This Is Our Love

This Is Our Love
Aku Tidak Mungkin Melakukannya



Di sudut cafe, seorang wanita berhijab hitam duduk sembari mengaduk minuman miliknya. Tak jauh darinya ada sepotong kue blackforest. Tatapannya sedikit kosong pada meja. Mengaduk dengan tempo lambat. 


Beberapa saat kemudian, ia mengangkat pandangannya. Mengedarkan pandang sejenak ke seluk cafe. Jam makan siang, cukup ramai dengan pelanggan. 


Gerakan menganduknya terhenti. Berganti meraih sendok dan menyuapkan potongan kue ke mulut. Mulutnya menguyah pelan. Hanya satu suap, kembali meletakkan sendoknya. Tangannya kembali beralih meraih tangkai cangkir dan membawanya ke bibirnya, memyeruput sedikit latte pesanannya. 


Hanya sedikit dan cangkir kembali ke tempatnya. Wanita itu kemudian menghela nafas, kasar. Matanya terpejam sesaat dan kembali terbuka dengan sorot mata gusar. 


Matanya teralih menatap cake dan latte miliknya. 


Padahal favoritku, gumamnya dalam hati. 


Rasa dua pesanan itu hambar baginya. Tiada keinginan kembali menyantap dan meminum dua menu favoritnya itu. 


Ia kembali membuang nafas kasar. Wanita bernetra hitam itu mengalihkan tatapan keluar cafe dari jendela di sisinya. Ia tersenyum simpul mengetahui di luar tengah hujan cukup deras. Air dari langit tumpah mengguyur setiap sudut ibukota. Namun, hal itu tak mampu menghentikan mobilitas ibukota. 


"Siapa sebenarnya?"gumam dinginnya. 


Ingatannya kembali ke masa lalu. Wanita yang tak adalah Bella menujukkan raut wajah gusarnya. Apalagi kalau bukan karena kasus penyerangan dirinya dan Ken terutama kasus yang menimpa Nesya. 


Adiknya, dikenal sebagai pribadi yang tenang, sabar, dan tidak mudah diprovokasi selama berada di Lapas. Hinaan, cemooah, cacian yang ditujukan padanya dari Napi lain atas kasusnya yang menyinggung soal statusnya yang hamil di luar nikah  lagi dengan penyakit yang ia derita selalu Nesya tanggapi dengan senyum simpul. 


Menurut adiknya itu, apalah arti menampik dan membela diri atas apa yang benar terjadi. Itu kenyataan, benar adanya. Bersyukur karena ia masih diberi kesempatan untuk merubah diri.


Rupanya kegaduhan antara Nesya dan Napi baru itu penyebabnya adalah celaan yang diucapkan Napi baru itu atas Nesya. Celaan yang diberikan lebih dari membahas tentang diri Nesya. Namun, menyebar hingga ke keluarganya, yakni keluarga Chandra.


Awalnya Nesya tidak menggubris hinaan yang diberikan oleh Napi itu. Nesya tetap tenang bahkan ia berbaring untuk tidur. Kami yang satu sel dengannya bahkan geram mendengar hinaan Napi baru itu. Kami sadar kami salah, kami ini memang sampah masyakarat. Hanya saja apa bedanya kami dengan dirinya?


Lalu dia mengatakan bahwa buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ia mengatakan kelakuan anak tak jauh dari orang tuanya. Ayahnya penipu yang menggelapkan pajak, anaknya sampah masyarakat yang hina. Mengapa tidak mati saja menyusul orang tuamu? Sudah penyakitan, hamil anak haram pula, kalau aku jadi kau aku memilih bunuh diri, itu yang dia ucapkan hingga mampu memancing emosi Nesya.


Nesya tidak terima jika ayahnya diungkit dan dihina. Awalnya hanya adu mulut biasa. Mereka lalu bertengkar hebat dan berakhir dengan Nesya yang di rumah sakit. 


Ucapan saksi satu sel Nesya terekam jelas dalam ingatan Bella. 


Napi itu, sengaja dikirim masuk untuk memprovokasi dan mencelakai Bella. Jika tidak dari mana tahu tentang latar belakang keluarganya? Namun, petunjuk siapa Tuannya terputus karena Napi itu sudah bunuh diri. 


Bella tidak bisa mengerucutkan dugaan pelaku kepada satu orang. Hanya segelintir orang yang tahu bahwa ia dan Bella adalah keturunan keluarga Chandra walau tetap memakai nama Chandra di belakang dua nama mereka. 


Apa motifnya, siapa pelakunya, masih menjadi rahasia yang belum diungkap. 


"Mbak, bill saya." Bella memanggil pegawai cafe untuk membayar pesanannya. Pembayaran non tunai dari ponsel sudah selesai. Bella kemudian memesan ojek online. 


Sudahlah, semua pelaku yang menyerangnya dan Nesya sudah tewas. Satu-satunya cara untuk menemukan pelaku penyerangannya tempo hari adalah menemukan pengurus dan anggota organisasi Black Wolf.


Bella kemudian berdiri dan keluar dari mejanya. Berjalan pelan namun tak meninggalkan kesan wibawa dan tegasnya. Hujan sudah berhenti, menyisakan rintik setelah hujan yang turun dari jendela, tembok, dan dedaunan. Ojek pesanannya juga sudah tiba. 


*


*


*


"Tunggu di sini dulu ya, Pak," ucap Bella pada driver ojeknya. Driver itu mengangguk. Kini ia berada di luar gerbang bangunan kantor pusat Mahendra Group. 


Penjaga gerbang menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat pada Bella. Memasuki area perusahaan bagian luar, sapaan hormat tak hentinya ditujukan pada Bella dari karyawan Mahendra Group. Memasuki lobby, Bella bertemu dengan beberapa petinggi perusahaan juga klien yang melakukan meeting di perusahaan ini. 


Memasuki lift dan naik ke lantai 90, tempat di mana ruangan Presdir berada. 


Dalam waktu singkat Bella sudah tiba di lantai 90. Bella melangkah keluar lift, disambut tatapan terkejut dari sekretaris Frans. "N-Nona Bella?!"gumamnya terkejut.


"Selamat siang, sekretaris Frans," sapa Bella, tersenyum.


"S-siang, Nona. Nona bukankah Anda berada di rumah sakit?"tanya Frans penasaran menutupi rasa terkejutnya.


"Mengambil pekerjaan. Presdir di dalam kan?" Frans mengangguk. 


"Kalau begitu saya masuk, ya." Lagi Frans hanya mengangguk. Bella tersenyum dan mendorong pintu ruangan Presdir. Tampak Surya yang tengah fokus bekerja, berjibaku dengan lembar demi lembar kertas yang sangat penting dan komputer di depannya.


Surya tidak menyadari kehadiran Bella. Langkah Bella yang nyaris tanpa suara. Saat menyadari ada orang yang duduk di kursi di depannya, Surya mendongak. Matanya tampak terkejut dengan dahi mengeryit, "Abel?!"


"Assalamualaikum, Pa. Apa aku mengganggu?"sapa Bella dengan senyumnya.


"Waalaikumsalam. Ada apa?"balas Surya setelah menguasai keterkejutannya.


*


*


*


Bella melangkah keluar dari perusahaan Mahendra Group dengan menggendong ransel yang berisi pekerjaannya selama tidak di perusahaan. Sepulangnya nanti ia akan mengatur ulang jadwalnya. 


Driver ojeknya langsung menyodorkan helm pada Bella saat melihat pelanggannya itu keluar dari gerbang tinggi menjulang berwarna silver yang kini berkilau diterpa cahaya mentari yang kembali bersinar di singgasananya.


"Rumah sakit Permata Jaya ya, Pak. Sesuai aplikasi," ucap Bella.


"Baik, Mbak."


*


*


*


Posisi duduk yang tegak, bahu yang lebar sangat cocok untuk sandaran. Tanpa sadar Silvia tersenyum membayangkan bahwa ia bersandar manja pada bahu. 


Hanya sebentar, bayangan itu buyar. Berganti dengan mata selidik menilai Brian. 


Dan tatapan selidik itu menganggu konsentrasi Brian. Brian menoleh dengan wajahnya dirinya pada Silvia, "mengapa kau menatapku begitu?"tanya suaminya itu dingin. 


"Ah … oh … err … tidak. Aku tidak menatapmu kok, Tuan Direktur," kilah Silvia gagap.


"Lima belas menit kau menatapku tanpa berpaling," ucap Brian dingin. Silvia terpana. Ternyata suami dinginnya itu memperhatikannya juga. Diam-diam Silvia tersenyum senang dalam hati. Berbanding terbalik dengan wajah canggung berikut senyum canggungnya.


"Aku tidak masalah dengan tatapanmu sebelumya. Namun, tatapan selidikmu itu, apa yang ingin kau ketahui dariku?"selidik Brian.


Posisinya kini menyamping melihat ke arah istrinya. Satu tangannya bertumpu pada meja seraya memainkan bolpen. Kedua alisnya naik menuntut jawaban Silvia.


"Ah itu … tidak ada. Memangnya ada kecurigaan yang bisa aku tujukan padamu, Suamiku?"tanya balik Silvia. Lengkap dengan senyum manis meyakinkan sang suami. Wajah canggungnya sudah hilang.


Brian tampak tertegun sesaat saat Silvia memanggilnya dengan status hubungan mereka, "jika tidak ada, mustahil kau menatapku begitu. Katakan apa yang kau pikirkan tadi, Via!" Brian masih menuntut dan memberi penekanan pada Silvia. 


Jika aku tanyakan apa dia akan marah? Tapi, jika tidak aku tanyakan … aku sangat penasaran dan sangat tidak nyaman saat bertemu Abel. Rasanya batinku tertekan dengan kecurigaanku ini.


Dengan ragu Silvia membuka mulutnya, "apa … apa kejadian yang menimpa Abel ada hubungannya denganmu?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Silvia. Antara lega dan tegang kini bersatu dalam diri Silvia. Menatap ke arah sang suami yang mengeryit. Gerakan memainkan bolpen terhenti. Sorot mata tajam yang menelisik dalam Silvia.


"Kemari, mendekat padaku!" Bukan jawaban atas pertanyaan Silvia, Brian malah memberi titah. Silvia langsung takut, "a-anggap saja aku tidak pernah bertanya." Silvia buru-buru menunduk, tangannya gemetar melihat sorot mata tajam Brian.


"Kemari kataku!" Brian menekankan perkataannya. 


"U-untuk apa?"


"Kemarilah!"


Ragu dan takut bercampur jadi satu. Silvia bangkit, langkahnya sungguh lambat mendekati suaminya, "k-kau tidak akan memukulku, kan?"


Brian tersenyum tipis setelah berdecak, "apa aku pernah main tangan padamu?"tanyanya dingin. Silvia menggeleng, ia terus melangkah. Padahal jika langkah normal hanya salam 10 langkah sudah tiba di meja Brian. 


Biar Brian dingin dan cuek, sekalipun tidak pernah main tangan padanya. 


"Kemari." Brian menunjuk sisinya pada Silvia yang berdiri di depan mejanya.


Menurut walau was-was. Silvia menurut. 


Ahhh!


Pekikan itu lepas dari Silvia saat Brian menarik tangannya dan membawanya duduk di pangkuan Brian. Kedua tangan Brian melingkar pada pinggang Silvia. Wajahnya sangat dekat dengan Silvia. Bahkan Silvia bisa merasakan deru nafas Brian. 


"Apa dasar kau bertanya seperti itu?"tanya Brian, tetap dengan nada dinginnya. Silvia menunduk. Perasaannya sulit untuk diartikan. Duduk di pangkuan Brian, dengan pelukan yang terlihat mesra. Posisi ini, cukup intim. 


"Via? Jawab pertanyaanku."


"A-aku hanya … itu … itu terlintas begitu saja. Secara spontan," jawab Silvia, memalingkan wajah ke arah Brian. 


Deg!


Jantung Silvia berdebar sangat kencang kala tanpa sengaja pipinya tercium oleh bibir Brian dan kini kedua matanya beradu pandang dengan tatapan tajam Brian. 


"Secara spontan? Kau bukan orang seperti itu, Via." Brian tidak memalingkan wajahnya. Ia tetap setia dengan kedinginannya. Lain halnya dengan Silvia yang sudah memalingkan wajah dan kini menunduk menatap lantai ruangan.


"Katakan saja. Biar aku tahu dan kita sama-sama enak. Jika kau terus mengelak  aku tidak percaya bahwa pertanyaan tadi keluar secara spontan."


"A-aku …."


Sudahlah. Sudah kepalang tanggung. Mas Brian juga tidak akan melepasku sebelum ia mendapat jawaban yang memuaskan.


"Baiklah!" Brian menarik senyum tipis. 


"Benar. Aku bertanya pasti ada alasannya. Mas, jika Ken dan Abel benar-benar celaka karena penyerangan itu pasti yang akan diuntungkan adalah dirimu. Sainganmu tersingkir artinya jalanmu menuju kursi Presdir terbuka lebar, hanya untuk dirimu seorang. J-jadi aku berpikir bahwa kau lah pelaku di balik penyerangan itu."


"Apa aku orang yang seperti itu, Via?"


Silvia tidak menjawab. Ia sibuk mengingat apa saja yang ia ketahui tentang Brian selama mereka saling kenal dan menikah. Silvia tersentak pelan saat Brian tiba-tiba mendorong tubuhnya untuk berdiri. Brian berdiri, melangkah mendekati jendela kaca yang memperlihatkan jalanan dan jajaran gedung lain. 


"Memang benar, jika mereka berdua celaka maka aku lah yang diuntungkan. Tapi, Via, aku bukan orang yang bermain kotor. Ken dia adikku. Demi kursi Presdir, tidak sebanding dengan nyawanya. Abel, dia itu biarpun masih baru kemampuannya sudah diakui. Aku tidak akan rela dan tega mencelakai seseorang yang sangat berarti untuk perusahaan."


"Di luar semua ambisiku untuk menggantikan posisi Papa. Aku tidak akan pakai cara kotor. Melakukan cara kotor dan hina sama saja melukai harga diri dan prinsipku, Via. Persaingan, harus secara adil. Lagipula mengingat semua pelakunya, menyewa pembunuh bayaran misterius, aku tidak akan sejauh itu, Via. Percayalah, suamimu ini tidak akan kehilangan akal sehat demi tahta dunia. Posisi Presdir didapatkan karena kemampuan. maka kemampuan dan prestasilah acuannya."


Brian menoleh ke arah Silvia yang terpaku mendengar penjelasannya. 


"Kau percaya padaku, bukan?" Tatapan dingin yang berganti dengan tatapan sendu. Silvia terkesiap. Jarang sekali suaminya menunjukkan tatapan seperti ini.


"Sungguh bukan dirimu, Mas?" Keraguan yang harus dihapuskan. 


Brian tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, tersenyum teduh yang semakin menggetarkan hati Silvia.


*


*


*