
“Siapa aku?” Datuk tersenyum geli. “Hei, gadis kecil, apakah kau tidak pernah bertanya-tanya mengapa di dunia ini kau menemukan beberapa orang yang memiliki wajah yang mirip dengan Niwemu?” Tanyanya kemudian, membuat Rainy terdiam. Orang yang wajahnya mirip dengan Niwe selain ayahnya adalah Guru Gilang.
“Apakah Datuk memiliki hubungan keluarga dengan Guru Gilang?” Tanya Rainy kemudian. Datuk Sanja menganggukkan kepalanya.
“Emm. Bukan hanya dengan Gilang, tapi aku juga memiliki hubungan keluarga dengan Niwemu, dan secara otomatis juga denganmu.” Beritahu Datuk. Mata Rainy langsung membesar?
“Benarkah? Apakah itu berarti Datuk juga berasal dari keluarga Bataguh?” Tanya Rainy. Ia mengetahui bahwa keluarga Bataguh memiliki beberapa cabang keluarga yang semuanya merupakan keturunan langsung keluarga Bataguh, namun berasal dari anak-anak yang tidak menjadi kepala keluarga. Misalnya seperti Rudi. Kelak anak keturunan Rudi akan menjadi salah satu cabang keluarga Bataguh yang saat ini posisi kepala keluarganya telah dilemparkan oleh Rainy kepada Rosa. Kelak Rosa dan anak-anaknya yang akan membawa sejarah dan beban keluarga Bataguh di bahu mereka, sementara itu, Rudi dan anak-anaknya harus puas hanya menjadi keluarga cabang yang tidak memiliki suara apapun terhadap kelangsungan keluarga Bataguh di masa depan. Tapi ketika mendengar pertanyaan Rainy, Datuk menggeleng.
“Aku bukan berasal dari keluarga Bataguh.” Ucap Datuk Sanja.
“Eh?” Rainy mengedip-ngedipkan matanya karena tidak mengerti.
“Duduklah disini. Aku akan menjelaskannya padamu.” Suruh Datuk. Dengan patuh Rainy berjalan mendekat dan kemudian duduk di kursi kosong yang terletak tepat di sebelah Datuk. Setelah Rainy duduk dengan manis di atas kursi tersebut, Datuk lalu mengambil sebuah kayu panjang dan lalu bertanya pada Rainy.
“Apakah kau tahu bahwa nama Bataguh baru digunakan 3 generasi di atas Niwemu?” Tanya Datuk.
“Benarkah? Saya baru tahu itu!” Sahut Rainy dengan tertarik. Datuk mengangguk membenarkan.
“Lauri hanya memiliki satu suku kata dalam namanya yaitu Lauri. Anak-anaknya juga diberi nama yang hanya memiliki satu suku kata saja, sehingga kemudian mereka menggunakan bin atau binti Lauri di belakang nama mereka. Baru keturunan yang lahir 2 generasi sebelum Niwemu yang memiliki nama yang terdiri dari 2 suku kata sehingga kemudian ia terpikir untuk menjadikan nama belakangnya sebagai nama keluarga, dan itu berlanjut hingga dirimu.”Cerita Datuk.
“Berarti kalau Datuk tidak menggunakan nama belakang tersebut namun juga merupakan keturunan Lauri, itu berarti Datuk berasal dari cabang keluarga yang berada di atas Datuknya Niwe?” Tanya Rainy, mengambil kesimpulan.
“Aku berasal dari generasi yang lebih jauh lagi dari hanya sekedar 2 atau 3 generasi.” Sahut Datuk.
“Seberapa jauh?” Tanya Rainy. Sebagai putri keluarga Bataguh, selain soal perjanjian antara Lauri dan Lilith, tidak banyak yang di ketahui Rainy soal sejarah keluarganya. Karena itu mendengar Datuk sepertinya mengetahui mengenai sejarah keluarga mereka, Rainy jadi bersemangat untuk bertanya.
“Nama leluhur kita yang pertama kali membuat perjanjian dengan iblis adalah…” Ucap Datuk, sengaja menghentikan kalimatnya di ujung.
“Lauri.” Dengan patuh Rainy menyambungnya.
Dengan ujung tongkatnya, Datuk kemudian menulis nama Lauri di atas tanah sambil mulai menjelaskan mengenai sedikit silsilah keluarganya. Ia lalu menulis sebuah nama lain di sebelah nama Lauri yang dihubungkan dengan sebuah garis.
“Lauri lalu menikah dengan Birai.” Setelah itu Datuk menggambar sebuah garis bercabang di bawah nama Lauri dan Birai.
“Keduanya kemudian melahirkan lima orang anak, 2 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Anak pertamanya laki-laki bernama Matingkei. Anak kelimanya, yang bungsu, juga laki-laki yang diberi nama Hanyi.” Datuk menuliskan nama Matingkei dan Hanyi, namun dengan sengaja mengabaikan nama 3 anak perempuan Lauri. Rainy pikir mungkin itu karena Datuk juga tidak mengetahuinya.
“Memangnya ada tempat seperti itu?” Tanya Rainy tak percaya.
“Tentu saja ada! Iblis bukan Allah yang maha tahu segalanya. Jadi tentu saja ada sesuatu yang ia juga tidak tahu.” Ucap Datuk dengan yakin. “Di tempat tersebut Hanyi kemudian menikah dan memiliki 2 orang putra dan 1 orang putri. Dari keluarga inilah aku berasal.”
“Ah, Jarak kekerabatan kita jauh sekali ya, Datuk. Tapi bahkan dengan jarak kekerabatan sejauh itu, wajah Datuk dan Guru Gilang bisa mirip dengan wajah Niwe dan Papa.” Komentar Rainy dengan kagum.
“Kau tahu kenapa? Itu karena kami mewarisi wajah ini dari Lauri.” Beritahu Datuk.
“Datuk pernah melihat wajah Lauri?” Tanya Rainy. Datuk mengangguk.
“Datuk punya gambarnya di rumah. Nanti kapan-kapan Datuk tunjukan. Namun sebelum itu, mari kita bicarakan hal yang penting terlebih dahulu.” Ucap Datuk. “Gilang dan Lara memberitahuku bahwa iblis itu telah menculik saudaramu. Apakah itu benar?” Tanya Datuk. Rainy sontak menegakkan tubuh ketika mendengar kata-kata Datuk.
“Benar, Datuk! Apakah Datuk bisa menolongnya?” Tanya Rainy.
“Aku bisa membantumu untuk pergi ke tempat dimana iblis mungkin menyembunyikannya. Namun hanya kaulah yang bisa menemukannya.” Ucap Datuk.
“Hanya saya?” Tanya Rainy dengan heran. “Mengapa begitu?”
“Itu karena kau adalah saudaranya. Sebagai saudara, jiwa kalian terikat satu sama lain dalam ikatan yang tidak kasat mata. Kau bisa menemukan saudaramu dengan menyusuri ikatan ini.” Ucap Datuk.
“Eh? Tapi Arka adalah anak adopsi, Datuk. Jadi saya tidak mungkin memiliki ikatan seperti itu!” bantah Rainy, namun Datuk Sanja menggelengkan kepalanya.
“Dalam kehidupan ini, Arka mungkin hanyalah saudara angkatmu, namun tidakkah kau pernah berpikir apa yang membuat kau langsung merasa dekat ketika kalian baru pertama kali bertemu?” Tanya Datuk. Rainy mengedipkan matanya dan mencoba mengingat-ingat apa yang ia rasakan ketika ia bertemu dengan Arka untuk pertama kalinya. Ia tidak dapat memungkiri bahwa ia memang langsung menyukai dan memiliki rasa kedekatan yang aneh ketika pertama kali bertatapan dengan Arka. Seolah-olah ia telah mengenal Arka jauh sebelum pertemuan itu. Namun saat itu Rainy hanya mengira bahwa itu adalah disebabkan oleh karena mereka memiliki hubungan darah sebagai sepupu. Saat Rainy mengungkapkan pemikirannya pada Datuk, dengan tersenyum Datuk berkata,
“Mungkin kau benar, perasaan itu terjalin karena kau dan dia adalah sepupu. Tapi perasaan itulah yang saat ini akan membantumu untuk menemukan Arka dan mencurinya kembali dari tangan iblis.”
Mendengar ucapan Datuk ini, Rainy nyaris melonjak di kursinya dan langsung meraih lengan Datuk dan memegangnya erat-erat.
“Benarkah? Benarkah saya akan bisa menemukan dan menolong Arka?” Tanya Rainy dengan mata terbuka lebar penuh harap. Melihat tingkahnya, Datuk Sanja tersenyum dan mengangguk. Ekspresi girang terpancar jelas di wajah Rainy, namun sesaat kemudian ekspresi itu langsung meredup dan bahunya yang tadinya terangkat tinggi, sekarang tampak turun dan lemas, sehingga membuat Datuk Sanja mengerutkan keningnya.
“Ini… saya bukan sedang bermimpi kan?” Semua ini sungguh terasa tidak nyata. Seingat Rainy, ia tadi sedang berada di atas sofa di kamar VIP rumah sakit sebelum jatuh tertidur. Bagaimana bisa tahu-tahu ia terbangun di alam terbuka dan bertemu dengan seorang Datuk yang mengaku sebagai keluarga jauhnya? Melihat ekspresi Rainy yang menggambarkan dengan jelas apa yang sedang dipikirkannya, Datuk Sanja kemudian mengangkat sebelah tangannya dan memukul dahi Rainy dengan cukup keras sampai mengeluarkan bunyi plak yang nyaring.
“Sudah berapa lama kita bicara? Mengapa kau baru menanyakan itu sekarang? Kau itu sebenarnya pintar atau bodoh sih?” Tanya Datuk Sanja dengan gemas.