My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Love



Raka membuka matanya dengan terkejut. Ia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya ikut tertidur ketika sedang asyik memandangi wajah tidur Rainy. Raka masuk ke kamar Rainy untuk mengajaknya makan siang. Namun begitu ia memasuki kamar, Raka disuguhi pemandangan wajah Rainy yang sedang tidur dengan sangat nyenyak sehingga membuatnya tidak tega untuk membangunkan gadis tersebut. Berniat untuk menggunakan kesempatan itu agar bisa memandangi wajah Rainy yang sangat dirindukannya dengan sepuas hati, Raka sengaja tidak membangunkan Rainy. Siapa sangka ia akan ikut tertidur begitu saja dan harus dibangunkan dengan kasar oleh rasa sakit di kedua pipinya. Dengan linglung Raka memandang wajah kesal Rainy yang berada begitu dekat dengan wajahnya.


"Sakit, Rain!" keluhnya dengan suara yang agak tidak jelas akibat kedua pipinya yang tertarik kencang. Tanpa rasa kasihan Rainy malah memperkuat jepitan jari-jarinya.


"Siapa yang suruh kau naik ke atas ranjangku saat aku sedang tidur, hmph?" tanya Rainy dengan garang.


"Uuugh! Kamu juga biasanya selalu naik ke atas ranjangku!" protes Raka dengan susah payah. "Let go!" walaupun ia memprotes perbuatan Rainy dengan keras, Raka tidak mencoba melepaskan diri secara fisik. Why should him? Walaupun pipinya terasa sakit, namun kedekatan tubuhnya dengan tubuh Rainy terasa sangat menyenangkan. Lagi pula ini adalah cara mereka berkomunikasi bertahun-tahun yang lalu, akrab dan tanpa jarak.


"Itu cerita waktu aku masih berumur 10 tahun!" sahut Rainy dengan gemas. Jepitan jemarinya masih menarik pipi Raka dengan kejamnya. "Memangnya tidak ada ya yang memberitahumu bahwa setelah dewasa, laki-laki dan perempuan yang belum menikah tidak boleh berbagi ranjang? Hmmmm?"


"Tidak ada." Sahut Raka. Raka tidak berbohong. Siapa sih yang tidak tahu bahwa pria dan wanita yang belum menikah tidak boleh berbagi ranjang karena mungkin akan menyebabkan hal-hal yang tabu terjadi? Raka tidak perlu menjadi dewasa terlebih dahulu untuk mengetahui hal tersebut. Namun memang benar bahwa tidak ada yang secara khusus pernah memberitahukan hal itu padanya. Kenapa juga harus pakai diberitahu segala! Otak Raka terlalu cerdas sehingga mampu memahami semua hal tersebut dengan alami.


Jawaban Raka membuat Rainy menyipitkan matanya dengan kesal. Ia melepaskan pipi Raka dan bersiap untuk bangun dari ranjang. Namun sepasang lengan-lengan kuat Raka bergerak cepat untuk memeluk pinggang ramping Rainy sehingga menghentikan gerakannya. Bukan hanya itu, Raka kemudian menarik tubuh Rainy dan membuatnya kembali terbaring di atas ranjang. Lalu sebelah kakinya yang panjang terulur ke atas tubuh Rainy dan mengurungnya untuk menghalangi Rainy bergerak.


Rainy menatap langit-langit kamar sambil menarik nafas panjang. Saat mereka masih belia, Raka selalu menggunakan trik ini untuk menjahilinya. Tapi apabila dulu Raka melakukannya murni untuk mengundang gelak tawa Rainy, saat ini Raka melakukannya untuk memenuhi keinginan egoisnya sendiri. Raka menempelkan hidungnya ke leher Rainy dan menarik nafas panjang untuk menghirup aroma tubuh gadis itu. Dengan tubuh hangat Rainy dalam pelukannya dan aroma gadis itu melingkupinya, Raka merasa mabuk. Saat itu Raka menyadari bahwa ia bukan hanya sekedar merindukan Rainy, tapi ia merasa sudah tak mampu lagi untuk dipaksa berpisah dari gadis itu. Mengapa Rainy begitu kejam selalu berusaha mengusir Raka dari hatinya sendiri?


"Berhentilah bersikap kekanak-kanakan dan lepaskan aku." suruh Rainy.


"Nggak mau!" Sahut Raka sambil menggelengkan kepalanya. Gerakan kepalanya tersebut membuat ujung hidung dan bibirnya bergesekan dengan leher Rainy, menimbulkan sebuah rasa geli yang aneh mengalir dari leher Rainy, dan memenuhi dadanya. Rainy menarik nafas panjang dan menutup matanya. Mencoba untuk mengontrol reaksinya.


"Raka, kita bukan anak-anak lagi. Jadi kita seharusnya tidak boleh lagi melakukan hal ini." ucap Rainy sambil menggertakkan gigi.


"Kenapa tidak boleh?" pertanyaan Raka membuat Rainy mengutuki pria tersebut dalam hatinya.


"Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?" tanya Rainy kesal.


"Tidak tahu." Sahut Raka bersikeras.


"This is a game for married couple." Sahut Rainy, kembali menggertakkan giginya dengan kesal. Saat mereka masih belia, Rainy selalu menjadi si keras kepala yang melakukan apapun semaunya dan Raka selalu menjadi orang yang menjelaskan yang boleh dan yang tidak boleh beserta alasannya pada Rainy. Sejak kapan mereka berdua bertukar peran?


"So just marry me!" cetus Raka. Kalimatnya terdengar diucapkan dengan nada seenaknya, namun sesungguhnya kalimat itu merupakan isi hati Raka yang paling dalam. Menikahlah denganku, Rain. Just say yes, please!


Raka mengeratkan pelukannya pada pinggang Rainy. Ia mengangkat kepalanya dari ranjang agar ia bisa memandang langsung ke mata Rainy, lalu kemudian berkata,


"Marry me, okay? I don't think I can live without you anymore." Pintanya sepenuh hati. Matanya yang menatap mata Rainy lekat-lekat, dipenuhi oleh ketulusan dan emosi yang datang dari hati yang terdalam.


Rainy mengira bahwa dalam soal cinta, hatinya telah berubah menjadi batu. Ia telah berusaha sekuat tenaga untuk mengurung impian cintanya pada Raka dalam ruang kosong, jauh di dasar hatinya yang terdalam. Rainy mengunci pintunya, menutupnya dengan batu dan membuang kuncinya jauh-jauh. Tak sedikitpun pernah menyangka bahwa upayanya tidak akan ada gunanya. Hanya dengan 2 kalimat itu saja, tembok batu dalam hatinya hancur berantakan dan pintunya langsung terbuka lebar. Rasa cintanya pada Raka menyebar ke seluruh dada dan pikirannya, membuat Rainy merasa sesak dan kesulitan untuk mengendalikan diri.


"You know that I can't." bisik Rainy akhirnya. Menyadari dengan pahit bahwa kata-katanya telah berubah menjadi silet yang merobek-robek hatinya sendiri.


"Why?" Tanya Raka pelan. "Don't you love me?" Rainy memalingkan kepalanya dan memutuskan untuk tidak menjawab pertanyaan Raka. Namun pria itu tak bersedia untuk diabaikan. Ia menangkap dagu Rainy dengan tangannya dan memaksa gadis itu untuk menatap wajahnya.


"Rain, answer me. Don't you always love me?" Desak Raka dengan suara gemetar. Kalimat pendek yang diucapkan Rainy tadi menyebabkan rasa pahit tiba-tiba memenuhi lidahnya untuk kemudian naik ke tenggorokannya, bersiap-siap untuk menyebar ke seluruh tubuhnya. Raka dipenuhi oleh firasat buruk akan penolakan dari Rainy, sesuatu yang tidak pernah diduga Raka akan diterimanya.


Dipaksa memandang ekspresi terluka pada wajah Raka, mengingatkan Rainy mengapa ia tidak boleh menyerah pada pria itu. Luka ini, yang sudah terlanjur ditorehkannya pada hati Raka, adalah 1000 kali lebih baik daripada mengutuk Raka masuk ke dalam neraka jahanam. Mengeraskan hati, Rainy berkata dengan nada santai yang mengejek.


"That's such a long time ago. Why you still holding on to that childish words?" Kalimat Rainy menyerang hati Raka sedemikian hingga pelukan lengan-lengannya pada pinggang Rainy mengendur. Merasakan ini, Rainy menarik lepas kedua tangan Raka dari pinggangnya dan bangkit dari ranjang. Ia berdiri memunggungi pria itu, berusaha keras menyembunyikan rasa sakit yang tergambar jelas di wajahnya.


"Childish words?" bisik Raka pelan dengan ekspresi linglung, setengah tak percaya pada pendengarannya. Namun sesaat kemudian ekspresi wajahnya menjadi lebih tajam. Ia bangkit dari ranjang, lalu mengitari ranjang untuk menuju ke tempat Rainy berdiri. Raka kemudian menarik tangan Rainy dan memaksanya untuk memandang ke arahnya.


"That's not a childish words! We love each other deeply. Jangan coba untuk berbohong padaku!" tolak Raka keras. Namun Rainy yang telah berhasil memasang kembali topeng dinginnya hanya tersenyum tipis.


"Aku sudah lama tak merasa ingin lagi menikahimu." Ucap Rainy.


"What?" tanya Raka tak percaya. Ia terdiam, mencoba untuk membaca ekspresi Rainy dan mencari kebenaran disana. Namun Rainy sudah sangat ahli dalam memasang topeng dinginnya sehingga yang terlihat di mata Raka hanyalah wajah datar gadis itu dan matanya yang menyorot tanpa emosi. Membuat hati Raka terasa sangat sakit. Rainy, katakan padaku bahwa ini semua hanya sebuah kebohongan. Pintanya dalam hati. Hati Raka gemetar oleh rasa dingin yang terpancar dari mata Rainy.


"Tapi kenapa?" tanya Raka dengan suara lemah. Rainy menarik nafas panjang. Ia mengulurkan sebelah tangannya dan mengusapkan ujung jarinya pada wajah Raka. Gerakan tubuhnya tampak merayu, namun tatapan dingin dan menjaga jarak.


"Jawabannya sebenarnya sederhana saja." Ucap Rainy dengan nada ringan. "It's simply because I don't want you anymore."


Copyright @FreyaCesare