My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Ketika Lauri Kehilangan Akalnya



Tiba-tiba suara seorang wanita yang terdengar bagaikan suara denting lonceng angin di telinga yang mendengarnya, berdenting cukup nyaring.


"Bagaimana Lauri? Apakah kau membutuhkan pertolonganku?" tanya Lilith dengan manis. Mendengar suaranya, Maharati langsung mengangkat wajahnya dari tubuh Mawinei yang masih hangat dan langsung menoleh pada Lilith dengan penuh kecurigaaan. Namun Lilith sepenuhnya mengabaikannya. Iblis itu lalu menoleh pada Mawinei dan berkata dengan nada penuh iba.


"Oops, ternyata aku terlambat datang. Ah, sungguh gadis yang malang!" Lilith berlutut di depan Mawinei dan meraba perut gadis itu yang masih membesar karena bayinya belum dilahirkan. Dengan sigap, Maharati langsung menepis tangan Lilith dari perut Mawinei.


"Jauhkan tanganmu dari adikku, kau Iblis!" jeritnya histeris, membuat semua orang yang ada disitu langsung menoleh kepadanya dengan terkejut. Dengan siapa wanita ini berbicara? Apakah ia telah kehilangan akal karena kematian adik kembarnya?


Lilith memandang Maharati dengan ekspresi serius.


"Apakah kau akan membiarkan bayi ini mati bersama dengan ibunya?" tanya Lilith. Mendengar ini mata Maharati bergetar. Ia memegang perut Mawinei seolah baru tersadar.


"Bayi? Bayi! Keponakanku! Apakah ia masih hidup?" tanya Maharati dengan panik.


"Apabila kau menunggu beberapa detik lagi ia akan akan kehilangan nyawa juga." sahut Lilith.


"Apa? Tidak! Tidak boleh mati! Tidak ada yang boleh mati lagi!" Maharati menoleh ke kiri dan ke kanan, tampak mencari-cari sesuatu, namun tidak menemukannya. Lalu kemudian matanya tertumbuk pada belati yang masih menancap di tubuh Mawinei. Dengan nekat dan tanpa pikir panjang, Maharati menarik belati tersebut keluar dari tubuh saudaranya. Darah langsung muncrat bagaikan sebuah keran yang dibuka secara tiba-tiba, begitu belati keluar dari tempatnya sehingga mengotori wajah dan tubuh Maharati dengan warna merahnya yang membuat Maharati menjadi terlihat menyeramkan. Namun Maharati tidak perduli. Ia hanya punya 1 tujuan, yaitu menyelamatkan anak dalam kandungan Mawinei, bagaimanapun caranya.


Maharati kemudian menyingkap kain yang menutupi perut Mawinei. Perut adiknya yang berkulit terang dan bersih, tampak bulat dan besar. Maharati memegang gagang belati dengan kedua tangannya dan meletakkannya di atas perut adiknya. Untuk sesaat Maharati menatap wajah Mawinei. Airmata masih mengalir deras di wajahnya. Namun ia tidak punya waktu untuk menunggu lagi. Maharati mengangkat belati di tangannya dan siap untuk menghujamkannya ke atas perut Mawinei dengan penuh tekad.


"Berhenti! Apa yang sedang kau lakukan?" Hardik Lilith. Tangannya menepis ringan belati tersebut dari tangan Maharati. Namun tepisan yang terkesan ringan itu berhasil membuat belatinya terlempar jauh dari tangan Maharati.


"Belatiku!" pekik Maharati dengan terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Lilith akan menghentikannya pada saat-saat terakhir. "Apa kau tidak lihat bahwa aku harus mengeluarkan bayinya?!" pekik Maharati pada Lilith dengan murka.


"Dasar manusia bodoh! Bukan begitu cara melakukannya!" cela Lilith. Lilith lalu mengulurkan ujung jari telunjuk tangan kirinya dan menggunakan ujung kuku jari telunjuknya yang lancip, Lilith menggores perut Mawinei secara vertikal; dari bawah dada menuju bawah perutnya. Layaknya sebuah scalpel, kuku tersebut membelah perut mawinei dengan sempurna. Lilith lalu mengulurkan tangan dan menarik terbuka perut Mawinei ke dua arah yang berlawanan, sebelum kemudian ia memasukkan tangannya ke dalam perut Mawinei. Sesaat kemudian, Lilith menarik keluar seorang bayi yang basah dan diliputi oleh lendir tipis dari dalam perut Mawinei dan lalu menyerahkannya pada Maharati yang sudah siap menerimanya. Setelah itu Lilith bangkit dari posisi bersimpuhnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan putih berenda yang elegan dan menggunakannya untuk mengelap kedua tangannya dengan ekspresi jijik.


Maharati memeluk bayi mungil di tangannya dengan air mata yang berlinangan. ia telah melepaskan baju luarnya dan menggunakannya untuk menutupi tubuh bayi itu, sehingga sekarang Maharati hanya mengenakan sebuah kemben yang membalut dadanya dan rok tenun lebar yang telah basah oleh darah Mawinei. Tapi Maharati sudah tidak lagi memiliki keperdulian pada penampilannya. Baginya yang terpenting saat itu adalah bayi Mawinei.


Bayi itu adalah seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Kulitnya terang, wajahnya mungil, bulu matanya sangat tebal dan panjang dengan kepala yang ditutupi oleh rambut hitam yang tebal dan halus. Hidungnya mungil dengan tulang yang tinggi. Bibirnya mungil walaupun warna sedikit pucat. Tangan dan kakinya lengkap sempurna. Sayangnya ia tidak menangis. Bayi itu tidak bernafas sedikitpun dan hal itu membuat Maharati merasa semakin buruk.


Maharati terus mengutuki dirinya sendiri. Andai tadi ia tetap berkepala dingin dan tidak melupakan keberadaan bayi itu, mungkin saat ini bayi Mawinei masih bernafas. Tapi sekarang; Mawinei telah mati. Bayinya juga mati. Sanja dan ayahnya juga telah mati. Untuk apa? Untuk siapa? Semuanya hanya karena dirinya! Semuanya karena seorang laki-laki binatang tidak bisa menahan nafsu saat melihat dirinya! Ini semua adalah salahnya! SALAHNYA! Masih sambil berlutut di sisi tubuh Mawinei yang mulai mendingin dan memeluk bayi Mawinei yang pelan-pelan juga mulai mendingin, Maharati menjerit histeris sekuat-kuatnya.


Melihat keadaan Maharati, mudah bagi Lauri untuk menebak apa yang telah terjadi. Ia yang masih diselubungi oleh nyala api, memaksa kakinya untuk bangkit berdiri. Dengan susah payah, Lauri akhirnya mampu berdiri tegak di atas kedua kakinya. Ia terlihat bagaikan manusia api yang datang untuk mencabut nyawa, membuat orang-orang yang ada di sekitarnya mundur dengan perlahan.


"Lilith!" panggil Lauri. Lilith menoleh padanya dengan seulas senyum lembut penuh kasih sayang menghiasi wajahnya yang luar biasa cantik.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Lilith merdu.


"Beri aku kekuatan untuk menghancurkan semua musuhku dan membalaskan dendam ini!" geram Lauri dengan menggelegar. Membuat orang-orang yang melihatnya diteror oleh rasa ngeri yang mencekam.


"Apakah itu berarti kau akan menerimaku sebagai tuanmu?" tanya Lilith dengan manis.


"Aku terima!" sahut Lauri tegas.


Senyum puas langsung menghiasi wajah Lilith, membuat Rainy ingin sekali mencakar wajahnya. Inilah momen itu! Momen ketika seluruh keturunan Lauri kehilangan kemerdekaannya dan berubah menjadi budak iblis!


"Aku kabulkan!" ucap Lilith dengan tegas.


Api yang menyala di tubuh Lauri tiba-tiba berkobar 3 kali lebih kuat dari sebelumnya. Anehnya, bila biasanya warna hellfire adalah merah oranye yang membara, namun api yang saat itu membalut tubuh Lauri memiliki warna kehitaman pada ujung-ujungnya. Lalu apabila tadi api tersebut hanya terlihat mengerikan, namun tidak memancarkan rasa panas, namun saat ini tiba-tiba udara panas terasa memancar dengan kekuatan penuh dari dalam tubuh Lauri.


Lauri kemudian mulai bergerak dan menyerang semua prajurit Iban yang ada di tempat itu. Ia tidak perlu untuk melakukan banyak hal dan hanya perlu memastikan untuk menyentuh musuh-musuhnya itu dengan api dari tubuhnya. Apapun yang disentuhnya, siapapun yang dipegangnya, pasti akan langsung terbakar dalam api yang nyalanya berkobar-kobar begitu besar. Sebentar saja tempat tersebut dipenuhi oleh api yang menyala dan jeritan-jeritan ketakutan dari orang-orang yang terperangkap disana. Lauri telah kehilangan akalnya.


Dengan takjub Rainy menyadari bahwa api yang membara pada tubuh Lauri bukan lagi Hellfire, namun adalah api yang sesungguhnya. Saat itu juga Rainy menyadari bahwa ini adalah tujuan Lilith untuk Lauri; yaitu untuk menghilangkan hellfire yang merupakan ancaman bagi kaumnya dari tubuh Lauri.


"Iblis!!!" Dengan geram Rainy menggeretakkan gigi dan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Rainy tahu sekarang bahwa itulah yang akan terjadi bila ia menanda tangani buku perjanjian dengan Lilith; Rainy akan kehilangan hellfirenya dan memperoleh elemen api biasa sebagai gantinya. Dengan cara itu, Rainy tidak akan lagi menjadi sebuah ancaman bagi Lilith. Sungguh Iblis memang dibekali oleh kesabaran dan kepandaian yang luar biasa hingga dengan mudahnya menangkap banyak orang sekaligus ke dalam jaring tipu muslihatnya yang sangat detail dan sempurna! Iblis! Aku akan menagih bayaran untuk penderitaan yang kau hadiahkankan pada leluhurku ini! Janji Rainy dalam hatinya.