
Tubuh Rainy lagi-lagi gemetar hebat. Pemandangan di hadapannya membuatnya tak mampu menahan tangisnya. Tanpa sadar kakinya melangkah maju; setapak demi setapak kembali memasuki area desa yang tadi telah ditinggalkannya. Matanya menatap nanar pada jejak-jejak kehancuran yang tersisa dari peperangan dini hari tadi.
Di depannya, di segala penjuru desa, mayat-mayat tanpa kepala bergelimpangan. Setiap kali ia melangkah, ia harus melewati tubuh tak bernyawa yang sudah tidak memiliki kepala. Setiap kali ia menoleh, matanya akan tertumbuk pada tubuh lainnya yang juga tidak berkepala. Tempat itu bagai sebuah tempat pembuangan tubuh tanpa kepala.
Terlentang, tengkurap, di tanah, di atas tangga Betang, di atas rerimbunan tanaman pekarangan, tubuh-tubuh tanpa kepala tergeletak di mana saja; membuat Rainy yang melihatnya menjadi mengigil, bukan karena rasa dingin, namun karena amarah dan perasaan tidak berdaya yang menguasai hatinya. Ia tidak mengenal satupun dari mereka, dan hanya sempat melihat beberapa di antaranya yang semalam berada di sisi Datuk Rumbun dengan setia. Namun itu tak membuat rasa sakit saat melihat tubuh-tubuh mereka, menjadi berkurang bahkan setitikpun. Sebagai manusia yang lahir di zaman dimana nyawa manusia dihargai dan dilindungi, Rainy tidak pernah menyangka bahwa ia akan melihat pemandangan di hadapannya itu dengan mata kepalanya sendiri.
Tubuh-tubuh tanpa kepala itu menjadi saksi dari kekejaman tradisi ngayau dalam masyarakat Dayak pada masa itu yang sungguh sulit untuk diterima oleh akal sehat. Kepala-kepala mereka akan digantung di rumah-rumah para pengayau dan menjadi monumen dari kekejaman suku yang pada saat itu masih menganut agama animisme dan hidup dengan keyakinan bahwa membunuh adalah sebuah perayaan.
Tanpa perlu repot-repot memeriksa lebih jauh ke setiap sudut desa, Rainy bisa menebak bahwa pemandangan di depan setiap Betang adalah sama dengan pemandangan di Betang Lauri ini. Dan ia yakin, apabila berdasarkan dari apa yang didengarnya pada saat para pembunuh itu sedang berusaha membawa pergi para wanita dan anak-anak tadi; pemandangan yang serupa pasti juga ada di dalam Betang. Para orangtua yang tidak rela bila anak dan cucu mereka menjadi budak musuh pasti tidak mengijinkan anak dan cucu mereka untuk dibawa pergi. Sebagai akibatnya, mereka semua pasti sudah kehilangan nyawanya. Hari ini merupakan testamen bagi Rainy tentang betapa lemah dan tidak berharganya nyawa manusia ketika berada di bawah ancaman senjata orang lain.
Rainy berhenti melangkah ketika ia sampai di depan sebuah tubuh yang terkapar tak jauh dari betang. Dari pakaian yang dikenakannya, Rainy menyadari bahwa itu adalah tubuh Datuk Rumbun. Kondisi tubuh tersebut benar-benar buruk. Bahkan dari tempatnya berdiri, Rainy bisa melihat sejumlah luka yang menganga lebar, yang beberapa di antara luka tersebut terpotong begitu dalam hingga sampai memperlihatkan warna putih tulangnya. Hujan yang turun begitu deras dini hari tadi pasti telah membersihkan luka-luka tersebut sehingga sebagian bercak darah telah larut bersama air.
Datuk Rumbun adalah orang kepada siapa Rainy berutang DNA nya. Datuk Rumbun juga adalah orang yang mewariskan kemampuan spiritualnya kepada Rainy. Sulit sekali rasanya untuk menerima kenyataan bahwa orang yang baru dilihatnya semalam masih dipenuhi aura seorang Raja, saat itu telah berubah menjadi mayat yang sulit untuk dikenali. Rainy sangat menyadari bahwa ini hanyalah sebuah potongan ingatan. Ini semua sudah terjadi di masa yang sangat jauh dan tidak mungkin untuk dirubah. Namun oh, Tuhan! Mengetahui iitu tak bisa membuat Rainy berhenti menyalahkan diri sendiri karena ia tidak mampu melakukan apapun untuk menyelamatkan mereka.
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam Betang yang membuat perhatian Rainy teralihkan menuju kesana. Sepertinya Lauri telah terbangun. Tak lama kemudian Lauri muncul di depan pintu Betang dengan wajah pucat pasi. Trik Datuk Rumbun semalam berhasil dengan baik. Sampai akhir, Mamut dan teman-temannya tidak berhasil menemukan Lauri. Lauri memandang berkeliling dan ketika mendapati pemandangan di halaman rumahnya, ia jatuh berlutut di depan pintu dengan air mata menganak sungai tanpa bisa ditahan.
Lauri lalu menuruni tangga Bentang dengan kecepatan yang menyerupai orang yang sedang kesetanan. Sebentar saja ia sudah berlutut di samping tubuh ayahnya.
"Ck ck ck... " Sebuah suara membangunkan Lauri dan Rainy dari sandera emosi mereka. Keduanya secara bersamaan menoleh ke arah suara itu berasal. Seorang wanita yang luar biasa cantik, mengenakan gaun branded berwarna hitam yang salah zaman, berjalan dengan langkah anggun, mendekati Lauri. Melihat wanita itu, tubuh Rainy langsung menegang dengan waspada. Wanita itu adalah Lilith, sang iblis yang telah 13 generasi menjadi sebuah teror bagi seluruh anggota keluarganya. Lilith berhenti di sebelah Lauri, tepat di seberang Rainy. Ia memandang Lauri dengan tatapan khas iblis; penuh dengan bujuk rayu, sementara Lauri menatapnya dengan penuh kebencian. Melihat respon Lauri padanya, Lilith hanya mengangkat kedua alisnya. Senyum manisnya sama sekali tidak memudar atau berubah menjadi ekspresi tidak suka. Lilith pasti berpikir bahwa sikap menentang yang ditunjukan Lauri adalah sesuatu menggelikan, pikir Rainy.
"Aku tidak ingin mengatakan ini, tapi kau memaksaku untuk mengatakannya;". Ucap Lilith pada Lauri dalam bahasa Dayak Bakumpai yang sangat fasih, seolah-olah ia memang terbiasa berbicara dalam bahasa tersebut. " sudah kubilang kan?!" ejek Lilith lagi dengan nada lembut.
"Aku tidak memerlukan rasa kasihan darimu! Kau pikir aku tidak tahu? Kau adalah salah satu dewa yang suku Iban sembah! Kau adalah alasan mengapa mereka membunuhi orang lain dengan membabi buta!" tuduh Lauri dengan marah.
Mendengar ini Lilith memasang ekspresi seolah-olah ia benar-benar terkejut dan merasa terluka oleh tuduhan Lauri.
"Siapa yang mengatakan itu padamu?" tanya Lilith.
"Umaku yang mengatakannya! Umaku bisa melihat bahwa di balik topeng cantikmu itu, kau adalah monster buruk rupa yang iban sembah!" raung Lauri.
Mendengar potongan informasi ini, kening Rainy berkerut. Rainy mengangkat kepala dan menoleh ke arah Datuk Sanja untuk mencari konfirmasi. Namun Datuk Sanja hanya menggelengkan kepalanya. Sementara itu, menghadapi tudingan Lauri, Lilith tidak tampak terpengaruh.
"Mengapa kau hanya mendengarkan bualan ibumu? Ia hanya seorang wanita yang tidak tahu apa-apa tapi berlagak sok tahu untuk mengelabui kalian semua. Sementara aku sudah membuktikan bahwa aku benar kan?" bantah Lilith sambil mengangkat bahu. "Aku sudah memberitahumu bahwa setelah serangan yang sebelumnya, mereka akan kembali dalam jumlah yang jauh lebih banyak dan saat itu terjadi, mereka akan berhasil. Bisa kau lihat sekarang, bukankah aku benar?"