
Rainy mengangkat pisau dapur di tangan kirinya hingga berada di depan wajahnya, siap untuk menebas apa saja yang akan menyerangnya begitu ia sampai di depan kamar Raka. Benar saja, sebelum Rainy sempat mencapai depan kamar Raka, sesuatu bergerak dengan cepat menuju kearahnya.
Rainy menemukan dirinya sedang bertatapan dengan seorang nenek yang berwajah sangat bengis dan mulut berlumuran darah. Mata Rainy terbelalak dan tangannya langsung bergerak dengan refleks untuk menutupi wajahnya ketika ia melihat wajah nenek tersebut menjadi semakin besar dan semakin besar, menandakan posisinya yang semakin dekat. Namun tepat ketika kepala Nenek tersebut hampir mencapai wajahnya, suara pintu yang dibuka dengan kasar tampaknya mengejutkan sang nenek. Nenek tersebut langsung mengganti haluannya dan bergerak naik ke lantai dua, lalu menghilang ke dalam loft yang ditempati Raka. Pada saat itulah Rainy baru menyadari bahwa yang hampir menyerangnya barusan bukan hanya sekedar seorang nenek, namun sebuah kepala milik seorang nenek yang tidak memiliki tubuh, namun hanya memiliki organ dalam yang bergantungan pada lehernya. Kuyang! Pekik Rainy dalam hati dengan terkejut.
Rainy hampir terlompat ketika seseorang menyentuh bahunya dari belakang. Ketika menoleh Rainy bertatapan dengan Arka yang sedang menatapnya dengan kening berkerut karena khawatir. Rainy menarik nafas lega dan menyandarkan tubuhnya pada sepupunya itu.
"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Arka. Rainy mengangguk.
"Apakah Kuyang tersebut masuk kemari?" tanya Arka lagi. Saat itulah Rainy menyadari bahwa keributan diluar disebabkan oleh penduduk yang sedang mengejar Kuyang tadi. Apabila dilihat dari darah yang menodai wajahnya, dapat dipastikan bahwa Nenek Kuyang tersebut baru saja menyerang penduduk yang tidak waspada. Rainy mengangguk.
"Ia lari kesana." Rainy menunjuk ke arah lantai 2.
"Beritahu Raka!" perintah Arka tegas. Tanpa menunggu lagi, Arka mengambil pisau dari tangan Rainy dan berjalan cepat menaiki tangga.
"Hati-hati!" Ucap Rainy dengan khawatir. Apabila yang datang malam ini adalah jin atau iblis, Rainy masih memiliki keyakinan akan mampu menghadapi mereka dengan mudah. Namun Kuyang bukanlah mahluk tidak kasat mata. Rainy tidak yakin bahwa Api dalam tubuhnya memiliki kemampuan membunuh Kuyang.
Arka mengangguk dan tak lama kemudian menghilang dari pandangan Rainy saat ia sampai di lantai 2. Rainy mengambil telepon genggamnya dan menghubungi Raka sambil membuka lemari di dalam kamarnya dan menarik keluar belati perak kesayangannya dari dalam tas. Ia sudah hendak berjalan keluar kamar, ketika Raka mengangkat teleponnya.
"Rain?" Suara Raka terdengar diantara suara angin laut yang deras. Rupanya mereka masih mencari Nenek Kuyang di area pantai.
"Raka, kuyang itu ada disini! Ia masuk ke paviliun kita!" beritahu Rainy dengan nada mendesak.
Begitu sampai di Loft, ia melihat Arka sedang berdiri berhadap-hadapan dengan Nenek Kuyang. Arka sedang berdiri di depan tangga, sedangkan Nenek Kuyang itu sedang melayang diam di depan dinding terjauh dari tangga. Nenek itu memandang Arka dengan bengis. Rambutnya yang panjang tampak acak-acakan dan darah menetes dari mulutnya yang berlumuran darah. Organ-organ dalam tubuhnya yang menggantung mengeluarkan cahaya redup berwarna oranye kemerahan, seperti warna api pada arang yang sedang membara. Tubuhnya melayang rendah, dalam posisi kepala yang sejajar dengan kepala Arka, tampak siap untuk menyerang atau siap untuk melarikan diri, terserah yang mana yang dianggapnya paling menguntungkan. Mata Nenek Kuyang tersebut bergerak ke arah Rainy, ketika Rainy muncul di belakang Arka. Rainy berjalan mendekati Arka dan berdiri di belakangnya. Ia mengamati si Nenek Kuyang dengan penuh rasa tertarik. Ini adalah kali pertama Rainy berhadapan dengan Kuyang sehingga ia jujur saja merasa sangat tertarik.
Kuyang adalah entitas yang sangat melegenda di tanah Kalimantan. Menurut alkisahnya, Kuyang adalah merupakan mahluk yang dihasilkan oleh sebuah ilmu hitam yang berguna untuk memperpanjang usia, mempertahankan kecantikan bagi wanita dan meningkatkan kejantanan bagi laki-laki. Ilmu ini menyebabkan pelakunya merasakan hasrat yang tidak tertahankan untuk menghisap darah. Pelakunya kemudian mengoleskan minyak Kawiyang atau minyak Sembulit ke lehernya yang berguna untuk memutuskan leher tersebut dari kepalanya. Tubuh Kuyang lalu disembunyikan di belakang pintu kamar, atau dibawah kolong rumah panggung, sementara kepalanya beserta organ dalam tubuhnya, terbang keluar untuk mencari mangsa.
Kuyang sangat suka makan ari-ari bayi, menghisap darah bayi atau menghisap darah wanita yang sedang hamil. Lalu yang paling menjijikan, ketika ia tidak berhasil menemukan wanita hamil atau bayi yang baru dilahirkan, konon ia tidak segan menghisap darah menstruasi wanita. Membuatnya masuk ke dalam daftar mahluk paling menjijikan di mata Rainy, di posisi yang lebih rendah dari lintah dan kecoak. Well, setidaknya Rainy tahu pasti manusia mana yang tidak pantas dianggap sebagai manusia.
Hal yang paling buruk dari Kuyang adalah bahwa ilmu ini harus diturunkan kepada keturunannya tak perduli apakah keturunannya itu bersedia atau tidak. Selain itu berita yang beredar mengatakan bahwa ilmu hitam ini sulit untuk dilepaskan. Membuat Kuyang bukan saja menjadi teror bagi orang lain, tapi juga bagi keturunannya sendiri yang tidak bersedia meneruskan ilmu tersebut.
Nenek tersebut menyeringai pada Arka dengan bengis. Tak terlihat ada sedikitpun kesadaran pada matanya yang melotot tajam. Tampaknya saat menjadi Kuyang, pelakunya tidak lagi memiliki kemampuan untuk berpikir dan hanya bertindak mengikuti instingnya saja. Saat ini instingnya pasti sedang mendorongnya untuk mencari makanan.
Rainy ingat bahwa dalam sebuah cerita tentang Kuyang yang pernah di bacanya tertulis penjelasan bahwa bila Kuyang tidak berhasil memperoleh ari-ari bayi, darah bayi atau darah wanita hamil, ia juga tidak keberatan untuk meminum darah orang. Dan saat ini di hadapannya berdiri 2 manusia bertubuh sehat yang sudah pasti dialiri oleh darah segar. Kuyang tersebut menjulurkan lidahnya yang merah untuk menjilat bibirnya dan berdecak keras, membuat Rainy menyipitkan matanya dengan geram.
Beraninya mahluk menjijikan ini menginginkan darah sepupu kesayangannya! Tidak apa-apa kalau ia menginginkan darah Rainy karena walaupun Rainy tidak yakin apinya mampu membunuh si Kuyang, namun setidaknya darahnya akan memiliki efek beracun bagi mahluk terkutuk tersebut. Belum lagi fakta bahwa setiap kali Rainy berada dalam kondisi bahaya, Lilith atau Lilian tidak akan hanya duduk diam dan membiarkan Rainy jatuh ke tangan mahluk yang lebih rendah dari mereka. Tapi hal yang sama tidak akan berlalu bagi Arka. Arka hanya manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan supranatural serta tidak memiliki bodyguard yang tidak kasat mata. Itu sebabnya Rainy harus melindunginya!
Dengan sigap Rainy maju ke depan Arka dan menutupi tubuh Arka dengan tubuhnya, sama sekali tidak memperdulikan protes pria itu. Rainy memandang Nenek Kuyang dengan tatapan dingin dan berkata lantang,
"Hei kau mahluk terkutuk, kalau kau berani, ayo hadapi aku!"
Copyright @FreyaCesare