My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Permainan Teror Iblis II



"Itu adalah prosedur standar operasi mereka. Mimpi, halusinasi, delusi, itu adalah alat yang paling sering mereka gunakan untuk menciptakan rasa takut dalam hati manusia. Tidak satupun calon kepala keluarga dan anak-anak berbakat dalam keluarga kita yang bebas dari teror iblis ini. Termasuk juga Papa." ucap Ardi menjelaskan.


"Tidak satupun?" tanya Rainy.


"Emm. Tidak satupun." Ardi mengangguk.


“Bagaimana dengan anggota keluarga yang tidak memiliki kemampuan?” Tanya Rainy.


“Mereka? Mereka adalah apa yang disebut cannon fodder. Iblis tidak perlu repot-repot memaksa mereka untuk menanda tangani Buku Perjanjian. Hanya dengan sedikit bujuk rayu yang normal, mayoritas dari mereka sudah tenggelam ke dalam perangkap iblis terlebih dahulu. Bagi Orang-orang ini, buku perjanjian sama sekali tidak diperlukan.”


“Mayoritas?” Tanya Rainy tidak percaya. “Bagaimana mungkin tidak ada satupun dari mereka yang baik?”


“Rain, bahkan mereka yang menghamba pada Iblis, belum tentu orang yang jahat. Hanya diperlukan sedikit saja terpeleset untuk membuat banyak orang baik menjadi pemuja Iblis.” Beritahu Ardi. “Tapi tentu saja, ada beberapa orang, yang seperti kita, menolak untuk menghamba pada iblis. Namun tentu saja orang-orang ini akan menjadi objek dari buku perjanjian dan akan mengalami teror oleh iblis secara berkala, seperti yang kita alami.”


"Teror apa yang Papa alami?" tanya Rainy ingin tahu.


"Teror yang papa alami mayoritas adalah tentang hal-hal yang berkaitan dengan Mamamu dan engkau." cerita Ardi.


"Berkaitan dengan Mama dan Rainy?" ulang Rainy. Ayahnya mengangguk pelan.


"Emm. Dalam mimpiku, bila mereka tidak sedang menyakiti mamamu, maka ia akan menyakiti dirimu."


"Apakah Papa masih terus mengalaminya sampai sekarang?" tanya Rainy lagi.


"Masih. Selama aku belum menandatangani buku perjanjian terkutuk itu, maka selama itu pula teror itu akan terus berlangsung."


"Ah, jadi Papa juga tidak menanda tanganinya." ucap Rainy, memperoleh pencerahan.


"Aku tidak sudi menjadi budak iblis! Tapi karena itulah, mimpi buruk tidak pernah berhenti mengangguku. Sepertinya mereka tidak akan menyerah sampai aku tunduk sepenuhnya pada mereka." Ardi mengulurkan sebelah tangannya dan mengusap wajah putrinya lembut.


"Kau sudah melakukan hal yang hebat! Kau melawan dengan tegas dan menghadapi siksaan yang ditujukannya padamu tanpa menunjukkan kelemahan hati sedikitpun. Papa sangat bangga padamu!" puji Ardi pada Rainy.


"Tentu saja! Aku adalah anak Papa! Aku tidak akan semudah itu dikalahkan oleh Iblis! Kalau ia berani memaksaku untuk tunduk, ia harus siap-siap kehilangan sesuatu yang penting baginya." yakin Rainy dengan penuh semangat. Namun Ardi tidak tertawa. Ardi tahu bahwa selama Rainy tidak menandatangani Buku itu, maka selama itu pula iblis akan terus mengganggu tidurnya dengan tujuan untuk mengikis keteguhannya sedikit demi sedikit.


Sesungguhnya Rainy merasa sangat takut. Pengalaman terlempar masuk ke dalam sungai yang terbuat dari api yang menyala sungguh menciutkan hatinya. Itulah sebabnya saat ini, ia mencurahkan rasa takutnya pada tangisan yang tidak lagi bisa ditahannya. Tubuh Rainy berguncang oleh sedu sedan yang terus bertahan sampai saat Adzan Isya terdengar dari Masjid.


***


Malam itu Rainy demam. Mengetahui ini, dengan kejam Rainy di usir dari kamar Ardi dan diperintahkan untuk beristirahat di rumah saja. Untuk sementara Rainy memasrahkan kedua orang tuanya sepenuhnya pada Arka, sementara ia dan Raka melaju pulang ke rumah Rainy. Sepanjang perjalanan pulang, Rainy jatuh tertidur. Ia bahkan tidak menyadari ketika Raka menghentikan mobil dan meninggalkannya sesaat untuk membeli obat di apotik. Ketika Raka kembali ke dalam mobil, Rainy masih tertidur dalam posisi yang sama persis seperti sebelum Raka meninggalkannya. Bukti bahwa gadis itu tidur dengan sangat dalam.


Ketika akhirnya mobil yang dikendarai Raka sampai di rumah Ardi, Raka menggendong Rainy keluar dari mobil dan membawanya langsung menuju kamarnya. Setelah sampai di kamar, Raka meletakkan Rainy ke atas ranjang, sementara itu ia turun ke dapur untuk membuatkan bubur untuk Rainy. Setelah buburnya selesai dimasak, Raka kemudian membangunkan Rainy untuk menyuruhnya makan, minum obat dan berganti pakaian. Lalu setelah Rainy kembali tertidur, Raka naik ke atas ranjang dan berbaring di sampingnya sambil membaca, berniat mengawasi Rainy sepanjang malam karena khawatir pada keadaannya.


Dari apa yang didengarnya lewat percakapan antara Ardi dan Rainy tadi, Raka menyadari bahwa Rainy baru saja di hantui oleh iblis dalam mimpinya. Entah siksaan apa yang 'dipersembahkan' oleh Lilian, namun bila mendengar bagaimana Ardi yang 'dianugerahi' kesempatan oleh Lilian untuk menyaksikan proses penyiksaan yang dilakukan oleh Lilian secara langsung sampai menangis dengan begitu memilukan, Raka tahu bahwa penyiksaan tersebut yang harus dihadapi oleh Rainy itu pasti sangat mengerikan. Dan mengetahui bahwa mimpi buruk ini adalah yang pertama dari banyak mimpi buruk yang akan datang, Raka sampai gemetar karena merasa geram.


Andai bisa, ia ingin bisa menggantikan Rainy untuk mengalami semua siksaan tersebut. Andai bisa, ia ingin selalu melindungi Rainy dan menjauhkannya dari semua rasa sakit. Namun Raka tidak memiliki daya apapun sehingga ia hanya bisa berbaring diam dan memandangi wajah Rainy, hampir sepanjang malam. Tepat setelah lewat tengah malam, akhirnya Raka ikut tertidur di samping Rainy. Sama sekali tidak menyadari bahwa tunangannya itu lagi-lagi terlempar dalam mimpi buruk lainnya.


***


Lagi-lagi Lilian membawa Rainy ke replika Neraka\, ke atas rakit yang sama namun dalam ukuran yang 2 kali lebih besar. Kali ini bukan sofa tunggal yang berada di atas rakit\, tapi sebuah chaise lounge berwarna putih yang dilapisi oleh kain berwarna putih tulang\, dimana Lilian\, yang mengenakan gaun kuning gading yang dililit ke tubuhnya layaknya gaun jaman Yunani kuno\, berbaring menyamping dengan sebelah tangan menopang kepalanya. Bagian bawah gaunnya yang terbuka dibeberapa bagian memamerkan kakinya yang putih dan ramping. Sedangkan bentuk leher V bajunya yang rendah membuat buah dadanya yang besar mengintip malu-malu. Lagaknya mirip Alexis Smith\, si artis Amerika tahun empat puluhan dalam salah satu pose ikoniknya. Melihat ini\, Rainy mengerutkan kening dengan jijik. Mengapa iblis ini berlagak seperti pel*c*r perancis di depannya? Memangnya siapa yang ingin ia goda dengan pose seronoknya itu? Apa dia tidak tahu kalau Rainy sama sekali tidak tertarik pada wanita?


Untuk sesaat Lilian tampak asyik dengan dirinya sendiri dan sepenuhnya mengabaikan Rainy. Melihat tingkahnya, Rainy mendengus muak. Lilian mengangkat matanya dan menatap Rainy dari balik bulu matanya yang berkedip-kedip layaknya tokoh kartun Betty Boop.


“Bagaimana, Rainy? Apakah kau sudah selesai berbagi cerita dengan Papamu?” Tanya Lilian dengan suara yang merdu merayu. “Ia pasti sangat bersemangat untuk mengetahui pengalamanmu berada disini kan? Aku bisa membayangkannya.” Lanjut iblis itu lagi dalam suara yang sangat menggoda, namun mendirikan bulu roma yang mendengarnya. Rainy hanya menatapnya dengan ekspresi jijik, sepenuhnya mengabaikan kata-katanya.


“Apa maumu?” Tanya Rainy.


“Apa mauku?” Lilian mengangkat kedua alisnya dan memasang ekspresi terkejut. “Apa kau yakin bahwa kau tidak tahu? Tapi Rainy, itu sungguh sulit untuk dipercaya.” Lilian bangkit dari posisi berbaringnya dan menurunkan kakinya yang mengenakan bejeweled sandal dari chaise lounge dan pelan-pelan berdiri. Setiap gerak-geriknya terlihat anggun sekaligus menggoda. Membuat Rainy merasa ingin muntah. Lilian berjalan mendekati Rainy dengan langkah yang pelan dan anggun, yang normalnya tidak bisa dilakukan mengingat mereka sedang berdiri di atas sebuah rakit sederhana yang mengapung di atas sungai api. Namun iblis itu melangkah dengan sangat luwes. Dalam setiap langkahnya terdengar suara gemericing bel yang dipasang sebagai salah satu hiasan  di atas bejeweled sandal yang dikenakannya.


Karena jaraknya yang sangat pendek, sebentar saja Lilian sudah berada tepat di hadapan Rainy. Ia berdiri dalam jarak yang sangat dekat, membuat Rainy bisa melihat bayangan wajahnya sendiri di pupil mata Lilian yang berwarna merah darah. Lilian mengangkat sebelah tangannya dan menyentuh wajah Rainy dengan ujung-ujung


jarinya, namun Rainy menjauhkan wajahnya dari cakar Lilian dengan ekspresi jijik. Diperlakukan seperti ini, Lilian hanya tersenyum. Jarinya kemudian bergerak pelan, membelai bahu Rainy dengan ujung-ujung kukunya yang di cat dengan warna merah mudah.


“Kau adalah salah satu keturunan Lauri yang paling pintar. Sangat tidak mungkin bagi kau untuk tidak mengetahui apa yang aku inginkan.” Bisik Lilian dengan intonasi yang pelan dan bernada mengancam. “Jadi Rainy, maukah kau memberiku apa yang aku inginkan?” Tanya Lilian kemudian.


“Bermimpi saja terus. Aku tidak akan pernah mengabulkan keinginanmu!” sahut Rainy tegas. Mendengar kata-kata Rainy, Lilian menyipitkan matanya. Tahu-tahu tangan yang sedang membelai bahu Rainy, berganti mencengkeram bahu tersebut dan tanpa basa-basi, mendorong Rainy kuat-kuat ke belakang. Dengan ngeri Rainy menyadari bahwa tubuhnya telah kembali melayang memasuki sungai api yang merah membara.