
Bahkan setelah dunia di sekitarnya berhenti berlari, berputar dan menari layaknya ia sedang diserang oleh vertigo, Rainy masih belum berani membuka matanya.
"Gadis kecil, mau sampai kapan kau menutup matamu?" tanya Datuk Sanja.
Mendengar ini, dengan hati-hati Rainy membuka sebelah matanya. Setelah ia melihat bahwa dunia benar-benar sudah tidak berputar ke segala arah, barulah Rainy membuka matanya sambil menarik nafas lega.
"Datuk, bisa tidak kita pindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan menggunakan transportasi yang lebih normal? Berjalan kaki misalnya?" protes Rainy kesal.
"Mengapa harus berjalan bila bisa melipat ruang?" tanya Datuk Sanja. "Buang-buang waktu saja!"
"Melipat ruang? Apakah trik tadi namanya melipat ruang? Apakah yang Datuk maksud adalah Folding space menurut ilmu quantum physic?" tanya Rainy dengan mata berbinar-binar, seolah-olah ia baru saja mendengar sesuatu yang menarik.
"Kau bahkan tahu bahwa folding space adalah bahasan yang ada dalam ilmu Quantum physic?" kali ini ganti Datuk Sanja yang terpana. "Apakah sekarang kau mulai suka membaca buku?"
Rainy menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Lalu dari mana kau mengetahui tentang Folding space?" tanya Datuk Sanja.
"Dari film tentu saja." Sahut Rainy. "Ah, dan Raka pernah menceritakannya pada saya. Ingatan saya sangat bagus jadi saya masih mengingatnya."
"Cih! Memang salahku karena berpikir bahwa kau tiba-tiba jadi suka belajar dan membaca." sindir Datuk Sanja.
"Tapi saya memang suka membaca kok!" protes Rainy tak terima.
"Benarkah?" tanya Datuk Sanja dengan senyum penuh antisipasi. Apakah akhirnya gadis yang di masa lalu terkenal sebagai mahluk pemalas dan oportunistik ini, sekarang berubah menjadi pelajar yang sepantasnya? "Buku apa yang biasanya kau baca?"
"Komik." sahut Rainy datar, membuat Datuk Sanja memejamkan mata dan menarik nafas panjang.
"Bicara denganmu lama-lama bisa membuatku gila!" protesnya dengan kesal.
"Kenapa? Saya kan hanya menjawab pertanyaan Datuk." sahut Rainy tak kalah kesal.
Saat Rainy mengatakan hal itu, Datuk Sanja menatapnya dengan minat seorang observer terhadap observeenya. Bagaimana bisa isi kalimat, nada saat mengucapkan kalimat dan ekspresi yang ditampilkan oleh Rainy sama sekali tidak sejalan? Guru Gilang memang telah memberitahunya bahwa Rainy telah mengembangkan persona yang dingin dan cenderung datar di hadapan publik. Walaupun saat di depannya, Rainy tampaknya tidak memiliki masalah dalam menunjukan pemikirannya secara terbuka dan tidak bersikap dingin walaupun pada awalnya ia penuh rasa curiga, namun Datuk Sanja sungguh sangat ingin melihat senyumnya. Ia tidak pernah lupa betapa menggemaskannya senyum Rainy saat masih belia.
"Tidak dapatkah kau tersenyum?" tanya Datuk Sanja dengan rasa kesal yang tidak disembunyikannya. Mendengar pertanyaan tersebut, Rainy mengedipkan matanya pelan.
"Rasanya tidak pantas bagi saya untuk tersenyum selama Arka masih berada dalam keadaan seperti itu." sahutnya beralasan.
"Bila aku berhasil menyelamatkannya, dapatkah kau mulai membiasakan diri untuk tersenyum kembali?" tanya Datuk Sanja.
"Apa gunanya tersenyum, Datuk? Apakah itu akan membunuh Lilian? Apakah itu bisa membuat Lilith meninggalkan keluarga kita untuk selama-lamanya?" tanya Rainy.
"Tentu saja tidak." Sahut Datuk Sanja.
"Untuk membuat orangtua ini, yang sangat merindukan cicit-cicitnya, berbahagia?" tanyanya pelan. Jawaban tersebut membuat Rainy terdiam. Ia tidak menduga bahwa Datuk Sanja tiba-tiba akan menunjukan sisi sentimentalnya di hadapan Rainy. Rainy mendekat dan menepuk lengan Datuk lalu berbalik untuk mengamati sekitarnya, sementara Datuk Sanja mengerutkan keningnya dengan heran. Apa maksud tepukan itu tadi? Ungkapan rasa simpati? Mengapa merasa simpati padanya namun tetap tidak mau tersenyum? Begitu sulitnyakah untuk tersenyum? Dasar gadis keras kepala! Omel Datuk Sanja dalam hati. Sementara itu Rainy yang sedang mengamati sekitarnya, bertanya dengan suara nyaring,
"Datuk, tempat apa ini?"
Saat itu mereka sedang berada di sebuah bangunan kecil yang terletak di tengah-tengah sebuah sungai. Baik bagian dalam maupun bagian luar bangunan tersebut berwarna ungu. Ruang bagian dalamnya cukup luas dengan dinding yang berbentuk lingkaran dengan dua buah pintu terbuka pada posisi yang berseberangan. Pintu tersebut mengarah langsung ke sungai. Ketika Rainy menjenguk keluar melalui salah satu pintu, ia melihat bahwa tidak ada satu jalanpun yang menghubungkan antara bangunan yang berada tepat di tengah-tengah sungai tersebut dengan daratan. Tidak jembatan, tidak juga perahu, tidak ada apapun. Tepat di tengah ruangan terdapat sebuah batu alam yang sangat besar berwarna ungu. Saat memandangnya, Rainy menyadari bahwa batu tersebut memiliki warna yang sama dengan batu permata yang terpasang pada liontin kalungnya. Rainy menoleh pada Datuk Sanja dan bertanya sambil menunjukan liontin kalungnya.
"Apakah ini adalah batu yang sama dengan batu besar itu?"
Datuk Sanja mengangguk.
"Benar. Batu permata yang terpasang di liontin kalungmu diambil dari batu ini. Begitu juga semua batu permata yang terpasang pada perhiasan yang dikenakan oleh seluruh penghuni dunia kecil ini, semuanya diambil dari batu ini." ucap Datuk Sanja sambil menepuk-nepuk pelan batu tersebut dengan penuh sayang.
Rainy memandang batu yang tingginya mencapai langit-langit dan diameternya mungkin membutuhkan 3 orang dewasa yang saling berpegangan tangan untuk dapat memeluk seluruh lebar batu. ini adalah Lavender Quartz yang harga 1 karatnya mencapai 100 US dollar. berapa karat seluruh batu ini? 1 juta karat? mungkin 1 batu ini saja bisa digunakan untuk membeli sebuah negara adidaya seperti Amerika atau Inggris! Dan Datuk Sanja hanya meletakkannya begitu saja dalam sebuah bangunan di tengah sungai yang kedua pintunya tidak memiliki daun pintu, apalagi kunci. Apa Datuk Sanja tidak takut orang jahat datang dan mencuri batu ini? Atau mungkinkah Datuk Sanja tidak mengetahui nilai Lavender Quartz yang sesungguhnya?
"Datuk, kau adalah orang terkaya yang pernah saya kenal." guman Rainy sambil mendongak, memandang ke arah bagian atas batu. Ia melihat sebuah sarang burung berada di tengah-tengah batu tersebut, dan sepasang burung kecil berwarna biru yang cantik sedang bertengger dengan santai di atasnya. Rainy yakin bahwa bagian atas Lavender quartz pasti dipenuhi oleh kotoran burung. Hanya orang yang super kaya atau orang yang sama sekali buta oleh nilai Lavender Quartz yang akan membiarkan burung bersarang diatasnya. Rainh yakin pasti Datuk Sanja sama sekali tidak tahu nilai batu tersebut. Rainy menggelengkan kepalanya dengan perasaan tak berdaya.
"Itu adalah Burung Lazuardi, binatang peliharaan istriku. Setelah istriku tiada, mereka memilih untuk tinggal disini. Jangan khawatir, mereka tidak akan buang kotoran di atas sana." ucap Datuk Sanja, tampaknya berhasil menebak apa yang sedang Rainy pikirkan.
"Ini tempat apa, Datuk?" tanya Rainy lagi.
"Bangunan ini adalah Gerbang Ungu. Gerbang Ungu merupakan pintu gerbang yang menghubungkan dunia ini dengan duniamu. Ketika kau menggunakan kalungmu untuk datang kemari, ini akan menjadi tempat pertama yang kau datangi." jawab Datuk Sanja.
"Oh, begitu. Eh, tapi bukankah kemarin saat menggunakan batu ini, saya langsung sampai di tepi sungai?" Bantah Rainy.
"Itu karena aku yang memanggilmu untuk langsung sampai disana." ucap Datuk Sanja.
"Ah. Pantas saja." Rainy mengangguk. "Lalu dari sini, bagaimana caranya untuk meninggalkan tempat ini? Saya tidak melihat adanya jembatan atau dermaga yang menghubungkan tempat ini dengan daratan."
"Dengan melompat." sahut Datuk Sanja.
"Ah? Melompat? Dari sini ke daratan dilintasi dengan melompat?" heran Rainy. Jarak antara bangunan ini dengan daratan mungkin sekitar 2 m. Walaupun itu bukan jarak yang jauh, namun Rainy tidak yakin ia akan bisa melompat sejauh itu. "Memangnya bisa, Datuk?"
"Emm. Semua orang yang ada disini memiliki kemampuan spiritual yang sangat baik. Melompat sejauh itu bukanlah hal yang sulit. Nanti kau juga bisa." ucap Datuk Sanja ringan. Rainy memandang Datuk Sanja dengan curiga. Orangtua ini tidak sedang menipunya kan? Menyadari kecurigaan Rainy, Datuk Sanja menaikkan sebelah alisnya.
"Apa kau ingin aku membuktikannya?" tanya Datuk Sanja kemudian. Namun Rainy menggelengkan kepalanya. Ia telah melihat sejumlah keajaiban hari ini. Rainy merasa bahwa tidak ada lagi yang akan mampu membuatnya terpana. Ia sudah menerima bahwa tempat ini adalah dunia yang sangat berbeda dengan dunia yang ia tahu. Segala sesuatu di tempat ini mengikuti hukum alam yang berbeda dengan hukum alam dunia yang biasa. Di dunia ini, bukan dunia ini yang aneh, namun Rainylah mahluk anehnya!
"Untuk apa kita kemari, Datuk?" Tanya Rainy kemudian.
"Sudah saatnya kau tahu mengenai sejarah yang sesungguhnya dari keluarga Lauri." beritahu Datuk Sanja. "Sebenarnya aku sudah menyerahkan tugas ini kepada Gilang. Namun karena aku punya sedikit waktu, aku yang akan menceritakannya padamu." ucap Datuk Sanja. Rainy mengangguk dan bersiap-siap mendengarkan, namun bukannya mulai bercerita, tiba-tiba dunia di sekitar Rainy berubah bentuk.