My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Little Devil's Smile



"Apakah kau bisa melakukannya?" Tanya Rainy. Matanya menatap lurus pada Ananda, menantang pemuda itu untuk menolaknya. Pada saat ini, Ananda mengalami kesulitan untuk menjaga ketenangannya hatinya. Kata-kata yang diucapkan Rainy ketika menjelaskan masalah kejiwaannya tadi benar-benar telah mengguncang Ananda dengan sangat keras. Tapi jauh di dasar hati, Ananda tahu bahwa itu adalah sebuah kebenaran. Bahwa dirinya adalah orang dewasa yang tidak pernah tumbuh dewasa dan terkurung dalam cinta ibunya yang toxic dan mematikan.


"Apa yang akan terjadi bila aku tidak mampu melupakannya?" tanya Ananda dengan lirih.


"Nayla akan mati." Jawab Rainy lugas.


"Bagaimana kau bisa yakin?"


"Kau benar-benar tidak tahu, atau hanya pura-pura bodoh? Apa kau lupa berapa banyak video yang kau buat saat kau menyaksikan ibunya menganiaya teman-teman wanitamu?" tanya Rainy dingin. Kata-katanya membuat Ananda terbelalak. Tanpa sadar Ananda melangkah mundur dan hampir saja terjatuh. Untung saja Raka yang sedang berdiri di belakangnya, langsung menangkap tubuhnya. Sementara itu Ivan, Arka, Ace dan Natasha saling berpandangan, tak menyangka bahwa tangan gemetar yang merekam semua video penganiayaan tersebut adalah tangan milik Ananda.


"Ba... Bagaimana kau tahu?" tanya Ananda.


"Nayla yang menunjukannya padaku. Ia melihat semua yang kau lakukan dan berjaga disisimu karena khawatir padamu. Tapi kemudian ia menjadi sangat marah ketika ia mengetahui kebenarannya. Dan yang paling membuatnya marah adalah karena bukannya menolong dirimu sendiri dan meninggalkan ibumu, kau malah menutupi semua fakta kejahatan yang Kartini lakukan dan membiarkan orang lain menjadi korbannya. Itu sebabnya ia menyerangmu." Tuding Rainy tegas.


"....." Ananda yang sangat terkejut mendengar apa yang dilakukan Nayla, tak mampu berkata-kata. Melihat Ananda yang telah kehilangan kendali terhadap dirinya sendiri akibat informasi yang diterimanya secara bertubi-tubi, Rainy melembutkan suaranya.


"Dia ingin kau berada di tempat yang aman. Dia ingin kau keluar dari rumah itu dan melindungi dirimu sendiri. Dia ingin kau berhenti menjadi budak ibumu. Dia ingin kau melakukan hal yang benar."


"Hal yang benar?" ulang Ananda dengan nada bertanya.


"Melaporkan Ibumu ke Polisi. Ibumu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya karena telah membunuh wanita-wanita itu."


"....." lagi-lagi Ananda tak mampu berkata-kata. Wajahnya yang sudah pucat pasi semakin bertambah suram.


"Kalau kau tidak sanggup melakukannya, kami yang akan melakukannya untukmu. Berikan MicroSDnya kepadaku." suruh Rainy.


"Mi... MicroSD?" ulang Ananda terbata.


"MicroSD yang kau curi dari dalam kamar ibumu. Apa kau ingat?"


"Tapi microSD tersebut sudah hilang..."


"Hilang?"


"Setelah kau pergi, aku meminta ibu untuk memanggilmu kembali. Tapi ia menolak. Lalu aku bermaksud menggunakan MicroSD tersebut untuk memeras ibu agar memberitahukan tempat dimana dia menyembunyikan Nayla. Tapi aku tidak bisa menemukannya." cerita Ananda dengan risau. Ia tidak tampak sedang berbohong sehingga Rainy cs yang sangat mengharapkan bisa memperoleh MicroSD tersebut menjadi sangat terkejut karenanya.


"Eh?" hanya itu reaksi yang bisa Rainy ucapkan. What is going on here? Pikir Rainy heran.


"Bisakah Nayla salah dalam memberikan informasi?" tanya Ivan.


"Tentu saja bisa. Menjadi roh bukan berarti bisa berada di semua tempat sekaligus. Saat MicroSD tersebut dicuri kembali, Nayla mungkin sedang tidak ada di kamar Ananda." Jawab Raka.


"Wah, kita kehilangan 1 bukti penting. Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Ivan lagi. Mereka semua kemudian mengarahkan pandangan kepada Rainy yang sedang berdiri diam dengan kening berkerut, tampak sedang berpikir keras. 30 detik kemudian Rainy berkata,


"Nayla." sahut Ananda cepat.


"Kau yakin?" tanya Rainy kembali, mencoba untuk memastikan.


"Aku yakin!" ucap Ananda dengan suara keras. Matanya berkilat oleh determinasi. Rainy mengangguk, puas oleh apa yang dilihatnya di mata Ananda.


"Karena kau sudah mengambil keputusan, maka patuhi aku." Perintah Rainy. Ananda mengangguk.


"Tapi kalau sampai kau mengkhianatiku," Rainy berjalan mendekati Ananda dan baru berhenti ketika tubuh mereka sudah berada sangat dekat. Karena Ananda memiliki tubuh yang jauh lebih tinggi dari Rainy, Rainy harus mendongak untuk bisa menatap lurus ke matanya. Namun hal itu tidak sedikitpun membuat penampilan Rainy menjadi kurang mengintimidasi. Aura yang dipancarkan oleh tubuhnya membuat Ananda merasa bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang penguasa berdarah dingin yang penuh aura membunuh. Insting Ananda menyuruhnya untuk melangkah mundur, namun geraknya terhalang oleh tubuh Raka yang sedari tadi masih menopang tubuh Ananda dan membantunya untuk berdiri tegak. "Lihat saja! Aku tak akan pernah duduk diam dan menerima pengkhianatan!"


Ananda menelan ludah, lalu kembali mengangguk.


"Aku berjanji." ucapnya. Mendengar kata-katanya, Rainy menarik kembali auranya dan melembutkan tatapannya.


"Good." ucapnya sambil berbalik kembali ke tempatnya semula. "Sekarang mari kita buat rencana terlebih dahulu..."


***


Jam 1 siang, keesokan harinya, saat semua orang sedang berkumpul di kantor, Raka menerima panggilan telepon dari Kartini. Beberapa menit kemudian Raka menutup teleponnya dan tersenyum pada Rainy.


"Done!" ucap Raka. "Kartini ingin kita kembali sore ini juga."


"Apakah kau ingat untuk menaikkan tarif kita menjadi 3 kali lipat dan harus dibayar dimuka?" tanya Rainy. Natasha yang mendengarnya, tersentak kaget.


"3 kali lipat?" bisiknya pada Ace yang duduk di sebelahnya. Ace yang tidak mengetahui tarif resmi Divisi VII kecuali bahwa nilainya lebih dari cukup untuk membayar gaji dan bonusnya selama setahun, hanya menaikkan alis.


"Tidak." jawab Raka. Kemudian senyumnya mengembang lebar. Bukan senyum lembut penuh rasa sayang atau senyum menenangkan yang biasanya ia berikan pada Rainy, namun senyum yang dikenali Rainy sebagai senyum yang menjanjikan kesialan bagi siapapun yang menyebabkannya muncul. "Tapi aku minta 5 kali lipat." ucap Raka lagi.


Kali ini, bukan hanya Natasha, bahkan Ivan dan Rainy pun turut tercengang. mulut Ivan terbuka lebar hingga dagunya hampir jatuh ke lantai, sedangkan Natasha melorot dari kursinya dan jatuh tergeletak di atas karpet, membuat Ace panik dan berusaha untuk menangkapnya. Rainy mendengus geli dan menggelengkan kepalanya, mengagumi kekejaman Raka. Hanya Arka saja yang tidak tampak terpengaruh. Pemuda itu duduk dengan tenang di sofa sambil menonton kejuaraan tarung derajat di sebuah situs.


"Sekarang Kartini pasti sedang sangat murka." komentar Ivan.


"Served her right. This just only beginning." Janji Rainy dengan mata berkilauan.


***


Pada jam 4 sore mereka telah parkir kembali di depan rumah mewah berwarna putih tersebut. Rainy memandang ke lantai 2 dan bertatapan dengan Nayla yang berdiri di balkon kamar Ananda. Nayla mengangguk pelan, kemudian berbalik dan menghilang menembus pintu. Rainy kemudian mengikuti langkah anggota timnya yang berjalan memasuki rumah. Setelah Rainy menekan bel, Kartini muncul di depan pintu yang terbuka dengan wajah masam. Melihat ekspresi wanita itu, senyum Rainy mengembang lebar.


"Hallo, selamat sore. Kami datang untuk memenuhi panggilan anda." sapa Rainy dengan riang. Di belakang Rainy; Ivan, Arka dan Natasha merasakan bulu kuduk mereka meremang. Natasha dan Arka menjadi teringat pada cerita Ivan bahwa setiap kali Rainy tersenyum lebar seperti itu, seseorang akan celaka.


Copyright @FreyaCesare