
Sebuah lukisan jatuh menimpa wajah Ananda. Well, walau terdengar buruk, namun hasilnya tak seburuk itu karena saat jatuh, wajah Ananda hanya terhantam bagian lukisan yang datar, yang terbuat dari kain dan sama sekali tidak menyakitkan. Akan lain ceritanya apabila ia terkena sudut lukisan, atau setidaknya terkena bagian tepi lukisan yang terbuat dari kayu yang terbungkus kanvas. Mungkin akan terdapat luka terbuka atau setidaknya benjolan di keningnya. Sayangnya Nayla tidak sekejam itu. Sungguh sayang sekali. Pikir Rainy dengan bosan.
Rainy memandang Kartini yang bertingkah layaknya seekor lebah, berputar-putar dengan berisik di sekitar anak kesayangannya. Rainy menyikut pinggang Raka dan berbisik.
"Bolehkah aku tertawa?" tanya gadis itu dengan wajah serius. Bibir Raka langsung berkedut mendengarnya. Mahluk yang nyaris selalu memasang wajah dingin dan enggan tersenyum ini tiba-tiba bilang ingin tertawa ketika melihat kliennya tertimpa sial?
"Nggak, sayang. Jangan sekarang." ucap Raka balas berbisik. Kalau kau ingin tertawa, tunggulah sampai kita berada jauh dari rumah ini. Begitu pesan yang disampaikan Raka lewat tatapan matanya.
"Cih..." decak Rainy kesal. Ia memandang ke arah Nayla yang tampak bagaikan hologram yang tak stabil, terus berkedip-kedip dengan aneh di pojok ruangan. Mata wanita itu lurus tertuju pada pasangan ibu dan anak yang sedang bermesraan di sofa. Oops! Bermesraan sepertinya adalah kata yang tidak tepat. Tapi Rainy merasa kesulitan menemukan kata yang cocok dalam kosa katanya. Hmmm...
"Hei, kamu!" tiba-tiba perhatian Kartini yang sejak tadi terarah pada Ananda, sekarang sepenuhnya tertuju pada Rainy. Rainy sampai tersentak karena terkejut. Kartini bangkit dari sofa dan menunjuk ke arah wajah Rainy dengan tatapan murka.
"Aku memanggil kamu kemari untuk menolong anakku. Tapi kenapa kalian diam saja saat anakku kembali mengalami serangan?" tanyanya dengan kasar. Rainy hanya mendengus dan memandangnya dengan tatapan merendahkan. Namun sesaat kemudian wajah gadis itu kembali terlihat datar tanpa ekspresi. Jawaban atas tudingan tersebut tak disangka-sangka justru datang dari Natasha. Gadis itu turut berdiri dan berkata dingin,
"Bu, bukankah tadi boss saya sudah memberitahu ibu bahwa ada mahluk tak kasat mata di belakang ibu? Makanya ibu sempat lari dan menyelamatkan diri." ucapnya mengingatkan.
"Tapi anakku masih celaka kan! Seharusnya kalian menghentikan hantu itu sebelum ia berbuat sesuatu!" Pekiknya marah karena dibantah. Ananda turut bangkit dari sofa dan mencoba menghentikan ibunya, namun ibunya mengabaikannya.
"Maaf, bu. Kalau ibu belum tahu, biar saya yang memberitahu. Mahluk tak kasat mata itu tidak bisa disentuh, tidak bisa ditembak apalagi disuap. Dalam peristiwa yang terjadi secepat itu, berhasil menyelamatkan ibu dari tertimpa lukisan saja sudah cukup baik. Jadi tolong jangan asal bicara yang tidak enak didengar." tegur Natasha.
"Tapi itu kan pekerjaan kalian! Berlagak menjadi dukun hebat masa kini dengan honor gila-gilaan, tapi pada kenyataannya kalian cuma penipu!" maki Kartini, sepenuhnya lepas kontrol.
"Ma, sudah! Kan aku gak terluka. Jangan marah-marah seperti itu!" pinta Ananda, berusaha menenangkan ibunya.
Rainy mengorek-korek kupingnya yang tidak gatal dengan ujung jari kelingkingnya. Ia tampak tak perduli pada protes Kartini. Rainy kemudian bangkit berdiri dan merapikan bagian depan kemeja putih yang dikenakannya yang sebenarnya sama sekali tidak kusut. Seluruh anggota timnya turut bangkit berdiri.
Mendengar kata-katanya, Ananda langsung maju untuk menghalangi langkahnya.
"Rainy, ibu saya sedang emosi sehingga jadi lepas kendali. Mohon untuk dimaafkan ya. Saya juga mohon maaf karena saya menyebabkan Rainy memperoleh perlakuan seperti ini." pinta Ananda sopan. Ekspresinya tampak panik dan tidak berdaya yang membuat Rainy agak terkejut karena ini pertama kalinya Ananda menunjukan ekspresi yang terbuka. Sementara itu Kartini yang melihat putra kesayangannya meminta maaf malah bertambah marah. Ia berkata keras,
"Kenapa kau minta maaf..."
"Ibu, DIAMLAH!!!" bentak Ananda gusar. Kalimatnya langsung membuat Kartini terdiam. Wajahnya memucat karena terkejut, namun wajahnya masih menunjukan bahwa ia tidak rela untuk mengalah begitu saja. Rainy mengangkat kedua alisnya melihat sikap Ananda terhadap ibunya. Hmm... Is this mama boy really know how to control his mom?
Ketika Ananda melihat ekspresi terkejut di wajah Rainy, ia langsung tersenyum malu.
"Maaf karena saya sudah menunjukkan hal yang tidak pantas pada Rainy. Tapi Rainy tolong jangan pergi dulu. Karena Rainy dan teman-teman sudah datang, bisakah setidaknya Rainy menjelaskan pada saya apa yang sudah Rainy lihat disini?" Pinta Ananda. Rainy menatap Ananda dengan tatapan menyelidik yang dibalas Ananda dengan tatapan yang terbuka dan jujur. Rainy mengerutkan keningnya. Ia lalu memandang ke arah Kartini yang balas menatapnya dengan garang.
"Bisakah kau menyuruh ibumu pergi? Atau setidaknya suruhlah ia untuk menutup mulutnya." ucap Rainy datar. Kata-kata Rainy langsung membuat Kartini meradang. Ia langsung bergerak maju dengan tangan terangkat tinggi, hendak memukul Rainy.
"KAU..."
Belum sempat ia melangkah jauh, Ananda sudah menangkapnya dalam pelukan tangan-tangannya dan praktis menghentikan langkah ibunya. Di saat yang sama, Raka refleks menarik Rainy ke dalam pelukannya sedangkan Arka sudah berdiri di hadapan Rainy untuk melindungi gadis itu dengan tubuhnya. Mereka kemudian memandang dengan tertarik pada Ananda yang sedang berusaha untuk menenangkan ibunya. Pria itu menangkupkan kedua tangannya di pipi ibunya dan mendekatkan wajahnya ke wajah ibunya, lalu bicara padanya dengan suara pelan. Mereka menyaksikan bagaimana Kartini yang berperilaku layaknya anak kecil yang sedang tantrum, perlahan-lahan menjadi tenang setelah dibujuk oleh Ananda.
Kening Rainy berkerut. Ia menoleh pada Nayla yang auranya tiba-tiba menggelap. Gadis itu masih berdiri di sudut ruangan. Namun sosoknya yang tadinya hanya terlihat bagai hologram berkedip-kedip muncul dan menghilang, tiba-tiba menguat. Air mata darah yang tadinya terlihat menetes satu demi satu, sekarang mengalir deras hingga menggenang di lantai. Sementara itu mata Nayla menyorot penuh kemarahan, tertuju lurus pada Ananda dan ibunya.
Dari sudut matanya, Rainy melihat sesuatu bergerak. Saat Rainy menoleh kesana, ia melihat bahwa lampu kristal yang tergantung tepat di atas kepala Kartini, mulai bergerak. Awalnya pelan, namun lama kelamaan menjadi semakin cepat, sementara kedua orang yang berdiri di bawahnya begitu larut dalam percakapan mereka, hingga sama sekali tidak menyadarinya. Dengan ngeri Rainy melihat lampu kristal tersebut bergerak makin kencang dan semakin kencang lagi, hingga akhirnya terlepas sepenuhnya dari tempatnya dan jatuh ke bawah, menuju ke arah kepala Kartini berada.
Copyright @FreyaCesare