This Is Our Love

This Is Our Love
Suka atau Duka?



Selamat membaca.


Jangan lupa like, favorit, dan rate bintang 5, vote dan hadiah ya.


Thank you  🤗🤗


*


*


*


Nesya membuka matanya, mengerjap lemah kemudian memejamkan matanya lagi. Bau obat tercium begitu jelas, menusuk penciuman yang seketika membuat Nesya mual. 


Huek!


Huek!


Nesya memuntahkan isi perutnya di lantai. Hanya ada gumpalan air liur, kepala Nesya terasa sangat pusing.


"Nona, Anda sudah sadar?"


Suster masuk, melihat muntahan Nesya, bergegas memanggil dokter. Tak lama, suster kembali dengan dokter. Dokter itu membantu Nesya kembali berbaring dengan benar. Mengecek kondisinya, kemudian menghela nafas pelan. Sementara suster telah selesai membersihkan muntahan Bella.


"Nona, Anda harus break rest selama beberapa hari ke depan. Kondisi Anda begitu lemah," tutur dokter.


"Kakak saya mana, Dok?"tanya Nesya lemah, sejak sadar, muntah, lalu diperiksa dokter, Bella tidak menampakkan batang hidungnya.


"Kakak Anda sepertinya pergi. Mungkin sebentar lagi akan kembali. Kembalilah istirahat, Nona," jawab dokter, memperbaiki selimut Nesya. 


Nesya tidak menjawab, tatapannya rumit ke depan. 


Ketika dokter dan suster itu keluar, setitik air mata kembali keluar dari pelupuk mata Nesya.


Kakak ninggalin aku, lagi?


*


*


*


Seharusnya kehadiran seorang janin di dalam rahim seorang wanita adalah sebuah kabar yang sangat membahagiakan. Seharusnya itu disambut dengan suka cita, penuh dengan cinta dan kasih sayang. Akan tetapi ….


Bella menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Duduk di kursi di bawah pohon rindang, Bella menangis tanpa suara. Hatinya hancur. Seluruh tulangnya seakan diremukkan bersamaan. Bahkan kini, pikiran Bella kosong, ia tak tahu langkah apa yang harus ia ambil. Bella dihadapkan pada pilihan sulit. Apakah benar-benar tidak ada harapan untuk adiknya? 


Nafas berat Bella hembuskan. Beban di hatinya sangat berat. Kepala Bella sakit. Pusing tak terkira. 


Apa yang harus aku lakukan?


Satu sisi, adiknya tengah mengandung selama satu bulan lebih, di sisi satu lagi adiknya hamil di luar nikah yang dalam artinya adiknya berzina. 


Di sisi yang lain, adiknya positif menggunakan narkoba dan kini divonis menderita penyakit leukemia. Keputusan apa yang harus ia ambil? 


Di tengah kekalutan, suara azan zuhur menarik kembali lamunan Bella. Bella mengusap wajahnya kasar. Saatnya bersujud dan meminta pertolongan. Dengan langkah yang masih lemas, Bella menuju masjid rumah sakit.


*


*


*


"Kakak?" Nesya membulatkan mata melihat Bella yang masuk dengan membawa plastik yang entah berisi apa.


"Tetaplah berbaring!" Tetap dengan nada datar, mendorong lembut Nesya agar kembali berbaring.


"Kau sudah makan?"


Nesya menggeleng, melirik mangkuk bubur di atas nakas. Bella melihatnya, "tidak selera?"


"Aku belikan hati panggang. Ini bagus untuk memulihkan staminamu," ucap Bella mengeluarkan kotak makanan yang berisi hati panggang. Bella melekatkan kotak itu di atas nakas kemudian membantu Nesya duduk.


Nesya makan dengan hati yang sangat merasa bersalah. Bella tetap di sampingnya walaupun ia sudah memakinya. 


"Kakak, maaf dan terima kasih." Dengan cucuran air mata, Nesya memeluk erat Bella. 


"Kakak maaf. Aku tahu aku salah. Aku menyesal, Kakak! Maafkan aku. Aku berjanji akan berubah menjadi baik. Kakak, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi, aku takut, Kakak!"


Bella memejamkan matanya, "kita impas. Mulai sekarang aku akan merawatmu dengan baik. Tapi sebelumnya aku ingin bertanya satu hal padamu."


"Tanyakan. Tanyakan saja Kak. Aku akan menjawabnya!"


Bella meletakkan kembali kotak makanan itu, menarik nafas pelan kemudian memberikan sorot mata serius pada Nesya.


"Kau hamil dan siapa ayah anak itu?"


"A-aku hamil?" Dengan terbata Nesya mengulangi pertanyaan Bella.


Bella mengangguk.


Seakan ada petir besar menyambarnya, Nesya terdiam membeku dengan perasaan tak karuan. Matanya bergerak tak beraturan, menangkap ekspresi Bella yang tetap datar. 


Hamil?


Aku hamil?


Apa ini? 


Ayah anak ini? 


"Nesya?" Bella menepuk pundak Nesya.


"Kakak ini bohong kan? Nggak mungkin aku hamil!"ucap Nesya tinggi, sungguh ia tidak bisa menerima.


"Kau saja tidak percaya, bagaimana bisa denganku? Tapi itukah kenyataannya. Nesya, katakan siapa ayah anak itu! Aku akan meminta pertanggungjawabannya!"


Tanggung jawab?


Tidak!


Mustahil!


Anak ini tak seharusnya hadir! 


"Kakak … aku ingin melakukan aborsi!"


Plak!


Sebuah tamparan langsung melayang di pipi Nesya. Nesya menunduk, pipinya panas, menjalar ke seluruh wajah. Nyeri, tamparan penuh emosi. 


Sorot mata Bella sungguh dingin seperti es. 


"Seharusnya kau sadar akibat dari perbuatan zinamu! Anak itu tak berdosa, kau yang menghadirkannya. Apa kau begitu kejam hingga ingin membunuhnya? Kemana otakmu, Nesya?! Kemana?! Otak dan hatimu benar-benar rusak!"marah Bella, dengan amarah menyingkirkan barang-barang di atas nakas. Semua jatuh berceceran di lantai.


Nesya berteriak takut dan menekuk lututnya. Ia menangis. Lari? Kakaknya tidak akan membiarkan ia lari! 


"Kakak percuma saja aku pertahankan anak ini! Percuma! Tidak akan ada yang tanggung jawab!"


"Tidak ada? Apa kau seorang pelac*r hah?!"teriak Bella.


"Tidak! Aku hanya melakukannya dengan kekasihku! Ini semua murni keinginanku! Dia tidak akan tanggung jawab! Percuma Kakak!"


"Ha? Hahahaha!"


Bella tertawa terbahak. Tidak tahu harus menjawab apa atas pengakuan adiknya ini. 


"Seandainya membunuh dibolehkan, aku yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri Nesya! Pengakuan ini meruntuhkan harapanku!"


"Oh iya. Aku sudah memutuskan apa yang akan ku lakukan padamu. Tenang saja, aku tidak akan lepas tangan atas dirimu. Ingat satu hal, jika kau nekat melakukan aborsi, aku akan melakukan hal tidak pernah kau bayangkan, Nesya! Jika harus mati, biarlah ia mati karena takdirnya sendiri." Bella memberi peringatan kemudian keluar.


"Kak! KAKAK! JANGAN PERGI KAK! KAKAK MAAFIN AKU KAK! KAKAK!" 


Nesya jatuh tersungkur, perutnya kembali sakit dan Nesya kembali pingsan. Tanpa sepengetahuannya, dari hidungnya menetes darah segar.


*


*


*


Ini yang terbaik untukmu, Nesya. Dan untuk siapa ayah dari anakmu itu, aku akan mencarinya sendiri! 


Bella berdiri tegak menatap Bella yang masih tidak sadarkan diri dimasukkan ke dalam ambulance. Dari seragam petugas, terlihat jelas logo BNN. 


"Nona Bella, Anda tidak perlu khawatir dengan adik Anda. Kami akan melakukan pemeriksaan dengan hati-hati. Anda juga bisa mengunjungi adik Anda di rehabilitasi. Sekali lagi, terima kasih atas kerja sama Anda."


Bella mengangguk. Ambulance itu melaju pergi, meninggalkan Bella yang kembali memejamkan mata.


Menjalani perawatan dalam masa rehabilitasi adalah pilihan terbaik untuk sekarang. Selain itu, masalah kemoterapi juga sudah didiskusikan. Setidaknya dengan cara begini, kecanduan Nesya bisa diatasi, kondisi Nesya juga bisa dipantau secara seksama dan Nesya tidak sendirian.


Kini biarpun rasa kecewa tak hingga Bella rasakan, Nesya tetaplah adik yang sangat ia sayang dan kasihi. 


Vonis Leukemia mungkin adalah karma atas perbuatan Nesya selama ini. 


Bella kemudian melangkah pergi, keluar dari rumah sakit dengan mengendarai motornya. Pikiran Bella sudah kembali jernih. 


*


*


*