This Is Our Love

This Is Our Love
Dylan



"Sudah selesai pamitannya?"tanya Bella saat melihat Dylan dan Pak Andre berjalan ke arahnya. Bella memang menunggu di lobby rumah sakit.


"Sudah." Dylan langsung nemplok pada Bella. Wajah yang menggemaskan dengan tingkah anak kecil itu berhasil membuat Bella menarik senyum lebar. 


"Baiklah. Kalau begitu kita pulang sekarang," ujar Bella, mengusap lembut 


"Let's go!" Dylan berseru senang. 


"Pak Andre, sekali lagi terima kasih atas semua dedikasi Anda selama ini pada Dylan."


"Sama-sama, Nona."


Sebelum pergi, Dylan mencium tangan Pak Andre. Dylan melangkah lebih dulu, Bella harus mempercepat langkahnya untuk menyamai langkah Dylan.


"Sayonara, rumah sakit jiwa!"ucap Dylan cukup keras dengan senyum lebarnya.


Lagi-lagi decakan dan ocehan kagum Dylan keluar melihat ibukota yang semakin maju ketimbang pada masa ingatannya. Gedung pencakar langit yang tak lekang dari pandangan sepanjang jalan. Hanya perkembangan itu tetap saja diimbangi dengan kemacetan dan polusi yang kian hari kian menjadi bahkan sudah menjadi ciri khas ibukota.


*


*


*


"Loh Kak kok malah ke sini?"tanya Dylan heran karena Bella masuk ke salah satu mall di ibukota, Senayan City dan berhenti di parkiran.


"Kita belum pakaian dulu untukmu, lalu makan sebentar kemudian pulang," jawab Bella seraya melepas helmnya. Kan tidak mungkin meminjam baju Ken, ukurannya sih sama tapi apa yang empunya mau meminjamkan atau memberikan barangnya? Menebak reaksi Ken saja nanti saat membawa pulang Dylan sudah membuat Bella pusing. 


"Oh okay."


Bella mengajak Ken ke toko pakaian. Ia membebaskan Dylan memilih pakaiannya. Sementara Bella duduk di bangku tunggu. 


Tepat ketika Bella mengambil ponselnya, ada panggilan masuk dari Ken. Bella menghela nafas baru menjawabnya, "Assalamualaikum, Ken."


"Waalaikumsalam, Aru! Aru kau di mana? Mengapa belum kembali juga? Apa yang kau lakukan di luar? Apa kau tak tahu berapa khawatirnya aku?!"


Nada marah, bercampur cemas membuat Bella melengkungkan senyum tipis, "I'm sorry. Sebentar lagi aku pulang. Maaf karena tidak memberitahu dan mengajakmu. Ku harap kau paham. Saat aku pulang nanti akan ku beri tahu alasannya." Pulang nanti sudah dipastikan Bella akan menyampaikan alasannya pada Ken.


"Apa urusan Nesya? Adikmu baik-baik saja, kan?" Nada Ken melemah. 


"Ya urusan adikku." Toh Dylan sudah ia anggap sebagai adiknya.


"Ya sudah. Lain kali beri tahu aku jika kau ingin pergi. Jangan diam-diam begini. Aku hampir gila mencari dan menunggumu! Oh ya tadi aku handle jadwalmu. Dan apa kau tahu kata mereka? Aku memiliki kemampuan dalam berbisnis!" Bella tersenyum mendengar nada bangga Ken itu. "Kau memang punya kemampuan, my husband!"


"Hah? Apa katamu tadi, Aru? My Husband?"tanya Ken, tergagap. Bella yakin di sana wajah Ken memerah malu.


"Yes. You're my husband, Mahesa Ken Mahendra," ulang Bella.


"A-Aru …."


"Kenapa?"


"Cepatlah pulang, aku merindukanmu," ucap Ken lirih, nadanya benar-benar penuh kerinduan.


"Baiklah. Sebentar lagi aku pulang. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Kakak bagaimana penampilanku?" Bella mengangkat pandangannya dari layar ponsel. 


"Bagaimana?"


"Tampan. Kau cocok menggunakannya," puji Bella. Dylan semakin mengembangkan senyum. Padahal hanya menggunakan celana jeans dan kaos oblong berwarna hitam, juga topi berwarna senada namun damagenya sungguh kena. Ya pakaian hitam memang sangat berkarakter. 


"Cuma satu set saja?"tanya Bella.


"Ada beberapa lagi, tidak apa kan, Kak? Tenang saja nanti saat sampai di sampai di rumah aku akan minta Papa menggantinya," ucap Dylan. Ia merasa tidak enak pada Bella. Bella menepuk pundak Dylan, "pilihlah semaumu. Ini hadiah ulang tahunmu dariku."


"Terima kasih, Kakak." Sekali lagi Dylan memeluk erat Bella. 


Dylan kembali untuk memilih sandal. Bella mengikut, namun belum tiba di bagian alas kaki, Bella berhenti di rak dasi. 


Ya dasi.


Sekitar 15 menit kemudian, Bella dan Dylan keluar dari toko dengan Dylan menentang bag belanjaannya. Cukup banyak juga Bella habis, 3 set pakaian lengkap dengan pakaian dalamnya, juga sendal dan topi. 


Seperti rencana sebelum masuk ke mall tadi, mereka mampir sejenak ke food court. Beberapa menu menjadi pilihan. Demi mempersingkat waktu, hanya satu menu saja yang dimakan di tempat untuk penyembuh rasa lapar. 


"Kak aku ingat ini bukan jalan menuju rumahku ataupun rumah kakak deh. Kita mau ke mana, Kak? Ke perusahaan kah?"tanya Dylan, menyuarakan kebingungannya.


"Rumah Kakak," jawab Bella singkat. 


"Kakak sudah punya rumah sendiri? Hebat!"seru Dylan.


*


*


*


"Wah mewah sekali lingkungan rumah Kakak. Keamanannya juga begitu ketat. Kakak pasti punya banyak uang dan sangat sukses. Rumah Papa saja tak sebanding dengan rumah-rumah di sini." Binar mata kagum dengan penuh decak takjub, Dylan terpesona dengan perumahan mewah nan elit ini. Suasana senja ditambah lampu kuning keemasan perumahan yang sudah menyala menimbulkan perpaduan yang apik. 


"Assalamualaikum, Nona Bella. Selamat sore," sapa penjaga gerbang kediaman Mahendra.


"Waalaikumsalam, Pak. Sore juga."


"Den tampan ini siapa, Nona?"tanya penasaran penjaga gerbang.


"Adik saya, Pak." Bella memang sengaja agak lama di gerbang. Saat melihat pelayan yang biasa menantinya saat pulang, barulah Bella kembali melaju.


"Kak ... ini rumah kakak?" Mata Dylan mengerjap kagum melihat mansion mewah keluarga Mahendra ini. Ia mengedarkan pandang mengagumi setiap sudut yang dapat ia jangkau. 


Sementara Dylan sibuk mengagumi rumah, maka pelayan yang menunggu Bella sibuk menatap Dylan penuh minta. Saat tertangkap oleh Bella, ia tersenyum malu lalu menunduk. Tak heran, ketampanan Dylan hampir setara dengan Ken, tinggal polesan sedikit dan menghilangkan wajah Dylan yang masih sedikit kusam pasti kata perfect full akan terucap.


"Dia adikku, Mei. Ke depannya tolong kamu jaga dia ya," ucap Bella.


"Ah saya Nona? Nona serius?"


"Tentu."


Wajah pelayan bernama Mei itu berbinar terang. Uhuy akhirnya jadi asisten pribadi. Haha Mei kau sungguh beruntung!


"Ayo, Dylan." Bella menggenggam jemari Dylan, mulai melangkah masuk.


"Assalamualaikum, Ma, Pa." Bella menyalami dua orang tua itu karena hanya mereka yang ada di ruang keluarga. 


"Waalaikumsalam, Abel." Bella menyuruh Dylan untuk menyalami keduanya juga. Walau dengan perasaan bingung, Dylan menurut.


"Kakak mereka siapa?"bisik Dylan. Rahayu menyipitkan matanya melihat Dylan yang memegang erat lengan Bella. 


"Mertua Kakak, ayo duduk." Saat duduk Dylan tetap menempel rapat pada Bella. Semua rasanya asing, kecuali Bella.


"Mertua?"gumam Dylan. Dahinya mengeryit dalam, "kakak sudah menikah? Bukankah kakak akan menikah dengan kak Deo?"tanya Dylan. Ia menatap bingung Bella. Bella menghela nafas pelan.


"Jadi kakak nggak jadi kakak ipar aku? Lalu apa kak Deo sudah menikah dengannya? Di mana kak Deo sekarang? Jawab, Kak Abel!"


"Ya mereka sudah menikah, dan begitu bahagia. Nanti akan kakak jelaskan semuanya. Sekarang perkenalan dulu dirimu pada mereka," tutur Bella, memberi pelukan sejenak. 


"Aku tak sabar bertemu dengan kak Deo. Aku juga penasaran siapa kakak iparku," lirih Dylan, memeluk Bella erat.


"Abel apa dia anak keluarga Buana itu?"


"Om kenal dengan Papaku?" Belum sempat Bella menjawab, Dylan sudah menyambar. Surya mengangguk, "tentu. Om bahkan pernah bekerja sama dengan Buana Corp. Ah Om lupa memperkenalkan diri, nama Om Surya Mahendra, Om pemilik dari Mahendra Group," jawab Surya, seraya memperkenalkan dirinya.


"Mahendra Group? Om Presdirnya? Kak Abel kakak itu benar?" Raut wajah terkejut, Dylan meminta jawaban Bella.


"Of course."


"Wow daebak! It's amazing!"


Dylan memang tahu bahwa ini sudah tahun 2021, entahlah, Dylan merasa dirinya seperti melewati waktu, dan merasa sedih karena melewatkan 8 tahun tanpa melakukan apapun, hanya terbaring di ranjang.


"Ini istri Om, namanya Tante Rahayu."


"Kemarilah anak manis, duduk di dekat Bunda," ucap Rahayu lembut. Ia sudah ingat semua yang disampaikan oleh Surya tadi pasal bahwa Bella akan pulang dengan anak keluarga Buana yang masih tersisa. Perihal tentang lupa ingatan pun Surya beri tahu tanpa ada yang ditutupi.


Bella mengangguk saat Dylan meminta persetujuannya.


"Anak manis siapa namamu?"


"Dylan, Dylan Buana, Tante."


"Not Tante but Bunda. Kamu adik Abel jadi kamu juga anak Bunda, understand?"ucap Rahayu 


"B-Bunda?"ulang gagap Dylan. Surya tersenyum lebar, tahu sudah apa yang terpapar di dalam otak istri cantiknya itu. 


Bagus juga ada Dylan, suasana rumah sedikit terobati karena kepergian El. 


Tak dapat dipungkiri, pria tua itu merindukan El. Suasana rumah yang tenang tanpa teriakan keras nan marahnya menghadapi kelakuan El, tidak mendengar berita miring lagi tentang El, tidak ada wajah tengil nan menyebabkan lagi, tidak ada yang berpakaian nyentrik dan bersikap begitu percaya diri lagi, terasa sangat berbeda. Rumah kurang lengkap tanpa kehadiran El. Surya menghela nafas pelan, hatinya berharap El bisa segera pulang dengan hasil yang memuaskan.


Hal itu juga bukan hanya dirasakan oleh Surya, tapi juga seluruh penghuni rumah. 


"Ma, Pa, Dylan, Abel ke atas dulu ya. Ken di kamar kan?"


"Iya. Sepertinya lagi mandi." Bella langsung beranjak menuju dapur. Dylan ingin ikut Bella namun ditahan oleh Rahayu.


*


*


*


Ceklek!


Bella membuka pintu kamarnya. Lampu kamar jelas sudah menyala. Bella mengedarkan pandangannya. Ranselnya ada di meja sofa. Di atas nakas terdapat ponsel yang tengah diisi daya, ponsel Ken. Terdengar suara gemericik dari kamar mandi. Benar kata Rahayu tadi, Ken sedang mandi. 


Lelah seharian, Bella menuju ranjang dan membaringkan tubuhnya sejenak menunggu Ken selesai. Tanpa sadar Bella hampir terlelap. Ia terbangun saat merasakan tetes air jatuh di wajahnya. Bella membuka matanya. Ia membeku saat tahu bahwa Ken ada di atas tubuhnya, masih hanya menggunakan handuk dan rambut yang masih basah, Ken menatap Bella penuh arti. Senyumnya begitu lebar. Bella melirik ke bawah. Astaga, sungguh menggoda!


"K-Ken apa yang kau lakukan? Berdirilah aku mau mandi," ucap Bella, terbata. Ia wanita dewasa, hasratnya mulai naik.


"Kompensasi," ucap Ken dan langsung mencium bibir Bella, memang*t dan memberi lum*tan pada bibir ranum sang istri. Awalnya Bella diam tidak membalas, dan kini mulai membalas ciuman Ken itu. Tangan Bella mengalung pada leher Ken. 


Nafas terengah keduanya alami saat selesai berciuman. Ken berguling dan berbaring di samping Bella.


"Sayang sekali harus ditahan dulu," ujar Ken.


"Ya sayang sekali," sahut Bella.


Ken terkekeh pelan, ia lantas duduk setelah memberi ciuman pada pipi Bella.


"Apa alasanmu tadi, Aru?"tagih Ken. 


"Pakai pakaianmu dulu. Aku juga mau mandi dulu," jawab Bella, ia tetap berbaring dengan wajah datar.


"Kenapa? Kau tidak fokus?" Ken berdiri. Bella menatapnya lalu duduk, "ya aku tidak fokus menjelaskannya padamu nanti."


"Al right." Ken berlalu menuju ruang ganti dengan wajah bahagia. Bella menyusul untuk mengambil pakaiannya gantinya.


Dua puluh menit kemudian Bella selesai mandi dan Ken selesai salat. Ken duduk di sofa dengan membaca buku. Baru diletakkan saat Bella duduk di sampingnya.


"Alasannya benar karena adikku tapi bukan Nesya," ucap Bella, memulai pembicaraan.


"Kau punya adik lain?"


"Dia anak dari sahabat orang tuaku, keluarga Buana yang jatuh delapan tahunan lalu. Saat itu, Dylan mengalami stres berat dan harus dirawat di rumah sakit jiwa. Sebenarnya tidak harus tapi jika tidak begitu tidak ada yang merawatnya," jelas Bella, wajahnya menjadi sedikit muram mengingat hal itu.


"Sejak masuk ke sana, hari ini adalah hari kebebasan Dylan. Itupun karena ia mengalami amnesia disosiatif. Tubuhnya memang anak berusia 22 tahun tapi ingatannya hanya sampai umur 13 tahun. Aku tak tahu harus membawanya ke mana karena dia sebatang kara. Jadi aku membawanya kemari, tinggal bersama kita, aku harap kau dapat menerimanya, Ken."


"Aku tidak bisa keberatan karena ini rumah Papa."


"Terima kasih. Aku juga minta kau tahan amarah dan kesal jika ia bersikap manja dan lengket padaku. Karena sejak kecil kami sudah sangat dekat, layaknya saudara kandung." Wajah sejak lahir ah tidak sebelum lahir mengapa sudah saling kenal.


"Akan aku tahan." 


*


*


*


"Kak Abel!" Ken melotot saat melihat pria tampan seumuran dengannya memeluk erat Bella saat tiba di anak tangga terakhir.


"Ada apa?"


"Kakak lama sekali di atas," rengek Dylan.


"Kau merindukanku?" Dylan mengangguk mantap.


"Aku juga." Ken menatap protes Bella. 


"Hei-hei jangan peluk-peluk Aruku! Lepas!" Ken melepas paksa pelukan Dylan. Dylan sedikit meringis, menatap kesal Ken.


"Kakak galak ini siapa? Aku kan memeluk kak Abel bukan Arumu!"seru Dylan kesal.


"Galak? Aku galak?" Ken berkacak pinggang.


"Ya kau galak!"


"Sudah-sudah, Ken kau lupa janjimu!"


"Huh tak ku sangka bocah ini selengket ini padamu. Oh ya kau mau tahu siapa Aru bukan?" Mata Ken berubah begitu juga bibirnya yang tersenyum lebar.


"Dia Aru. My Aru, isteriku!"ucap Ken lantang sembari merangkul mesra Bella.


"Hah?"