
Ken kembali sebelum jam makan siang. Ia sedikit kesal karena Bella mengabaikan ucapannya. Tapi apa mau dikata? Rahayu juga sudah melarang tapi ditolak mentah-mentah.
Rahayu langsung pamit pulang saat Ken kembali. Ia duduk di samping ranjang Bella yang masih fokus pada pekerjaannya.
"Aru berhenti, dulu. Waktunya makan siang dan kunjungan dokter," ucap Ken.
"Okay."
Bella menyimpan laptop dan berkasnya. Tak lama kemudian, dokter dan dua perawat datang. Satu membawa papan dan kertas untuk mencatat kondisi Bella dan satu lagi membawa makan siang untuk Bella.
Oksigen Bella sudah bisa dilepas. Bella mengembuskan nafas lega, ia sedikit risih dengan selang oksigen yang berada di hidungnya.
"Dokter kapan istri saya bisa pulang?"tanya Ken.
"Besok pagi setelah kunjungan pagi sudah boleh pulang, Tuan Muda," jawab dokter tersebut ramah.
"Nggak bisa sore ini saja, Dok?"tanya Bella berharap ia bisa segera keluar dari rumah sakit.
"No. Ikuti kata Dokter. Besok ya besok!"tegas Ken. Bella mengembungkan pipinya kesal.
Dokter hanya tersenyum kemudian permisi keluar diikuti dua perawat tersebut.
"Aku jenuh di sini, Ken," rengek Bella saat Ken menyuapinya nasi dengan lauk ayam semur.
"Bukankah sedari tadi kau bekerja? Apa bisa merasakan jenuh atau tidak?"heran Ken, tangannya melayang tanpa mendaratkan sendok karena Bella belum membuka mulutnya.
"Tentu bisa. Suasananya sangat berbeda, itu membuatku sulit berkonsentrasi. Lihatlah ruangan ini, tidak ada jendela untuk melihat pemandangan."
Ken mengedarkan pandangannya. Benar, tidak ada jendela, hanya ada ventilasi dan AC sebagai alat untuk sirkulasi udara sekaligus pendingin ruangan. Ken kira asalkan sudah fokus, tempat bukan masalah.
"Kalau begitu tukar kamar dengan yang ada jendelanya," ujar Ken enteng.
"Anda memangnya uangmu? Kemarin saja yang bayar Papa," tanya Bella
Ken diam sejenak, "dari mana kamu tahu?"
"Aku sudah cukup lama mengenalmu," jawab Bella.
"Uangku cukup kok untuk menyewa kamar baru. Ini adalah tanggung jawabku untuk membuatmu nyaman. Aku akan mengurusnya dulu." Ken meletakkan piring makan di atas nakas lalu berdiri.
Bella terkesiap sesaat. Suami berondongnya ini serius? Mata Bella melebar saat Ken mulai melangkah, "tunggu!"
Bella menahan tangan Ken. Ken berbalik, "kenapa, Aru?"tanyanya lembut.
"Tidak perlu. Jangan buang-buang uang karena hal sepele. Aku tidak masalah, kok. Hanya kurang terbiasa saja. Sudahlah, kembalilah duduk. Lagipula hanya sampai besok pagi. Ditemani olehmu juga sudah mengusir rasa jenuhku. Bagaimana jika aku bekerja dan kau belajar?"tutur Bella.
Ken tampak ragu, "kenyamananmu bukan hal sepele, Aru. Sebagai suami aku harus memastikan kenyamananmu. Lagipula uangku lebih dari cukup untuk membayar sewa kamar. Tidak perlu merasa tidak enak."
Ken tahu Bella merasa tidak enak padanya. Memang Ken suaminya, tapi masih hanya sebatas di atas kertas dan ucapan cinta karena Ken belum mampu memenuhi tugasnya sebagai seorang suami.
"Serius, tidak perlu. Duduklah, temani aku!"kekeh Bella. Bella menarik dan memaksakan agar Ken duduk. Ken tercengang, sedang berada di atas ranjang sakit dengan tangan diinfus tapi tenaga Bella masih kuat.
Melihat ketegasan sorot mata tak terbantahkan Bella, Ken mengangguk pelan walau hatinya masih merasa tidak enak.
"Suapi aku. Tanganku rasanya pegal," ucap Bella.
"Baiklah." Ken mulai tersebut saat merasa Bella membutuhkan dirinya. Segera ia menyuapi Bella dengan penuh kelembutan.
*
*
*
"Ken tolong tasku," pinta Bella. Ken yang sedang membaca mengangguk dan membawakan tas Bella pada empunya.
Bella mengambil sesuatu dari tasnya. Dahi Ken mengerut tipis, "kamu mau ganti pembalut?"tanya Ken to the point.
Bella menatap datar Ken, "ya rasanya sudah tidak nyaman," jawab Bella, datar.
"Butuh bantuan?" Bella tertegun. Hei walaupun Bella tidak malu ataupun canggung saat Ken bertanya ia hendak ganti pembalut, bukan berarti Bella tidak malu jika dibantu oleh Ken. Bukankah sama saja dengan melihat area pribadinya? Okay, sudah sah, tapi bukan waktunya.
"No. Aku bisa sendiri." Bella bukan sakit karena kecelakaan, bukan juga baru menjalani operasi atau terkena penyakit parah, ya walaupun reaksi alerginya kemarin cenderung parah tapi bukan berarti ia tidak bisa melakukan apapun yang biasa ia lakukan sendiri.
"Yakin?" Sama sekali tidak ada raut menggoda. Ken jelas-jelas cemas dengan Bella.
"Yakin!" Bella tanpa kesulitan turun dari ranjang dan mengambil botol infusnya.
"Aku bantu, ya." Ken masih cemas dan berharap Bella membiarkannya membantu Bella. Ia mengikuti hingga ke depan pintu kamar mandi.
"Suamiku, aku bisa sendiri. Jika aku butuh bantuan pasti aku akan mengatakannya," tolak Bella, menutup rapat pintu kamar mandi.
Ahhh … mengapa rasanya aku suami yang tidak becus ya? Aru masuk rumah sakit karenaku dan saat sakit pun aku tidak bisa memberinya kenyamanan kamar. Apa karena aku tidak punya penghasilan?
Ya begitulah jika punya istri yang terbiasa mandiri.
Ceklek!
"Pekerjaanku hari ini sudah selesai. Aku bosan di kamar saja. Temani aku ke rooftop," ujar Bella.
"Rooftop?"
"Yap menikmati senja dan keramaian kota," sahut Bella.
"Ya sudah. Sini infusnya biar aku yang bawa." Ken membawa botol infus Bella. Sebelum keluar kamar, Bella mengambil ponselnya sementara Ken mengambil jaketnya.
*
*
*
Rona jingga menghiasi langit, matahari mulai merangkak terbenam di ufuk barat. Semilir angin menerpa wajah Ken dan Bella yang melihat keramaian menjelang malam dari atas rooftop rumah sakit enam lantai ini. Lampu jalan mulai menyala, diikuti lampu aneka bangunan.
Sorot lampu kendaraan ikut serta memeriahkan hingar bingar jalanan ibu kota. Toko-toko mulai tutup satu persatu.
Bella menumpukan kedua lengannya pada pagar besi pembatas rooftop. Matanya terpejam, senyum lembut ia sunggingkan. Ken tidak menikmati langit senja, ia terpaku menatap wajah Bella yang berseri di bawah sinar mentari sore.
Bibir yang tetap merah walau tanpa pemerah bibir, bulu mata yang cenderung lentik dan hidung yang proposional. Wajah cantik natural tanpa sentuhan make up.
Bella menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Matanya terbuka, menoleh tiba-tiba pada Ken. Ken yang tertangkap basah sedang memandangi wajah sang istri menjadi salah tingkah. Wajahnya memerah dan menatap lurus ke depan. Walau begitu ia tidak bisa berhenti melirik Bella yang tersenyum lebar.
Bella kemudian tertawa tanpa suara. Suasana hatinya sedang baik.
"Saat di luar negeri, aku hanya seorang diri tanpa sana saudara. Adik dan nenekku sangat jauh dariku. Untuk berkomunikasi saja sulit karena perbedaan waktu. Saat itu aku belum mengenal siapapun di Amerika. Tidak ada ucapan semangat seperti yang biasa aku dapatkan dari nenek saat zaman SMA dulu. Alhasil aku menyemangati diriku sendiri saat keluar dari kamar asramaku," ungkap Bella, mulai bercerita tentang masa lalunya. Ken mendengarkan dengan serius.
"Apa itu?"
"Kau mau tahu?" Bella menoleh pada Ken. Ken mengangguk.
"Sambut mentari pagi dengan secercah harapan. Kobarkan semangat untuk menggapai harapan seperti terik matahari di langit. Akhiri harapanmu dengan hasil yang manis seperti senja yang menutup hari."
Ken mencerna sedangkan Bella kembali menatap langit senja.
"Tapi bagaimana jika akhirnya tak semanis senja?"
"Lapangkan dada sama seperti senja yang tidak pernah marah walaupun cuaca tidak mendukungnya untuk memberi penutup hari yang manis. Sesungguhnya hidup ini tidaklah sulit. Yang sulit hanyalah tetap berpegang teguh pada prinsip dan ketetapan hati. Kenapa? Karena jika semua berpegang teguh pada prinsip dan jalan hidup yang ditunjukkan oleh Sang Pencipta, tidak mungkin ada angkara murka di dunia ini. Banyak tipe manusia di dunia ini, sejalan dengan banyaknya sifat manusia," jawab Bella tenang.
"Lantas bagaimana sikapmu jika tiada mentari sepanjang hari?" Ken malah semakin tertarik berbicara tentang kehidupan dengan Bella.
"Matahari akan tetap bersinar sampai hari akhir. Begitu juga dengan harapan yang tidak pernah mati sebelum akhir kehidupan. Cobaan dan ujian adalah hal lumrah bagi manusia. Dan harapanku tidak akan pernah walaupun mentari tidak menunjukkan sinarnya sepanjang hari. Hatiku telah ditempa sejak kecil, Ken. Aku bukan wanita lemah. Halang rintang, suka suka sudah ku anggap dan memang bagian dari kisahku. Dan akhir sudah ditentukan, kita hanya sedang menjalani skenario yang ditulis oleh Sang Pencipta. Bukankah dunia ini disebut sebagai panggung sandiwara?"
Ken langsung terusik saat mendengar dunia adalah panggung sandiwara. "Aku benar-benar mencintaimu! Aku sedang tidak bersandiwara!" Ken langsung menggenggam erat jemari Bella.
"Hahaha jangan tersinggung. Aku percaya padamu. Aku hanya mengingat sebuah lirik lagu. Sudahlah jangan bahas hal itu lagi."
Bella mencubit pipi Ken yang masam itu. "Tanganmu! Jangan gunakan tangan kiri!"
"Okay."
Bella menurunkan tangan kirinya. Suasana hening sejenak. Keduanya tenggelam dalam pemikiran masing-masing.
"Aru … boleh aku tanya sesuatu?"tanya Ken, setelah memantapkan hati walau masih ragu.
"Ya." Jawaban singkat, menatap suaminya.
"Bagaimana ceritanya kau bisa menjadi anak angkat keluarga Kalendra dan bagaimana ceritanya kau bisa jatuh cinta pada Louis?" Rasa penasaran menggelitik hati Ken. Tapi sebelumnya rasa bersalah dan gengsi bertahta tinggi di hati Ken. Kini mereka suka berbaikan dan saling mengungkap perasaan. Tak ada salahnya menanyakan tentang cinta pertama Bella.
Bella menghela nafasnya. "Singkatnya saat itu aku menyelamatkan cucu keluarga Kalendra yang tengah kekurangan darah. Kau pasti tak heran lagi dengan golongan darah langka anggota keluarga terpandang. Ya itulah awal mula aku masuk ke keluarga Kalendra …."
"Golongan darah langka dan kau memilikinya? Aru bukanlah itu pantas dipertanyakan?"sela Ken.
"Langka bukan berarti setiap yang memiliki golongan darah itu satu keluarga bukan?"tanya balik Bella.
Ken tidak menjawab lagi. Ia juga tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
"Dan cinta? Jatuh cinta tidak bisa diatur kapan dan pada siapa hati berlabuh. Cinta hadir tanpa diduga, terkadang juga pergi tanpa pamit."
"Haha seperti jalangkung saja," kekeh Ken menanggapi ucapan serius Bella. Bella ikut terkekeh.
"Aru …," panggil Ken lembut.
"Ya?"
"Tolong jangan pernah tinggalkan aku," pinta Ken.
"Tenanglah. Aku akan selalu berada di sampingmu. Dan kau juga harus berjanji jangan pernah tinggalkan aku kalau tidak jangan salahkan aku jika aku berpaling!"pinta sekaligus ancam Bella.
Ken langsung membawa Bella dalam pelukannya. Ken menyembunyikan wajahnya pada ceruk Bella.
"Kau hanya menggertak, Aru. Kau pernah berjanji dan bersumpah pada dirimu sendiri bahwa kau hanya menikah sekali seumur hidup!"keluh Ken yang disambut tawa renyah Bella.