This Is Our Love

This Is Our Love
Restu



Masih terlihat kekakuan di antara mereka. Keduanya bingung ingin berkata apa saat begini. "Kau cantik," puji singkat Evan yang tak mampu untuk menyembunyikan perasaannya. "Terima kasih. Kau jaga tampan, Evan." 


Calia tersipu mendengar pujian Evan padanya. Hal itu membuat Evan semakin terpesona. Ia menghentikan langkahnya. Calia otomatis ikut berhenti. "Ada apa?"tanya Calia, heran. 


Calia menatap Calia cukup lama. Setelah ditatap lebih lama dengan Calia yang semakin menjadi salah tingkah, Calia bak bidadari, gaun putih itu sungguh cocok digunakan untuk malam ini. Dengan rambut yang disanggul, Calia sangat cantik juga anggun. 


Evan lalu mengulurkan tangannya, "hold my hand, My Angel," ucap Evan dengan senyum manisnya. Calia mengerjap. 


Dengan tersenyum, Calia menerima uluran tangan itu. "Ku kira kau orang yang sangat kaku karena terlalu lama bergelut dengan laboratorium, Evan," celetuk Calia. Ia dengan cepat menguasai keadaan.


"Aku baru saja mempelajarinya," jawab Evan. Keduanya kembali melangkah dengan bergandengan tangan menuju ruang makan. 


"Hm?" Baru saja mempelajarinya? Calia tertegun sesaat. Apa karena IQ nya, Evan mudah mempelajari suatu hal dalam waktu singkat? Tapi, dari siapa Evan mempelajarinya? 


Evan tersenyum lebar melihat keterkejutan dan kebingungan Calia. Ia baru saja mempelajarinya setelah mengingat kemesraan Ken dan Bella. Bergandengan tangan, itu hal kecil yang membahagiakan pasangan. Juga dari Brian, Silvia, dan pasangan lainnya ia temui belakang ini. Evan ingat semuanya. Dan itu ia praktekkan sekarang. Hasilnya, sesuai dengan apa yang ia lihat. 


Di ruang makan, keluarga keduanya sudah duduk dan tersisa dua kursi untuk keduanya. "Hm … sepertinya sudah lebih maju," goda Tuan Arshen yang melihat keduanya bergandengan tangan dan saat duduk tidak kunjung dilepas. 


Evan dan Calia sama-sama tersenyum. Mereka tetap tidak melepas pegangan. "Ehem … ehem, sebentar lagi adik akan melangkahi kakak dalam hal menikah." Nizam berujar, menggoda keduanya. 


"Maka cepatlah menyusul adikmu ini, Kak," balas Evan, santai. Mendengar itu, Nizam terdiam sesaat. Pikirannya langsung tertuju pada Naina. Ya, salah satu santriwati di pesantren tempatnya mengajar. Ada rasa asing, seperti rasa rindu.


Evan menyipitkan matanya membuat sang kakak yang tampaknya melamun. "Sepertinya setelah Calia, dalam waktu Anda berdua akan mendapat menantu lagi." Tuan Arshen yang peka langsung berkata demikian, mengejutkan Umi Hani dan membuat Nizam tersadar.


"Nizam, kamu punya seseorang yang kau sukai? Siapa dia?"tanya Umi Hani langsung. Sementara Allen masih diam. Ia hanya mendengarkan. Mengetahui bahwa malam ini adalah malam pertemuan keluarga, Allen masih sibuk dengan gelutannya sendiri. Ia masih terkejut dengan Evan yang tiba-tiba punya pacar dan dalam waktu dua hari, kedua belah pihak sudah bertemu untuk membahas pernikahan. 


Allen yang tahu anaknya ini sebelumnya tidak pernah menjalin asmara, membuatnya merasa cemas. Ia takut, keduanya terlalu terburu-buru dan menyebabkan ketidakharmonisan dalam rumah tangga kelak. Dan juga yang menjadi bahan pertimbangan Allen adalah usia. Calia lima tahun lebih tua daripada Evan. 


Sedangkan Umi Hani sendiri, sudah memberi restunya. Mengenai perbedaan usia, Umi Hani tidak mempermasalahkannya. Umi Hani berkaca pada pernikahan Baginda Rasulullah Saw. dengan Siti Khadijah. Yang terpenting adalah karakternya. 


"Umm … Nizam belum bisa memastikannya, Umi," jawab Nizam jujur. Ia belum mengerti dengan apa yang hatinya rasakan saat teringat akan Calia. 


"Baiklah. Umi harap kamu cepat memastikannya." Nizam mengangguk. 


"Tuan Allen, bagaimana pendapat Anda akan hubungan anak-anak kita? Saya dan istri saya sebagai orang tua dari Calia, setuju Calia menikah dengan Evan. Mengenai perbedaan usia, kami tidak mempermasalahkannya." Tuan Arshen memulai pembicaraan dengan serius. 


Allen berdehem. "Ada baiknya kita makan malam dulu, Tuan, Nyonya, dan Nak Calia," saran Allen. Sejenak ia menatap Calia yang tersenyum ramah padanya. 


"Boleh. Ayo," sahut Tuan Arshen. 


"Hm … ini menu khas Indonesia, bukan?" Nyonya Arshen menyadari menu yang ada di atas meja.


 Umi Hani mengangguk, "iya. Ada tahu ini?" Umi Hani penasaran.


"Abel beberapa kali pernah memasak di rumah kami, Umi. Jadi, kalau rendang, soto, dan ini kami sudah tidak asing lagi. Saya juga cukup lama di Indonesia kemarin. Jadi, cukup tahu masakan di sana," terang Calia. Ya, Umi Hani meminta Calia untuk memanggilnya dengan panggilan Umi. Sedangkan Evan tetap pada panggilan Mom or Mommy. 


"Abel?"


"Abel itu sahabatku dan Calia di Berlin, Yah. Ia wanita yang luar biasa," ujar Evan menjawab pertanyaan Allen. 


"Ah … ternyata aku terlalu sibuk hingga tak tahu bagaimana pergaulanmu. Tidak Ayah sangka ternyata kau punya sahabat perempuan dan pacar." Allen merasa menyesal. 


"Terkadang kita tidak bisa memilih, Tuan Allen. Dan Anda tidak perlu menyesal karena pergaulan anak Anda adalah pergaulan yang positif," ujar Tuan Arshen.


"Tadi katanya makan dulu, mengapa malah ngobrol lagi?"cetus Nyonya Arshen. Tuan Arshen dan Allen tertawa ringan kemudian mengucapkan maaf. 


Dua keluarga itu makan malam setelah berdoa menurut ajaran dan kepercayaan masing-masing. 


Selesai makan malam, selain Umi Hani, Nyonya Arshen, dan Calia yang masih di dapur mencuci piring, yang lain beranjak menuju ruang tengah. Di sana keempat pria itu berbincang. 


"Dokter dengan ilmuwan, itu kombinasi yang sempurna, bukan? Evan dan Calia juga satu kota. So, mereka tidak perlu berjauhan. Seandainya kelak Evan pindah tugas, bukan hal sulit untuk Calia pindah tugas juga," papar Tuan Arshen. Sepertinya Tuan Arshen sudah benar-benar menghendaki Evan menjadi menantunya. 


"Jika saya boleh tahu … apa alasan terbesar Anda setuju Calia menjadi calon menantu Anda?" Sebagai ayah, Allen ingin mendengar pendapat calon besannya itu tentang Evan dan mengapa menyetujui hubungan Evan dan Calia yang jika diumpamakan sebuah biji, belum pun berkecambah. 


"Yang pertama adalah keberanian putra Anda. Yang kedua adalah keyakinan dan kemantapannya, juga karakternya. Yang ketiga adalah putri saya juga setuju. Yang keempat adalah pendidikan dan finansialnya, lalu rupanya." Ya sebut saja Evan paket komplet. Mendengar penuturan Tuan Arshen, Allen beralih menatap Evan. Pemuda itu agaknya gugup, ia meletakkan kedua tangan di lutut dan beberapa kali menggosokkan tangannya. Allen kembali menatap Tuan Arshen. 


"Anda tidak masalah dengan latar belakang keluarga kami?"tanya Allen.


"Apa yang harus dipermasalahkan? Calia dan Evan satu keyakinan. Masalah di antara keluarga Anda ada dua keyakinan, itu adalah hak Anda masing-masing," jawab Tuan Arshen. 


"Kau serius dan mantap dengan keputusanmu, Evan? Ayah seperti ini bukan karena tidak setuju. Tapi, Ayah butuh kepastianmu. Menikah bukan untuk sehari dua hari. Tapi, untuk seumur hidup dan Ayah sangat berharap pernikahanmu kelak dan kau juga Nizam, tidak seperti pernikahan Ayah dan Ibu kalian." Usia Evan juga sudah tergolong dewasa untuk menikah. Evan mengangguk mantap, "aku mantap dengan keputusanku, Yah!"


"Baiklah. Karena kau sudah mantap, Ibumu juga setuju, keluarga calon istrimu juga setuju, maka Ayah tidak bisa untuk tidak memberi restu." Senyum Evan merekah seketika. Ia langsung berpelukan dengan Nizam kemudian memeluk Allen. Allen menyeka sudut matanya. Tidak terasa Evan akan segera menikah.


"Sudah membahas sampai mana?"tanya Nyonya Arshen yang baru selesai dari dapur dan bergabung ke ruang tamu diikuti oleh Umi Hani dan Calia. 


"Duduklah." Tuan Arshen menepuk sofa di sebelahnya. Umi Hani duduk di antara Nizam dan Evan. 


"Nak Calia." Allen mengulurkan tangannya, meminta Calia memegang tangannya. Calia menatap Evan. 


Evan menggerakkan tangannya, mengisyaratkan Calia untuk menerima uluran tangan itu. Allen lalu menggenggam jemari Evan kemudian berdiri.


 "Semoga kalian menjadi pasangan yang diberkahi oleh Tuhan," ucap Allen dengan mempersatukan tangan Evan dan Calia. 


Calia terkesiap sesaat, sudah direstui? Ia lalu tak bisa untuk tidak tersenyum. 


Senyum yang sangat bahagia. Itu lalu disambut dengan tepuk tangan meriah. Nizam memeluk Umi Hani, Tuan Arshen merangkul sang istri sementara Allen menyeka kembali sudut matanya. Ekor matanya kemudian terarah pada Umi Hani. 


Semoga Allah meridhoi pernikahan kalian. Semoga rumah tangga kalian sakinah, mawaddah, warahman. Allen memejamkan matanya. Itu adalah ucapan yang dikatakan Ayah Umi Hani saat ia dan Umi Hani menikah dulu. Kata-kata yang hampir sama. 


"Lalu … kapan kiranya waktu yang baik untuk Evan dan Calia menikah?" Sejujurnya, Umi Harus dan Nizam harus segera kembali ke Indonesia. Namun, urusan di sini ternyata lebih lama dan mereka tidak kembali seperti waktu yang telah direncanakan.


"Besok siang," jawab Tuan Arshen. Evan dan Calia tidak kaget lagi. Keduanya tampak tidak keberatan. Nizam yang merasa heran, "secepat itu? Bukankah banyak yang bagus diurus?" Pertanyaan itu mewakili Allen. 


"Anda lupa akan siapa keluarga Arshen?" Jawaban dengan pertanyaan yang menjawab dengan jelas. Keluarga Arshen adalah keluarga yang memiliki pengaruh besar, mereka juga kaya, dan tentunya punya koneksi. Urusan surat menyurat, dalam waktu singkat pasti usai. Urusan tempat menikah, itu sudah diatur. 


Masalah pakaian pengantin, baik untuk pria dan wanita, itu hal kecil. Untuk gaun, keluarga Arshen sudah mempersiapkannya sejak lama. Untuk pria, bukan hal sulit. 


Tamu? Itu terbatas. 


Lagipula keduanya sudah mantap, untuk apa menunggu waktu dan hari yang lebih lama lagi? 


Melihat Evan dan Calia yang tidak masalah, Allen hanya bisa menyetujuinya. 


Setelah itu, mereka kembali berbincang dengan cukup santai dan berakhir saat waktu menunjukkan hampir pukul 23.00. Keluarga Arshen segera pamit kembali ke hotel mereka.


"Kalian mau kemana?"tanya Allen saat melihat Umi Hani dan Nizam membawa koper. 


"Kami mau mencari hotel, Ayah. Umi dan Ayah bukan muhrim. Jadi rasanya …."


"Jika kami hanya berdua itu yang tidak boleh. Ada kalian, dan di sini ada cukup banyak kamar. Hari juga sudah larut dan kalian berdua tidak mengenal tempat ini. Lebih baik tetap tinggal di sini. Jangan cari perkara!"tegas Allen.


"Tapi …."


"Hani … kau akan tidur dengan Nizam. Aku tahu batasanku." Suara Allen merendah. 


"Benar, Mom, Nizam. Aku percaya Ayah dan Mom akan menjaga batasan," imbuh Evan.


"Hani … aku tahu apa yang kau pikirkan. Kita tidak melakukan kejahatan jadi tidak perlu takut dan di sini juga tidak seperti di sana. Tinggalah," ujar Allen lagi.


"Benar juga, Umi." Nizam setuju dan pada akhirnya Umi Hani juga setuju. 


"Baiklah. Kalau begitu Umi kembali ke kamar. Selamat malam," pamit Umi Hani. 


"Malam." Umi Hani kembali ke kamarnya tadi. 


"Kau juga tidurlah, Nizam. Sudah larut," ujar Allen.


"Iya, Ayah." Nizam berlalu menyusul Umi Hani.


"Kau juga, Evan. Besok kau akan menikah, segeralah istirahat." Evan mengangguk. 


"Ayah juga." 


"Ya." Allen kini sendiri di ruang tengah. Ia menghela nafas panjang. "Mungkinkah kita kembali bersama lagi, Hani?"