My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Guru Gilang



Ketika Sekar mengantarkan Herdianti ke kamar, waktu telah menunjukan pukul 11 siang. Mereka masih memiliki waktu 1 jam sebelum mereka harus kembali mengerjakan kasus Herdianti. Rainy dan Raka, membawa serta Arka, si orang baru yang buta akan alam spiritual, menemui Guru Gilang, orang yang mengajari mereka tentang spiritualitas. Guru Gilang adalah seorang pria berusia sekitar 40 tahun, bertubuh tinggi dan atletis, dengan warna kulit terang dan wajah tampan. Rainy mencurigai bahwa Guru Gilang masih memiliki hubungan darah dengan kakeknya, Jaya Bataguh, karena ia memiliki 70 % kemiripan wajah dengan Jaya Bataguh. Namun tak seorangpun pernah membenarkan dugaannya ini. Guru Gilang mengatakan bahwa ia hanyalah seorang yatim piatu yang tidak mengetahui silsilahnya sendiri sehingga ia juga tidak tahu apakah memang ada hubungan darah antara keduanya.


Rainy mengetuk pintu kelas spiritual sebelum membukanya sedikit. Ketika melihat Guru Gilang berada di dalam ruangan, Rainy membuka pintu kelas dengan lebih lebar.


”Assalammu alaikum, Guru.” Sapa ketiganya berbarengan.


“Wa alaikum salam warahmatullah. Masuklah.” Suruh Guru Gilang.


Mengikuti perintah Guru Gilang, mereka bertiga meninggalkan alas kaki diluar pintu dan memasuki ruangan untuk duduk bersama Guru Gilang di atas karpet. Ruang kelas spiritual adalah sebuah ruangan besar yang tidak memiliki banyak perabotan, kecuali setumpuk bantal untuk alas duduk, sebuah papan tulis besar di salah satu dinding, setumpuk meja pendek yang digunakan untuk belajar sambil duduk di lantai dan sebuah lemari yang berisikan buku-buku spiritual dan alat musik tradisional dayak milik Guru Gilang. Salah satu feature yang mencolok dari kelas spiritual adalah karpet tebal yang menutupi seluruh lantainya. Tadinya Guru Gilang hanya meminta lampit untuk di gunakan menutupi lantai. Namun Rainy menolak dan menggantinya dengan karpet tebal yang nyaman. Ia tidak bermaksud memanjakan pegawai. Ia hanya tidak suka bila harus duduk lama di atas lampit yang keras. Untuk meredam protes Guru Gilang, Rainy menekankan dengan tegas pada sang Hostmaster, Nora, untuk memastikan bahwa karpet tersebut di vacuum 3 kali sehari.


Ketika melihat ketiganya berjalan memasuki ruangan setelah ia mempersilahkan mereka masuk, Guru Gilang tersenyum. Saat itu ia sedang duduk di atas karpet sambil membersihkan Sape dari debu dan berpikir hendak memetiknya sebentar, seraya menunggu waktu Adzan dzuhur tiba. Sape adalah sebuah alat musik petik khas suku dayak yang memiliki suara yang unik. Guru Gilang adalah salah satu pemain Sape terbaik yang pernah Rainy dengar. Bahkan suara Sapenya terdengar lebih indah dari suara petikan Sape Kakeknya, Jaya Bataguh.


Rainy sendiri awalnya tidak mengenal Guru Gilang karena saat Guru Gilang menjadi pelatih spiritual di Divisi VII, Rainy sudah pindah ke kota J untuk kuliah. Hubungan di antara mereka baru terbentuk setelah Rainy pulang kembali ke rumah. Rainy memandang Guru Gilang dengan hati hangat. Guru Gilang adalah orang yang paling mudah tersenyum yang pernah dikenal Rainy. Ia juga memiliki hati yang sangat baik yang terpancar dari sikap dan perilakunya. Terhadap Guru Gilang, Rainy memiliki rasa kedekatan yang aneh, mirip rasa yang dimilikinya terhadap kakeknya. Mungkin itu disebabkan oleh karena wajah Guru Gilang yang mirip kakeknya. Tapi rasa yang sama dirasakan juga oleh Rainy pada salah satu pegawainya, yaitu Lara, si Clairvoyant. Tapi mungkin itu karena Lara adalah putri Guru Gilang. Yang jelas, Rainy selalu merasa ayah dan anak ini adalah anggota keluarganya, walaupun mereka tidak memiliki hubungan darah dengannya. Saat memandang Guru Gilang, Rainy berpikir untuk melakukan tes DNA guna memastikan hubungan mereka. Bila benar seperti dugaannya, bahwa mereka memiliki hubungan darah dengannya, Rainy akan bahagia bisa memperoleh keluarga tambahan yang terdiri dari orang-orang yang menyenangkan. Setidaknya itu dapat menggantikan tempat anggota keluarga lainnya yang rasanya ingin sekali tidak diakuinya sebagai keluarga.


Perhatian Guru Gilang pertamakali langsung terfokus pada Arka.


“Jadi sekarang kau bisa melihat.” Tanyanya. Tidak ada nada menghakimi dalam suaranya. Ia hanya menyampaikan fakta saja. Mendengarnya, Arka mengangguk.


“Benar, Guru.”


“Kau terlihat lebih solid.” Ucap Guru Gilang lagi. “Sepertinya bekerja langsung di sebelah Rainy berhasil menguatkan jiwamu.”


Mendengar ini, Rainy mengangkat alisnya.


“Benarkah, Guru? Mengapa saya tidak bisa melihatnya?” Ujar Rainy.


“Apakah kau tidak ingat bagaimana aura Arka sebelumnya?” Tanya Guru Gilang. Rainy mengerutkan keningnya dan berpikir.


“Dia terlihat seperti Void. Sebuah ruang hampa.” Jawab Rainy kemudian.


“Dari sebuah ruang hampa, menjadi sebuah tubuh nyata yang menyerupai fisiknya, apakah itu bukan sebuah perubahan?” Tanya Guru Gilang. Kalimat ini seketika memberikan Rainy pencerahan.


“Tapi Rainy, bukankah aku telah memberitahumu bahayanya membuka mata batin orang lain?” Tegur Guru Gilang pada Rainy. “Ada alasan mengapa Allah tidak memberikan kemampuan untuk melihat kepada semua orang. Setelah kau membuka mata orang lain karena kemarahanmu waktu itu, Guru sudah menegurmu untuk tidak melakukannya. Tapi mengapa sekarang kau melakukannya lagi?”


“Eeeeh…” Rainy sudah hendak mencari alasan, namun Arka memotong kata-katanya.


“Guru, tolong jangan salahkan Rainy! Itu sepenuhnya salah saya. Saya yang mengancam Rainy untuk melakukannya!” Ucap Raka sambil menunduk penuh hormat. Mengancam? Eh, tidak sebegitu buruknya juga.


“Tidak, Guru! Arka sama sekali tidak mengancam! Dia hanya memberikan persuasi yang sangat menyakinkan saja. Benar, Guru!” Ucap Rainy berusaha meyakinkan. Tingkah keduanya membuat Guru Gilang tersenyum geli.


“Kalian ini, aku baru bicara 1 kalimat saja, kalian sudah buru-buru membela satu sama lain. Apakah sebegitu takutnya bahwa Guru akan menghukum kalian?” Tanya Guru Gilang.


Arka hanya diam, namun Rainy menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan melirik pada Raka untuk mencari pertolongan. Raka hanya tersenyum dan mengangguk menenangkan.


“Guru, Saya tahu saya salah. Tapi bekerja tepat di sebelah saya, saya takut apabila Arka tidak bisa melihat, suatu saat nanti ia bisa diserang mahluk tidak kasat mata tanpa ia sadari. Kalau itu terjadi, saya akan merasa sangat bersalah.” Bujuk Rainy.


“Kau ini, selalu saja pintar mencari alasan.” Ucap Guru Gilang geli. “Baiklah. Tapi kau harus berjanji padaku, bahwa sejak saat ini, kau tidak akan pernah membuka mata batin orang lain lagi.” Suruh Guru Gilang.


“Saya berjanji bahwa saya tidak akan membuka mata batin orang lain lagi,” Kecuali bila orang tersebut pantas mata batinnya dibuka lebar-lebar! Sambung Rainy dalam hati.


“Dan menurutmu orang seperti apa yang pantas dibuka mata batinnya lebar-lebar?” Tanya Guru Gilang dengan serius. Mata Rainy langsung terbelalak lebar.


“Gu… Guru… apakah guru baru membaca pikiran saya?” Tanya Rainy takjub.


“Dengan hanya melihat ekspresi wajahmu saja, semua orang yang mengenalmu pasti sudah bisa membaca pikiranmu.” Sahut Guru Gilang, sadar bahwa ia baru saja kelepasan.


“Hmmm? Saya pikir wajah saya cukup poker face.” Sahut Rainy bingung.


“Wajah tanpa ekspresimu itu masih kalah pengalaman denganku yang sudah mempelajari bahasa tubuh sejak muda. Jadi tidak ada gunanya.” Bantah Guru Gilang. Di sebelah keduanya, Arka dan Raka saling memandang. Sepertinya Guru Gilang memiliki kemampuan lebih dari yang mau diakuinya. Sungguh pribadi yang sangat menarik.


Copyright @FreyaCesare