
Mata Rainy langsung melebar ketika melihat buku yang terletak di sebelah sepatu pelaku bunuh diri tersebut. Itu adalah buku harian yang semalam diserahkan Sutrisno kepada Sinta atas permintaan Laura.
"Ini..."
"Pak Raka bilang apabila melihat buku ini, Boss pasti bisa menebak apa yang telah terjadi." ucap Natasha.
"Dimana Raka?" tanya Rainy.
"Pak Raka sedang menelepon Pak Sutrisno...." sahut Natasha. Kalimatnya terhenti ketika melihat Raka berjalan mendekat.
"Aku disini." ucap Raka sambil berjalan menuju ke arah Rainy. Natasha yang bijak langsung bangkit dari duduknya dan pindah ke kursi di sebelah Ivan, yang berada di sisi lain meja, sementara Raka segera duduk di kursi yang ditinggalkan Natasha.
"Aku baru saja menghubungi Pak Sutrisno dan beliau membenarkan bahwa pelaku bunuh diri di Artikel tersebut adalah Brata." ucap Raka. Rainy yang sudah menduganya, tidak terlalu terkejut mendengarnya. Namun Ace dan Ivan yang baru mendengar berita ini terkesiap kaget, sementara Arka hanya menaikkan alisnya.
"Apakah Pak Sutrisno menceritakan padamu apa yang terjadi semalam?" tanya Rainy. Raka mengangguk mengiyakan.
"Semalam, setelah Sinta membaca buku harian Laura, Sinta menjadi histeris dan mengamuk. Ia menginterogasi Brata, namun Brata sama sekali tidak bersedia mengakuinya. Sinta melempari Brata dengan berbagai macam benda sampai Brata babak belur. Kemudian Sinta melemparkan buku harian Laura tepat di wajahnya, lalu mengusirnya dari rumah itu." cerita Raka.
"Dia tidak mengakuinya?" Tanya Rainy.
"Menurut Pak Sutrisno, Brata sama sekali tidak ingat pernah melakukan pemerkosaan terhadap Laura, apalagi melakukannya berkali-kali selama beberapa bulan saat Laura masih berusia 7 tahun." kata-kata Raka membuat semua orang, kecuali Rainy, terkesiap.
Diperkosa? Laura diperkosa berkali-kali oleh ayah kandungnya sendiri saat ia masih berusia 7 tahun? Pantas saja! Pantas saja Laura mengalami perubahan kepribadian di masa kecilnya. Pantas saja Laura sangat ketakutan setiap kali ayahnya memasuki pintu rumah. Pantas saja iblis yang menyerangnya memiliki wajah yang identik dengan ayahnya! Pantas saja! Siapa yang tidak akan menderita gangguan jiwa bila harus mengalami peristiwa semengerikan itu! Begitu pikir mereka.
"Pada saat itu ia berada di bawah pengaruh narkoba. Wajar saja bila ia tidak dapat mengingatnya." ucap Rainy.
"Tapi bukankah yang menyerang Laura adalah Iblis yang wajahnya mirip dengan ayahnya?" tanya Ivan.
"Benar, yang menyerang Laura tadi malam, dan mungkin malam-malam sebelumnya yang kemudian menjadi salah satu pemicu gejala gangguan jiwanya muncul untuk pertama kalinya adalah iblis tersebut. Tapi yang memperkosa Laura bertahun-tahun yang lalu adalah ayahnya." jawab Rainy.
"Saat itu Brata sedang menghadapi berbagai tekanan dalam hidupnya sehingga ia melarikan diri dengan cara menggunakan narkoba. Di saat yang sama, Sinta yang tidak suka pada perilaku suaminya, mengusir Brata dari kamarnya dan membiarkan pria itu tidur di kamar Laura. Bila menilai dari perilaku Brata pada masa itu, sangatlah wajar bila Iblis kemudian bersemayam dalam hatinya. Ia pasti jenis manusia yang pikirannya mudah dipengaruhi oleh iblis sehingga dapat diarahkan untuk melakukan berbagai hal buruk, termasuk menggunakan narkoba. Dugaanku, setiap kali perkosaan tersebut terjadi, Brata sedang berada di bawah pengaruh narkoba. Saat ia kehilangan kontrol pada kesadarannya, saat itulah iblis mendorongnya untuk memperkosa Laura."
"Tapi mengapa Laura diam saja?" tanya Natasha.
"Laura masih sangat belia dan Brata adalah ayah kandungnya. Laura pasti sangat ketakutan sehingga tidak berani menceritakannya pada siapapun." jawab Rainy.
"Tubuhnya pasti masih sangat kecil waktu itu, bukankah seharusnya pemerkosaan itu menyebabkan luka-luka yang menyakitkan dan berbahaya pada Laura? Mengapa tidak ada yang menyadarinya?" tanya Ace dengan berapi-api.
"Waktu itu mereka hanya tinggal bertiga saja. Berempat dengan pengasuh Laura. Kurasa Sinta terlalu sibuk dengan dirinya dan masalahnya sendiri sehingga mengabaikan Laura. Sementara pengasuhnya yang sudah tua, tidak memahami apapun. Itu sebabnya tidak ada yang melihat tanda-tanda kekerasan pada tubuh Laura." jawab Rainy lagi.
"Rainy, apakah kau sudah menduganya sebelumnya?" tanya Raka. Penjelasan yang diberikan Rainy tidak tampak seperti ide yang baru diperoleh dalam beberapa detik saja.
*Emm." Rainy mengangguk. "Saat menganalisa profil Laura, aku sudah menduganya."
"Bagaimana dengan iblis itu? Apa perannya dalam kasus ini?" tanya Ace lagi.
"Mengapa wajah iblis itu menyerupai Brata?" Tanya Natasha menambahkan.
"Iblis hidup dan tumbuh dari memakan energi negatif manusia. Awalnya, ketika memasuki tubuh manusia, ia masih sangat lemah dan tak punya banyak kemampuan. Yang bisa dilakukannya hanyalah berbisik dan membujuk manusia untuk melakukan kejahatan. Semakin banyak inangnya melakukan kejahatan dan keburukan maka akan semakin besar aura negatif yang dihasilkannya. Hal ini tentu saja membuat si iblis menjadi semakin kuat. Setelah bertahun-tahun, lama-kelamaan iblis tersebut akan semakin mirip dengan inangnya dalam hal penampilan..."
"Dan inangnya akan semakin mirip iblis dalam perilaku?" lanjut Natasha dengan ngeri.
Rainy mengangguk.
"Brata pasti telah melakukan banyak hal buruk sehingga iblisnya bisa muncul dan menyerang Laura secara fisik." komentar Ivan.
"Mengapa iblis tersebut menyerang Laura?" tanya Natasha lagi.
"Iblis brengsek!!!" maki Natasha kesal. Kepalan tangannya memukul meja dengan keras, membuat Ace yang melihatnya mengernyit khawatir. Dengan luwes, Ace meraih kepalan tangan Natasha ke dalam tangannya sendiri dan mengusapnya dengan hati-hati. Natasha yang sedang meradang tampak tidak menyadari perilaku intim yang ditunjukan Ace.
"Namanya juga iblis. Brengsek mungkin merupakan salah satu SOPnya. Kalau Ace, baru namanya gentleman." seloroh Ivan sambil memandang ke arah tangan Natasha yang masih dibelai Ace dengan penuh sayang. Tatapan penuh arti Ivan menyadarkan Natasha pada apa yang sedang dilakukan Ace terhadap tangannya. Natasha langsung menarik tangannya menjauh dengan muka merah padam. Ia melotot pada Ace dengan kesal. Ace yang merasa telah di salah pahami, memandang Natasha dengan tatapan sedih dan bibir cemberut. Aku kan melakukannya karena kasihan pada tanganmu yang kesakitan. Begitu keluhnya dalam hati.
"Mungkin Scooby Doo kita sudah mulai berevolusi menjadi Casanova?" timpal Rainy. Kata-kata Rainy langsung membuat Ace panik.
"Boss...." rengek Ace, memohon tanpa suara agar Rainy tidak mengungkapkan kesalahan yang dilakukannya semalam di depan Natasha.
"Dia?" Tanya Natasha sambil memandang wajah memelas Ace dengan sebal. "Mungkin sampai matipun ia tidak akan pernah bisa memahami mengapa ia dipanggil Scooby Doo."
Well, well, well, you'll be surprise if you know what happened last night, sweety. Komentar Ivan dalam hati. Bibirnya menyunggingkan senyum misterius yang membuat hati Ace gemetar ketakutan. Boss kecil, kasihanilah aku! Rengek Ace dalam hati.
"Tapi Boss, kan Brata melakukannya saat dalam keadaan tidak sadarkan diri. Apa tidak mungkin iblis sedang mengambil alih tubuhnya saat perkosaan tersebut terjadi? Sebab kalau dilihat dari responnya saat mengetahui apa yang telah dia lakukan pada Laura, yaitu membunuh dirinya sendiri, seperti dia juga tidak mungkin akan mau melakukan hal tersebut ketika dalam keadaan sadar. Apa bukan berarti dalam hal ini, Brata juga termasuk korban?" tanya Natasha. Mendengar pertanyaan ini membuat Rainy mendengus sinis.
"Brata bisa saja berkilah bahwa pada saat itu setan sedang mengambil alih tubuhnya sehingga dirinya cuma alat yang digunakan oleh setan untuk menyakiti Laura. Namun mengambil narkoba dan memasukkannya ke dalam tubuhnya, adalah pilihan dibuat Brata sendiri secara sadar. Itu sebabnya apapun yang terjadi setelah ia berada di bawah pengaruh narkoba, sepenuhnya adalah tanggung jawabnya." jawab Rainy dingin. Rainy tidak pernah bersimpati pada pemabuk dan pengguna narkoba. Ia juga tidak pernah bersedia untuk memaklumi perbuatan orang-orang yang rela melepaskan kesadarannya hanya agar bisa lari dari masalah selama beberapa saat saja. Menurutnya mereka adalah orang-orang yang pengecut dan tidak bertanggung jawab.
"Sebaiknya kau menghubungi Laura." Ucap Raka mengingatkan. Rainy mengangguk pelan. Raka lalu menghubungi Sutrisno melalui telepon genggamnya, agar Sutrisno bisa memberikan teleponnya pada Laura. Setelah itu Raka meletakkan telepon genggamnya di hadapan Rainy setelah terlebih dahulu menyalakan speakernya.
"Hallo, kak Rainy." Suara Laura yang feminin dan masih sedikit kekanakan terdengar dari sambungan telepon.
"Laura, bagaimana keadaanmu?" tanya Rainy.
"Aku baik-baik saja, kak." Sahut Laura. Suaranya tenang dan terdengar stabil tanpa fluktuasi emosi. Menandakan bahwa gadis itu tidak sedang menangisi kepergian Brata.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" tanya Rainy lagi.
"Aku merasa lega, kak. Aku merasa bebas."
"Emm. Kau sudah bebas sekarang."
"Ini semua karena pertolongan kakak. Terimakasih, kak."
"Tak perlu sungkan. Aku tidak melakukannya dengan gratis." seloroh Rainy membuat Laura terkekeh pelan. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Laura tertawa, membuat Rainy bersyukur dalam hati.
"Tetap saja. Tanpa bantuan kakak, aku masih akan tetap terperangkap dalan mimpi buruk yang tanpa ujung. Kalau itu yang terjadi, mungkin saat ini akulah yang sedang terkapar di lantai yang keras dengan kepala pecah." ucap Laura dengan suara agak bergetar.
"Well, 'mungkin' itu kata yang tidak diperlukan. Kau harus menyingkirkannya dari pilihan kosa katamu." sahut Rainy.
"Emm. Aku akan menuruti perkataan mu." jawab Laura. "Sekali lagi, terimakasih banyak, kak."
"Kalau kau sungguh-sungguh merasa berterimakasih padaku, berikan saja aku bonus yang banyak." seloroh Rainy dengan wajah datar, membuat mulut mereka yang mendengarnya menjadi terbuka lebar. Please Boss, mengapa kau bersikap begitu sih? Wajah bidadari, ekspresi ratu tangan besi tapi cara bicaramu kadang-kadang mirip preman pasar. Sungguh tidak cocok! Keluh Natasha yang merasa citra sempurna yang dilihatnya dalam diri Rainy di awal perjumpaan mereka, sekarang luluh lantak akibat 1 kalimat yang tidak tahu malu itu. Namun Laura yang mendengarnya malah tertawa geli.
"Hehe... Jangan khawatir, Kak. Ketika mamaku merasa sangat bersyukur, ia tak pernah mengecewakan." ucap Laura membalas seloroh Rainy.
Mereka kemudian saling mengucapkan salam sebelum akhirnya menutup sambungan telepon. Tak lama kemudian suara notifikasi terdengar nyaring dari Tab yang telah kembali berada di tangan Natasha. Natasha yang refleks langsung mengintip layar tab menjadi terpekik pelan karena terkejut.
"Boss, ibu Sinta mengirimkan payment sebesar 100k!" pekiknya pelan.
"Heh? Hanya seratus?" tanya Ace heran. Bukankan tadi Laura mengisyaratkan bahwa Santi sangat royal? Bagi Ace uang 100k cuma bisa digunakan untuk sekali makan. Yang benar saja!
"In Dollar. It's one hundred thousand dollar!" jawab Natasha dengan suara bergetar.
Damn! Kalau dirupiahkan itu jadi berapa ya?
Copyright @FreyaCesare