This Is Our Love

This Is Our Love
Penolakan



Pria beralis tebal itu melangkah malas mengikuti pria tua di depannya itu. Matanya merah, terlihat bahwa ia sedang kesal tidurnya diganggu. Pria itu tadi hampir terlelap tapi dibangun oleh pria tua di depannya ini. Langkah terhenti di depan sebuah pintu, pria tua itu menatapnya penuh hormat. 


"Silakan, Tuan Muda. Tuan dan Nyonya menunggu Anda di dalam," ujarnya.


"Hm." Pria itu hanya berdehem, mengetuk pintu dengan mata yang tampak berat. 


Sebenarnya apa yang ingin Mama dan Papa bicarakan denganku? Apa ada hubungannya dengan Cia? batin pria itu yang tak lain adalah Ken. 


Tok.


Tok.


Tok.


Ken mengetuk pintu. Tak lama kemudian terdengar sahutan dari dalam, "masuk!"sahut Surya tegas. Ken membuka pintu dan masuk. Tio melangkah pergi, urusannya masih ada lagi.


"Malam, Ma, Pa," sapa Ken seraya menyalami Surya dan memeluk Rahayu.


"Malam, Ken. Bagaimana kabarmu?"tanya Surya lembut. Ken yang baru duduk di kursi depan Surya dengan Rahayu duduk di sampingnya, menatap Surya dengan tatapan heran.


"Baik, Pa," jawab singkat Ken.


"Tumben Mama sama Papa nyariin Ken? Ada perlu apa?"tanya Ken to the point. 


"Ihh kok tumben sih, Nak? Kamu nya saja yang seringan menginap di rumah Cia. Kalau enggak kamu cepat banget tidurnya, bahkan melewatkan makan malam bersama," rajuk Rahayu, memukul lengan Ken kesal.


"Kamu yang sopan sedikit, Ken! Kami sangat perhatian dan sayang samamu. Tapi kamu sendiri yang lebih sering menghabiskan waktu dengan Cia dan tugas-tugas kuliahmu itu!"sindir Surya. Ken mendengus, kini merangkul Rahayu dengan sayang. 


"Iya-iya. Ken salah. Tapi Ken harap Mama sama Papa bisa ngertiin Ken. Cia sangat membutuhkan Ken. Terlebih kondisi Cia semakin turun," ujar Ken meminta. Surya menghela nafas pelan. Rahayu tersenyum lembut, menepuk pelan pundak Ken.


"Mama ngerti kok. Tapi Sayang, dunia kamu tidak bisa sepenuhnya berputar pada Cia dan kuliah saja. Kamu sudah dewasa, dan Papamu semakin tua. Perusahaan sudah butuh pemimpin baru," tutur Rahayu. Ken menyipitkan mata mendengar ucapan Rahayu. Sedangkan Surya mendengus kesal.


"Aku hanya semakin tua bukan mau mati!"ketus Surya. 


"Semakin tua berarti semakin dekat dengan kematian!"balas Rahayu datar.


"Usia nggak menjamin umur, Sayang! Kamu jangan nyumpahi Mas cepat mati dong!" Surya misrah-misruh kesal dengan balasan sang mama.


"Ya Allah, Mas! Bagaimana bisa kamu bilang aku nyumpahi kamu mati? Mas-mas, aku juga nggak mau cepat-cepat menyusul Mbak Tiara. Aku masih mau hidup lama sama kamu!"ucap Rahayu seraya menggelengkan kepalanya heran.


"Huh! Cemburunya keluar!"gerutu Surya.


"Sudah-sudah! Apa kalian manggil Ken kemari cuma untuk dengerin pertengkaran manis kalian ini?"tanya Ken dengan wajah ditekuk. Ia sudah ngantuk berat, kepalanya semakin pusing mendengar perdebatan yang hanya berefek pada Surya dan Rahayu.


"No! Tentu saja tidak! Baiklah. Ayo berhenti bertengkar. Mas harus serius, nggak usah ngomong yang unfaedah!"peringat Rahayu tajam. 


"Ya," sahut Surya singkat.


Dan suasana seketika menjadi hening dan terasa begitu serius. Rahayu berpindah menjadi duduk di samping Ken, keduanya menatap Ken lekat. Ken yang merasa suasana sudah serius, mengusir rasa kantuknya. Ken memperbaiki posisi duduknya, kini beradu pandang dengan Surya.


"Ken, kamu tahu sendirikan bahwa pewaris perusahaan tidak ditentukan dari urutan kelahiran melainkan kemampuan. Kakak pertamamu adalah kandidat yang banyak didukung sedangkan Kakak keduamu secara tidak langsung didiskualifikasi dari daftar pewaris. Dan kandidat kedua adalah dirimu. Ken kamu anak yang memiliki kemampuan besar, Papa yakin kamu pasti bisa menjalankan perusahaan dengan baik," papar Surya serius. Ken menautkan alisnya bingung dengan inti pembicaraan kali ini.


"Jadi?"


"Papa mau setelah kamu lulus kuliah, kamu langsung bekerja di perusahaan Papa. Dan ikut dalam pemilihan pewaris bersama dengan Brian!"ucap Surya.


"Apa maksud Papa? Jurusan kuliahku tidak cocok bekerja di perusahaan Papa. Dan aku sama sekali tidak tertarik ikut dalam persaingan itu! Biarlah Kak Brian yang mewarisi perusahaan menggantikan Papa. Ken tidak masalah!"tolak Ken. Surya tersenyum tipis. Rahayu masih diam, menunggu gilirannya.


"Mahesa Ken Mahendra …." Ken merasakan firasat tak baik saat Surya memanggil nama lengkapnya.


"Selama ini, Papa tidak pernah memaksakan kehendak Papa terhadapmu. Selama ini, Papa tidak melarang apapun yang ingin kau lakukan selama masih batas wajar. Papa selalu mendukung keputusan dan kemauanmu. Bahkan saat kamu masuk jurusan pendidikan yang sama sekali tidak cocok dengan perusahaan, Papa tetap tidak masalah. Tapi kali ini, hari ini kamu harus menerima keputusan Papa!"ucap Surya dengan nada tak terbantahkan miliknya. Ken semakin merasa tak enak. Terlebih melihat Rahayu yang tampak diam dan terlihat mendukung keputusan Surya.


"Papa mau kamu setelah lulus bekerja di perusahaan. Mengenai jurusan itu tidak masalah! Papa akan atur orang untuk mendampingi kamu! Yang kedua, Papa mau kamu menikah dengan perempuan pilihan Papa!"


Deg!


Jantung Ken terasa berhenti berdetak saat mendengar ucapan Surya. Menikah? Dengan wanita pilihan Papanya? Dengan Cia kan?


"Dengan Cia kan, Pa?"tanya Ken memastikan dan penuh harap. Sayangnya Surya menggeleng, seketika mematikan hati Ken.


"Nggak! Ken nggak mau! Jika masuk perusahaan Ken masih bisa setuju tapi menikah dengan perempuan selain Cia, maaf Ken tidak bisa!" Ken marah, dia berdiri dengan wajah memerah. Rahayu segera menahan Ken yang terlihat hendak pergi.


"Ken dengarkan kami dulu! Jangan duluan emosimu dulu!"titah Rahayu seraya memegang lengan Ken.


Ken mendengus, berdecak kesal tapi ia menurut dengan wanita yang melahirkannya ini.


"Ken, kamu tahu sendiri bukan kondisi Cia? Sedangkan syarat untuk bisa menggantikan posisi Papa adalah sudah menikah …."


"Jika begitu Ken akan menikah dengan Cia! Tidak perlu perempuan asing yang Ken tidak tahu asal rupanya!"ucap Ken.


"Tidak! Papa tidak setuju! Jika memang Cia, Papa tak perlu repot mencari perempuan yang cocok untukmu! Ini keputusan mutlak Papa. Kamu harus setuju! Jika tidak …."


"Jika tidak apa?!"tantang Ken yang sudah tak bisa mengontrol emosinya.


"Kau!" Surya juga terpancing emosi. Rahayu masih belum tampil, belum saatnya.


"Apa?! Papa mau nyabut semua fasilitas aku? Mau ngeluarin aku dari daftar keluarga Mahendra atau apa?" Ken tetap menantang Surya. Padahal sebenarnya Ken anak yang baik dan sangat menghormati orang tua. Hanya saja, Ken akan sangat sensitif jika menyangkut Cia.


"Nggak! Papa nggak akan lakukan itu! Sebaliknya Papa akan gunakan Cia untuk menekan dan membuatmu setuju!"ancam Surya.


Deg!


Hati Ken berdebar kencang saat Surya mengatakan akan mengancam keselamatan Cia. 


"Jangan pernah sekalipun Papa mengganggu Cia! Aku tidak akan tinggal diam!"balas Ken tajam. Surya tersenyum.


"Lantas bagaimana jika Cia sudah setuju?"


Mata Ken melebar. "Tidak mungkin!"teriaknya tidak percaya. 


"Cia sudah setuju, Sayang. Lihat ini," tutur Rahayu, mengeluarkan ponsel dan menunjukan sebuah video padanya.


Mata Ken menatap lekat Cia yang tampak pucat di layar ponsel itu.


Ken aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Tante Rahayu sudah datang dan meminta izin dariku. Ken terimalah keputusan orang tuamu. Aku mengizinkan kamu menikah dengan perempuan lain. Aku setuju Ken, walaupun rasanya sangat berat. Tapi tidak masalah karena kita masih bisa tetap bersama.


Tanpa diminta, air mata Ken luruh, tubuh Ken terasa sangat lemas. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar.


"Nggak! Ini nggak mungkin! Ini pasti bohong! Mama pasti paksa Cia untuk setuju! Nggak! Ken harus temui Cia!"teriak Ken masih tidak terima.


"Itukah kenyataannya. Ken selamanya cinta tak selalu tentang dimiliki dan memiliki. Cinta itu bukan sekedar kasih dan sayang akan tetapi juga sebuah pengorbanan. Mama mohon, kamu jangan keras kepala. Cia sudah setuju, tidak ada alasan lain untuk menolak pernikahan ini!"ucap Rahayu.


"Nggak! Ken harus temui Cia!" Ken dengan kasar menepis tangan Rahayu dan pergi.


Brak!


Pintu dibanting dengan keras. Rahayu ingin mengejar tapi Surya menahannya.


"Biar. Biar dia buktikan sendiri. Papa yakin dia tidak akan macam-macam jika menyangkut Cia. Besok, kamu urus semua yang berhubungan dengan pernikahan mereka!"ucap Surya.


"Ya, baiklah," jawab Rahayu setelah diam sesaat.