
“Ibu, siapa nama ibu?” Tanya Batari. Mendengar pertanyaan Batari, wanita tua itu terdiam sesaat.
“Apakah aku tidak pernah memberitahumu siapa namaku?” Tanyanya kemudian yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Batari. Melihat ini, wanita tua itu tersenyum. Dengan takjub Batari melihat bagaimana senyum wanita tua tersebut mencerahkan wajah tuanya dan menghilangkan sisa-sisa ekspresi bengis yang tadinya masih tersimpan dalam ingatan Batari. Dengan getir Batari menyadari bahwa ternyata selama ini ia merindukan ibu kandungnya lebih daripada yang bersedia diakuinya.
“Namaku Bestari. Sebuah nama yang bagus bukan?” seloroh si wanita tua. Dengan takjub Batari mengangguk. Dia bisa bercanda? Pikir Batari.
“Siapa namaku yang sesungguhnya?” Tanya Batari lagi. Ini adalah pertanyaan terbesar yang paling ingin diketahuinya. Ia memperoleh nama yang bagus dari orangtua angkatnya dan sangat menyukainya. Batari pikir ia akan merasa sangat kecewa bila ternyata nama aslinya tidak seindah nama yang digunakannya saat ini.
“Namamu?” Wanita tua itu kali ini mendengus geli. “Nama yang di berikan oleh ayahmu padamu adalah Btari. Bukankah ini sesuatu yang luar biasa?” Tanyanya pada Batari, sementara Batari yang mendengarnya tak bisa menahan mulutnya untuk tidak terbuka.
“Waktu aku mengetahui bahwa orangtua angkatmu memberimu nama Batari, aku tertawa keras seperti orang gila. Bagaimana bisa mereka memberimu nama yang sama dengan nama aslimu? Padahal selain huruf B yang terukir pada liontin kalungmu, tidak ada yang mengetahui namamu yang sesungguhnya. Tapi mereka malah menamaimu Batari. Kurasa nama itu mungkin memang sudah menjadi takdirmu.” Ucap Bestari. Batari mengangguk. Batari atau Btari, keduanya adalah nama yang sama dan hanya berbeda dalam cara penulisan. Sungguh kebetulan yang luar biasa.
“Lalu siapa ayahku?” Tanya Batari lagi. Mendengar pertanyaan ini, tatapan mata Bestari meredup. Seulas senyum tipis terukir di bibirnya namun matanya yang bergetar, alisnya yang melengkung turun dan wajah keriputnya yang sedikit menunduk menunjukan kesedihan yang mendalam.
“Namanya Hasbi.” Ucap Bestari pelan.
“Apakah ia baik padamu?” Tanya Batari dengan kening berkerut. Melihat ekspresi sedih pada wajah Bestari membuat Batari mencurigai ayahnya sebagai pria brengsek yang menelantarkan Ibunya dan dirinya.
“Ayahmu adalah pria yang paling baik di dunia!” Ucap Bestari yang tatapannya tiba-tiba tampak berseri-seri. Matanya tuanya tampak berkaca-kaca dan senyum penuh nostalgia mewarnai wajah keriputnya. Untuk sesaat Batari bisa melihat sisa-sisa kecantikan ibunya di wajah tersebut, membuktikan bahwa Bestari sungguh-sungguh mencintai suaminya. Hal ini membuat hati Batari terasa hangat.
“Ayahmu sangat menyayangi kita.” Bestari mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh liontin kalung yang terpasang di leher Batari. “Liontin kalung ini dibuat khusus sebagai hadiah untuk kita berdua. Ayahmu merancangnya sendiri. Ia membuat gambarnya di atas kertas lalu membawanya ke pengrajin dan memesan sepasang yang sama persis. Satu diberikan padamu sebagai hadiah kelahiran, dan yang satu lagi diberikan padaku sebagai ucapan terimakasih, karena sudah melahirkanmu.” Cerita Bestari.
“Ayahmu sudah meninggal.” Ucapnya Bestari. Batari menunggu, namun Bestari nampak tidak berniat untuk melanjutkan kata-katanya.
“Ibu, mengapa ayah meninggal?” Tanya Batari kemudian. Bestari mengangkat kepalanya dan menatap Batari. Matanya yang tadinya hanya berkaca-kaca, sekarang telah dipenuhi oleh genangan air mata yang menetes satu demi satu tanpa suara. Melihatnya membuat hati Batari terasa sakit.
“Ayahmu kehilangan nyawanya ketika ia mencoba melindungi keluarga kita dari kemarahan masyarakat desa.” Ucap Bestari dengan suara lirih. “Itu semua adalah salahku! Salahku!” Bestari memukuli dadanya dengan kepalan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya meremas bagian bawah daster yang sedang dikenakannya. Tangisnya yang keras terdengar sangat memilukan. Batari yang duduk dihadapannya, tak tahu harus berbuat apa untuk menghiburnya. Ia hanya bisa kembali mengulurkan tangan untuk memegang tangan kanan ibunya dan menangis bersamanya.
Setelah beberapa saat, tangisan Bestari mereda. Wanita tua itu menarik bagian kerah dasternya dan menggunakannya untuk mengusap air matanya. Tak lama kemudian ia berkata,
“2 hari setelah kau dilahirkan, ibuku meninggal dunia karena kecelakaan mobil. Semenjak hari itu, tidurku tidak pernah tenang. Aku selalu dihantui oleh mimpi buruk yang sama. Aku bermimpi bertemu dengan seorang wanita tua yang mengatakan bahwa karena ibuku telah tiada, maka sebagai keturunannya, sudah waktunya bagiku untuk menerima keberadaannya. Mimpi itu datang selama 7 hari. Selama itu setiap malam, aku terbangun dalam keadaan berteriak-teriak ketakutan. Lalu… pada malam kedelapan, aku menghilang dari rumah.”
“Sepanjang malam Hasbi mencariku kemana-mana sambil menggendongmu, karena kau terus saja menangis. Tapi ia tidak berhasil menemukanku. Anehnya saat ia kembali ke rumah keesokan harinya, ia menemukanku sedang tidur dengan nyenyak di atas ranjang kami. Ia membangunkanku dan menanyakan kemana aku menghilang sepanjang malam itu, namun aku tidak dapat mengingat apapun.” Bestari menarik nafas panjang sebelum kemudian berkata, “Rupanya itu adalah malam pertama aku berubah menjadi Kuyang dan pergi entah kemana, untuk mencari mangsa.” Tangan Batari gemetar dan tubuhnya menegang. Mendengar langsung kisah ini dari Bestari membuatnya dipaksa membayangkan apa yang akan terjadi padanya kelak bila Bestari meninggal dunia. Hal ini membuat Batari dicekam oleh rasa takut yang seolah-olah membekukan seluruh tubuhnya. Membuat Batari merasa bahwa seluruh tubuhnya menjadi kaku dan dingin.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Yang jelas, setiap beberapa minggu sekali, hal itu kembali terulang. Pada hari-hari itu, aku kehilangan ingatanku selama beberapa jam dan hari menjadi berlalu dengan terlalu cepat. Sesaat hari masih senja dan aku sedang bermain denganmu di atas ranjang. Namun tiba-tiba, hari berubah menjadi pagi, dan kau sudah berada dalam pelukan Hasbi, sementara suamiku itu menatapku dengan khawatir. Ia menanyakan kemana aku pergi sepanjang malam tapi aku tidak bisa menjawabnya. Tak ada seorangpun yang bisa menjelaskan mengenai apa yang sedang terjadi. Seringkali karena khawatir, saat senja tiba, Hasbi menolak untuk pergi ke masjid, dan memilih untuk duduk di sampingku. Ia berpikir bahwa bila ia ada bersamaku saat maghrib tiba, ia akan memperoleh petunjuk mengenai apa yang sedang terjadi padaku. Tapi saat tiba waktunya untukku menghilang, Hasbi menjadi tertidur nyenyak dan baru terbangun karena mendengar tangisanmu, sementara aku sudah tidak ada dimanapun.”
“Hal ini berlangsung selama 3 bulan. Sampai pada suatu hari, seseorang berpapasan dengan Kuyang di jalanan yang gelap. Saat orang itu mengarahkan senternya ke wajah Kuyang tersebut, ia mengenali kepala Kuyang tersebut sebagai kepalaku. Ia langsung melaporkan penemuan ini kepada penduduk desa dan membuat penduduk desa memutuskan untuk mendatangi rumah kami. Seorang teman Hasbi kemudian berlari mendahului penduduk desa menuju ke rumah kami dan memberitahukan semuanya pada Hasbi. Aku tidak bisa lupa betapa pucat pasinya wajah Hasbi saat ia mendengar bahwa aku dituduh sebagai Kuyang oleh warga desa. Baik dia, maupun juga aku, tidak tahu-menahu soal Kuyang. Namun mengingat betapa seringnya aku menghilang tanpa sebab yang jelas, Hasbi merasa bahwa mungkin tuduhan warga desa itu cukup beralasan. Saat itu juga Hasbi mencoba untuk membawaku dan dirimu melarikan diri dari penduduk yang kalap dan meninggalkan desa menggunakan mobil milik ayahnya.”
“Penduduk desa tidak berniat melepaskan kami begitu saja. Aku tidak tahu seberapa banyak kerusakan yang telah kubuat pada warga desa itu hingga mereka begitu berusaha keras mengejar kami. Beberapa yang memiliki kendaraan pribadi, menyusul kami dengan kecepatan tinggi. Hasbi tidak mahir membawa mobil. Ia tahu cepat atau lambat seseorang akan menyusulnya. Itulah sebabnya, Hasbi memutuskan untuk menurunkan kita berdua di jalan setapak yang mengarah ke hutan, sementara ia sendiri kembali melaju untuk mengelabui pengejar kami. Beberapa jam kemudian mobil yang dikendarai Hasbi bertabrakan dengan sebuah truk gandeng sekitar 100 KM dari tempat ia menurunkan kita berdua. Ia meninggal di tempat dalam keadaan wajah yang tidak bisa dikenali lagi.”