This Is Our Love

This Is Our Love
Melepas Rindu 2



...Berboncengan denganmu...


...Mengelilingi kota...


...Menikmati surya perlahan menghilang ...


Eits!! Hanya dua bait yang baru terealisasi karena matahari masih bersinar terang di cakrawala. 


Louis melajukan motor Bella dengan kecepatan pelan. Ia ingin menghabiskan waktu yang singkat ini dengan baik. Begitu juga dengan, walau tak memeluk pinggang Louis, Bella tersenyum senang. Setelah sekian lama akhirnya ia kembali berboncengan dengan Louis. Rasa rindu pun mulai terobati. 


"Abel tunjukkan arah ke rumahmu," ucap Louis.


"Ke rumahku? Untuk apa? Lebih bagus kita ke taman, pantai, atau cafe," tanya Abel. 


Apartemenku yang sudah disewakan, masa' iya aku bawa Louis ke sana? 


"Makan siang. Aku rindu udang asam manis buatanmu," jawab Louis.


"Hmm Kakak kemari untuk menemuiku atau hanya rindu masakanku?"rajuk Bella, mencembikkan bibirnya. Louis terkekeh.


"Setali tiga uang, My Abel," jawab Louis.


"Huh! Dasar!"kesal Bella, memberikan cubitan pada pinggang Louis.


Bukannya mengadu sakit, Louis malah tertawa gembira. Baginya cubitan Bella itu sebuah gelitikan. 


Bella yang semakin kesal, kembali melancarkan serangan, baru ketika saat Louis mengadu sakit barulah ia tersenyum senang. Untunglah jalan yang mereka lewati cenderung sepi. 


"Sudah … sudah hentikan, aku menyerah. Pinggangku sakit semua."


"Rasakan!"


"Iya-iya. I'm sorry, My Abel."


"Lalu kita ke mana?"tanya Bella lagi.


"Ke rumahmu."


Bella menghela nafas kasar, "tidak bisa. Rumahku sudah aku sewakan. Sekarang aku tinggal di rumah Anjani," ucap Bella, setengah benar setengah tidak.


"Mengapa? Di luar negeri kau menoleh tinggal serumah dengan kami, dan sekarang kau tinggal di rumah orang lain padahal kau punya rumah. Ah kau hutang banyak penjelasan padaku, Abel," heran Louis.


"Huh di sana kan ada pria single yang belum menikah. Nanti kalau aku tinggal satu atap dengan kalian, bisa menyebabkan kecemburuan dan nama baikku bisa tercemar. Oh apakah Kakak cemburu? Tenang saja, Anjani itu hanya tinggal dengan anaknya dan beberapa pelayan," jelas Bella.


"Suaminya?"


"Baru cerai kemarin," jawab Bella datar. 


"Hm baiklah, tidak masalah. Kita ke rumah yang kau sewakan itu baru ke tempat tinggalmu sekarang," jawah Louis.


"Ya baiklah." 


Maaf Jani, aku ikut sertakan dirimu demi kepentinganku, batin Bella.


Bella menunjukkan jalan menuju apartemennya. Karena Louis yang melaju dengan kecepatan pelan, membuat Bella mengerutu sebal. 


"Cepatlah sedikit. Apa kita hanya mau ke dua tempat itu saja?"


"Tenanglah, My Abel. Masih banyak waktu, biarkan aku menikmati setiap detik denganmu. Aku malah berharap waktu berhenti sekarang," tutur Louis.


"Ah manisnya mulutmu, Kak," sahut Bella yang tersipu.


Bella tersentak pelan saat satu tangan Louis meraih satu tangannya yang berada di paha dan mengecupnya sesaat lalu melingkarkan tangan Bella pada pinggangnya.


"Jalan biarkan waktu terbuang sia-sia, My Abel," ucap Louis.


Bella tersenyum, benar. Kesempatan ini mungkin akan terulang lama lagi, atau mungkin ini yang terakhir. 


Jangan bohongi hatimu, Bella. Kau ingin kebersamaan ini tidak cepat berlalu. Bella dengan gerakan lambat mengangkat satu tangannya lagi dan melingkar pada pinggang Louis.


 


Louis tersenyum puas, "I love you, My Abel."


Bella tidak menjawab, memilih bersandar pada punggung Louis. 


Tanpa keduanya sadari, ada yang melihat mereka dengan tatapan rumit dari dalam sebuah mobil putih. 


Wush.


Mobil dan motor itu saling melewati. Motor itu tetap melaju tetapi mobil putih itu berhenti sejenak. Ia kemudian putar balik dan mengikuti motor itu.


Dengan siapa Aru boncengan?batin pengendara mobil itu yang tak lain adalah Ken.


Ken ikut menginjak rem saat mobil yang dikendarai oleh Louis dan Abel berhenti di pinggir jalan.


Mata Ken menatap tajam interaksi keduanya yang terlihat begitu serasi. Rasa tidak nyaman dan cemburu merasuk ke dalam diri Ken. Ia berniat turun untuk memergoki mereka akan tetapi tertahan saat melihat motor kembali melaju dengan pengemudi yang berganti. 


Ternyata ada razia yang menyebabkan Louis dan Bella bertukar tempat. Ken berdecak sebal saat kehilangan jejak Bella dan Louis karena mobilnya dihentikan oleh polisi. 


Sialan! 


Setelah dinyatakan lolos, Ken melajukan mobilnya cepat dan berhenti di pinggir jalan yang sedikit lenggang. Ken menatap dingin jalanan di tempatnya. Hatinya diliputi kekesalan dan cemburu.


"Apa ini caramu balas dendam, Aru?"gumam Ken menerka. Tatapannya berubah menjadi sedih.


Ken kemudian mengeryit saat mengingat jelas rupa pria yang berboncengan dengan Bella tadi.


"Louis? Benarkah itu tadi Louis?"


Mendadak rasa tidak percaya diri meliputi Ken. Dibandingkan dengan Louis, dirinya masih berada di bawah. Dan lihatlah perbedaan sikap Bella saat bersama dengannya dan Louis. Senyumnya terlihat begitu tulus dan murni, bukan paksaan. 


Louis begitu lembut pada Bella, sedangkan dirinya? 


Ahhhggk 


Ken menggeram kesal, mengacak-acak rambutnya. Ia bingung. 


"Tidak! Aru adalah isteriku. Tapi … jika aku menganggunya, sama saja memancing amarah Aru. Apa yang harus aku lakukan?"


"Aku tidak mau dicap egois. Aru tidak pernah melarangku berhubungan dengan Cia. Apakah pantas aku melarangnya bahagia dengan orang yang ia cintai? Sial-sial! Rasa cemburu ini semakin menjadi tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa!"


Lebih baik aku ke rumah Cia. Aru dengannya, dan aku dengan Cia, impas bukan?


*


*


*


Louis tampak mengangguk-anggukkan kepalanya melihat lingkungan sekitar apartemen Bella. Ia tampaknya suka dengan lingkungan ini. Karena melihat bagian luarnya yang cocok, dan demi menghemat waktu, terlebih sudah hampir jam makan siang, keduanya kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Anjani. Kali ini Louis yang membonceng, dan Bella kembali memeluk pinggang Louis. 


Sebelumnya Bella sudah mengirim pesan pada Bik Santi, pembantu senior Anjani mengenai apa yang ia katakan pada Louis tadi yakni bahwa ia tinggal bersama dengan Anjani dan juga bahwa ia memasak makan siang di dapur rumah Anjani. 


Sekitar 30 menit kemudian, mereka tiba di kediaman Anjani dan lagi-lagi Louis tampak puas dengan tempat tinggal ini. 


"Ayo masuk, Kak."


Memasuki rumah, mereka disambut oleh Bik Santi.


"Aunty!" Ternyata Arka yang telah selesai belajar home schooling mendengar suara Abel dari ruang belajar. 


"Aka!" Arka langsung masuk ke dalam pelukan Bella.


"Aka mana Mama?"tanya Arka yang celingak-celingu mencari keberadaan Anjani.


"Mama masih berada di kantor. Aunty izin karena ada tamu penting."


Arka menatap Louis yang tampak mengamati dirinya.


"Siapa dia, Aunty? Pacar Aunty? Tapi Kan Aunty sudah menikah?"cerca Arka penasaran.


Bella tersenyum simpul, untung saja Louis tidak mengerti bahasa Indonesia jika tidak kan ribet urusannya.


"Dia ini teman Aunty dari luar negeri. Namanya Uncle Louis. Sengaja singgah kemari untuk bertemu dengan Aunty," jelas Bella. Arka mengangguk mengerti.


"Hallo Uncle, My name is Arka," ucap Arka dengan nada menggemaskan miliknya. Louis tertegun sesaat.


"Dia mirip dengan Key," ucap Louis yang diangguki oleh Bella.


"Yap. Makanya jika aku merindukan Key, aku cukup menatap Arka."


"Hm jika kau merindukanku, kau menatap apa?"goda Louis. 


Bella terkesiap, dengan sedikit tersipu ia menjawab, "tentu saja fotomu, dan senja."


"Kita memang satu hati."


"Ya tapi kita tak satu iman," lirih Bella. Senyum Louis memudar melihat wajah sendu Bella.


"Aunty? Aunty kok sedih? Apa ucapan Uncle ini menyakiti Aunty?" Arka memberikan tatapan menyelidik pada Louis.


"Ah no, Boy. Uncle …."


"Tidak, Aka. Kami hanya membahas sesuatu yang berat. Ah apa kau lapar?"


"Tunggulah sebentar, Aunty akan masak makanan kesukaan Aka."


"Hore!" Bella dengan tetap menggendong Arka menuju dapur diikuti oleh Louis yang kini merasa risih dengan tatapan para pelayan yang mengintip, bahkan Bik Santi yang sudah tua saja menatap Louis penuh minat.


"Duh andai saja Tuan Louis jadi Tuan rumah ini, nggak perlu nonton drama lagi buat cuci mata," ucap Bik Santi yang disahut kekehan Bella.


"Waduh banyak saingannya, Bik. Kasihan Anjaninya nanti. Lagipula nggak satu iman."


"Astaga nggak satu iman rupanya. Berarti cuma bisa dilihat tidak bisa dimiliki dong, kayak mas Duren," sahut salah seorang pelayan yang mengintip.


Semua rekannya yang awalnya kecewa kini menyoraki pelayan tersebut.


"Huu kejauhan mimpimu. Standar kita nggak usah tinggi-tinggi. Ntar jadi perawan tua, mau?"


"Ya mana tahu ada keajaiban."


"Ah sudah-sudah. Jangan mimpi di siang bolong. Apa enaknya jadi istri orang kaya terlebih artis kaya Mas Duren sama Tuan Louis? Ke sana kemari selalu disorot. Lebih keras dari gosipan tetangga julid," tegur Bik Santi, membubarkan para pelayan. 


Bella menggelengkan kepalanya geli. Louis yang kini sibuk mengambil bahas dari kulkas menatap bingung Bella. Ia memang mendengar ucapan pelayan tadi tapi tidak mengerti artinya.


"Apa yang mereka bicarakan?"


"Hm mereka cemas kalau nanti jadi istri Kakak, apapun tindakannya selalu disorot nggak bisa leluasa gitu."


"Memang siapa yang mau jadiin mereka istri?"


"Ya mana tahu ada keajaiban," sahut Bella.


"Ada pun aku nggak mau."


"Aduh untung mereka nggak ngerti ucapanmu, Kak. Bisa patah hati dua kali mereka, hahaha."


"Huh sudah cepatlah. Ayo masak, aku sudah lapar. Louis meraih apron dan memakainya pada Bella. Menatap Louis dari jarak dekat membuat jantung Bella berdetak lebih cepat. 


"Hahaha merah sekali wajahmu," ledek Louis, memberikan kecupan singkat di kening Bella kemudian sibuk mencuci udang, sayur, dan buah.


"Ihh Louis! Kau menyebalkan!"pekik Bella kesal. 


"Hahaha." Louis malah tertawa. Sesaat mereka malah perang air di wastafel. Tertawa lepas yang kembali  menarik perhatian pelayan. Mereka saling bisik penasaran tentang hubungan Louis dan Bella. 


"Aunty Aka lapar!" Teriakan itu menghentikan aktivitas Louis dan Bella.


Keduanya tertawa melihat wajah kesal Arka dan mulai memasak. Louis bagian potong memotong sedangkan Bella yang memasak. Setengah jam kemudian, menu sederhana udang asam manis, serta capcai bunga kol, wortel, dan hati ayam selesai. Louis juga selesai dengan jus apel favoritnya dan Bella.


*


*


*


"Kak langsung pulang?"tanya Bella setelah makan siang. Louis melihat jam tangannya.


"Tidak, setelah menikmati senja aku baru pulang," jawab Louis.


"Hm apa tidak menganggu pekerjaanmu ah aku belum bertanya padamu, Kak. Kakak sengaja dari Jerman kemari hanya untuk menemuiku?"


"Tidak sepenuhnya benar. Aku kemari setelah urusanku di Singapura selesai."


Bella menyipitkan matanya. "Ah baik-baik. Sebenarnya ini jadwalnya kak Leo, tapi aku mengajukan diri untuk menggantikannya. Hehehe."


Bella mendengus senyum, "lalu di mana Carl? Kakak tinggal sendiri di pesawat?"


"Tentu! Untuk apa dia ikut? Mengganggu saja. Jika aku tidak menonaktifkan ponselku pasti dia sudah menganggu waktu kita. Biarkan saja dia jadi penunggu pesawat, biar nggak digondol maling," sahut Louis acuh.


"Bagaimana jika ada hal yang penting?"


"Aaaah Abel, apa gunanya sebagai sekretaris jika tidak bisa mengatur urusanku? Lagipula urusanku padamu lebih penting daripada urusan lainnya. Waktu kita tak senilai dengan meeting apapun. Lagi ada Kak Leo di sana."


Bella tersenyum mendengarnya. Ya begitulah Louis jika sudah menghabiskan waktu bersama Bella. 


*


*


*


Sementara di pesawat, Carl kelimpungan sendiri. Dasar Louis sudah dikatakan jangan lupa waktu malah semakin dibuat. 


Apa dia tidak tahu jauhnya Indonesia dan Jerman? Dan besok banyak meeting penting yang harus dihadiri oleh Louis. Malah ponselnya mati lagi, pasti dia sengaja! Dan ponsel Bella, ah pasti disuruh dimatikan juga. Malah ia tidak tahu lagi kemana perginya mereka.


Carl yang menekuk wajahnya, mengomel tiada henti. Nasib jadi sekretaris, selalu jadi tameng untuk tuannya. Disuruh menunggu dalam kebosanan. Tidak ada yang bisa dijadikan teman bicara. Para pramugari malah izin untuk mencari makanan. 


Ah Carl yang malang, malah perutnya lapar lagi. Untung saja pramugari cepat kembali dengan membawa aneka makanan. Carl langsung keluar pesawat mencari sesuatu untuk memuaskan rasa laparnya. Orang kesal memang terkadang pelupa, padahal di pesawat banyak makanan, kan pesawat pribadi.


***


Bella menatap datar layar ponselnya, pesan dari Ken yang mengatakan bahwa malam ini ia menginap di rumah Cia. Bella tidak ambil pusing dan membalasnya singkat, ya.


"My Abel." Louis datang dengan membawa dua cup kopi, memberikan satu pada Bella.


"Memikirkan apa?"tanya Louis penasaran karena sesaat ia menangkap raut kesal Bella.


"Hm?"


"Nggak mau cerita?" Louis menatap Bella lembut. Bella memalingkan wajahnya menatap pantai dengan langit yang berwarna jingga. Mereka duduk di pantai untuk menikmati matahari terbenam.


"Bukan." Wajah Bella menjadi sendu.


"Lalu?"


"Aku hanya merasa enggan berpisah denganmu. Satu hari rasanya terlalu cepat, bahkan rasa rindu ini masih begitu besar," jawab Bella.


"Benarkah?"


"Ya."


"Tenanglah. Tabung saja semua rasa rindumu padaku. Sebulan lagi kita akan bertemu lagi, di Bali," ucap Louis, merangkul Bella. Ia ikut menatap pantai.


"Jadi rencana darmawisata itu jadi?"


"Benar. Sahabatmu, dia bahkan sangat bekerja keras untuk bisa memenangkan tender. Padahalkan menang tidak menang tetap akan pergi. Tapi tak apa, biar dia tetap bekerja keras nggak malas-malasan."


"Wow kalau gitu kalau menang aku dapat bagian ya."


Tuk.


"Dasar mata hijau!"


Bella mencembikkan bibirnya. "Kan aku jadi motivasi buat menang."


"Hahaha apa kau kekurangan uang?"


"Hm tidak sih."


"Baiklah … baiklah. Nanti kalau menang akan aku kirimkan bagianmu."


"Eh? Tidak aku hanya bercanda."


"Bagiku itu serius!"


Bella tidak menjawab. Matanya kini terpaku menatap matahari yang mulai tenggelam. Louis menarik bahu Bella akan bersandar padanya. Bella tidak menolak, malah membalas rangkulan memeluk pinggang Louis.


Lengkap sudah lirik lagu di atas.


...Berboncengan denganmu...


...Mengelilingi kota...


...Menikmati surya perlahan menghilang...


Ditambah dengan


...Hingga kejamnya waktu...


...Menarik paksa kau dari pelukku...


Dan kini harus menabung rindu untuk bertemu sebulan kemudian. Entahlah, apakah sebulan kemudian mereka masih bisa romantis seperti ini atau Bella yang mulai menjaga jarak atau bisa jadi juga Louis tahu Bella sudah menikah.


...****************...


...****************...


...****************...


...Jayalah Negriku...


...Bangkitlah Bangsaku...


...Dirgahayu Indonesiaku....