
Meja makan yang panjang. Di atasnya terdapat tersaji berbagai macam sarapan. Ada nasi, ada telur mata sapi, roti dan selainya. Juga ada sup dan beberapa sarapan lainnya khas Rusia.
"Hanya kita saja? Ibu-ibu kalian?" Meja makan panjang ini terasa begitu lenggang. Hanya ada Bella, Liev, Lesta, juga Irene dan dua pengasuh. Untuk dua pengasuh mereka berdiri dengan menjaga jarak dari Liev dan Lesta. Kedua pengasuh itu dipilih oleh Irene langsung.
Awalnya, Ariel sebagai ibu dari Liev protes pada Irene. Akan tetapi, keputusan Irene tidak berubah dan itu sama seperti keputusan Desya. Mau tak mau, Ariel dan juga Lucia menerima keputusan itu. Kedua pengasuh berada di bawah perintah Irene.
Irene ikut sarapan. Duduk bersama. Udara dingin di luar sama sekali tidak terasa di tengah kehangatan kecil itu. Liev dan Lesta sama sekali tidak keberatan. Ya, meskipun awalnya juga menanyakan hal tersebut. "Mengapa majikan dan bawahan duduk sama rata?"
Bella menjawab, " bawahan juga keluarga. Ada saatnya memperlakukan mereka sebagai bawahan dan ada saatnya memperlakukan mereka sebagai keluarga. Kalian adalah calon penerus. Harus arif dan bijaksana. Menjadi pemimpin yang disegani."
Pendidikan dasar adalah pembentukan karakter. Jika sejak dini sudah dididik, maka ke depannya akan lebih mudah dalam membimbing. Usia bukan patokan. Keinginan, dan kemauan itu adalah kuncinya.
Kembali, Bella menyuapi Liev dan Lesta. Baru sebentar, mereka sudah manja pada Bella.
Dengan senang hati. Sekalian juga melihat dan melakukan bagaimana nantinya ia sebagai seorang ibu.
Perut Bella semakin menonjol. Jelas terlihat ia tengah berbadan dua.
Nasi putih, telur mata sapi, dan ada beberapa lauk lagi, menjadi sarapan. Irene hanya menikmati roti dengan selai berwarna merah. Ia tidak terbiasa sarapan dengan menu berat seperti nasi. Biasanya roti dengan segelas teh mawar. Segelas susu hamil untuk Bella. Juga susu untuk Liev dan Lesta.
Lantas bagaimana dengan Ariel dan Lucia? Apakah mereka tidak marah atau tidak tahu jika anak-anak mereka sarapan bersama dengan Bella, wanita yang mereka anggap sebagai musuh?
Meskipun sudah tahu, mereka tidak bisa berbuat apapun. Karena itu adalah keinginan anak mereka dan didukung oleh Irene. Mereka dilarang masuk ke ruang makan ini juga perintah Irene, demi ketenangan sarapan mereka.
Lantas di mana Ariel dan Lucia? Apakah mereka menunggu di depan pintu? Atau melampiaskan kekesalan di tempat lain? Tapi, sepertinya tidak dengan keduanya.
Liev dan Lesta juga tidak terlalu mempedulikannya.
"Nona, mengapa Anda tidak mencoba kabur?" Bella memalingkan wajahnya. Menatap Irene yang heran bercampur bingung padanya. Bella tersenyum.
Jika dipikir-pikir ini kesempatan yang bagus untuk kabur, bukan? Tapi, mengapa Bella tidak melakukan apapun? Malah melakukan pendekatan dengan anak-anak Desya? Apakah Bella pasrah?
No. Ini bagian dari rencana. Benar ia bisa kabur. Kalau tidak kabur pun ia bisa menggunakan ponsel dan semacamnya untuk mengirimkan pesan pada keluarganya secara langsung. Tanpa perantara surat menyakitkan itu. Namun, Bella tidak akan melakukan itu sebelum misinya selesai. Ia orang yang memegang ucapannya. Selain itu, Bella tidak ingin melibatkan keluarganya lebih jauh dalam masalah ini.
Benar. Keluarganya memang berpengaruh. Keluarga Mahendra dengan posisinya. Begitu juga dengan keluarga Kalendra. Ditambah lagi dengannya sebagai ahli waris Tuan Williams. Dan bantuan lainnya. Harusnya mudah bukan menghadapi Desya?!
Namun, Bella tidak berpikir demikian. Desya, sebelumnya sudah dibalas akan identitasnya. Ia adalah seorang mafia. Black Rose yang ditakuti dan disegani di tanah Beruang Putih ini. Mafia, ia kejam. Ya ... meskipun sejauh ini belum ditunjukkan.
Ia tidak hanya punya uang, akan juga kekuatan yang besar. Ia juga punya hubungan kekerabatan dengan bangsawan. Darahnya masihlah darah biru. Dan Rusia dikenal sebagai negara dengan militer terkuat. Maka, begitu juga dengan Desya. Ia punya kekuatan militer juga.
Memang tidak sulit. Tangan yang sering memegang senjata dibandingkan dengan tangan yang sering memegang pena, tentu sangat berbeda, bukan?
Bella tidak meragukan kekuatan keluarganya. Namun, ia memikirkan kerugian yang kemungkinan akan tercipta. Dan ia bisa meminimalisir dengan tidak melibatkan mereka. Bella harap, mereka keluarganya paham maksud dirinya ini.
"Aku sudah mengambil keputusan, Irene. Aku tidak akan pergi sebelum urusanku selesai."
"KAU TIDAK AKAN PERGI KEMANAPUN, NABILLA ARUNIKA CHANDRA!!" Baik Bella maupun Irene, juga Liev dan Lesta terkejut mendengar teriakan tegas nan dingin itu. Semua serentak menoleh ke arah pintu.
Desya!
Dia sudah kembali!
Wajahnya tampak muram. Astaga! Apakah ia mendengarnya lagi? Ah tentu saja iya.
Di tangannya. Ada paper bag. Apa isinya?
Bella diam untuk beberapa saat. Desya melangkah mendekat. Irene merespon dengan menyuruh pengasuh membawa Liev dan Lesta keluar dari ruang makan. Liev dan Lesta tak mengalihkan pandang dari Desya, ayah mereka.
"Ayah …." Sebelum benar-benar keluar, Liev memanggil. Desya melirik. Acuh.
"Jangan sakiti Aunty …," ucap Liev dengan kemudian menyembunyikan wajahnya di dada sang pengasuh.
Desya kembali menatap Bella. Kini Bella membalas tatapan Desya. "Bukankah aku ada di hadapanmu?"balas Bella.
"Sampai kapanpun kau akan tetap berada di sisiku!" Itu sebuah perintah. Bella paham maksudnya. Jika ia membantah, maka Desya bisa lebih kesal lagi. Tidak, ia harus benar-benar mendapatkan kepercayaan Desya.
"Aku manusia, Desya. Kelak, pasti akan meninggalkanmu." Okay. Mari singgung soal ajal.
"Bahkan jika kematian membawamu, aku akan menarikmu kembali!"ucap Desya penuh penekanan.
"Okay. Terserah kamu saja!"balas Bella. Malas meladeni Desya.
Desya masih menatap tajam Bella. "Kau pasti lelah. Ayo duduk dan sarapan," ajak Bella, mengulurkan tangannya meminta Desya duduk.
"Kau mau apa? Roti? Atau sarapan nasi? Atau hanya minum teh?"tawar Bella.
"Berhentilah memandangiku!! Atau kau mau sendiri, okay. Aku akan pergi." Bella berdiri.
"Tunggu!" Desya menahan.
"Temani aku," ucap Desya kemudian duduk. Desya melirik Irene. Irene yang sudah tahu sarapan apa yang biasa disantap oleh Tuannya langsung mengambil roti dan mengolesinya dengan selai berwarna merah.
Dan kini Bella memperhatikan wangi dari selai itu. "Selai mawar?"
Irene mengangguk. Desya masih menatap dirinya.
Bella tersenyum. Begitu rupanya.
"Kau sudah sarapan?" Melihat sikap Bella, kekesalan Desya meluntur.
"Sudah. Dengan anak-anakmu tadi," jawab Bella.
"Tuan." Irene meletakkan roti yang telah diolesi selai di depan Desya.
"Ini apa?" Bella melihat ke arah paper bag yang tadi Desya bawa dan letakkan di atas meja.
"Bukalah." Bella meraih dan membukanya. Matanya langsung berbinar.
"Mangga muda!!" Nadanya sungguh ceria.
Desya tersenyum walaupun hanya sebentar. "Kau sesenang itu?" Bella mengangguk. Jelas ia senang. Yang ia inginkan terpenuhi meskipun bukan suaminya yang membawakannya.
"Terima kasih," ucap Bella, tulus.
"Irene aku bisa minta bantuan?"
"Ada kertas dan pena?" Irene segera memberikannya.
Bella segera menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut. Tuliskan tangannya cepat namun rapi dan tegas.
"Tolong berikan ini pada juru masak, juga tolong mangga nya juga dikupas dan dipotong, okay Irene," ucap Bella pada Irene. Irene menerimanya. Melirik Desya meminta persetujuan dan melangkah keluar menuju dapur begitu Desya setuju.
"Apa yang kau tulis tadi?" Desya penasaran.
"Bumbu rujak," jawab Bella singkat.
"Eh apa kau bertemu dengan Ken?" Mendengar pertanyaan itu wajah Desya sedikit masam. Tampaknya tidak suka Bella menyebutkan nama itu.
"Oh sepertinya kau bertemu dengannya," simpul Bella. Tersenyum simpul.
"Dia baik-baik saja kan?" Bella bertanya lirik.
"Kau masih memperdulikannya?"bertanya ketus.
"Ya biar bagaimanapun dia itu ayah dari anakku. Kau tidak bisa memutuskannya!"
Ah. Hubungan darah memang tidak bisa diputuskan.
"Jangan bahas apapun lagi tentang mereka!"tegas Desya.
"Hm … by de way, di mana kau mendapatkan mangga itu?" Bella penasaran. Pergi siang pulang pagi. Pastinya keluar negeri bukan?
"China." Singkat. Bella mengangguk.
"Kau … sejak kapan kau dekat dengan mereka?"tanya Desya. Mereka? Siapa yang Desya maksud?
Liev dan Lesta kan?
"Siapa?" Bella menguji. Apakah Desya benar-benar acuh pada kedua anaknya?
"Dua bocah tadi."
"Yang mana?" Diam-diam Bella menyeringai. Desya mengeryit.
"Liev dan Lesta," jawabnya.
"Oh, Liev dan Lesta. Sejak kemarin sore. Why?"
"Sepertinya mereka menyukaimu." Desya teringat ucapan Liev tadi. "Jangan menyakiti Aunty!"
"Sepertinya begitu." Bella merasa perutnya kembali lapar. Menunggu Irene kembali dengan irisan mangga muda dan bumbu rujak, Bella meraih roti beserta selainnya.
Enak. Rasanya manis legit, ditambah dengan aromanya yang harum. Bella menyukainya.
"Apa kau sudah bertemu dengan mereka?"
Mereka lagi? Tidak bisakah Desya menyebutnya secara langsung? Tentu saja Bella menaikkan alisnya bertanya.
"Istri-istriku," ucap Desya.
"Oh. Belum. Hanya melihat mereka saja."
Memang begitu.
"Tidak perlu takut pada mereka. Aku di sisimu!"
Bella mengerjap. Itu ucapan yang akan membuat siapapun berdegup kencang. Namun, tidak bagi Bella.
"Apa aku terlihat takut pada mereka? Denganmu, apakah aku takut?"
Tidak. Desya menjawab dalam hati.
"Jangan khawatir." Bella tersenyum.
Tak berapa lama kemudian Irene datang dengan membawa nampan berisikan potongan mangga muda beserta dengan bumbu rujaknya.
Aroma bumbu rujak yang khas langsung menggugah selera Bella. Irene meletakkan nampan tersebut dihadapan Bella.
Mangga muda dengan bumbu rujak. Akhirnya keinginan itu tercapai.
Diambil seiris dengan dibalur dengan bumbu rujak. "Bismillah," ucap Bella sebelum menyantapnya.
Sensasi asam, pedas, dan gurih ada ada sedikit rasa manis bercampur menjadi satu. Bella sangat menikmatinya.
Hal itu tentu saja memancing rasa penasaran Desya dan Irene. Beragam pertanyaan. Apa itu enak?
Tidak asam? Dari aromanya sudah sangat asam. Bagaimana bisa dia menikmatinya?
Kembali, Bella memasukkan potongan mangga yang sudah dibaluri dengan bumbu rujak. "Ini sangat enak!"ucap Bella dengan mata terpejam.
Desya yang penasaran, menggerakkan tangannya. Mengambil satu irisan mangga muda itu. Warnanya hijau, aromanya asam, terlihat ragu. Namun, tetap memasukkannya ke dalam mobil.
Puih!
Baru menyentuh lidahnya, Desya langsung membuangnya. "Bagaimana bisa kau makan itu?!"
Lidahnya merasakan asam yang teramat. Bella menatap Desya santai. "Mungkin karena hormon ibu hamil," jawab Bella dengan santainya.
"Lagipula, siapa yang menyuruhmu memakannya?" Bella berdiri, membawa nampan dan meninggalkan Desya dan juga Irene.
"Jadi … maksudnya aku tidak boleh makan itu?"
"Siapa juga yang mau memakannya!!"
Bruk!
Aduh!
Tiba-tiba saja mereka mendengar suara gaduh dari luar. Apa itu?