ada jadwal meeting penting hari ini yakni membahas jalannya beberapa proyek yang tengah berlangsung di bawah kepemimpinan Ken.
Sebenarnya Ken ingin mengundur meeting itu. Dia punya wewenang untuk hal itu. Namun, Bella melarangnya. Tanggung jawab tetaplah tanggung jawab, lekas dikerjakan maka lekas selesai. Diundur pun, toh akan tetap dilakukan.
Bella besok baru ke Mahendra Group. Ia butuh istirahat dan waktu untuk mempersiapkan apa yang akan ia sampaikan nanti.
Sementara itu, Bella, Rahayu, Silvia, Teresa, Rose, Anjani, dan Helena berada di dapur, menyiapkan sarapan. Mereka bekerja sama untuk menyiapkan sarapan.
Key, Arka, dan Liev masih berada di kamar.
Sementara Neysa dan Dylan menikmati udara pagi. Itu semua dilakukan setelah shalat subuh.
Fajar, Louis, Leo, Max, dan El sendiri tengah melakukan olahraga pagi di halaman. Ya sekadar pemanasan dan lari-lari kecil di sana.
Setelah sarapan siap dan terhidang di meja makan, pelayan memanggil yang berada di luar ruangan untuk masuk dan sarapan. Juga yang lainnya untuk segera ke meja makan.
Selesai sarapan, Surya, Brian juga Silvia, dan Ken berangkat ke kantor. Begitu juga dengan Anjani dan Arka.
"Apa kau merasa nyaman, Liev?"tanya Bella saat melihat bocah itu duduk diam di ruang keluarga. Matanya menatap kartun yang tengah ditayangkan. Ia duduk bersama dengan Key yang serius menonton. Kartun itu dalam bahasa Inggris, jadi Key bisa mengertinya. Sementara itu, Kiev belum mempelajari bahasa apapun selain bahasa Rusia.
"Hm." Bocah itu mengangguk.
"Mau berkeliling? Ini adalah rumahmu," tawar Bella. Bocah itu mengangguk, antusias. Liev turun dari sofa dan menggenggam jemari Bella.
"Aunty mau ke mana?"tanya Key, mengalihkan pandangnya dari televisi.
"Berkeliling. Kau mau ikut, Key?"
"Yes!" Tanpa pikir panjang, Key menjawab, melompat turun dan menggenggam jemari Bella yang satu lagi. Bella menggandeng kedua bocah itu untuk berkeliling.
"Abel, mau ke mana?" Teresa baru turun dan tiba di lantai dasar.
"Ayo ikut." Bella tidak menjawab hendak ke mana. Namun, langsung mengajak Teresa.
"Okay."
"Nesya di mana?"tanya Teresa.
"Menemani Dylan belajar," jawab Bella karena tadi bilangnya memang begitu.
"Abel!" Mereka berpapasan dengan Helena dan Leo.
"Mau ke mana? Ikut." Dia sudah menawarkan diri. Bella mengangguk.
"Aku ditinggal?"gumam Leo, menggeleng pelan sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
"Jadi, kalian siang ini pulangnya?"tanya Rahayu. Rahayu, Max, Rose, Louis, Fajar, disusul oleh Leo berada di ruang tengah. Sementara El berada di kamarnya.
"Iya, Yu. Anak-anak juga harus kembali bekerja. Key juga harus sekolah. Belum lagi Helena. Kalau kami sih aman. Tapi, ya kau tahu sendiri kan? Kami juga banyak kegiatan," ujar Rose. Rahayu mengangguk. Itu sudah penjelasan runtut.
Puas berkeliling ke beberapa bagian, Bella mengajak anggotanya menuju pendopo yang dekat dengan kolam ikan. Memberi makan ikan, itu menjadi menutup tur singkat keliling mansion keluarga Mahendra.
Liev dan Key duduk seraya memberi makan ikan. Teresa dan Helena masih menanyakan pengalaman Bella selama di Green Palace. Bella menceritakannya. Namun, tidak begitu rinci.
"Sudah ku duga, my Abel memang luar biasa!"ucap Teresa. "Kalau aku, pasti sudah sibuk memberontak dan mencari jalan keluar. Mungkin, aku akan melakukan hal yang berbahaya," ucap Teresa.
"Mafia itu, mereka sama seperti kita. Mereka juga memiliki dan menyayangi keluarganya. Mereka juga peduli dengan anggotanya. Mereka senang melihat anggotanya sejahtera. Dan untuk itu, mereka harus punya kekuasaan yang kokoh. Oleh karenanya, bunuh membunuh itu hal lumrah. Lagipula, mafia itu banyak kok jenisnya. Bahkan di sekitar kita juga ada," tutur Bella.
"Aku salut padamu. Kepalamu masih dingin di saat seperti itu," ucap Helena.
"Entahlah. Mungkin karena aku sudah cukup terbiasa," sahut Bella.
"Abel, pandanganmu benar-benar luas," puji Teresa. Bella tersenyum.
"Tapi, aku penasaran dengan bocah itu. Kau kasih pelet apa dia, Bel? Hingga lengket denganmu?"tanya Helena, penasaran seraya menatap ke arah Liev.
"Entahlah, Kak. Tapi, yang pasti dia sudah menjadi tanggung jawabku," ujar Bella.
"Oh iya, Abel. Kau tidak keberatan bukan jika aku memasukkan kisahmu ini ke dalam novel? Don't worry. Datamu aman kok," tanya Helena. Ia tertarik dengan ide El dan juga kisah Bella selama diculik.
"Off course. I believe you, Sis," jawab Bella.
"Lihatlah, dia sudah merangkai apa yang akan dia tulis," bisik Teresa pada Bella, setelah melihat Helena menatap lurus ke depan dengan senyum -senyum sendiri. Bella tertawa renyah. Namanya juga penulis, ya begitu.
"Ah ya, bagaimana kabar Evan dan Calia?"tanya Bella penasaran tentang kabar sahabatnya itu.
"Mereka baik-baik saja. Sama seperti saat pengantin baru kemarin. Ah kabar baik, Calia sudah hamil. Aku cukup kaget karena begitu cepat. Aku kira akan butuh waktu lama mengingat Evan itu kan profesor kimia. Pasti sering berhubungan dengan zat-zat kimia yang berbahaya. Aku pikir itu mempengaruhi kesuburannya," terang Teresa. Dalam satu kalimat ada beragam ekspresi dan nada.
"Wow!"decak Bella. "Syukurlah." Bella lega mendengarnya.
"Hei, Abel. Apa kau tidak melakukan USG?"tanya Helena.
"Mungkin besok," jawab Bella. Ia belum menjadwalkan agenda untuk hal itu.
"Kirim ya hasilnya," balas Helena.
*
*
*
Selesai makan siang, keluarga Kalendra dan juga El bersiap untuk pulang. Setelah berpamitan, mereka meninggalkan kediaman keluarga Mahendra menuju bandara untuk kembali ke Jerman. El ikut naik pesawat keluarga Kalendra.
Dan Bella menghabiskan waktunya di ruang tengah, ditemani oleh Rahayu, Liev, Neysa, Dylan, Fajar, dan Tuan Adam. Ya, pria itu belum kembali ke Los Angeles karena masih ada beberapa hal yang harus dibahas dengan Bella. Meskipun mereka berkumpul di satu tempat, mereka mengerjakan hal yang berlainan.
Nesya dan Fajar belajar untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi. Dan Dylan, ia masih berkutat dengan semester menengah atasnya.
Rahayu mengajari Liev belajar bahasa Indonesia. Dan Bella, berkutat dengan laptopnya dan juga mendengarkan laporan dan berdiskusi dengan Tuan Adam mengenai Nero Group dan perusahaan yang memiliki sahamnya. Akhir tahun kemarin, seluruh akumulasi saham dihitung dan jumlahnya sangatlah fantastis. Kekayaan Tuan Williams atas nama Bella semakin bertambah banyak.
"Sampai saat ini belum ada, Nona. Tapi, saya akan segera memberitahu Nona," jawab Tuan Adam. Bella mengangguk paham.
*
*
*
Keesokan paginya, Bella hadir di perusahaan. Tuan Adam kembali pagi ini, karena ada beberapa hal yang harus diurus di LA. Tuan Adam akan berkunjung lagi dalam waktu dekat, mengingat Bella akan lebih fokus pada Nero Group dan saham-sahamnya.
Meeting mendadak diadakan. Dan kehadiran Bella itu membuat gempar Mahendra Group. Dan jelas, sudah lebih dua bulan Bella tidak hadir di perusahaan. Dan yang menjadi pusat perhatian adalah postur tubuh Bella. Kehamilannya sudah besar. Tubuhnya pun kian berisi. Namun, itu tidak mengurangi wibawa dan ketegasan Bella.
Dan kini di sinilah Bella berada. Di depan para petinggi perusahaan. "Okay. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi semuanya," ucap Bella, mengawali apa yang ingin ia bicarakan.
"Apa kabar semuanya? Mungkin kehadiranku hari ini mengejutkan kalian."
"Kehadiranku hari ini, tidak lain tidak bukan adalah untuk menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh jajaran akibat pengunduran diri saya mendadak. Alasan yang disampaikan mungkin kurang logis. Saya juga menyadarinya."
Bella tersenyum tipis. Semua mendengarkan apa yang Bella katakan dengan seksama.
"Tidak panjang lebar, proyek pp aku tinggalkan, aku tidak akan lepas tangan. Aku akan ikut di dalamnya meskipun secara tidak langsung. Aku harap, kalian bisa mengerti keadaanku," ujar Bella.
Itu adalah inti yang ingin Bella sampaikan. Juga ada membahas beberapa hal lagi. Meskipun tidak lagi menjabat, Bella tetaplah bagian dari Mahendra Group. Dan pengunduran dirinya yang lalu itu tidak lagi menjadi sebuah permasalahan.
Malah sebaliknya, mereka mendukung dan memberikan selamat atas usia kehamilan Bella. Sebentar lagi, para pewaris tahta Mahendra Group akan lahir. Ya, tentu saja anak dari Ken dan Brian, disusul dengan anak El dari Anjani kelak.
Seusai menyelesaikan urusannya di Mahendra Group, Bella dan Ken meninggalkan perusahaan itu. Bukan untuk pulang melainkan ke rumah sakit. Ken mengosongkan jadwalnya karena menemani Bella melakukan USG.
Setibanya di rumah sakit, Bella dan Ken langsung mendatangi dokter kandungan. Tidak perlu mengantri karena telah membuat janji. Dan ya, untuk keluarga seperti mereka pasti ada perlakuan khusus.
"Selamat datang, Tuan, Nona," sapa dokter yang menangani Bella.
"Siang, Dok," jawab Bella dan Ken.
"Langsung saja ya, Nona. Silakan berbaring di ranjang," ujar dokter tersebut, mengarahkan Bella untuk berbaring di ranjangnya, untuk melakukan USG.
Bella segera mengikuti instruksi dokter. Dibantu oleh Ken karena ranjang pemeriksaan itu cukup tinggi. Ini adalah USG kedua Bella untuk bayinya. Namun, meskipun ini sudah yang kedua kalinya, jantung keduanya berdebar kencang. Rasanya gugup dan tegang. Kalau USG pertama, bayi mereka mungkin masih kisaran sebesar biji kacang merah sampai dengan seukuran sebuah strawberry, maka pasti ini sudah lebih besar lagi dan sudah terlihat organ-organnya.
Dokter menyikap baju Bella untuk menempelkan dan menggerakkan alat untuk melihat bayinya. Sebelum itu dioleskan lebih dulu gel khusus.
Tangan Bella menggenggam tangan Ken. Tatapan keduanya tertuju pada layar monitor hitam putih di mana sudah menunjukkan bayi mereka yang masih berada di dalam rahim.
Tanpa dijelaskan oleh dokter, mata keduanya terbelalak, pantas saja besar kehamilan Bella lebih besar dari usia kandungan pada umumnya. Ia mengandung twins baby.
Dokter tersenyum lebar. "Selamat, Tuan, Nona, kalian akan memiliki anak kembar." Di layar monitor itu, terlihat jelas ada dua janin. Mereka tampak saling memeluk.
Tanpa disadari, air mata keduanya luruh. Bagaimana tidak? Itu adalah anugerah yang tidak ternilai. Dan Ken, pria itu merasa terharu, bahagia, dan juga bangga. Sekali cetak langsung goal dua. "Bayinya sehat, Tuan, Nona," ucap dokter setelah memeriksa dengan saksama. Panjangnya normal, perkembangan organnya juga normal.
"Bayi di usia 6 bulan sudah bisa merasakan rangsangan. Ada baiknya Tuan dan Nona sering mengajak baby twins berinteraksi. Jadi, saat sudah lahir nanti sudah terbentuk ikatan yang lebih kuat. Karena sudah diajak berinteraksi sejak masih dalam kandungan," tutur dokter itu, memberi saran.
"Lalu, ada baiknya juga bahkan suatu kewajiban untuk mencari tahu tentang kehamilan di usia menjelang trimester tiga ini. Papa juga bisa loh membaca majalah kehamilan. Jadi, nanti bisa membantu Mamanya," lanjut dokter itu. Karena melihat raut-raut calon Mama dan Papa yang baru pertama kali.
"Kemudian apa Nona sering merasa lelah?"tanya dokter yang diangguki oleh Bella.
"Itu hal yang wajar. Lebih-lebih Nona hamil baby twins," ujar dokter. Bella mengangguk.
"Lalu, apakah tendangan juga bagian dari merespon rangsangan, Dok?"tanya Ken.
Dokter tersebut mengangguk.
"Apa jenis kelaminnya?"tanya Bella penasaran, apakah sesuai dengan mimpinya atau tidak.
"Sebentar ya, Nona. Saya lihat dulu."
"Yang satu perempuan dan yang satu laki-laki," jawab dokter.
"Sungguh?" Bella tercengang. Itu sesuai dengan mimpinya.
"Kau masih ingat pesan yang kau kirim beberapa waktu lalu, Aru?"tanya Ken, setelah mencium kening Bella.
"Tentu. Mimpiku itu menjadi kenyataan. Kita akan memiliki baby twins," sahut Bella, matanya tidak lepas dari layar monitor. Walaupun belum sampai fase melahirkan, setidaknya ini adalah awal dari nyatanya mimpi itu.
"Nayan dan Nazira," ucap Ken, menyebutkan nama calon anak mereka dari pesan yang Bella kirim.
"Wah! Itu nama yang sangat indah. Semoga baby twins sehat terus begitu juga dengan Mama Papanya," harap Dokter tersebut kemudian menjelaskan beberapa hal lain sebelum akhirnya pemeriksaan USG itu selesai.
Bella dan Ken meninggalkan rumah sakit dengan senyum yang begitu lebar. Di tangan mereka sudah ada foto USG untuk diperlihatkan pada keluarga. Selain itu, Bella juga menepati janjinya yakni mengirimkan foto hasil USG pada keluarga Kalendra.
"Kau ingin makan apa, Aru?"tanya Ken, mengingat sudah waktunya makan siang.
"Aku rindu kulineran," jawab Bella, matanya semakin berbinar.
"Bakso, sate, nasi Padang, soto, rujak, bakso bakar, dan banyak lagi."
Ken tertawa. Ditanya mau makan apa, sungguh banyak yang ingin dimakan. Wajar saja, sudah lama Bella merindukan makanan itu.
"Kita makan nasi Padang dan rujak saja, ya? Yang lainnya dicicil," ujar Ken.
"Mau semuanya," ucap Bella dengan mencebikkan bibirnya.
"Tapi, nggak sekaligus ya. Maksudnya makan siang nasi Padang sama rujak. Nanti ngemil bakso bakar. Malamnya sate atau bakso, bagaimana?"tawar Ken. Jika dimakan sekaligus, bukankah itu bisa tidak bagus?
"Tapi, rujaknya harus mangga muda," sahut Bella. Bisa diajak kompromi namun memberikan syarat.
"Iya. Rujak mangga muda," jawab Ken dengan mengusap lembut kepala Bella.
"Ya sudah. Ayo jalan. Aku sudah lapar," ucap Bella.
"Alright, my Aru," jawab Ken, disusul dengan melajukan mobilnya menuju restoran Padang yang terkenal dan pastinya enak di ibu kota ini.