
"Daripada kau merusak apa yang kau miliki, lebih baik kau memanfaatkannya sebaik-baiknya. Kalau kau ingin menunjukan kekesalanmu padanya, balas saja dengan merusak sesuatu yang menjadi miliknya." suruh Raka.
'Milikku? Bukankah itu dirimu?' tanya Lilith setengah mengejek, yang tentu saja hanya dapat di dengar oleh Rainy, karena Lilith hanya berbicara dalam kepalanya. Dengan sengaja, Rainy kembali mengabaikannya.
"Lagipula, apa kau sudah lupa? Kau paling tidak suka bila rambutmu pendek. Pernah suatu kali, saat kau masih kecil, Tante Ratna membawamu ke penata rambut dan memutuskan untuk memotong rambutmu sampai di atas bahu, apa kau ingat? Begitu melihat hasilnya, kau begitu membencinya hingga membuatmu menangis sepanjang perjalanan pulang. Kau bilang potongan rambut itu membuatmu terlihat seperti Dora, The Explorer. Setelah itu kau mengurung diri di dalam kamar selama seminggu dan baru mau keluar ketika aku berhasil membujukmu." cerita Raka.
"Lalu sekarang kau bermaksud menggunduli kepalamu sendiri? Apakah kau berniat mengurung diri dalam kamar selama 6 bulan?" tanya Raka.
Rainy mencibir. Sesungguhnya tadi ia sempat ragu-ragu. Namun ketika mendengar janji Lilith bahwa setiap helai rambut yang dipotong, iblis itu akan menumbuhkan 2 helai yang baru sebagai gantinya, Rainy dengan impulsif ingin segera memotong rambutnya hanya untuk menantang iblis tersebut. Pasti sangat memuaskan untuk bisa memotong dan terus memotong, ketika rambut baru segera tumbuh kembali dengan cepat, bahkan 2 kali lebih lebat dari sebelumnya. Menghemat uang untuk membeli shampoo anti rontok dan kondisioner penyubur rambut.
"Ayo pulang." tiba-tiba Arka telah berdiri di sampingnya. Rainy mengangkat kepala dan menatap wajah tampan Arka. Ia mencemberuti pria itu, tidak menyadari bahwa ekspresinya itu malah membuatnya terlihat sangat menggemaskan.
"Dasar pengadu!" tudingnya. Arka tersenyum tipis. Ia kemudian menoleh pada sang penata rambut yang sedang memandangi Arka dengan terpesona, dan berkata,
"Tolong keringkan rambutnya."
Sang penata rambut tersadar dari kelinglungannya dan mengangguk cepat. Apapun untukmu, ganteng! Ucapnya dalam hati sambil menyesali mengapa ia dilahirkan sebagai laki-laki. Setelah menggelengkan kepala untuk mengusir pesona Arka dari matanya, sang penata rambut segera melakukan tugasnya.
***
Sampai di resort, Rainy disambut oleh Ratna dengan senyum lebar. Ratna menggandeng putrinya untuk memasuki restoran, sementara Arka segera menghilang entah kemana. Di dalam restoran, Ardi, Raka dan kedua orangtua Raka sedang duduk mengobrol. Melihat Rainy dan Ratna berjalan mendekat, mereka menyambutnya dengan penuh senyum. Rainy menyalami Aditya dan Rini dengan sopan, lalu berjalan ke belakang kursi yang ditempati ayahnya untuk memeluk dan mencium pipi Ardi dengan manja, sebelum mengambil tempat di kursi kosong, tepat di sebelah Ardi dan di seberang Raka.
"Kau belum makan kan, Rain?" tanya Raka sambil tersenyum. Rainy mengangguk.
"Aku sudah memesankan nasi liwet dengan empal kesukaanmu. Tidak apa-apa kan?" tanya Raka lagi. Rainy kembali mengangguk.
Sepasang orangtua mereka menatap interaksi keduanya dengan senyum bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya mereka bisa melihat Rainy dan Raka bersama lagi. Sungguh membahagiakan! Berbagai angan-angan tentang keduanya yang telah lama terkubur, kembali muncul dengan kekuatan penuh.
"Rain, tante sudah lama tidak melihatmu. Tidak disangka, kau semakin cantik saja." puji Rini tulus. Rainy tersenyum dan mengangguk. Kepada orang-orang tua yang dihormati dan disayanginya, Rainy tak pernah enggan tersenyum. Apalagi Aditya dan Rini adalah orang-orang yang benar-benar tulus menyayanginya. Rainy tidak akan bersikap dingin pada mereka.
"Terimakasih, tante."
"Bagaimana, Rain? Sudah mulai terbiasa dengan pekerjaanmu?" tanya Aditya.
"Alhamdulillah, sudah sih, om." sahut Rainy.
"Syukurlah. Kalau kau memerlukan bantuan, jangan segan-segan menyuruh Raka. Ia memang dilahirkan untukmu." seloroh Aditya, membuat semua orang yang mendengarnya tersenyum.
"Seluruh pekerjaan administasi yang membosankan telah dikerjakan dan diawasi oleh Raka kok, Oom. Rainy tidak punya banyak pekerjaan selain bermalas-malasan." sahut Rainy.
"Rainy beruntung memiliki tangan kanan yang sangat cakap." puji Ardi.
"Tapi Raka juga beruntung, bisa bekerja untuk wanita yang paling Raka cintai, Oom Ardi." seloroh Raka yang kontan membuat pipi Rainy memerah. Kata-katanya langsung disambut oleh derai tawa orangtua mereka.
"Ya ampun, anak ini!" Rini tertawa geli.
"Lho, benar kan, ma! Sambil bekerja, Raka bisa sambil menjaga Rainy. Lalu sepanjang hari bisa melihat wajah Rainy serta selalu berada di sampingnya." tambah Raka. "Raka tidak perlu mengurusi orang lain, cukup hanya mengurusi Rainy saja. Pekerjaan seperti ini terlalu menyenangkan."
"Tapi kau memang tidak bisa." ucap Ratna dengan geli.
"Mama!" seru Rainy, tidak terima.
"Putriku ini keras kepala, manja dan egois." ucap Ratna sambil menggelengkan kepalanya. "Raka, kuharap kau tahan direpoti dia seumur hidupmu."
"Jangan khawatir, tante. Aku bahkan sanggup bertahan sampai kehidupan yang berikutnya!" sahut Ananda dengan serius, membuat Rainy ingin melemparnya dengan sendok.
Tak lama kemudian makanan Rainy tersaji. Setelah berhadapan dengan makanan, barulah Rainy menyadari bahwa ia sangat lapar karena ia belum makan apapun sejak kemarin siang. Dengan lahap Rainy menyantap makan siangnya yang sudah kesorean itu tanpa malu-malu, sementara Raka dan kedua orangtua mereka menikmati snack sore sambil terus mengobrol ramai.
Setelah menghabiskan seporsi nasi liwetnya, Raka mengulurkan semangkuk gelato ke hadapannya, yang diterima Rainy dengan penuh syukur. Ia langsung menyantapnya dengan nikmat.
"Rain," panggil Rini. "Apakah Raka selalu bersikap baik padamu?"
Mendengar pertanyaan ini, Rainy mengangguk.
"Raka adalah pria terbaik di dunia!" puji Rainy, membuat senyum sepasang orangtua mereka bertambah lebar.
"Rain," panggil Rini lagi. "Tante sangat menyukaimu. Bagaimana kalau kau jadi putri tante saja?"
"Rainy juga sangat menyukai tante." balas Rainy. "Bila tante tidak berkeberatan berbagi dengan papa dan mama, Rainy merasa sangat beruntung kalau dianggap sebagai putri tante." sahut Rainy lagi.
"Aaaah, kau memang paling manis!" ucap Rini sambil mencubit pipi Rainy pelan. "Kalau begitu, tante minta ijin untuk segera mempersiapkan semuanya ya, Rain?! Rainy cukup mempersiapkan gaun pengantin yang ingin Rainy pakai saja. "
"Mama akan membantu dan menemanimu mencari gaun pengantin yang paling cocok untukmu sehingga kau bisa terlihat secantik seorang ratu pada hari pernikahanmu." tambah Ratna.
"Gaun pengantin? Mengapa Rainy membutuhkan gaun pengantin?" tanya Rainy heran.
"Tentu saja untuk menikah." sahut Rini.
"Eh? Memangnya Rainy mau menikah?" tanya Rainy dengan bingung.
"Lho, katanya kau bersedia jadi putri tante?" seloroh Rini.
"Apakah untuk menjadi putri tante, Rainy harus menikah terlebih dahulu?" tanya Rainy ingin tahu.
"Tentu saja!" sahut Rini.
"Mengapa begitu?" Tanya Rainy.
"Karena aku mencintaimu jadi satu-satunya cara bagimu untuk jadi putri mamaku adalah dengan menikahiku."
Copyright @FreyaCesare