
Jam 5 pagi, seperti biasa seluruh anggota tim berkumpul untuk latihan pagi. Saat tiba di tempat yang telah ditentukan, Rainy menggelengkan kepalanya. 2 garis hitam muncul mengotori dahinya yang indah.
"Aku meminta agar dibuatkan sasana tarung di salah satu ruangan resort yang tidak terpakai, namun mengapa malah membuat ini, dan disini?" protesnya. Rainy memandang Octagon Cage besar yang berada di hadapannya dengan mulut terbuka. Octagon Cage tersebut, sesuai namanya, berbentuk kandang persegi delapan berdiameter 9 m dengan dinding setinggi 2 meter dan ring yang di cat dengan warna hitam mengkilat. Lantainya dilapisi oleh matras berwarna hitam layaknya matras yang biasa mereka gunakan di sasana tarung. Persis seperti Octagon Cage yang digunakan di MMA. All is great. Rainy suka melihat penampilannya. Namun lokasi tempat Octagon Cage tersebut berada sungguh membuatnya ingin menarik telinga siapapun yang telah memberikan ide ini pada Raka. Octagon Cage ini diletakkan tepat di pantai terbuka, bersebelahan dengan lapangan volley pantai dan berhadapan dengan Gym. Di sebelah octagon cage tersebut, terdapat sebuah arena yang lebih kecil, yang hanya berupa matras hitam besar yang menutupi pasir pantai. Dugaan Rainy matras ini dimaksudkan untuk menjadi tempat latihan tambahan ketika octagon cage sedang digunakan.
"Bagaimana menurutmu? Bukankah dia sangat cantik?" tanya Ivan dengan bangga.
"Apakah ini idemu?" tanya Rainy.
"Emm. Aku selalu ingin punya ini, tapi tak ada cukup ruang untuk menaruhnya di gym kita." sahut Ivan. "Bagaimana menurutmu?"
"Kenapa aku gak diberi tahu kalau kalian mau menaruhnya di ruang terbuka begini?"
"Aku sudah memberitahumu, sepupu sayang. Kita membicarakan dalam rapat. Apa kau lupa? Tapi saat itu kau bilang aku bisa mengaturnya semauku. Lalu inilah hasilnya!" Ivan merentangkan tangannya ke arah ring dengan senang, membuat Rainy mencibir kesal.
"Ini akan menarik perhatian banyak orang." ramal Rainy.
"Well, gak ada salahnya kan. Bisa sekalian memberikan Ace tempat untuk pamer. Siapa tahu bisa membuatnya jadi populer di kalangan para tamu disini." Sahut Ivan dengan ringan. Rainy memandang Ivan dengan mata menyipit. Ace? Jangan bohong! Bukannya kau yang ingin pamer dengan menggunakan ring ini? Rainy benci membayangkan bahwa mereka mungkin akan memiliki penonton setiap kali mereka berlatih menggunakan ring oktagon ini. Raka yang memahami pemikiran Rainy, mengusap kepalanya dengan penuh sayang dan berkata,
"Aku yang menyetujui untuk meletakkan octagon cage ini disini. Benda ini bisa berperan sebagai hiburan tambahan bagi para tamu sekaligus juga sebagai alat untuk mengumumkan bahwa di resort ini terdapat sekelompok ahli bela diri yang bisa memberikan perlindungan kepada para tamu, sehingga bisa menakut-nakuti mereka yang memiliki ide buruk terhadap tamu-tamu resort."
Mendengar penjelasan Raka membuat kening Rainy berkerut. Ia teringat bahwa di awal-awal beroperasinya Cattleya Resort, Meyliana dipusingkan oleh beberapa gangguan dari begal dan orang-orang yang tidak dikenal. Karena letaknya yang jauh dari keramaian, awalnya Cattleya Resort sering menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan. Beberapa kali begal dan berandalan datang ke resort untuk membuat kericuhan dan menagih uang keamanan ilegal. Di saat lain, para penjahat ini bergerombol di jalan-jalan masuk menuju Resort dan menghadang kendaraan yang mengantarkan tamu serta merampas harta benda yang mereka bawa. Raka sampai harus turun tangan langsung dan membantu Meyliana membuat strategi pengamanan. Mereka kemudian menyewa tim keamanan dari kota B dan bekerja sama dengan pihak kepolisian setempat untuk menyingkirkan para begal dan berandalan itu dari sekitar resort. Baru setelah itu Cattleya Resort bisa beroperasi dengan tenang.
"Apakah ada ancaman keamanan lagi?" tanya Rainy.
"Bukan disini, tapi di desa yang tak jauh dari sini." jawab Raka.
"Apa yang terjadi?" Tanya Rainy lagi.
"Kabarnya ada Kuyang yang meneror warga setempat dalam masa 1 tahun belakangan ini." cerita Raka. Bukan hanya Rainy, Bahkan Ivan yang turut mendengarkan terlihat sangat terkejut.
"Kuyang?" tanpa sadar suara Ivan terdengar meninggi.
"Emm. Begitulah Rumornya. Tapi bisa jadi itu hanya rumor." ucap Raka.
"Atau bisa saja itu adalah gosip yang dihembuskan oleh orang jahat yang ingin berbuat kejahatan." sambung Ivan.
"Benar. Aku juga berpendapat begitu. Anyway, I hope this Octagon Cage will do it's job well." kata Raka sambil memandang ke arah Natasha dan Ace yang sedang berlarian mengelilingi Octagon cage layaknya anak kecil yang kegirangan. Membuat yang melihatnya tersenyum geli.
"It should! Kalau nggak dia akan dipreteli dan di pindahkan ke basement!" sahut Rainy dengan sebal. Ia sungguh benci bila berpikir bahwa dirinya mungkin akan jadi bahan tontonan orang banyak setiap kali menggunakan octagon cage.
"Well, kau bisa mulai latihan lebih pagi lagi, saat mayoritas pengunjung resort masih tidur, jadi tidak ada yang menonton." ucap Ivan memberi saran.
"Aku? Mengapa cuma aku? Bagaimana denganmu?" tanya Rainy.
"Oh no no no! Bisa bangun sepagi ini sudah luar biasa bagiku. Kalau bangun lebih pagi lagi aku nggak mampu! Maaf aja deh! Biar kamu saja!" Ivan mengangkat tangannya sambil berjalan mundur, menuju Octagon Cage.
"Look Cousin, there's a new playground for us." ucap Rainy.
"Emm. I see. Let's play." Ajak Arka. Namun Raka menghentikan langkah Rainy dan berkata,
"Biarkan Arka berlatih dengan yang lain, mulai sekarang aku yang akan berlatih denganmu." kata Raka.
"No way! Aku masih ingin duel dengan Arka! Dia masih punya banyak trik yang belum aku lihat." Tolak Rainy keras.
"Tapi..."
"Gak ada tapi! Kau pergi bermain dengan yang lain dulu ya, sayang! Go!" Rainy mendorong Raka ke arah octagon cage, sementara ia dan Arka berjalan menuju matras yang ada disebelahnya. Mendengar panggilan Rainy untuknya, kekesalan Raka langsung menguap dan senyum langsung terukir di bibirnya.
Di atas octagon cage, Ace menyikut Natasha.
"Apakah kau dengar, Boss memanggil Pak Raka dengan sebutan sayang." Bisik Ace. Natasha mengangguk.
"Emm. Nyaring dan jelas." sahut Natasha sambil mengangguk. Mereka berdua mengamati Raka dan Rainy dengan penuh minat.
"Apa kau pikir Boss dan Pak Raka pacaran?" tanya Ace.
"Sepertinya begitu. Tapi bisa juga tidak. Bisa saja itu cuma panggilan akrab saja." sahut Natasha, mencoba menganalisa.
"Apa kau bercanda? Apa kau lupa bagaimana sikap boss sehari-harinya? Orang sedingin dia bagaimana mungkin memberikan panggilan akrab dengan menggunakan kata sayang?" bantah Ace. Yang ada Rainy akan menggunakan kata-kata yang bermakna ejekan seperti yang diberikannya untuk Ace. Panggilan Scooby Doo yang diberikan Rainy buat Ace sungguh membuat pria itu sedih. Apakah dirinya memang sebodoh Scooby Doo? Tanya Ace dalam hati.
"Iya juga ya." sahut Natasha.
Melihat tingkah kedua orang yang berbeda ukuran tubuh itu saling mendekatkan kepala dengan membungkuk untuk bergosip membuat Ivan tersenyum.
"Tak usah menduga-duga, biar kuberi tahu, kedua orang itu adalah pasangan." ucap Ivan dengan semangat bergosip.
"Yang benar?" tanya Ace setengah tak percaya.
"Sejak kapan?" tanya Natasha.
"Sejak mereka masih kecil." Jawab Ivan.
"Hah?"
"Kok nggak kelihatan ya?"
"Itu karena kalian terlalu bodoh jadi tidak bisa melihatnya." ejek Ivan. Membuat Ace dan Natasha merenggut kesal. Boss kecil, kau sungguh menyebalkan! Protes mereka dalam hati. Melihat 1 wajah berukuran besar dan 1 wajah berukuran kecil berdiri berdekatan dan memasang wajah cemberut yang identik membuat Ivan tersenyum geli.
Copyright @FreyaCesare