
“Kuyang tersebut belum makan. Ia tidak akan berhenti sampai menemukan mangsa malam ini. Penduduk Desa Ampari harus berhati-hati.” Komentar Ivan.
Saat itu mereka sedang berdiri di lapangan parkir asrama Divisi VII yang terang benderang. Walaupun seluruh pegawai dan tamu Cattleya Resort diminta untuk berkumpul di ruang konferensi, Divisi VII yang terlibat langsung dalam meningkatkan keamanan Cattleya Resort dari Kuyang, memilih menggunakan Asrama Divisi VII sebagai tempat berkoordinasi. Saat itu Regina yang masih pucat pasi dan Batari yang juga sama pucat pasinya sedang duduk di ruang makan ditemani oleh Miranda, Mr. Jack dan Nora, yang merupakan satu-satunya anggota Divisi VII yang tidak tahunya caranya berkelahi. Karena bukan petarung, dengan bijak Nora memilih membantu dengan menyajikan teh bunga krisan hangat untuk sedikit meringankan ketegangan mereka. Sementara itu, Rainy, Ivan dan Natasha memilih untuk berjaga di luar bangunan Asrama.
“Kalau mereka pintar, mereka akan segera melakukan penjagaan sepanjang malam ini.” sambung Ivan lagi.
“Jangan khawatir. Kepala Desa Ampari adalah pria yang cerdas. Dia hanya kurang memiliki pengalaman dalam menghadapi dunia.” Sahut Rainy, membuat Ivan tersenyum. Bila harus berurusan dengan kekejamanmu, siapa
yang tahan sih, Rain? Pikir Ivan. Ivan kemudian menoleh kearah pintu masuk utama asrama Divisi VII yang tertutup Rapat.
“Bagaimana dengan Regina? Apakah sebaiknya kita menyuruhnya pulang?” Tanya Ivan. Rainy mengangguk.
“Ide yang bagus. Aku yakin ia juga tidak akan mau tinggal lebih lama disini. Segera setelah kita bisa memastikan bahwa Kuyang tersebut sudah tidak ada di Cattleya Resort, kita bisa menyuruh supirnya untuk membawa Regina pulang.” Rainy kemudian berbalik memasuki asrama dan berjalan menuju kafetaria, diikuti oleh Natasha dan Ivan. ketika melihat Rainy memasuki Kafetaria, Batari langsung bangkit dari kursinya dengan ekspresi yang merupakan perpaduan antara panik, terkejut, khawatir dan harap-harap cemas. Sepertinya Batari belum bisa menentukan apa yang sedang iarasakan. Rainy berjalan mendekati Batari, meraihnya tangan kanannya dan menariknya untuk duduk kembali. mereka berdua lalu duduk di sofa bersama Mr. Jack yang sedang berusaha membuat Batari meminum tehnya. Batari mengabaikannya. Mr. Jack memandang Rainy dengan tatapan memelas, meminta bantuan Rainy. Melihat ini, bahkan ditengah suasana yang muram itu, Rainy masih merasa bibirnya berkedut pelan, menandai senyum tipis yang mengancam muncul di bibirnya. Bibir mencebik yang terpasang di wajah setengah baya Mr. Jack sungguh tidak serasi bila dipadukan. Mr. Jack, bisa tidak kalau kau memasang ekspresi tenang dan serius? Kekasihmu sedang sangat memerlukanmu sebagai tempat bersandar ~~~~saat ini. Ekspresi mencebik tersebut sungguh tidak berwibawa.
Rainy mengambil cangkir teh dari atas meja dan memasukkannya ke dalam tangan Batari.
“Minumlah. Setelah kau meminumnya, aku akan mencoba menjawab pertanyaan apapun yang kak Tari ingin tanyakan.” Suruh Rainy. Batari menunduk. untuk sesaat ia tampak tercengang melihat tangannya sedang memegang sebuah cangkir berisi teh. Rupanya sejak tadi Batari sama sekali tidak bisa mendengar dan memahami apapun yang sedang terjadi di sekitarnya akibat berbagai pemikiran yang memenuhi kepalanya.
“Minumlah.” Suruh Rainy lagi. dengan patuh, Batari menyesap teh hangatnya perlahan. Ia bisa merasakan rasa hangat mengalir memenuhi perutnya. Wanginya juga membuatnya lebih rileks. Batari menyesap tehnya lebih banyak. Setelah itu ia mendesah lega dan meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja.
“Bagaimana keadaan kak Tari?” Tanya Rainy pada Batari dengan lembut.
“Aku baik-baik saja.” sahut Batari pelan.
“Apa yang kak Tari rasakan?” Tanya rainy lagi.
Batari mengangkat kepala dan menatap Rainy. ia mengerutkan bibirnya dan mengangkat kedua bahunya, menunjukan bahwa ia sendiri juga tidak mengetahui apa yang sedang ia rasakan.
“Kurasa aku terlalu terkejut untuk bisa merasa.” Sahut Batari. “Tanyakan lagi besok. Mungkin saat itu aku sudah bisa menjawabnya.”
“Kau terlihat sangat pucat.” Komentar Rainy.
“Aku?” Batari mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Regina yang sedang duduk mengobrol dalam suara rendah dengan Miranda. “Sepertinya ada yang kondisinya lebih buruk dariku.” Rainy mengikuti arah pandangan Batari dan matanya langsung menggelap.
“Wanita itu akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Dengan Miranda ada bersamanya ia akan baik-baik saja. Miranda adalah versi hidupnya pil kebahagiaan. Dia lucu, atentif dan penuh kasih sayang. Siapapun yang dihibur olehnya akan merasa sangat bahagia dan berbunga-bunga.” Beritahu Rainy. “Aku lebih khawatir dengan kakak. Apa kakak yakin kakak baik-baik saja?” Tanya Rainy kemudian. Batari mengangguk.
“Bila aku baik-baik saja, itu malah tambah aneh kan?” seloroh Batari, membuat Rainy mengangguk setuju.
“Dia terlihat berbeda. Ia terlihat tua dan tidak terurus. Tapi aku bisa mengenalinya. Ia benar-benar wanita yang mengaku sebagai ibu kandungku waktu itu.” cerita Batari.
“Dia juga tampak mengenalimu.” Komentar Rainy. Batari mengangguk.
“Iya. Aku rasa juga begitu. Tadinya ekspresinya tampak liar, seolah-olah ia hanya bergerak berdasarkan insting. Namun kemudian setelah melihatku, kebuasannya menghilang dan ia tampak mengenaliku.” Kenang Batari.
“Apakah menurut kak Tari, ia datang kemari karena kak Tari?”
“Eh, mungkinkah? Bukankah ini hanya sebuah kebetulan?” Tanya Batari.
“Dalam kasus ini aku sangat yakin bahwa bertemunya kembali dirimu dan ibu kandungmu, itu sama sekali bukan sebuah kebetulan.” Jawab Rainy.
“Kalau bukan kebetulan, lalu apa?” Tanya Batari tak yakin.
“Aku yakin wanita itu sengaja datang untuk mencarimu.” Ucap Rainy.
“Tapi kenapa ia mencariku?” Tanya Batari lagi. Rainy memandang Batari dengan seksama. Sepertinya Batari sungguh-sungguh tidak memiliki dugaan mengapa ibu kandungnya memutuskan untuk datang jauh-jauh ke desa ampari untuk mencarinya. Rainy tidak yakin saat ini adalah waktu yang tepat untuk membahas hal itu.
“Aku pikir ia memang datang kemari untuk mencarimu. Tapi mengapa ia melakukannya, kita harus menganalisanya dengan lebih hati-hati untuk mencari jawabannya. untuk itu lebih baik kita melakukannya nanti saja setelah kita semua cukup beristirahat. Sementara ini suasana Cattleya Resort terlalu mencekam dan menegangkan. membahas itu sekarang hanya akan melelahkan kak Tari saja.” Ucap Rainy.
“Aku tidak akan bisa beristirahat. Apalagi tidur. Otakku tidak akan berhenti berputar.” Keluh Batari.
“Kalau kak Tari tidak bisa tidur, suruh paman Jack menemani kak Tari. kau bisa menyuruhnya untuk menceritakan berbagai kisah masa mudanya selama kalian terpisah. Aku yakin satu atau dua kisahnya dapat membuat kak Tari tertawa.” Suruh Rainy. di sebelah Batari, Mr. Jack mengangguk mengiyakan.
“Aku akan menemanimu malam ini. Jangan khawatir.” Ucap Mr. Jack.
“Kak Tari, apapun terjadi, aku akan berusaha sekuat tenaga untuk membantu kak Tari. Kita akan mencari kebenaran dari masalah ini dengan sebaik-baiknya, sehingga kak Tari bisa memahami apa yang sebenarnya telah terjadi.” janji Rainy. Mendengar ini, Batari mengangguk.
“Terimakasih, Rain.” Ucap Batari pelan. Rainy balas mengangguk. Batari kemudian menoleh pada Mr. Jack dan tersenyum padanya sambil berkata,
“Kak Jaka, terimakasih sudah menemaniku.”
Mr. Jack mengangguk dan balas tersenyum.
Copyright @FreyaCesare