My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
permintaan Rosa II



"Apa kau psikopat? Mengapa mendengar bahwa ada mayat-mayat ditemukan di rumah, kau tetap tenang-tenang saja?" tanya Rosa.


"Gulu, mayat di depan kamar Lilith adalah maling yang memasuki kamar Lilith untuk mencuri. Kalau sampai ia kehilangan nyawanya, itu adalah salahnya sendiri karena mengincar sesuatu yang bukan miliknya." sahut Rainy datar.


"Coba dengar kata-katamu itu! Mengapa begitu dingin pada hilangnya nyawa manusia?" ucap Rosa dengan tercengang. Kata-katanya membuat Rainy mencibir. Sepertinya Rosa sama sekali tidak tahu bahwa hal ini bukan hal yang baru terjadi 2 atau 3 kali. Kamar itu sepertinya memiliki kemampuan untuk mengundang para pencuri untuk menyerahkan nyawa mereka dengan gratis sehingga semasa hidupnya, kakek dan nenek Rainy sudah terbiasa dengan kewajiban untuk membersihkan jejak-jejak kejahatan Lilith dan Lilian di dalam rumah besar tersebut.


"Gulu lucu sekali. Aku terlihat begitu dingin pada hilangnya nyawa manusia lain?" Tanya Rainy dengan sinis. "Tapi setidaknya aku tidak mencoba, berkali-kali, membunuh keponakanku sendiri."


Kata-kata Rainy langsung membuat Rosa terdiam. Benar, siapa dia berani menilai Rainy? Walaupun Rosa bukan penggagas dari sejumlah usaha pembunuhan yang dilakukan pada Rainy di masa lalu, namun ia juga turut memberikan persetujuannya. Hal ini membuat Rosa merasa malu dan tak tahu harus bicara apa.


"Rainy, tentang itu, Gulu sungguh-sungguh minta maaf. Namun bukan Gulu yang merencanakan itu semua...." belum sempat Rosa menyelesaikan kata-katanya, Rainy sudah terlebih dahulu memotongnya.


"Tapi Gulu selalu tau kan!" Rainy melemparkan fakta tersebut ke depan wajah Rosa dengan dingin.


"Itu..." Rosa tidak tahu harus berkata apa.


"Aku hanya seorang anak kecil waktu itu. Kalau bukan karena nasib baik yang selalu melindungiku, aku sudah lama mati!" beritahu Rainy. "Hanya didasari pada fakta itu saja, bisakah Gulu tidak lagi mengganggu hidupku?"


"Tapi bagaimana dengan Lilith?" tanya Rosa, mulai merasa panik akibat sikap dingin Rainy.


"Memangnya kenapa dengan Lilith?" Tanya Rainy sambil menaikkan kedua alisnya.


"Dia terus membunuhi orang!" ucap Rosa nyaring, penuh dengan rasa takut.


"Lalu?" Rainy mendengus dengan sebal. "Sejak aku mengetahui eksistensi Lilith dalam rumah kakek, aku juga tahu bahwa selalu ada orang mati ditemukan di depan kamar Lilith, setidaknya sebulan sekali. Kalau Gulu tidak percaya, coba Gulu lihat pemakaman keluarga di belakang rumah. Apakah menurut Gulu, pemakaman tersebut isinya anggota keluarga kita semua?" tanya Rainy dengan nada mengejek. "Tidak, Gulu! Separuh penghuninya adalah orang-orang tak dikenal yang menjadi korban Lilith!"


Pemberitahuan ini tentu saja sangat mengejutkan Rosa. Pertama kali ia melihat kemampuan Ardi membereskan masalah kematian yang disebabkan oleh Keberadaan iblis adalah saat Adnan meninggal dunia. Saat itu Rosa sungguh merasa takjub pada saat Ardi berhasil mengubah status kematian Adnan yang tak wajar, menjadi kematian yang disebabkan oleh serangan jantung. Tapi ternyata itu sudah seringkali terjadi. Pantas saja!


Seandainya Rosa tahu bahwa sejumlah pegawai yang ia maksud tersebut sebenarnya masih bekerja dengan tenang di Jaya Enterprise, namun mereka menolak untuk bekerja di bawah kepemimpinan Rosa, entah bagaimana marahnya dia. Namun Rainy tidak bisa menyalahkan para pegawai tersebut karena sejak awal tak banyak pegawai yang menyukai kakak-kakak ayahnya. Rainy tidak berniat memaksa mereka untuk bekerja pada orang-orang yang tidak mereka sukai. Hingga saat ini Rosa sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi semua masalah yang dibawa oleh Lilith, padahal Rainy sangat tahu bahwa mayat-mayat para maling tersebut bukanlah satu-satunya jenis masalah yang biasa dihasilkan oleh Lilith.


"Rain, kau harus menolong Gulu! Lagipula bukankah kau masih kepala keluarga yang ditetapkan oleh Lilith? Masalah ini seharusnya dibereskan oleh kepala keluarga." Rosa telah kehabisan ide sehingga ia hanya bisa berusaha menggunakan kalimat apa saja yang terpikir di benaknya untuk menggerakkan hati Rainy. Sementara ini untuk menyelesaikan persoalan mayat-mayat di depan kamar Lilith tersebut, Rosa hanya bisa bergantung pada suaminya. Namun suami Rosa sudah tidak sudi lagi dibebani oleh hal yang mengerikan seperti itu. Itulah sebabnya Rosa terpaksa menemui Rainy hari ini. Sebagai satu-satunya orang yang memiliki kontak langsung dengan Lilith, Rosa berharap Rainy bisa menghentikan perilaku jahat Lilith dan bila mungkin sekaligus mengusirnya pergi dari rumah peninggalan Jaya Bataguh. Namun pikiran Rosa terlalu menggampangkan segala sesuatunya.


"Ini lucu sekali! Dulu kau dan saudara-saudaramu selalu berusaha keras untuk merebut posisiku sebagai kepala keluarga. Sekarang perusahaan sudah kuberikan pada kalian. Aku juga sudah meninggalkan rumah warisan kakek agar kalian bisa hidup dengan nyaman. Aku bahkan membawa serta beban pekerjaan yang ditinggalkan oleh Niwe dan Nini bersamaku. Kenapa Gulu belum puas juga? Sejak awal aku sudah memberitahukan beban seperti apa yang selama ini telah mengikat keluarga kita, tapi bukankah kalian masih menginginkannya? Apa gunanya bagiku posisi kepala keluarga itu? Aku tidak mau! Gulu bisa mengklaimnya dengan lega hati karena aku tidak perduli! Tapi bila Gulu menginginkan warisan keluarga Bataguh, Gulu juga harus siap menerima bebannya!"


"Tidak bisakah kau membantu? Kan cuma kau yang bisa berkomunikasi dengan Lilith."


"Gulu mau aku melakukan apa?"


"Beritahu dia untuk tidak membunuh orang lagi."


"Hah! Berani sekali mau menyuruh-nyuruh iblis! Maaf Gulu, tapi aku masih sayang pada nyawaku!" Rainy mengulurkan tangan dan membuka pintu mobil. Ia sudah bersiap untuk keluar, namun tangan Rosa yang menangkap lengannya, menghentikan langkahnya.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Rosa dengan panik.


"Terserah Gulu saja. Kan Gulu lebih dewasa dan lebih mampu daripada aku yang masih anak-anak ini! Silahkan diurus sendiri!" sindir Rainy dingin. Ia menarik lepas lengannya dari tangan-tangan Rosa dan keluar dari mobil. Rosa juga turut keluar dari mobil. Ia kemudian bertatapan dengan Rudi yang sejak tadi sudah menunggu dengan gelisah. Melihat gelengan kepala Rosa, Rudi berkata pada Rainy dengan panik,


"Rainy, bagaimana bisa kau mengabaikan keluargamu sendiri ketika kami membutuhkanmu? Padahal jelas-jelas tanpa keluarga Bataguh, kau bukan siapa-siapa! Kau benar-benar anak yang tidak tahu membalas budi dan tidak berbakti!"


Rainy yang telah melangkah pergi didampingi oleh Raka dan Arka, menghentikan langkahnya. Sesaat kemudian ia berbalik dan memandang ke arah Rosa dan Rudi.


"Membalas budi? Memangnya budi apa yang kalian berikan padaku? Apa Angah pernah memperlakukanku dengan baik? Apakah meletakkan ular beracun di atas tempat tidurku merupakan sebuah kebaikan? Kalau iya, aku minta maaf. Budi yang sebesar itu, hatiku tidak cukup luas untuk bisa menerimanya!" Jawab Rainy dengan kesal. "Lagipula asal kalian tahu saja, niwe pernah bilang, bila sampai ia mati, anak-anaknya masih terus berusaha mencelakakan aku, maka aku berhak memutuskan hubungan kekeluargaan kita dengan restu niwe. Aku hanya mencoba memenuhi permintaan terakhir Niwe, jadi maaf sekali. Aku tidak punya minat untuk berbakti kepada kalian!" setelah itu Rainy berbalik dan berjalan pergi, diikuti oleh Raka dan Arka di belakangnya. Sementara itu Rosa dan Rudi hanya bisa memandang punggung mereka dengan kesal.