My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Berjanjilah Padaku



"No!" tolak Rainy tegas.


"Kenapa?" heran Arka.


"Look cousin, banyak orang, termasuk aku, berharap tidak memiliki kemampuan untuk bisa melihat karena melihat itu menakutkan, menyebalkan dan mengganggu kehidupan normal. Lihat saja si Musa. Ia sampai harus mendekam di RSJ karena dikira gangguan jiwa. Kenapa kamu malah meminta untuk bisa melihat yang tidak kasat mata?" protes Rainy keras.


"Karena aku merasa tidak berguna setiap kali makhluk-makhluk itu muncul di hadapanmu, dan mencoba mencelakakanmu, tapi aku tidak bisa melihatnya." sahut Arka. Kata-katanya memojokan Rainy dan membuatnya tak bisa berkata-kata. Rainy sangat memahami dari mana pemikiran Arka berakar. Kehilangan yang dialaminya membuat Arka menjadi sangat overprotektif terhadap semua yang dicintainya. Hal ini membuat hati Rainy terasa hangat, namun sekaligus membuat ia merasa mati kutu, tak tahu bagaimana caranya membuat Arka menghapuskan keinginannya.


"But Cousin, it will be terrible for you! Dan sekali mata ketigamu terbuka, ia tidak akan bisa tertutup lagi!" Ancam Rainy. "Jadi bisakah kau mempertimbangkan lagi keinginanmu itu?" ucap Rainy setengah merengek. Melihat Rainy berpindah metode dari menolak dengan tegas menjadi berakting manja dan merayu begitu membuat Arka tercengang. Kemana topeng dingin dan tenang yang selalu dipakainya itu? Tanya Arka dalam hati, tak menyadari bahwa bibirnya menyunggingkan sebuah senyum tipis.


Selama 5 tahun setelah kematian orang tua dan adiknya, Arka kehilangan alasan untuk tersenyum. Moodnya selalu hampa dan hatinya terasa kosong. Satu-satunya alasan mengapa ia terus hidup adalah karena ia tidak pernah berpikir bahwa bunuh diri merupakan sebuah jalan keluar. Namun semenjak ia bertemu dengan Rainy, tahu-tahu ia menemukan dirinya sendiri tersenyum. Arka tersenyum karena kata-kata yang diucapkan gadis itu atau karena tingkah lakunya. Lalu Arka mulai merasakan rasa ingin tahu. Ingin tahu mengenai Rainy dan semua sisi yang ada dalam diri gadis itu. Kemudian Arka mulai merasa khawatir. Khawatir tentang Rainy dan semua keanehan yang tampaknya selalu berputar disekitarnya. Tanpa Arka sadari emosi dalam dirinya yang tadinya hanya berupa sebuah garis lurus, tiba-tiba mulai bergelombang. Hatinya yang hampa tiba-tiba mulai merasakan kembali rasa senang, kesal, lucu dan khawatir.


Arka tidak tahu bagaimana Rainy melakukannya, namun ia tahu dengan pasti bahwa Rainylah yang telah mengangkatnya dari kehampaan. Apakah mungkin karena hubungan darah yang terjalin antara mereka berdua, ataukah karena sebab yang lain? Entahlah. Arka juga tidak mengetahui jawabannya. Yang Arka tahu adalah bahwa Rainy telah memberinya tujuan hidup, yaitu untuk melindungi gadis itu.


Saat ini kemampuan untuk melihat merupakan alat yang paling diinginkan Arka untuk membantunya mewujudkan tujuannya itu. Namun Arka memahami bahwa ia tidak bisa memaksa Rainy. Yang harus dilakukannya adalah secara pelan-pelan membuat gadis itu terpojok sehingga pada akhirnya Rainy tidak bisa lagi menolak permintaannya. Pemikiran ini membuat Arka mengangguk puas. Let's play this little game, cousin! Pikirnya.


"Akan ku pertimbangkan." ucap Arka, membuat Rainy menarik nafas lega. Dengan perasaan puas, Rainy menyandarkan tubuhnya ke sofa dan memejamkan mata.


"Aku lelah." keluh Rainy dengan nada malas. "Bagaimana kalau besok kita libur saja? Aku mau tidur sampai siang."


"Kita baru sampai disini tadi siang tapi kau sudah berpikir ingin bolos?" tanya Arka, menaikan sebelah alisnya. Rainy membuka matanya dan melirik Arka dengan lagak tak perduli.


"Emm. Tidak masalah dong. Kan Divisi VII belum menerima kasus baru. Mari bermalas-malasan selama kasus baru belum muncul." Ajak Rainy.


"Raka tidak akan setuju." sahut Arka mengingatkan.


"Raka memang tidak pernah setuju. Dia sudah sering mengomeliku karena aku melemparkan semua propertiku ke atas tangannya untuk dikelola." sahut Rainy santai. Walaupun wajahnya tampak datar-datar saja, Arka bisa mendengar nada geli dalam suara Rainy yang lagi-lagi membuat bibir Arka membentuk senyum tipis.


"Semua Properti itu adalah milikmu. Sebagai pemilik sudah seharusnya kau memahami bagaimana propertimu dijalankan. Raka tidak bisa melakukan semuanya sendiri tanpa pertimbangan darimu." jawab Arka dengan ekspresi serius.


"Memangnya kau mau lari kemana?" tanya Arka ingin tahu.


"Anywhere but here!" sahut Rainy tegas. Hatinya merasa senang saat membayangkan Raka meradang karena amarah ketika tidak bisa menemukan dirinya dimanapun. Hmph! Siapa suruh membuatku kesal!


Arka menatap Rainy lekat-lekat sesaat sebelum berkata,


"Rain, berjanjilah padaku 1 hal."


"Hmm?" Rainy mengangkat kedua alisnya dengan ekspresi bertanya.


"Berjanjilah bahwa kemanapun kau pergi, kau akan membawaku serta." pinta Arka dengan serius. Rainy menatap pria itu dengan tercengang. Ia tidak menyangka bahwa permintaan inilah yang akan Arka berikan padanya.


"Why? It's not like I will go to war." tanya Rainy heran.


"I'm your bodyguard. Apa gunanya aku menjadi bodyguardmu bila aku tidak berada disampingmu." jawab Arka dengan ekspresi yang mengatakan bahwa Rainy tak seharusnya menanyakan hal yang sudah jelas ini, membuat Rainy menyipitkan matanya dengan kesal.


"Aku harus mencarikan posisi yang lain untukmu. Bodyguard? Why did it sound more like babysitter to me?" Rainy mencibir kesal.


"Berjanjilah padaku." pinta Arka lagi sambil memandang Rainy lekat-lekat. Merasa rikuh pada tatapan mata Arka, Rainy mengulurkan tangannya dan menutupi kedua mata Arka dengan telapak tangannya sehingga hanya hidung dan bibir pria itu yang bisa terlihat.


"Baiklah! Aku berjanji." sahut Rainy menyerah. Mendengarnya, ujung-ujung bibir Arka kembali membentuk sebuah senyum tipis. Damn! Pikir Rainy. Hari ini adalah hari dimana ia melihat Arka paling banyak tersenyum. And what a handsome smile he has! Untung saja sehari-harinya Arka tidak suka tersenyum sebab Rainy tidak bisa membayangkan bagaimana cemburunya Raka setiap kali Arka tersenyum padanya.


Raka sangat posesif. Apabila ia merasa Arka mengancam klaimnya atas Rainy, maka Rainy yakin Raka pasti sudah mencari seribu satu alasan untuk mengirimkan Arka keluar dari Divisi VII, tanpa sekalipun memperdulikan fakta bahwa Arka adalah sepupu Rainy.


Cousin, just hide your smile, please! Orang itu sudah cukup terluka. Aku tak ingin membuatnya terbakar api cemburu juga. Pinta Rainy dalam hati.


Copyright @FreyaCesare