My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Pertanyaan Rainy



Tahu-tahu Rainy sudah duduk di atas sebuah batang pohon, dengan kaki menggantung jauh dari tanah. Rainy menoleh dan menemukan Datuk Sanja duduk di batang yang lain, di pohon besar yang sama. Merasakan tatapannya, Datuk Sanja menoleh. Rainy mengangkat kedua alisnya, namun Datuk Sanja hanya mengangkat bahunya, lalu kembali menatap lurus ke depan.


“Ini semua perbuatan Ungu, bukan aku.” Ucap Datuk Sanja kemudian, menolak tuduhan tanpa kata yang disampaikan Rainy lewat matanya.


Rainy menggelengkan kepalanya dengan maklum. Ia lalu memandang lurus ke depan. Saat itu sepertinya matahari baru saja muncul. Rainy bisa merasakan udara dingin menyentuh kulitnya, membuat Rainy berpikir bahwa teknologi yang dihasilkan oleh Batu Ungu ini sangat menakjubkan. Bukan hanya ia bisa masuk ke dalam ingatan orang lain dalam bentuk ilusi, ia juga bisa merasakan sensasi indra di dalamnya. Apabila ilmuwan mengetahui kemampuan ini, Lavender Quartz sudah pasti akan berubah menjadi benda yang ternilai harganya, persis seperti kata Datuk Sanja.


Saat itu Rainy dan Datuk Sanja sedang duduk di atas sebuah pohon yang sangat besar dan pohon itu berada di puncak sebuah bukit yang tinggi. Bukit itu sendiri berada di sebuah area perbukitan hijau dengan pepohonan yang tinggi dan area padang sabana yang tidak terlalu luas. Dari atas pohon tersebut, Rainy bisa melihat hutan belantara di timur, sekelompok ladang di selatan, sungai yang beraliran deras di barat, dan sebuah desa di utara.


Well, sejak pertamakali masuk ke dunia dalam ingatan Lauri ini, ini adalah pertamakalinya Rainy memperoleh kesempatan untuk melihat pemandangan alam Kalimantan yang masih sangat murni. Sungguh menyenangkan bisa melihat hutan hujan yang lebat, daripada disuguhi pemandangan perbukitan yang dipenuhi oleh perkebunan kelapa sawit. Sangat menyenangkan bisa melihat padang sabana tanpa jalanan aspal dan kendaraan bermotor yang meliuk-liuk melintasinya. Udaranya juga sangat bersih tanpa gangguan polusi udara yang seringkali merusak mood Rainy. Sayangnya dunia milik Lauri ini bukan dunia yang aman bagi seorang gadis seperti Rainy untuk hidup sendiri dengan tenang.


"Datuk..." panggil Rainy dengan tiba-tiba.


"Hmmm." Sahut Datuk Sanja dengan mata yang, seperti juga Rainy, sedang menikmati pemandangan alam kalimantan yang masih perawan. Rainy menoleh ke arah Datuk Sanja dan memandang pria tua itu dengan tatapan bertanya-tanya.


"Mengapa Lilith begitu bersikeras untuk menjadikan Lauri pengikutnya?" ucap Rainy menanyakan pertanyaan yang sejak tadi menggayuti pikirannya. Mendengar pertanyaan ini Datuk Sanja terdiam sesaat sebelum balik bertanya.


"Kau sudah melihat sendiri sebagian kisah Lauri. Sebelum aku menjawabmu, kau jawab dulu pertanyaanku. Jadi bagaimana pendapatmu tentang Lauri?"


Mendengar ini, Rainy mencibir. Mengapa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan sih? Pikirnya kesal. Namun walaupun kesal, Rainy tetap menjawabnya.


"Dia lurus, loyal dan sangat jujur. Dia juga pemberani dan cukup pintar. Bila hidup di jaman modern, ia hanya akan jadi mainan orang seperti Adnan atau Hendrik." Rainy kembali mencibir sambil menggelengkan kepalanya.


"Bukankah semua yang ada dalam list tersebut adalah karakter yang baik? Mengapa kalimat akhirmu begitu? Apa yang membuatmu tidak menyukainya?" heran Datuk Sanja.


"Saya tidak bilang saya tidak menyukainya." Rainy menggelengkan kepalanya. "Saya hanya merasa bahwa dia terlalu kaku dan tidak mampu berpikir di luar dari zona nyamannya. Kadang-kadang menjadi licik adalah hal yang penting dalam menghadapi penjahat."


"Apa yang akan kau lakukan bila kau di posisi dia?" tanya Datuk Sanja dengan penuh minat.


"Aku akan membunuh Mamut diam-diam sebelum dia sempat menyerang Datuk Rumbun untuk yang pertama kalinya!" Sahut Rainy sambil menggemeretakkan giginya dan mengepalkan tangan mungilnya kuat-kuat.


"Atas dasar apa?" tanya Datuk Sanja lagi.


"Kalau dia tidak bisa melihat bahaya sebelum bahaya tersebut menampakan wajahnya, berarti dia benar-benar bodoh!" protes Rainy. Namun kemudian Rainy meralat kata-katanya sendiri. "Ah, tapi dia memang bodoh! Sebelumnya Ayahnya telah diserang sebanyak 6 kali, namun dia tidak melakukan apapun! Bukan cuma dia yang bodoh! Kakak iparnya yang bernama Sanja itu juga bodoh! Jelas-jelas seorang pria memandangi istrinya dengan liur mengalir dari kedua sudut mulutnya, namun dia tidak terpikir untuk membunuh Mamut!"


"Datuk Rumbun tidak akan pernah setuju." Sahut Datuk Sanja.


"Datuk Rumbun tidak perlu tahu!" Tukas Rainy.


"Kau terdengar sangat jahat." ucap Datuk Sanja sambil tersenyum geli. "Apakah kau pernah ingin membunuh seseorang?"


"Tentu saja!" sahut Rainy dengan tegas.


"Lilith dan Lilian!" Sahut Rainy dengan mata membara.


"Mereka bukan orang. Mereka Iblis." Sahut Datuk Sanja.


Kalau mereka tidak bisa dimasukkan kategori sebagai orang, lalu....


"Orang yang menusuk papa!" Sahut Rainy cepat.


"Ah. Begitu ya." komentar Datuk Sanja sambil menganggukkan kepala. "Apakah kalau menemukannya, kau benar-benar akan membunuhnya?"


Mendengar ini, Rainy melemparkan senyum fenomenalnya, membuat Datuk Sanja merasa bulu romanya meremang karena ngeri.


"Masih ada cara membunuh tanpa menghilangkan nyawa. Membuat orang menjalani kehidupan yang lebih buruk daripada mati. Yang begitu pasti lebih menyenangkan daripada sekedar membuatnya menghembuskan nafas terakhirnya begitu saja."


"Mengapa senyummu sangat menakutkan?" protes Datuk Sanja yang langsung membuat senyum Rainy langsung memudar, berganti cemberutannya yang lebih biasa dilihat oleh Datuk Sanja.


"Datuk belum menjawab pertanyaanku!" protes Rainy keras.


"Ah? Pertanyaan yang mana?" tanya Datuk Sanja dengan terpana, membuat cemberutan Rainy semakin memburuk.


"Datuuuuuuk!" panggil Rainy dengan gemas, membuat Datuk Sanja langsung tergelak.


"Aku hanya sedikit shock melihat senyummu yang menakutkan." jelasnya. "Uh, baiklah. Kau bertanya mengapa Lilith begitu tertarik pada Lauri. Tentu saja itu karena bakat spiritual yang dimilikinya." Akhirnya Datuk Sanja menjawab pertanyaan Rainy. Namun jawaban ini membuat kening Rainy menjadi berkerut.


"Bakat spiritual? Bukankah katanya di antara ketiga anak Datuk Rumbun, bakat Lauri adalah yang paling lemah? Lagipula kalau soal bakat, mengapa tidak mencoba menguasai Datuk Rumbun saja? Bukankah Datuk Rumbun lebih kuat? Lagipula menguasai Datuk Rumbun sama artinya dengan menguasai semua keturunannya!" ucap Rainy berargumentasi.


"Bukankah kau sudah bertemu langsung dengan Datuk Rumbun? Apakah kau pikir orang seperti beliau akan bisa jatuh ke tangan iblis dengan mudah?" tanya Datuk Sanja.


"Tentu saja mungkin bila Lilith menangkapnya saat ia masih seusia Lauri." sahut Rainy.


"Tapi mungkin Lilith menemukan Datuk Rumbun setelah ia menjadi pria dewasa dengan keimanan yang sangat kuat. Lilith mungkin pernah mencoba menggodanya, namun tidak berhasil. Itu sebabnya ia mengarahkan perhatiannya pada Lauri." debat Datuk Sanja. Rainy menganggukkan kepalanya karena ia merasa bahwa penjelasan Datuk Sanja beralasan. Toh Lilith hanyalah iblis. Bukan Allah yang Maha Tahu.


"Jadi apa bakat spiritual Lauri yang membuat Lilith menginginkannya?" tanya Rainy lagi.


"Tunggu saja. Sebentar lagi kau akan melihatnya juga." ucap Datuk Sanja dengan senyum jahil di wajahnya, membuat Rainy memiliki dorongan untuk menendang kakinya. Sayangnya jarak antara dia dan Datuk Sanja terlalu jauh.


Ketika Rainy menoleh ke arah sungai, ia melihat sebuah jukung muncul di sungai dengan Lauri duduk di atasnya.


"Dia sampai." ucap Rainy, membuat Datuk Sanja ikut menoleh ke arah Lauri.