This Is Our Love

This Is Our Love
Penyergapan



Huh ... club memang menjijikkan, umpat Bella, melangkah cepat melewati orang-orang yang tengah menari dan tak segan bercumbu mesra.


Bella kini duduk di depan meja bartender, penampilannya yang mengenakan jaket hitam dan topi tak terlalu menarik perhatian.


"Minum Nona?"tanya bartender tersebut, ramah. 


"No!"jawab Bella, kemudian mengirim pesan pada kekasih Nesya. "It's okay." Bartender itu mengangguk dan melayani pengunjung yang mampir ke mejanya.


Aku sudah sampai, di mana kau?


Ting.  Balasan dengan cepat datang.


Ruang bawah tanah.


Ruang bawah tanah? batin Bella, semakin penasaran. Akan tetapi ia tidak tahu pintu masuknya, bertanya sama saja memancing kerugian. 


Aku tidak ingin kesana. Belakang ini kepalaku pusing mendengar suara berisik diskotik, keluarlah, kita bertemu di samping club.


Hahaha? Kau kenapa Baby? Tidak biasanya. Tapi baiklah, aku akan kesana. Tunggu sebentar ya.


Huh!


Bella menggertakkan giginya kemudian dengan cepat keluar. Tiba di luar club, Bella mengirim pesan pada Gio.


Kini Bella berada di samping club. Sebuah gang dengan pencahayaan redup, cocok bagi Bella mengelabui kekasih Nesya.


"Baby, kemana saja kau? Aku sangat merindukanmu." 


Bella terperanjat kala ada seseorang yang memeluknya dari belakang, meletakkan rahangnya pada bahu Bella. Suara itu serak, lembut, juga menggoda.


"Hm wangimu berbeda. Kau ganti parfum?" Bella menahan diri untuk tidak memukul kekasih Neysa itu.


"Penampilanmu juga berbeda. Gaya hitam ini bukan gayamu. Kenapa hm? Juga topi ini, lepaskan saja."


Dengan tetap memeluk Bella dari belakang, satu tangan melepaskan topi Bella.


"Jilbab? Sejak kapan kamu menggunakannya lagi? Lepaskan saja! Ini menutupi kecantikanmu." Nadanya kesal, hendak melepas jilbab Bella. Bella langsung menahannya. 


Menutupi kecantikan matamu! Dasar pria tak bermoral. Semakin lama moral semakin menurun, huh!


Kekasih Nesya, ah tidak Reyhan terkejut.


"Ada apa, Baby? Kau tidak bicara padaku, biasanya kau langsung memeluk dan memberiku ciuman. Katakan padaku, ada apa hm?" Memberi kecupan pada pucuk kepala Bella.


Bella menggeleng. Menghempaskan tangan Reyhan kasar.


"Ada yang ingin aku katakan!" Pria itu mengernyit dengan nada bicara Bella. Tentu saja, Nesya berbicara lembut dan menggoda padanya sedangkan Bella datar dan tegas.


"Kau bukan Nesya! Siapa kau!" Pria itu langsung melepaskan pelukannya, ah tidak Bella lah yang lebih dulu menghempaskan tangan itu karena merayap naik ke dadanya.


"Peka juga!" Bella berbalik tersenyum miring dan langsung memberikan sebuah hadiah berupa tendangan. Reyhan tersungkur karena belum siap. Bella tak melepas kesempatan dan langsung menginjak tangan serta mencengkeram dagu Reyhan. Tak lupa memberikan serangan lagi berupa kejut listrik. Reyhan terdiam beberapa saat, tubuhnya memegang dan perlahan lemas. Matanya menatap sengit Bella. 


"Uhh brengs*k! Siapa kau! Ahhhhhh!"


Pria itu mengumpat sekaligus merintih sakit. Bella terkekeh. Biarpun suaranya kecil, tetap lekat dengan kemarahan.


Bugh!


Bella memukul keras kepala Reyhan. 


"Sialan!"


Bugh. Kembali memukul.


"Aku? Bisa kau menebaknya?"


"Ah sialan! Lepaskan aku! Ku bunuh kau!" 


Bugh! Satu pukulan lagi mendarat pada kepala Reyhan. Pria itu kini hanya bisa mengerjap lemas. Diam tidak berkutik.


Sialan! Siapa wanita ini? Tenaganya kuat sekali!


Bella dengan cepat mengerahkan kekuatannya, mengikat kaki dan tangan Reyhan dengan borgol yang didapatkan dari Gio.


"Wah ancamanmu mengerikan sekali, Reyhan Budiono! Hanya saja itu tidak mempan denganku. Juga dengan kondisimu ini, sanggupkah kau membunuhku? Ah Aku tidak ingin basa basi lagi, apa kau yang menghamili adikku?!"


Bella melepaskan tangan Reyhan. Pria itu meringis sakit, tangannya terasa sangat sakit.


"Siapa adikmu? Aku tidak mengenalnya!" Dengan kepala yang masih pusing, Reyhan menjawab dengan lemah. Bella tersenyum miring, masih mendengar nada geram.


"Nesya Aruna Candra. Kau tidak mengenalnya? Bajing* an!"geram Bella, memberikan tamparan keras pada Reyhan.


"Kau kakaknya Nesya?" Tidak percaya. Matanya bergerak tidak teratur, kemudian ia memucat.


"Nesya hamil?"


"Apa kau yang melakukannya?"


"Tapi aku tidak pernah menghamilinya!"bantah Reyhan. Bella yang geram menunggu jawaban yang tidak pasti, malah jawaban yang membuatnya semakin marah langsung menjambak rambut Reyhan.


"Jawab dengan jujur! Kau adalah satu-satunya kekasih Neysa! Apa kau pikir adikku serendah itu selingkuh darimu hah! Adikku berubah seperti ini banyak sedikit adalah pengaruh darimu! Jawab atau aku tak segan merobek mulutmu!"


Gio yang berdiri tak jauh dari mereka berdua, mengamati dalam diam tertegun. 


Cantik tapi berbahaya. Sepertinya Bella memang tak butuh bantuanku. 


"Aghggkkk!"


"Aku, aku jawab! Aku akan jujur!" Reyhan menyerah setelah Bella menginjak dengan kejam aset berharganya.


Gio yang melihatnya langsung saja menutupi area terlarangnya yang ditutupi oleh celana. Ia menelan ludah kasar, wajahnya pias kala Bella melirik tajam ke arahnya.


Sebenarnya siapa Bella ini?batin Gio.


"Katakan!"


"A-aku memang kekasihnya, tapi aku jarang menyentuhnya! Anak itu bukan anakku, aku tidak pernah menghamilinya! Aku bisa membuktikan ucapanku. Kita bisa tes DNA!"jawab Reyhan terbata-bata.


"Hm?"


Berani juga. 


"Lantas?"


"Bu-bukan hanya aku yang menyentuhnya!"


"Kau …." Ucapan Bella terhenti. Matanya bergerak tak beraturan. 


Deg!


Bella mundur beberapa langkah, menunduk dengan hati tak karuan. 


"Tidak! Adikku tidak mungkin serendah itu! Kau bajing*an sialan! Kepar*t! Kau pantas mati!"raung Bella penuh amarah, melayangkan tendangan pada Reyhan.


Bugh.


Setengguk darah Reyhan keluarkan dan ia pun tak sadarkan diri. 


"Hentikan Bella! Jangan kotori tanganmu dengan membunuh!"tahan Gio, langsung memeluk Bella yang masih kental dengan amarah, menatap sengit Reyhan.


"Lepaskan!"bentak Bella, meronta. Gio yang punya tenaga besar tetap memeluk Bella dari belakang. 


Membisikkan kata menenangkan. Perlahan, amarah Bella mulai luntur. Nafasnya menderu dan Bella pun terduduk lemas.


"Tenanglah. Jangan buat dirimu dalam masalah. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini sesuai dengan hukum. Tenanglah, kendalikan dirimu, Bella!"tutur Gio sembari mengelus punggung Bella.


"Hmph!" Bella berdiri dibantu oleh Gio. Dengan langkah gontai pergi menjauh.


Gio ingin mengejar akan tetapi buronan ada di depan mata. Dengan segera Gio menghubungi bawahannya untuk membawa Reyhan. Selagi menunggu bawahannya datang, Gio berdecak kasihan pada Reyhan. Lihatlah saja, wajah yang tampan itu berubah menyedihkan dengan tubuh penuh luka.


Bella berjalan tanpa mempedulikan sekitar yang tengah heboh dengan razia Club yang membuahkan hasil. Ruangan bawah tanah digeledah dan seperti dugaan yang selama ini tak terbukti kini terbukti. Puluhan orang diamankan atas kasus narkoba juga prostitusi. Kiloan ganda, sabu, dan ratusan pil ekstasi diamankan. Bagian yang terkait panen besar makan ini. 


"Bella tunggu!"panggil Gio mengejar langkah Bella. Bella tetap berjalan, baru berhenti saat berada di samping motornya.


"Hm?"


"Kondisimu sedang tidak baik. Aku akan mengantarmu pulang," ujar Gio.


"Tidak perlu. Aku baik - baik saja." 


Guncangan yang Bella alami saat ini masih jauh dari guncangan saat Bella tahu Nesya hamil dan sakit. 


"Tidak papa. Jangan segan, aku akan memboncengmu!" Gio tetap kekeh, dan tanpa izin naik ke motor Bella. Mata Bella menyipit kesal. Sedangkan Gio, malah tersenyum lebar seraya mengenakan helm


Hah … sudahlah.


Bella malas berdebat. Bella segera naik, kedua tangan berada di kedua paha, tidak sedikitpun berniat memegang baju ataupun memeluk Gio. 


Setelah menyebutkan alamatnya, Gio segera meninggalkan area terlarang ini.


"Eh? Pak Gio! Pak! Jangan pergi!"teriak salah satu bawahan Gio. Menatap kesal Gio yang sudah menjauh.


Sialan! Pak Gio malah PDKT sama cewek cantik. Nggak nyadar apa sudah punya tunangan?!gerutunya dalam hati.


Di perjalanan, suasana begitu hening, keduanya tidak berbicara. Hanya deru kendaraan yang mewarnai perjalanan.


Pikiran Bella melalang buana. Gio sendiri malah tersenyum lebar. Hatinya berdebar kencang berboncengan dengan Bella. 


Biarlah. Aku ingin egois sejenak. 


Hah.


Begini juga tidak masalah. Ada atau tidaknya ayah anak itu, tidak bisa mengubah fakta bahwa anak itu adalah hasil perzinaan. Lagipula, tanpa ayah akupun bisa merawatnya kelak. 


Ya inilah dukanya anak di luar nikah. Tak punya kekuatan di pihak ayah. Bella memejamkan matanya, tanpa sadar tertidur dan bersandar pada punggung Gio. 


Gio terperanjat, melirik kaca spion.


"Tidur?"


Ya tidurlah yang nyenyak.


Gio berhenti sejenak untuk membuat tangan Bella melingkar pada pinggangnya. Kemudian kembali melaju dengan kecepatan pelan, juga sengaja memilih rute yang jauh. 


Hatinya bahagia. Bisa menghabiskan waktu bersama Bella di bawah sinaran lampu ibukota.


Aku jatuh cinta?