
Mendengar kata-kata ibu kandungnya, Batari hampir tersedak karena geli. Ia telah berbicara dengan Bestari begitu lama, namun tidak pernah sekalipun Bestari bersikap kasar atau mengucapkan kata-kata yang tidak sopan, apalagi yang mengandung sumpah serapah. Siapa sangka ibu kandungnya yang terlihat mungil, tua dan lemah ini memiliki lidah yang tajam saat berbicara pada orang yang menunjukan sikap bermusuhan padanya. Sementara itu, Garan yang menerima sabetan lidah Bestari terlihat menjadi sangat murka. Ia menunjuk ke arah Bestari dengan jarinya.
“Eh nenek tua, bisa tidak berbicara baik-baik?!” Protesnya keras.
“Eh, anak ingusan, bisa tidak bersikap sopan pada orang yang lebih tua? Kamu tidak pernah diajari oleh orangtuamu ya, bahwa menunjuk-nunjuk ke arah orang lain seperti yang kamu lakukan itu sangat kurang ajar?” Balas Bestari dengan suara yang tak kalah keras. Rainy cs saling berpandangan. Perkembangan ini sungguh menarik. Siapa sangka kalau Dr. Batari yang selalu terlihat manis, baik hati dan menggemaskan itu terlahir dari wanita bermulut tajam dan pedas. Pepatah lama itu salah karena ternyata buah tidak selalu jatuh dari pohonnya.
“Kau…” Garan yang meradang langsung melangkah maju, namun Arbain membentangkan tangannya untuk menghalangi langkah Garan. Walaupun terlihat tenang dan biasa-biasa saja, namun sepertinya Arbain adalah pria yang cukup disegani oleh warganya. Terbukti dari kemampuannya untuk mengendalikan Garan yang sudah sangat emosional, hanya dengan gerakan tangannya.
”Maaf Nek, tapi belakangan ini ada Kuyang yang meneror desa ini sehingga warga menjadi sangat sensitif dan mudah curiga pada orang asing. Itulah sebabnya mereka tidak mampu mengendalikan perilakunya. Sekali lagi mewakili mereka, saya mohon maaf pada nenek.” Ucap Arbain. Bestari mengangkat kepala dan mengeluarkan suara yang terdengar seperti, “Emm.” Sebagai jawabannya. Dagunya terangkat tinggi dan ujung-ujung bibirnya menurun. Sementara itu matanya menyorot tajam penuh rasa tak suka.
“Kalau boleh tahu, selama nenek tinggal disini, apakah nenek pernah melihat Kuyang di sekitar sini, nek?” Tanya Arbain dengan sopan. Matanya menatap tajam, mencoba untuk membaca perilaku Bestari.
“Kuyang? Kau tadi bilang desa sedang di terror oleh Kuyang? Apa itu Kuyang?” Tanya Bestari, terdengar sangat ingin tahu, membuat Rainy melirik ke arahnya dengan penuh minat. Bagaimana wanita tua ini akan mengeksekusi keadaan ini selanjutnya?
“Apa nenek tidak pernah mendengar tentang Kuyang?” Tanya Arbain.
“Apakah aku harus pernah mendengarnya?” Bestari balik bertanya. Kening Arbain langsung berkerut.
“Kuyang itu manusia yang memangsa manusia lain untuk meminum darahnya. Biasanya ia berwujud kepala tanpa tubuh, namun memiliki organ dalam tubuh yang menggantung dari lehernya.” Beritahu Arbain dengan nada datar. Matanya menatap Bestari dengan tajam.
“Yang benar? Kau tidak mengada-ada kan? Mana ada mahluk semacam itu!” Ucap Bestari dengan ekspresi khawatir mewarnai wajahnya.
“Ada, nek! Ada saksi yang telah melihatnya. Dan sudah beberapa orang yang menjadi korbannya.” Jawab Arbain dengan sabar.
“Benarkah?” Tanya Bestari, meninggikan suaranya. Ia menarik tangan Batari dan bertanya dengan nada cemas. “Apakah itu benar? Apa mereka tidak berbohong?”
Batari menepuk tangan Bestari dan berkata dengan suara yang sedikit pecah, karena menahan geli. Ibunya ternyata sangat pandai berakting.
“Itu benar, Bu. Bapak Kepala Desa sama sekali tidak berbohong.” Sahut Batari.
“Yang benar? Jangan-jangan mereka sedang menakut-nakutiku agar aku tidak berani lagi tinggal disini!” Tolak Bestari, berlagak tidak percaya.
“Mengapa aku harus tinggal di rumah orang lain kalau aku punya rumah sendiri? Tidak mau!” Tolak Bestari dengan tegas.
“Baiklah kalau nenek tidak mau. Tapi nenek harus pergi ke Kantor Kepala desa untuk melaporkan diri.” Ucap Arbain kemudian.
“Ck ck ck… tadi aku sudah memberitahumu bahwa tubuhku sudah tua dan tidak lagi kuat untuk berjalan sejauh itu. Kau yang masih muda, mengapa tidak bisa mengingatnya sih? Kalau kau tidak bisa mengingatnya, setidaknya kau bisa berpikir kan?” cela Bestari. Arbain menarik nafas panjang. Rainy yakin bahwa saat ini, dalam hatinya, Arbain pasti sedang membujuk dirinya sendiri untuk bersabar. Well done, Nek! Puji Rainy.
“Nenek, saya mengerti kesulitan nenek. Bagaimana kalau begini saja; nenek ikut kami ke kantor kepala desa untuk melaporkan diri nenek. Kami membawa motor, jadi nenek tidak perlu berjalan jauh. Nanti kalau sudah selesai, kami akan mengantarkan nenek kembali kemari. Bagaimana, nek? Kalau begitu bisa kan?” Tawar Arbain.
“Kau mau membawa tubuh tuaku naik motor di atas jalan berbatu yang tidak rata itu? Apa kau sengaja mau membuatku sakit?” Protes Bestari lagi.
Arbain sudah hendak menjawab kata-kata Bestari, namun Garan mendekatinya untuk berbisik di telinganya. Setelah itu, Arbain menatap Bestari dan Batari dengan tatapan menyelidik. Setelah itu tatapannya berpindah pada Raka.
“Pak Raka, sebenarnya bapak dan rekan-rekan bapak sedang apa disini? Bukankah kemarin rekan-rekan bapak meminta ijin untuk mencari jejak Kuyang? Apakah sudah ditemukan?” Tanya Arbain pada Raka. Raka memberikan senyum ramah yang menenangkan pada Arbain.
“Maaf, pak Arbain, namun kami belum berhasil menemukan jejak Kuyang.” Ucap Raka dengan tenang. “Mengenai mengapa kami ada disini, itu karena salah satu tim yang kami kirim menemukan bahwa ada seorang nenek yang tinggal sendirian disini. Karena kondisi beliau terlihat kurang baik, anak buah saya menghubungi Dokter Batari untuk meminta Dokter Batari memeriksa beliau. Kebetulan saya dan rekan-rekan sedang dalam perjalanan ke kota B bersama dengan Dokter Batari. Kami baru saja keluar dari Resort ketika menerima telepon dari anak buah saya. Itu sebabnya kami sekalian ikut kemari.”
“Tapi Pak Garan berkata bahwa mendengar cara Dokter Batari memanggil-manggil nenek ini, sepertinya Dokter Batari mengenalnya?” Tanya Arbain lagi.
“Benar. Saya memang mengenal beliau.” Kali ini Batari yang menjawab. “Tadinya saya tidak tahu bahwa ada orang saya kenal tinggal di pondok yang berada di tengah hutan ini. Namun begitu mendengar deskripsinya dari rekan saya, saya menyadari bahwa saya mengenal beliau. Beliau adalah pengasuh saya yang sudah lama menghilang dan saya sangat merindukannya. Itulah sebabnya saya memaksa ingin bertemu dengan beliau.” Batari mengulurkan tangan untuk mengambil tangan Bestari dan tersenyum padanya. Jawabannya ini tampaknya cukup memuaskan Arbain. Sesungguhnya saat itu Garan berada terlalu jauh dari pondok untuk bisa mendengar kata-kata yang Batari ucapkan saat menggedor pintu. Ia hanya bisa melihat perilaku Batari dan mencoba membaca bahasa tubuhnya dari kejauhan.
“Apakah nenek ini sakit?” Tanya Arbain. Ia memandang wanita tua itu dengan seksama. Walaupun berlidah tajam dan memiliki semangat berkelahi yang tidak kalah dengan anak muda, Arbain bisa melihat bahwa tubuhnya tampak sangat rapuh.
“Saya belum sempat memeriksanya. Saya sedang membujuknya untuk ikut kami kembali ke Resort agar saya bisa memeriksanya di Poliklinik Resort.” Sahut Batari.
“Mengapa harus ke Poliklinik Resort yang jauh? Bawa saja ke puskesmas! Kan lebih dekat! Walaupun saat ini puskesmas sudah tutup, tapi Dokter kan bekerja disana. Dokter bisa keluar masuk puskesmas dengan mudah.” Ucap Anwar dengan nada menyelidik.
“Dan membiarkan diri saya terancam terbunuh oleh tangan anda?” Tanya Batari dengan nada dingin. “Jangan lupa, kalian yang membuat saya tidak bisa kembali ke Desa Ampari!”
“Itu karena kau adalah Kuyang! Ada yang menemukan kalungmu di dekat mayat korban! Bukankan itu bukti yang cukup kuat?” Jerit salah seorang penduduk desa yang terlihat sangat emosi. Rainy menduga bahwa pria itu adalah keluarga salah satu korban.